Jumat, 26 Oktober 2018

Sang Pelukis Hati (8)



Hampir tengah malam, tapi muda mudi itu masih berkumpul ditepi pantai. Suara kayu berkeratak dilahap api, pasir pantai yang putih kecokelatan dibawah kaki mereka. Ini adalah pengalaman pertama Ran menghabiskan malam minggu bukannya dengan menghadap televisi, sambil melongo melihat pesta kembang api. Hari ini Ran bersuka cita, makan jagung bakar bersama orang-orang yang disayangi dan menyayanignya, dan hari ini juga dia akan menyaksikan secara langsung hujan kembang api diangkasa.

Ran menggigit bibir ketika tiba-tiba teringat komik yang masih belum juga ia kembalikan. Bimbang dan ragu memenuhi dadanya, kebimbangan yang membuat jantungnya tiba-tiba berdetak tak karuan, dan jemari tangan yang tiba-tiba dingin. Matanya mencari-cari apa saja yang bisa dihitung untuk membantunya mengundi, antara berikan atau simpan. Sementara Lian semakin membaur dengan pacar teman-temannya. Terdengar mereka sedang menceritakan pengalaman pertemuan mereka masing-masing.

“Bentar ya.” Ran menyentuh pundak Meli, bergegas ke bungalow, membongkar tasnya.

Bohong kalau Lian tidak tahu perasaan Ran padanya. Setiap kata yang terucap, setiap tatapan mata, bahkan tidak bisa lagi menyembunyikan suasana hati Ran yang berbunga-bunga. Ran sadar benar, bahwa Lian hanya butuh kepastian, kejelasan tentang hubungan mereka. Dan Ran tahu jelas kemana Lian ingin mengarahkan hubungan mereka ini.

Lian tidak seperti pria yang lain. Setiap gerakannya terjaga, setiap ucapannya seolah telah terpikirkan, kecuali saat kejadian di warung pangsit pastinya. Lian tidak pernah memaksa, tidak berusaha mencari celah untuk dapat menyentuh Ran, meskipun hanya sapuan tangan. Lian benar-benar menjaga jarak diantara mereka, namun hal itu justru mendekatkan hati mereka berdua. Tidak, Ran tidak bisa membayangkan jika mereka berdua duduk terlalu dekat atau saling menyentuh, jantungnya bisa langsung jatuh ke perut, menatap Lian saja sudah cukup membuatnya berhenti bernafas.

Perlahan tapi pasti, Ran menarik benda kotak putih bergambar itu keluar dari ranselnya. Membuka halaman terakhir yang tergurat Tulisan ceker ayam miliknya. Memastikan lagi pesan yang tersembunyi disana. Gadis itu mengatur nafas. Dan akhirnya melangkah keluar bungalow dengan komik itu ditangannya.
Saat ia datang kembali ke tempat api unggun, Lian tak terlihat disana. Ran mengedarkan pandangannya. Lautan terlihat hitam memantulkan cahaya bulan pucat yang waktu itu belum purnama. Angin berdesah pelan meski terasa dingin. Suara hiruk pikuk kelompok-kelompok yang lain memenuhi telinga, tertawa, bernyanyi, bercerita, tidak ada kesedihan malam ini.

Pandangan Ran berhenti pada sosok yang berdiri ditepi pantai, membiarkan air laut menjilat-jilat ujung kakinya. Kedua tangannya tersimpan rapi didalam saku celana skatter setengah betis. Gelap. Ran tidak dapat melihat wajah orang itu, tapi Ran bisa melihat dari gestur tubuhnya. Ran mendekat.

“Mas Lian!” Panggil Ran, lima meter dibelakang sosok itu, melambaikan tangan supaya yang dipanggil mendekat.

Yang dipanggil menoleh, tersenyum menatap Ran. Mengulurkan tangan supaya yang memanggil yang mendekat. Ran menggeleng. Lian menggeleng, membuka telapak tangannya lebih lebar. Ran nyengir, tak urung mendekat, Pria itu memang sudah menarik-narik hatinya sejak awal bertemu. Alih-alih menyambut uluran tangan Lian dengan tangannya, Ran meletakkan buku komik itu disana. Lian terkekeh pelan.

“Jadi sudah ketemu jawabannya?” Tanya Lian saat Ran berdiri disebelahnya.

“Sudah.” Gadis itu menjawab riang.

“Pemecahan kasus?”

“Belum. Nggak ngerti maksudnya, soalnya kata-kata yang aku temukan nggak saling berhubungan, jadi makin lieur, mikirnya.” Gadis itu nyengir lagi.

Lian membuka halaman terakhir komik yang ia gambar, dan menemukan Ran telah menjawab dengan benar semua pertanyaan. Tinggal memperlihatkan saja korelasinya. Lian ragu jika Ran tidak mengerti korelasinya, pasti hanya alasan supaya dia benar-benar mengatakan isi hatinya secara langsung.

“Aduh, disini gelap.” Lian mengeluh.

“Kan udah aku ajak kebelakang situ tadi yang agak terangan.” Ran menunjuk sebuah bungalow yang lebih kecil dan tidak begitu ramai.

“Ya udah kesana yuk.” Lian mendahului Ran berjalan. Lian berhenti sebentar, berpura-pura meneliti jawaban Ran, padahal sebenarnya dia membiarkan Ran mengambil tempat duduk lebih dulu. Baru setelah Ran duduk, Lian menghampiri dan duduk disebelah Ran, Bahunya menyentuh bahu Ran.

“Lihat jawaban kamu. Coba kita baca.” Lian menunjukkan tulisan Ran dibagian belakang komik. Ujung jari Lian perlahan menyapu huruf awal setiap kata. Dan keduanya mengeja.

“L-I-A-N, S-A-Y-S, I, L-O-V-E, Y-O-U, R-A-N.” Ran mendongak menatap Lian.

I Love you, Ran.” Ulang Lian. Tenang, lembut seperti angin sama sekali tanpa tekanan.
Ran hampir pingsan rasanya. Lian yang seringnya tersenyum manis, kali ini menatapnya dengan wajah serius. Seluruh tubuh Ran merinding.

“Selanjutnya.” Desis Lian. Kembali menatap komiknya.

Ran sudah tahu apa yang akan dia baca setelah ini. Jantungnya sudah benar-benar melorot sekarang. Seolah ingin bersembunyi dibawah bungalow.

“R-A-N-S, A-N-S-W-E-R, I-S.” eja mereka berdua.

And what is your answer?” Lian berbisik. Menatap Ran lurus-lurus tepat di manik mata.

Ran membeku, dia sudah memperkirakan hal ini. Instingnya tidak salah lagi. Kacaunya dia sudah menulis jawabannya dibelakang halaman terakhir.

“Ah, nggak seru.” Ran berkelit menghindari tatapan Lian. “Masak bukan shinichi kudo yang bilang gitu ke Ran?” Ran merengut.

Benar apa yang dikatakan teman-temannya, Ran sulit diajak serius, tapi saat serius dia tidak akan pernah bercanda. Dan sekarang Lian yang akan berlaku seperti itu.

“Aku hitung sampai lima.” Lian mengancam, wajahnya masih serius. “Satu…” Telunjuk Lian terangkat.

“Ups tunggu dong Mas, kan belum mikir.” Ran menggumam.

“Dua…” jari tengah menyusul telunjuk.

“Maaas…” Ran mencoba memasang wajah memelas. Menangkupkan kedua tangannya.

“Tiga…” Lian mulai tersenyum. Ran merengut, memejamkan mata. Menarik nafas panjang.

“Empat…” keempat jari sudah berkumpul.

“Jawabannya ada disebalik kertas.” Ran membuka mata, masih merengut.

“Udah tahu, tapi aku gak mau baca, mau kamu bilang.” Lian terlihat menahan tawa.

“Iss, kalau udah tahu kenapa nanya?” Ran protes, memalingkan wajah dari Lian.

“Bilang dong…” Goda Lian. “Mas Lian… I…” Lian memutar badan Ran agar menghadapnya lagi. “Love…

“Kok bisa tahu kalau jawabannya I love you too?” Ran tersenyum lebar, menatap Lian malu sekaligus penasaran. Lian tertawa hingga bahunya bergetar.

“Bilang, dari mana tahunya?” Ran tanpa sadar mencengkeram lengan kanan Lian.

“Siapa bilang aku tahu apa jawabannya?”

“Tapi tadi…” Ran mencelos. Jebakan Lian. Cubitan Ran mendarat dilengan Lian. Lian mengaduh, mengusap lengannya yang dicubit.

“Jawabannya terlihat jelas kok.” Ke empat mata itu kembali bertemu pandang.

“Masa?” Ran meraih buku komik yang di pegang Lian. Mencoba melihat apakah benar tulisannya terlihat jelas disebalik kertas.

Ran merengut menatap buku dihadapannya. Kena jebakan lagi.

“Bohong banget.” Ran masih merengut.

“Coba lihat!” Lian merebut komik itu lagi, membuka halaman terakhir yang paling akhir. Empat suku kata tertulis disana. Senyum Lian mengembang. Pria itu bangkit, berdiri dihadapan Ran dan mengulurkan tangan, meletakkan telapak tangannya dibawah rahang Ran.

“Aku bisa lihat jawabannya dengan jelas di matamu, Ran. Tapi pikirkanlah lagi, karena jika tidak bertepuk sebelah tangan, hubungan ini akan kubawa jauh kedepan.” Suara Lian selembut angin malam itu. Berusaha tetap tenang meskipun sebenarnya jantungnya sudah jumpalitan sejak tadi.

Pria itu membalikkan badannya, berpaling dari Gadis yang menatapnya kaget, karena sebuah tangan menyentuh wajahnya. Lian berjalan perlahan, menuju bungalow dimana teman-teman yang lain sudah bersiap melihat pesta kembang api, melangkah meninggalkan Ran, yang tengah dibuat resah, benarkah hatinya ingin menjadikan pria itu sebagai bagian dari masa depannya.

Gadis itu berlari kecil menyusul Lian, bukan lelaki pertama yang mengatakan kata cinta padanya, namun dialah satu-satunya yang menawarkan masa depan, bukan sekedar hubungan singkat dalam rangka pencarian cinta. Ran berhasil menyusul Lian, yang menoleh sekilas saat gadis itu berjalan disampingnya. Lian mengulurkan tangannya, membiarkan Ran meraih dan meneluspkan jemarinya diantara jari-jari Lian yang ramping dan panjang.

Keduanya berjalan bersisian, bergandengan tangan, tepat saat kembang api pertama meledak di udara. Seperti itulah yang terjadi dengan hati keduanya, setelah sebelumnya terasa mengembang memenuhi rongga dada, kini terasa meledak, hanya kepribadian keduanyalah yang akan berperan berikutnya. Membawa ke arah perbaikankah, atau justru menjatuhkan keduanya kedalam kubangan dosa dan kesalahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar