Hampir
tengah malam, tapi muda mudi itu masih berkumpul ditepi pantai. Suara kayu
berkeratak dilahap api, pasir pantai yang putih kecokelatan dibawah kaki
mereka. Ini adalah pengalaman pertama Ran menghabiskan malam minggu bukannya
dengan menghadap televisi, sambil melongo melihat pesta kembang api. Hari ini
Ran bersuka cita, makan jagung bakar bersama orang-orang yang disayangi dan
menyayanignya, dan hari ini juga dia akan menyaksikan secara langsung hujan
kembang api diangkasa.
Ran
menggigit bibir ketika tiba-tiba teringat komik yang masih belum juga ia
kembalikan. Bimbang dan ragu memenuhi dadanya, kebimbangan yang membuat
jantungnya tiba-tiba berdetak tak karuan, dan jemari tangan yang tiba-tiba
dingin. Matanya mencari-cari apa saja yang bisa dihitung untuk membantunya
mengundi, antara berikan atau simpan. Sementara Lian semakin membaur dengan
pacar teman-temannya. Terdengar mereka sedang menceritakan pengalaman pertemuan
mereka masing-masing.
“Bentar
ya.” Ran menyentuh pundak Meli, bergegas ke bungalow, membongkar tasnya.
Lian
tidak seperti pria yang lain. Setiap gerakannya terjaga, setiap ucapannya seolah
telah terpikirkan, kecuali saat kejadian di warung pangsit pastinya. Lian tidak
pernah memaksa, tidak berusaha mencari celah untuk dapat menyentuh Ran,
meskipun hanya sapuan tangan. Lian benar-benar menjaga jarak diantara mereka,
namun hal itu justru mendekatkan hati mereka berdua. Tidak, Ran tidak bisa
membayangkan jika mereka berdua duduk terlalu dekat atau saling menyentuh,
jantungnya bisa langsung jatuh ke perut, menatap Lian saja sudah cukup
membuatnya berhenti bernafas.
Perlahan
tapi pasti, Ran menarik benda kotak putih bergambar itu keluar dari ranselnya.
Membuka halaman terakhir yang tergurat Tulisan ceker ayam miliknya. Memastikan
lagi pesan yang tersembunyi disana. Gadis itu mengatur nafas. Dan akhirnya
melangkah keluar bungalow dengan komik itu ditangannya.
Saat
ia datang kembali ke tempat api unggun, Lian tak terlihat disana. Ran
mengedarkan pandangannya. Lautan terlihat hitam memantulkan cahaya bulan pucat
yang waktu itu belum purnama. Angin berdesah pelan meski terasa dingin. Suara
hiruk pikuk kelompok-kelompok yang lain memenuhi telinga, tertawa, bernyanyi,
bercerita, tidak ada kesedihan malam ini.
Pandangan
Ran berhenti pada sosok yang berdiri ditepi pantai, membiarkan air laut
menjilat-jilat ujung kakinya. Kedua tangannya tersimpan rapi didalam saku
celana skatter setengah betis. Gelap. Ran tidak dapat melihat wajah orang itu,
tapi Ran bisa melihat dari gestur tubuhnya. Ran mendekat.
Yang
dipanggil menoleh, tersenyum menatap Ran. Mengulurkan tangan supaya yang memanggil
yang mendekat. Ran
menggeleng. Lian menggeleng, membuka telapak tangannya lebih lebar. Ran
nyengir, tak urung mendekat, Pria itu memang sudah menarik-narik hatinya sejak
awal bertemu. Alih-alih menyambut uluran tangan Lian dengan tangannya, Ran meletakkan
buku komik itu disana. Lian terkekeh pelan.
“Jadi
sudah ketemu jawabannya?” Tanya Lian saat Ran berdiri disebelahnya.
“Sudah.”
Gadis itu menjawab riang.
“Belum.
Nggak ngerti maksudnya, soalnya kata-kata yang aku temukan nggak saling
berhubungan, jadi makin lieur, mikirnya.” Gadis itu nyengir lagi.
Lian
membuka halaman terakhir komik yang ia gambar, dan menemukan Ran telah menjawab
dengan benar semua pertanyaan. Tinggal memperlihatkan saja korelasinya. Lian
ragu jika Ran tidak mengerti korelasinya, pasti hanya alasan supaya dia
benar-benar mengatakan isi hatinya secara langsung.
“Aduh,
disini gelap.” Lian mengeluh.
“Kan
udah aku ajak kebelakang situ tadi yang agak terangan.” Ran menunjuk sebuah bungalow
yang lebih kecil dan tidak begitu ramai.
“Ya
udah kesana yuk.” Lian mendahului Ran berjalan. Lian berhenti sebentar,
berpura-pura meneliti jawaban Ran, padahal sebenarnya dia membiarkan Ran
mengambil tempat duduk lebih dulu. Baru setelah Ran duduk, Lian menghampiri dan
duduk disebelah Ran, Bahunya menyentuh bahu Ran.
“Lihat
jawaban kamu. Coba kita baca.” Lian menunjukkan tulisan Ran dibagian belakang
komik. Ujung jari Lian perlahan menyapu huruf awal setiap kata. Dan keduanya
mengeja.
“L-I-A-N,
S-A-Y-S, I, L-O-V-E, Y-O-U, R-A-N.” Ran mendongak menatap Lian.
Ran
hampir pingsan rasanya. Lian yang seringnya tersenyum manis, kali ini
menatapnya dengan wajah serius. Seluruh tubuh Ran merinding.
Ran
sudah tahu apa yang akan dia baca setelah ini. Jantungnya sudah benar-benar melorot
sekarang. Seolah ingin bersembunyi dibawah bungalow.
“R-A-N-S,
A-N-S-W-E-R, I-S.” eja mereka berdua.
Ran
membeku, dia sudah memperkirakan hal ini. Instingnya tidak salah lagi. Kacaunya
dia sudah menulis jawabannya dibelakang halaman terakhir.
Benar
apa yang dikatakan teman-temannya, Ran sulit diajak serius, tapi saat serius
dia tidak akan pernah bercanda. Dan sekarang Lian yang akan berlaku seperti
itu.
“Aku
hitung sampai lima.” Lian mengancam, wajahnya masih serius. “Satu…” Telunjuk
Lian terangkat.
“Ups
tunggu dong Mas, kan belum mikir.” Ran menggumam.
“Dua…”
jari tengah menyusul telunjuk.
“Maaas…”
Ran mencoba memasang wajah memelas. Menangkupkan kedua tangannya.
“Tiga…”
Lian mulai tersenyum. Ran
merengut, memejamkan mata. Menarik nafas panjang.
“Empat…”
keempat jari sudah berkumpul.
“Jawabannya
ada disebalik kertas.” Ran membuka mata, masih merengut.
“Udah
tahu, tapi aku gak mau baca, mau kamu bilang.” Lian terlihat menahan tawa.
“Iss,
kalau udah tahu kenapa nanya?” Ran protes, memalingkan wajah dari Lian.
“Bilang,
dari mana tahunya?” Ran tanpa sadar mencengkeram lengan kanan Lian.
“Siapa
bilang aku tahu apa jawabannya?”
“Tapi
tadi…” Ran mencelos. Jebakan Lian. Cubitan Ran mendarat dilengan Lian. Lian
mengaduh, mengusap lengannya yang dicubit.
“Jawabannya
terlihat jelas kok.” Ke empat mata itu kembali bertemu pandang.
“Masa?”
Ran meraih buku komik yang di pegang Lian. Mencoba melihat apakah benar
tulisannya terlihat jelas disebalik kertas.
Ran
merengut menatap buku dihadapannya. Kena jebakan lagi.
“Bohong
banget.” Ran masih merengut.
“Coba
lihat!” Lian merebut komik itu lagi, membuka halaman terakhir yang paling
akhir. Empat suku kata tertulis disana. Senyum Lian mengembang. Pria itu
bangkit, berdiri dihadapan Ran dan mengulurkan tangan, meletakkan telapak
tangannya dibawah rahang Ran.
“Aku
bisa lihat jawabannya dengan jelas di matamu, Ran. Tapi pikirkanlah lagi,
karena jika tidak bertepuk sebelah tangan, hubungan ini akan kubawa jauh
kedepan.” Suara Lian selembut angin malam itu. Berusaha tetap tenang meskipun
sebenarnya jantungnya sudah jumpalitan sejak tadi.
Pria
itu membalikkan badannya, berpaling dari Gadis yang menatapnya kaget, karena
sebuah tangan menyentuh wajahnya. Lian berjalan perlahan, menuju bungalow
dimana teman-teman yang lain sudah bersiap melihat pesta kembang api, melangkah
meninggalkan Ran, yang tengah dibuat resah, benarkah hatinya ingin menjadikan
pria itu sebagai bagian dari masa depannya.
Gadis
itu berlari kecil menyusul Lian, bukan lelaki pertama yang mengatakan kata
cinta padanya, namun dialah satu-satunya yang menawarkan masa depan, bukan
sekedar hubungan singkat dalam rangka pencarian cinta. Ran berhasil menyusul
Lian, yang menoleh sekilas saat gadis itu berjalan disampingnya. Lian mengulurkan
tangannya, membiarkan Ran meraih dan meneluspkan jemarinya diantara jari-jari
Lian yang ramping dan panjang.
Keduanya
berjalan bersisian, bergandengan tangan, tepat saat kembang api pertama meledak
di udara. Seperti itulah yang terjadi dengan hati keduanya, setelah sebelumnya
terasa mengembang memenuhi rongga dada, kini terasa meledak, hanya kepribadian
keduanyalah yang akan berperan berikutnya. Membawa ke arah perbaikankah, atau
justru menjatuhkan keduanya kedalam kubangan dosa dan kesalahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar