Bab. III
Jam
9 pagi, Lian sudah serius dengan desain neon box pesanan salah satu pelanggan.
Sebuah logo perusahaan yang akan dipasang diketinggian 8 meter.
“Yang
job Thamrin ketangkep gak Mas Li?” Tanya seorang bapak setengah baya yang
sedang mengamplas acrylic.
“Doain
ya Pak Dar, semoga segera ada kabar baik.” Lian menoleh, tersenyum.
Lian
hendak membantu mengamplas acrylic saat handphonenya berdering.
“Hai,
Deril?” Sapa Lian.
“Hai,
Li, lagi sibuk nggak?” jawab yang diseberang telepon.
“Eng…
Enggak juga sih, kenapa?”
“Gue
mau minta tolong nih.”
“Boleh
aja, ada apa?”
“Itu
Si Ran yang semalam kejambretan itu sakit di Kostan dia…” Nama itu, entah
mengapa, membuat tubuh Lian menegang. “…nah gue lagi ada meeting nih, Si Resti
lagi di kantor pajak. Tolong lo tengokin dia Li, kalau ada waktu sih bawa
kedokter juga boleh.”
“Oh
bisa.. bisa.. kostannya disebelah mana?”
“Dari
gang masuk semalem itu lo lurus, ada belokan pertama lo belok kiri, dari situ
ada rumah yang didepannya pohon mangga, nah itu rumahnya. Dia gak pengang duit
Li, pinjamin dulu ya.”
“Oh
oke. Jadi harus pake motor nih kan?” Lian melongok keluar pintu workshopnya.
Melihat motor yang berderet parkir.
“Pakai
mobil lo bisa, tapi harus jalan 100 meter lah muter dulu, lewat samping minimarket
dekat bank daerah itu lo bisa masuk.”
“Oh,
Oke gue naik motor anak-anak disini aja. Lagian gak jauh-jauh amat dari sini.
Gue berangkat sekarang.”
“Siip,
makasih banyak ya bro.”
“Ok
bro. Gak masalah.” Lian
buru-buru mengantongi ponsel nya, menyambar jaket, dan membuat pengumuman.
“Siapa
yang bawa motor matic dan bensin full tank, aku pinjem sebentar!” kata Lian
setengah teriak. Menatap satu persatu anak buahnya.
Seorang
karyawan mendekat mengulurkan kunci motor.
“Nih
mas, Matic biru putih itu ya.” Katanya.
Sebagai
gantinya, Lian mengulurkan kunci mobilnya.
“Aku
pergi dulu sebentar, titip kantor, kalau ada apa-apa telpon aja.” Kata Lian
sambil ngeloyor pergi.
Sepuluh
menit kemudian Lian sudah berhenti didepan kostan Ran. Tanpa kesulitan, karena
rumah kost Ran satu-satunya yang punya pohon mangga.
Canggung.
Lian mengetuk pintu rumah. Pintu
rumah terbuka, seorang gadis berkaca mata melongokkan kepala.
“Cari
siapa, Mas?” tanyanya sambil membetulkan letak kacamata.
“Ran
ada?” Lian tersenyum, berusaha ramah. Sambil mengingat kembali kapan terakhir
kali dia berinteraksi dengan kaum wanita diluar jam kerja.
“Ran?”
Alis gadis itu mengkerut, seolah mendengar hal yang aneh. “Sebentar ya.”
Lanjutnya kemudian. “Raaaan… cowok lo nyariin.” Terdengar suara gadis itu
memanggil. Lian menaikkan kedua alisnya, heran dengan kata cowok.
“Cowok
yang mana?” terdengar sahutan suara sengau dan serak.
“Lo
kelamaan jomblo sih, pacar sendiri sampe lupa.” Ejek si kacamata. Lian lagi-lagi
mengangkat alis mendengar obrolan gadis-gadis penghuni kostan.
Suara
batuk terdengar dari dalam kamar, keluar lewat jendela depan.
Ran
menjulurkan kepala keluar dari pintu. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai,
masih memakai piyama dilapisi jaket baseball berwarna biru terang. Wajahnya
pucat, hidung merah, mata berair. Melihat Lian berdiri, gadis itu sontak kaget
dan kikuk.
“Eh
loh.. kok bisa tahu kostan aku Mas? Maaf loh, jaketnya baru dijemur belum
kering.” Sempat-sempatnya gadis itu nyengir khas, sambil menunjuk jemuran yang
berderet panjang diseberang pohon mangga. Jaket Lian ada disana, dicuci manual
dengan tangan.
“Sakit
ya?” Lian mengulurkan tangan menyentuh dahi Ran.
Kaget
setengah mati, tapi kurang tenaga, jadilah Ran hanya bengong melihat Lian sudah
berkelakuan seperti dokter, memegangi dahi dan pipinya. Membiarkan tangan besar
dengan jari-jari panjang itu menempel di dahinya. Dingin.
“Yuk
ke dokter! Deril tadi telpon, kasih kabar kalau kamu sakit, suruh ngantar
kedokter, katanya kamu gak pegang uang.” Lian mempermainkan kunci motor
ditangannya.
“Bentar..
bentar duduk dulu ya.. pusing…” Ran meringis memeluk badannya sendiri sambil
berjalan ke sebuah kursi panjang diberanda.
“Sebenarnya,
aku udah minum obat warung tadi dibeliin sama temen, udah sarapan juga, udah
cuci muka dan gosok gigi.” Ran nyengir lagi. Menyadarkan punggungnya ke
belakang.
“Tapi
kamu masih panas.” Lian duduk disamping Ran.
Gadis
itu tersenyum tipis, Lian sport jantung. Ada apa sih, Cuma senyum doang juga
udah deg-degan aja. Batin Lian.
“Iya,
habis obatnya belum betulan masuk udah keluar lagi.” gadis itu nyengir lagi.
“Ya
udah ayo ke rumah sakit.” Lian mengangkat kedua siku dari lututnya.
“Kepuskemas
dekat sini aja ya, Mas. Jauh bener ke rumah sakit.” Ran menggaruk kepalanya.
“Ya
udah, ayok.” Lian berdiri. Ran hanya memandang. “Mau dibantu?” tanya Lian
melihat Ran hanya termangu.
Akhirnya
Ran mengangguk lalu bangkit dan berjalan pelan.
Setelah
menunjukkan arahnya, Ran bersiap naik ke motor.
“Mas,
maaf permisi, boleh pegangan kan?” tanya Ran, takut yang membonceng keberatan
kalau tangannya celamitan pegang-pegang pinggang.
Lian
terkekeh, bener-bener, baru sekali ini ketemu cewek kocak macam Ran ini,
sebenarnya lugu atau pura-pura lugu sih. Batin Lian geli.
“Ya
udah pegang aja, ntar kamu kejengkang lagi.” Seloroh Lian sambil tertawa
ringan.
“Aduuuh,
Grogi nih, nggak pernah-pernahnya diboncengin calon klien.” Timpal Ran. Lian
memperpanjang tawanya.
Ran
naik, menyamping, lengan kanannya melintang diperut Lian. Deg.
Jantung Lian seolah diketok. Merasakan lengan Gadis itu melingkari pinggangnya.
Setahun lalu hal itu pernah terjadi. Tapi bukan Ran yang melakukannya. Gadis
lain. Gadis dengan wajah oriental dan manja.
Beberapa
meter berjalan, Ran yang dalam pengaruh virus influenza berat terpaksa
menyandarkan kepalanya ke punggung Lian. Membekap mulutnya yang bersin-bersin
sepanjang jalan. Ran tidak pernah menduga kalau Mas-Mas yang memboncengnya itu
sudah senam jantung sejak tadi. Meskipun terlihat tenang dan kalem,
kenyataannya Lian harus berkali-kali menarik nafas panjang agar tidak grogi
saat mengendarai motor pinjaman itu.
Dipuskesmas
Ran terlihat lebih diam. Menyandarkan kepalanya ke tembok, sambil duduk
menunggu antrian. Wajahnya pucat, demam, bersin, batuk pilek. Untung Ran
membawa banyak tissue tadi di kantong jaketnya, karena ingusnya lebih deras
dari air mata.
“Masih
mau muntah?” tanya Lian saat Ran keluar dari ruang periksa.
Ran
menggeleng.
“Mau
makan lagi? Tadi aku lihat ada warung soto dipinggir jalan sana. Kayaknya
enak.” Tawar Lian.
Ran
menoleh mendongak sedikit, menatap Lian yang tiga puluh centi lebih tinggi
darinya. Cowok ini, baik banget sih, kayak udah kenal lama aja. Batin Ran.
“Boleh.”
Jawab Ran.
Jadilah
setelah keluar dari puskesmas, dua sejoli itu meluncur ke warung soto yang tadi
dilihat Lian.
Dua
porsi nasi soto, dua botol air mineral, sesisir pisang susu, terhidang manis
didepan keduanya.
Lian
yang memang belum sarapan lahap menghabiskan nasi sotonya. Ran yang sedang
tidak enak makan jadi bersemangat melihat Lian yang berkobar-kobar menghabiskan
semangkok nasi soto dengan sambel super banyak. Tandaslah dua mangkok nasi soto
dihadapan mereka itu.
“Baru
kali ini lihat orang sakit makannya banyak.” Lian terkekeh melihat Ran menyuap
sendok terakhir sotonya.
“Liat
Mas Lian makannya semangat jadi ikut semangat.” Senyum ala Ran tersungging. Merasa
lebih enakan.
“Jangan
lupa minum obat nanti dirumah.” Lian menyodorkan beberapa lembar uang merah ke
arah Ran.
“Apaan
nih Mas?” Ran mendorong lagi uang itu ke pemberinya.
“Kata
Deril kamu gak punya uang sepeserpun. Udah simpan aja, nanti kalau udah ada
baru kembaliin.” Lian menenggak air mineral terakhirnya.
“Aduuh,
jadi ngerepotin banget ini, udah dianterin, dibayarin, dipinjemin lagi.
Sebenarnya ada sih, tapi kan di bank, atmnya ilang.” Ran memasukkan uang itu
kedalam saku jaket.
“Apa
aja yang ilang?”
“Nggak
ada yang penting sih, Cuma ktp dan atm aja yang perlu diurus lagi.” Ran
mengkerut, mulai dingin lagi dan itu berarti suhu tubuhnya yang naik.
“Nanti
kalau udah sehat, aku anterin ngurus surat kehilangannya.” Lian menawarkan
diri.
Ran
mengerutkan alis menatap pria didepannya itu.
“Kenapa?”
Lian membalas tatap mata Ran. Yang ditanya menggeleng. Senyum lagi.
“Terima
kasih banyak ya Mas, Semoga murah rejaki, berkah, selalu sehat, enteng jodoh…”
cerocos Ran.
“Wuih
panjang bener doanya.”
“Habisnya
kan kalau ada orang baik sama kita, harus bisa membalas. Kalau tidak bisa maka
doakan yang baik-baik. Ni kan aku lagi balas budi dengan doa.”
Lian
tertawa lagi. Ran baru sadar, lesung pipit itu yang membuat senyum Lian
istimewa. Juga sesuatu yang terpancar dari sorot matanya. Menenangkan dan
menyenangkan sekali menatap matanya.
Lian
berpamitan setelah melihat Ran minum obatnya secara langsung.
“Kalau
ada apa-apa telpon aja.” Kata Lian.
Ran
mengangguk. Tidak menjelaskan kalau ponselnya rusak. Terjatuh kedalam kubangan
air saat penjambret itu menarik tasnya yang belum sempat ditutup rapat.
Ran
masuk kedalam rumah begitu Lian tidak terlihat lagi. Sarah, Gadis berkacamata
yang membuka pintu sibuk ber cie-cie, namun Ran hanya tersenyum-senyum saja.
“Cie
yang lama jomblo, begitu dapat pacar, udah ganteng perhatian pula.” Goda Sarah
membuat pipi Ran semakin terasa panas.
Lian
memang ganteng. Hidung mancung, lesung pipi, tinggi atletis, apa yang kurang?
Baik hati, sopan dan pemurah, kurang apa? kurang cocok sih iya banget.
Ah
seandainya saja ia gadis langsing semampai, berkulit putih, fashionable.
Menjadi pacar Lian pasti serasi sekali. Alih-alih membayangkan menjadi kekasih
Lian, Ran justru lebih senang duduk nonton televisi, atau kalau sudah bosan
masuk kamar membaca komik detektif kesukaannya. Bukan tidak ingin punya pacar
seperti Lian, hanya tidak ingin terlalu berharap pada sesuatu yang tidak pasti.
(Bersambung...)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar