Selasa, 02 Oktober 2018

Sang Pelukis Hati (3)


Bab. III

Jam 9 pagi, Lian sudah serius dengan desain neon box pesanan salah satu pelanggan. Sebuah logo perusahaan yang akan dipasang diketinggian 8 meter.

“Yang job Thamrin ketangkep gak Mas Li?” Tanya seorang bapak setengah baya yang sedang mengamplas acrylic.
“Doain ya Pak Dar, semoga segera ada kabar baik.” Lian menoleh, tersenyum.
Lian hendak membantu mengamplas acrylic saat handphonenya berdering.
“Hai, Deril?” Sapa Lian.
“Hai, Li, lagi sibuk nggak?” jawab yang diseberang telepon.
“Eng… Enggak juga sih, kenapa?”
“Gue mau minta tolong nih.”
“Boleh aja, ada apa?”
“Itu Si Ran yang semalam kejambretan itu sakit di Kostan dia…” Nama itu, entah mengapa, membuat tubuh Lian menegang. “…nah gue lagi ada meeting nih, Si Resti lagi di kantor pajak. Tolong lo tengokin dia Li, kalau ada waktu sih bawa kedokter juga boleh.”
“Oh bisa.. bisa.. kostannya disebelah mana?”
“Dari gang masuk semalem itu lo lurus, ada belokan pertama lo belok kiri, dari situ ada rumah yang didepannya pohon mangga, nah itu rumahnya. Dia gak pengang duit Li, pinjamin dulu ya.”
“Oh oke. Jadi harus pake motor nih kan?” Lian melongok keluar pintu workshopnya. Melihat motor yang berderet parkir.
“Pakai mobil lo bisa, tapi harus jalan 100 meter lah muter dulu, lewat samping minimarket dekat bank daerah itu lo bisa masuk.”
“Oh, Oke gue naik motor anak-anak disini aja. Lagian gak jauh-jauh amat dari sini. Gue berangkat sekarang.”
“Siip, makasih banyak ya bro.”
“Ok bro. Gak masalah.” Lian buru-buru mengantongi ponsel nya, menyambar jaket, dan membuat pengumuman.
“Siapa yang bawa motor matic dan bensin full tank, aku pinjem sebentar!” kata Lian setengah teriak. Menatap satu persatu anak buahnya.
Seorang karyawan mendekat mengulurkan kunci motor.
“Nih mas, Matic biru putih itu ya.” Katanya.
Sebagai gantinya, Lian mengulurkan kunci mobilnya.
“Aku pergi dulu sebentar, titip kantor, kalau ada apa-apa telpon aja.” Kata Lian sambil ngeloyor pergi.

Sepuluh menit kemudian Lian sudah berhenti didepan kostan Ran. Tanpa kesulitan, karena rumah kost Ran satu-satunya yang punya pohon mangga.
Canggung. Lian mengetuk pintu rumah. Pintu rumah terbuka, seorang gadis berkaca mata melongokkan kepala.
“Cari siapa, Mas?” tanyanya sambil membetulkan letak kacamata.
“Ran ada?” Lian tersenyum, berusaha ramah. Sambil mengingat kembali kapan terakhir kali dia berinteraksi dengan kaum wanita diluar jam kerja.
“Ran?” Alis gadis itu mengkerut, seolah mendengar hal yang aneh. “Sebentar ya.” Lanjutnya kemudian. “Raaaan… cowok lo nyariin.” Terdengar suara gadis itu memanggil. Lian menaikkan kedua alisnya, heran dengan kata cowok.
“Cowok yang mana?” terdengar sahutan suara sengau dan serak.
“Lo kelamaan jomblo sih, pacar sendiri sampe lupa.” Ejek si kacamata. Lian lagi-lagi mengangkat alis mendengar obrolan gadis-gadis penghuni kostan.

Suara batuk terdengar dari dalam kamar, keluar lewat jendela depan.
Ran menjulurkan kepala keluar dari pintu. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, masih memakai piyama dilapisi jaket baseball berwarna biru terang. Wajahnya pucat, hidung merah, mata berair. Melihat Lian berdiri, gadis itu sontak kaget dan kikuk.

“Eh loh.. kok bisa tahu kostan aku Mas? Maaf loh, jaketnya baru dijemur belum kering.” Sempat-sempatnya gadis itu nyengir khas, sambil menunjuk jemuran yang berderet panjang diseberang pohon mangga. Jaket Lian ada disana, dicuci manual dengan tangan.
“Sakit ya?” Lian mengulurkan tangan menyentuh dahi Ran.
Kaget setengah mati, tapi kurang tenaga, jadilah Ran hanya bengong melihat Lian sudah berkelakuan seperti dokter, memegangi dahi dan pipinya. Membiarkan tangan besar dengan jari-jari panjang itu menempel di dahinya. Dingin.
“Yuk ke dokter! Deril tadi telpon, kasih kabar kalau kamu sakit, suruh ngantar kedokter, katanya kamu gak pegang uang.” Lian mempermainkan kunci motor ditangannya.
“Bentar.. bentar duduk dulu ya.. pusing…” Ran meringis memeluk badannya sendiri sambil berjalan ke sebuah kursi panjang diberanda.
“Sebenarnya, aku udah minum obat warung tadi dibeliin sama temen, udah sarapan juga, udah cuci muka dan gosok gigi.” Ran nyengir lagi. Menyadarkan punggungnya ke belakang.
“Tapi kamu masih panas.” Lian duduk disamping Ran.
Gadis itu tersenyum tipis, Lian sport jantung. Ada apa sih, Cuma senyum doang juga udah deg-degan aja. Batin Lian.
“Iya, habis obatnya belum betulan masuk udah keluar lagi.” gadis itu nyengir lagi.
“Ya udah ayo ke rumah sakit.” Lian mengangkat kedua siku dari lututnya.
“Kepuskemas dekat sini aja ya, Mas. Jauh bener ke rumah sakit.” Ran menggaruk kepalanya.
“Ya udah, ayok.” Lian berdiri. Ran hanya memandang. “Mau dibantu?” tanya Lian melihat Ran hanya termangu.
Akhirnya Ran mengangguk lalu bangkit dan berjalan pelan.
Setelah menunjukkan arahnya, Ran bersiap naik ke motor.
“Mas, maaf permisi, boleh pegangan kan?” tanya Ran, takut yang membonceng keberatan kalau tangannya celamitan pegang-pegang pinggang.
Lian terkekeh, bener-bener, baru sekali ini ketemu cewek kocak macam Ran ini, sebenarnya lugu atau pura-pura lugu sih. Batin Lian geli.
“Ya udah pegang aja, ntar kamu kejengkang lagi.” Seloroh Lian sambil tertawa ringan.
“Aduuuh, Grogi nih, nggak pernah-pernahnya diboncengin calon klien.” Timpal Ran. Lian memperpanjang tawanya.

Ran naik, menyamping, lengan kanannya melintang diperut Lian. Deg. Jantung Lian seolah diketok. Merasakan lengan Gadis itu melingkari pinggangnya. Setahun lalu hal itu pernah terjadi. Tapi bukan Ran yang melakukannya. Gadis lain. Gadis dengan wajah oriental dan manja.

Beberapa meter berjalan, Ran yang dalam pengaruh virus influenza berat terpaksa menyandarkan kepalanya ke punggung Lian. Membekap mulutnya yang bersin-bersin sepanjang jalan. Ran tidak pernah menduga kalau Mas-Mas yang memboncengnya itu sudah senam jantung sejak tadi. Meskipun terlihat tenang dan kalem, kenyataannya Lian harus berkali-kali menarik nafas panjang agar tidak grogi saat mengendarai motor pinjaman itu.

Dipuskesmas Ran terlihat lebih diam. Menyandarkan kepalanya ke tembok, sambil duduk menunggu antrian. Wajahnya pucat, demam, bersin, batuk pilek. Untung Ran membawa banyak tissue tadi di kantong jaketnya, karena ingusnya lebih deras dari air mata.
“Masih mau muntah?” tanya Lian saat Ran keluar dari ruang periksa.
Ran menggeleng.
“Mau makan lagi? Tadi aku lihat ada warung soto dipinggir jalan sana. Kayaknya enak.” Tawar Lian.
Ran menoleh mendongak sedikit, menatap Lian yang tiga puluh centi lebih tinggi darinya. Cowok ini, baik banget sih, kayak udah kenal lama aja. Batin Ran.
“Boleh.” Jawab Ran.

Jadilah setelah keluar dari puskesmas, dua sejoli itu meluncur ke warung soto yang tadi dilihat Lian.
Dua porsi nasi soto, dua botol air mineral, sesisir pisang susu, terhidang manis didepan keduanya.
Lian yang memang belum sarapan lahap menghabiskan nasi sotonya. Ran yang sedang tidak enak makan jadi bersemangat melihat Lian yang berkobar-kobar menghabiskan semangkok nasi soto dengan sambel super banyak. Tandaslah dua mangkok nasi soto dihadapan mereka itu.

“Baru kali ini lihat orang sakit makannya banyak.” Lian terkekeh melihat Ran menyuap sendok terakhir sotonya.
“Liat Mas Lian makannya semangat jadi ikut semangat.” Senyum ala Ran tersungging. Merasa lebih enakan.
“Jangan lupa minum obat nanti dirumah.” Lian menyodorkan beberapa lembar uang merah ke arah Ran.
“Apaan nih Mas?” Ran mendorong lagi uang itu ke pemberinya.
“Kata Deril kamu gak punya uang sepeserpun. Udah simpan aja, nanti kalau udah ada baru kembaliin.” Lian menenggak air mineral terakhirnya.
“Aduuh, jadi ngerepotin banget ini, udah dianterin, dibayarin, dipinjemin lagi. Sebenarnya ada sih, tapi kan di bank, atmnya ilang.” Ran memasukkan uang itu kedalam saku jaket.
“Apa aja yang ilang?”
“Nggak ada yang penting sih, Cuma ktp dan atm aja yang perlu diurus lagi.” Ran mengkerut, mulai dingin lagi dan itu berarti suhu tubuhnya yang naik.
“Nanti kalau udah sehat, aku anterin ngurus surat kehilangannya.” Lian menawarkan diri.
Ran mengerutkan alis menatap pria didepannya itu.
“Kenapa?” Lian membalas tatap mata Ran. Yang ditanya menggeleng. Senyum lagi.
“Terima kasih banyak ya Mas, Semoga murah rejaki, berkah, selalu sehat, enteng jodoh…” cerocos Ran.
“Wuih panjang bener doanya.”
“Habisnya kan kalau ada orang baik sama kita, harus bisa membalas. Kalau tidak bisa maka doakan yang baik-baik. Ni kan aku lagi balas budi dengan doa.”
Lian tertawa lagi. Ran baru sadar, lesung pipit itu yang membuat senyum Lian istimewa. Juga sesuatu yang terpancar dari sorot matanya. Menenangkan dan menyenangkan sekali menatap matanya.
Lian berpamitan setelah melihat Ran minum obatnya secara langsung.
“Kalau ada apa-apa telpon aja.” Kata Lian.
Ran mengangguk. Tidak menjelaskan kalau ponselnya rusak. Terjatuh kedalam kubangan air saat penjambret itu menarik tasnya yang belum sempat ditutup rapat.
Ran masuk kedalam rumah begitu Lian tidak terlihat lagi. Sarah, Gadis berkacamata yang membuka pintu sibuk ber cie-cie, namun Ran hanya tersenyum-senyum saja.

“Cie yang lama jomblo, begitu dapat pacar, udah ganteng perhatian pula.” Goda Sarah membuat pipi Ran semakin terasa panas.
Lian memang ganteng. Hidung mancung, lesung pipi, tinggi atletis, apa yang kurang? Baik hati, sopan dan pemurah, kurang apa? kurang cocok sih iya banget.

Ah seandainya saja ia gadis langsing semampai, berkulit putih, fashionable. Menjadi pacar Lian pasti serasi sekali. Alih-alih membayangkan menjadi kekasih Lian, Ran justru lebih senang duduk nonton televisi, atau kalau sudah bosan masuk kamar membaca komik detektif kesukaannya. Bukan tidak ingin punya pacar seperti Lian, hanya tidak ingin terlalu berharap pada sesuatu yang tidak pasti.

(Bersambung...)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar