Senin, 01 Oktober 2018

Sang Pelukis Hati (2)


Bab. II

Kantor Ran adalah sebuah perusahaan multi konsultan. Sebuah perusahaan terkenal di ibu kota yang dijuluki PT jawara tender. Terletak dijantung kota yang selalu menjadi tempat yang dicari pembesar-pembesar perusahaan untuk membatu urusan legal, ekspor impor, pajak dan hukum, sertifikasi hingga konstruksi gedung. Kebetulan Ran dipercaya dibagian yang paling mudah, sebagai konsultan dalam Advertising.
Sebuah ruangan, tepat sebelum ruangan kerja Pak Wardoyo salah satu empunya perusahaan. Bertugas menerima job sebelum akhirnya disahkan oleh si bos mengenai diterima atau tidaknya sebuah pekerjaan ataupun lamaran tender dari sub kontraktor yang ingin bergabung dengan tender Pak Wardoyo CS, adalah ruangan kerja Ran.

“Selamat pagi, Pak Hasan.” Sapanya pada satpam kantor yang sigap membuka pintu untuknya.
“Pagi Mbak, agak siangan nih datangnya.” Jawab si satpam sambil tersenyum dibalik kumis tebal ala Opie kumis.
“Iya Pak, belajar naik Bus Trans.” Ran merapikan bawaannya. Meletakkan sekotak kue sarapan pagi yang dibelinya di gerai kue basah samping kantor dimeja Satpam, disamping pintu masuk. “Buat sarapan Pak!” Katanya sambil ngeloyor, mengacuhkan beberapa orang tamu yang sudah duduk manis di ruang tunggu, bahkan tanpa menjawab ucapan terima kasih dari si penerima kue sarapan.
“Heran banget sama itu anak, bagi-bagi sarapan gak pernah kelupaan.” Gumam pak satpam sambil menjejalkan sepotong kue bingka ke mulutnya, sementara sepasang mata mengawasi adegan pagi itu dari sudut ruang tunggu.

“Ran, ada meeting dengan kontraktor baliho dan neon box loh!” teriak seorang wanita setengah baya ketika Ran bersiap masuk ruangannya.
“Siap, Buk Mar. Orangnya sudah datangkah?” Sahut Ran. Meletakkan map laporan di ruang kerja Pak Wardoyo, lalu berpindah lagi ke mejanya sendiri, memasukkan sepotong getuk lindri kedalam mulutnya dan mengunyah cepat-cepat. “Tolong bawakan saya CV nya ya Buk Mar.” Kata Ran sambil melongokkan kepala ke arah admin yang dipanggil Buk Mar, tapi ternyata beliaunya tidak ada ditempat.
Ran cepat-cepat bersiap di ruang meeting yang memang sudah dipersiapkan.
Menit terakhir gadis itu masih sempat ke kamar mandi, melihat lagi stelan blazernya yang hari ini sukses membuatnya keringatan parah, mengulangi ikatan rambut ekor kudanya yang kelihatan mulai awut-awutan, memindah jalinan rambutnya yang lembut lebih ke bawah agak sedikit menyamping. Mematut diri sedikit didepan kaca sambil mengatakan pada dirinya sendiri.

“Kalau dasarnya manis, diapa-apain juga tetep manis.” Kekehnya mengabaikan jerawat yang mengintip di dahi. Mantra kuno yang sukses membuatnya selalu merasa optimis bahkan ketika bertemu dengan orang-orang yang dasarnya memang udah manis, tapi berpoles sempurna hingga kelihatan seperti boneka. Licin, kinclong, warna-warani.

Meneguk air putihnya dari gelas hingga tandas. Ran kembali ke meja Buk Mar. mengambil sebuah map yang bertuliskan. Don Jean Advertising. Pagi ini ada meeting dengan bos baliho bukan?
“Lian Adrian… 27 tahun… berkarir sejak 2010.” Gumam Ran membaca CV yang ada ditangannya sambil manggut-manggut.
“Yang namanya Lian nggak seperti Lion kan, Buk Mar, udah ketemu belum sama orangnya?” Kelakar Ran sambil menunggu yang mau presentasi.
“Ya jelas enggak dong, lumayan kok bisa digandeng ke kondangan.” Timpal Ibu gendut yang dipanggil Buk Mar itu.
“Astagaaa… Ibuk ini ada-ada aja. Emang kalau Lion gak bisa gitu diajak kondangan.” Ran tertawa, memegangi pipinya dengan kedua tangan.
“Ya nyakar nanti kalau singa yang diajak kondangan. Tanyain coba Ran, barangkali masih jomblo.” Imbuh Martuti, nama lengkap Buk Mar itu.
“Astagaaaaah…” Ran mengelus dada tapi sambil tetap tertawa. “Iya deh, nanti biar aku tanya sekalian, udah punya pacar apa belum, Bang?” Seloroh Ran sambil ngeloyor ke ruangannya, tidak tahu menahu kalau yang dibicarakan sudah dari tadi duduk di sudut ruangan, hanya dipisahkan kaca saja, menunggu sambil tersenyum-senyum dan geleng-geleng kepala.

Jam Sembilan kurang lima menit, Buk Mar memberitahu kalau Lian Adrian sudah datang dan menunggu di ruang meeting. Ran bergerak dari benteng pertahanannya, menuju medan perang.
Bukan masalah, meeting ini hanya untuk mencari sub kontraktor yang memenuhi syarat saja, meeting-meeting seperti ini juga seringkali digunakan Pak Wardoyo untuk menjalin kerjasama dengan para kontraktor, sebagai referensi suatu saat bila Pak Wardoyo ingin lepas dari kesatuan PT. Rajawali Mediatama.
Ran mendorong pintu kaca dan terperangah.

“Eh… Mas yang di Bus Trans tadi?” Alih-alih mengucapkan salam, justru kata-kata itu yang refleks terlontar dari mulut Ran.
“Iya, Bu. Perkenalkan, Lian Adrian.” Lian berdiri lalu mengulurkan tangan. Ran menjabat tangan itu. Tangan yang besar dan hangat.
“Viorani, tapi panggil saja Ran.” Keduanya saling melemparkan senyum. “Silakan duduk.” Ran mempersilakan tamunya dan mengambil tempat berhadapan.
“Silakan, bisa dimulai.” Kata Ran mulai membuka proposal yang diberikan Lian.

Tidak seperti kisah dalam film india, yang kebanyakan waktunya habis untuk saling memandang, Ran justru menghindari tatapan Lian. Jelas saja, sejak dari dalam Bus Trans tadi gesture Lian sudah membuat hati Ran jingkrak-jingkrak, terus terang pertemuan pertemuan empat mata ini bisa berkembang, tapi ia tidak mungkin kepincut dengan kontraktornya sendiri walaupun semua kriteria pria idaman ada pada diri Lian.

Lian sendiri tidak dapat mengingkari. Saat melihat Ran masuk ke kantor itu, ia begitu antusias. Mendengar gadis itu berkelakar, semakin membuatnya penasaran, dan sekarang kesempatan untuk mengenal lebih jauh terpampang didepan mata. Namun sebersit ragu masih ada dalah hatinya. Entahlah, hal itu tidak semudah yang ia bayangkan. Gerak-gerik gadis itu jelas tidak bisa disepelekan. Dari caranya menghormati satpam hingga staf yang lebih tua sangat layak diapresiasi, dan cara gadis itu menghindari tatapannya, jelas memperlihatkan kalau ia tidak seperti gadis kebanyakan. Tapi Lian tidak datang untuk mencari cinta. Ia sudah cukup dengan kata cinta. Untuk saat ini hal yang menjadi prioritasnya adalah mengembangkan Don Jean Advertising yang sedang dirintisnya.

Tiga puluh menit berlalu. Lian telah selesai dengan rancangan dan cetak biru proyek yang ingin mereka kerjakan. Pemasangan layar v-tron sedang sepanjang jalan Sudirman, Pemasangan LCD raksasa di sebuah Mall dan beberapa job lagi yang ditawarkan Lian dengan masa pengerjaan kurang dari 6 bulan dan harga yang lebih miring, walaupun masih saja memakai sepuluh digit angka.
Ran membuka kembali beberapa Company profile yang telah diserahkan padanya, dan perusahaan Lian adalah satu-satunya yang menawarkan harga dengan margin paling masuk akal.

“Oke kalau begitu, Pak. Sementara diterima ya, untuk keputusannya nanti saya diskusikan lagi dengan Pak Wardoyo selaku direkturnya.” Ran menutup pertemuan mereka.
Lian mengangguk, memberesi kertas-kertas dari hadapannya dan memasukkannya kedalam tas selempang yang ia bawa. Melirik sebentar jam tangan Swiss Army di pergelangan tangannya sebelum berdiri.
“Mmm… mungkin ada yang ingin ditanyakan lagi, Bu?” Tanya Lian saat keduanya berdiri berhadapan.
Ran tersenyum teringat janjinya pada Buk Mar untuk menanyakan status Lian, masih jomblokah? Ran hampir terbahak.
Susah payah menahan tawa, Ran menggeleng.
“Tidak Ada. Dalam beberapa hari ini, nanti saya beri kabar lagi ya.” Ran mengulurkan tangan lagi.

Lian menjabatnya, sekilas, tidak seperti drama korea yang merasakan aliran listrik saat bersentuhan. Keduanya merasa biasa-biasa saja, hanya sedikit canggung dan kikuk.
Ran keluar ruang meeting lebih dulu diikuti Lian.

“Raaan…” panggil seorang pria. Gendut, rambut tipis hampir botak, sambil membawa sekotak cokelat yang merknya sangat terkenal di Singapura.
“Eh… Bapak… katanya nanti sore pulang?” Ran menyambut Bos besarnya.
“Ingat pesananmu, nanti keburu lumer.” Pak Wardoyo mengulurkan kotak cokelat. “Eh siapa ini? Bukan pacarmu kan?” seloroh Bos nyentrik itu sambil mengulurkan tangan pada Lian.
“Astagaaaa… asal ada yang kinclong dikit dikirain pacar Ran mulu.” Gadis itu pura-pura cemberut.
Pak Wardoyo terbahak, Lian tersenyum malu.
“Saya Lian Adrian Pak, Dari Don Jean Advertising. Barusan ada meeting dengan Bu Ran.” Lian bersalaman dengan Pak Wardoyo.
“Oh… ya, ya, ya, ya. Tapi masih single kan?” kelakar Pak War.
Ran menutup wajahnya dengan Map berkas. Berharap bosnya itu tidak mulai lagi jadi mak comblang. Seperti yang biasa dilakukan jika ada kolega yang kelihatannya masih muda.
Lian terkekeh. “Kebetulan masih Pak.” Jawabnya.

What? Masih jomblo, dia bilang kebetulan lagi. Ran melirik Buk Mar yang sedang mengamati jalannya perbincangan sambil memainkan alis sambil tersenyum-senyum.
“Wah ya benar, kebetulan itu. Jangan panggil Ibu, orang dia baru lulus kuliah. Masih bau kencur. Kalau jomblo kan bagus, dari kemarin yang datang bapak-bapak terus, ya kan Ran?” celoteh Pak Wardoyo. Ran hanya bisa nyengir sambil berharap Bos besarnya itu tiba-tiba sakit perut atau kebelet pipis, biar si Lian bisa cepetan pergi, sebelum semua rahasianya terbongkar.

Harapan Ran tidak terwujud. Seperti air sungai bertemu samudra, mereka berdua malah kompak, dengan cepat jadi begitu akrab, membicarakan jalanan Jakarta hingga klub sepak bola, dan Ran jadi obat nyamuknya.
“Bagus dong, nanti Ran yang akan handle semua tugas inspeksinya. Kalian jadi bisa sering ketemunya.” Seloroh Pak War yang membuat Ran hanya garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Untung Lian segera pamit dan tinggalah Ran sendirian menjadi bulan-bulanan Buk Mar dan Pak Wardoyo, untung juga Mbak Resti tidak jadi datang, kalau datang, Ran pasti sudah ditanya kapan rencana kencan pertama.
Ran merasa jengkel tapi senang. Jengkel dengan perlakuan orang-orang yang selalu menanyakan kapan punya pacar, kapan kawin padanya itu, tapi sekaligus senang, banyak orang yang memperhatikannya dengan tulus.

Karena tidak membawa mobil, sepulang dari meeting dan membeli beberapa alat, hari ini Lian menunggu kawan sekampus yang kebetulan ada disekitar jalan Thamrin. Sudah sore, hampir maghrib, dan jalanan di bundaran itu pasti sangat padat dan macet.
Mendung semenjak pagi tidak mengalami kemajuan, tidak panas dan tidak hujan, udara terasa gerah dan lembab. Lian sedang menghabiskan minuman kemasannya yang ketiga untuk hari ini, ketika sebuah mobil Honda CRV hitam berhenti didepannya. Kaca mobil terbuka, seraut wajah tampak melongok.

“Woi, naik! Tapi dibelakang ya!” Serunya pada Lian. Tanpa menunggu lama, Lian segera bergegas naik ke jok belakang. Dibelakang pengemudi.
“Mau jemput istri?” Lian menghempaskan tubuhnya ke sandaran mobil.
“Iya.” Si sopir melirik dari kaca spion. “Kayaknya capek banget?” tanya sopir yang bernama Deril itu.
“Biasa lagi cari-cari alat.” Jawab Lian yang kemudian membuka botol minumannya yang keempat. Cuaca ini benar-benar membuatnya dehidrasi.
Deril baru saja pulang dari Singapura, menyertai ayah mertuanya melakukan lawatan kerja. Sepanjang jalan menuju Mall disekitaran bundaran, banyak bercerita tentang pesatnya perindutrian Singapore.
“Lo harus pergi kesana Li, biar lihat banner-banner mereka itu luar biasa banget, siapa tahu nanti Lo bisa bentangin sayap disana juga.” Deril mencerocos sambil menunggu istrinya yang sedang berjalan mendekat dengan sekantong belanjaan.
“Eh ada tamu.” Kelakar istrinya saat mendapati Lian duduk di jok belakang.
“Ini teman kuliah, Yang. Dulu dia datang kok pas resepsi kita.” Deril menepuk lengan istrinya.
“Oh yang pacarnya chines itu kan?” timpal istri Deril yang di balas pelototan kaget dari suaminya.
Lian hanya tersenyum samar dan bergumam. “Sekarang kami udah gak sama-sama lagi kok.”  Ditimpali ooh dari yang bertanya.
Hanya percakapan ringan, pertanyaan sepele, tapi tidak bagi hati Lian. Sebuah pisau bagai menikamnya sekali lagi. Ingatannya kembali pada seraut wajah oriental yang kekanak-kanakan. Wajahnya gadis manja yang dulu sangat dia cintai. Wajah Liliana.

Langit seolah paham suasana hati Lian, karena hujan deras tiba-tiba saja turun tanpa ampun. Pejalan kaki berhamburan mencari halte terdekat untuk berteduh. Pedagang asongan tidak mau kalah saing, sebentar saja, jalanan yang macet semakin dibuat suram karena hujan. Lian memandang keluar jendela, pandangan mata dibatasi derasnya hujan yang menutup hari ini. Hatinya memang hancur lebur dengan kepergian Liliana. Tanpa pamit, tanpa penjelasan, tanpa alasan. Liliana bak hilang ditelan bumi. Seluruh tempat yang mungkin disinggahi Liliana ia datangi, setiap orang yang mengenal Liliana ia jumpai, tapi setiap jawaban terus saja sama. Tidak ada yang tahu kemana Liliana pergi. Seluruh nomor telepon tidak aktif lagi. Tempat kerja Liliana bahkan tidak memberitahukan alasan Liliana mengundurkan diri. Semua menarik tabir hitam yang menutupi Liliana darinya.

“Eh, Sayang, bukannya itu Ran?” Deril berseru menujuk seseorang yang tidak kebagian tempat disebuah halte bus. Lian terkejut demi mendengar nama itu disebut. Ikut-ikutan menoleh kearah yang ditunjuk Deril. Benar sekali, nama dan orang yang sama. Gadis itu berdiri dibawah kanopi yang retak-retak, tempias air hujan membasahi tubuhnya yang mungil.

Jantung Lian seolah hampir meloncat dari tempatnya. Gadis itu. Apa yang telah terjadi?
Bertelanjang kaki, menenteng sepatu wedgesnya sambil kedinginan. Sebelah tangannya berusaha menghangatkan diri sendiri, meski ia tahu hal itu sia-sia. Wajahnya manyun menatap mobil-mobil yang berjalan bak keong.

“Woii.. anak Bawang!” Istri Deril berteriak dari dalam mobil, membuka kaca jendela hingga hujan berebutan masuk kedalamnya. Deril berkali-kali menekan klakson, tapi yang dipanggil tak juga menoleh.
“Raaaan…!!!” teriak Resti sekencangnya. Berhasil. Bukan hanya gadis itu yang menoleh, tapi hampir semua orang yang ada dihalte itu. Resti melambaikan tangan, dan tanpa menunggu gadis itu berlari-lari mendekati mobil mereka.
Tanpa disuruh, Lian membuka pintu belakang, agar Gadis itu bisa langsung masuk.
Lian Tercengang. Gadis itu basah kuyup. Blazer dan celananya dikotori noda lumpur, wajahnya juga terlihat pucat.
“Mbak Restiii…” Gadis itu mengerang. Kesedihan jelas tergambar dari raut wajahnya.
Resti memutar badannya.
“Ngapain kok bisa-bisanya nyangsang disitu? Gak tahu jalan pulang?” Resti mengulurkan kotak Tissue yang diambilnya dari dashboard mobil.
“Tasku dijambret orang, Mbak, gak nyangka, sampai jatuh aku.” Entah sadar entah tidak, Gadis itu membuka blazernya. Kemeja putihnya basah kuyup, melekat dikulitnya yang sawo matang, tank top kuning yang dipakainya sampai terlihat jelas. “Sempat bingung tadi mau pulang pake apa, gak ada pegang uang sama sekali.”
“Astagaaa...” seru Resti.
“Sudah lapor polisi?” tanya Deril.
Gadis itu menggeleng. Mengelap wajahnya dengan tissue.
“Enggak kepikiran.”
Tidak ada yang memerintahkan padanya, tapi ia ingin. Lian membuka jaketnya dan mengulurkannya pada gadis itu.
“Loh, Eh… Mas ini lagi… sampai nggak engeuh aku.” Gadis itu sempat tersenyum dalam wajahnya yang amburadul.
“Pakai aja.” Kata Lian melihat gadis itu canggung menerima jaket dari tangannya.
“Terima kasih lagi.” Sebuah senyum lagi, tanpa memperlihatkan gigi-geliginya.
Jaket itu terlalu panjang, menenggelamkan lengan kecil Ran, tapi rasanya hangat, sisa kehangatan tubuh pemakai sebelumnya. Aromanya juga lembut, seperti kayu-kayuan dan citrus, Ran suka baunya.
“Ngomong-ngomong dikantong itu ada yang bisa dimakan gak ya Mbak?” Celetuk Ran. Membuat tidak hanya Lian, tapi juga Deril yang segera meledak tawanya.
“Eeh… Dasar anak bawang, tau aja hujan-hujan enaknya ngemil.” Keluh Resti pura-pura marah, tapi segera sibuk mengaduk-aduk kantong belanjaannya dan menarik sebungkus kue bolu cokelat.
“Asyik…” pekik Ran menerima bungkusan kue kesukaannya. “Kayaknya yang ini sengaja beliin buat aku kan?” Ran mencolek lengan Resti dari belakang.
Gadis ini, barusan aja kena jambret, tapi bukannya sedih barang-barangnya hilang, malah kelihatan biasa aja. Batin Lian. Luar Biasa.
“Air minum ada, Mbak Resti?” Ran melongok ke arah Resti.
“Eh, gak beli loh Ran.” Resti menoleh, menatap adik kecilnya yang mirip kucing kecemplung got.
“Oh…” Ran bersandar lagi, masih sibuk ngemil kue coklat tanpa menawari orang disampingnya.

Lian sadar ada air mineral di kantong tasnya, tapi bukankah itu sudah dia minum sebagian tadi, tidak mungkin menawarkannya pada gadis itu. Tapi ternyata si Gadis imut aneh itu ternyata melirik kekantong tasnya.
“Mas, boleh minta airnya?” Ran meringis. Lian menoleh kaget. Menatap gadis itu sedetik, lalu meraih tas di dekat kakinya, menarik keluar sebotol air mineral yang sudah berkurang sedikit.
“Ini? Tapi tadi udah saya minum?” Lian mengacungkan botol kedepan Ran.
“Tapi boleh kan kalau aku minta?” Gadis itu nyengir. Lian mengangguk, membalas senyum. Dan begitu saja. Dengan cepat gadis itu membuka tutup botol dan meminum isinya hingga hampir tandas. Lian hanya bisa menatap takjub. Seolah kelas jambret tidak cukup menggentarkan nyali gadis imut itu. Gadis yang mungkin baru dua puluh tahunan.
“Jangan banyak-banyak minum!” sergah Resti yang sedari tadi mengawasi dari spion. “Awas nanti kalau minta turun pipis.” Wajah resti yang pura-pura marah dibalas dengan bibir kerucut Ran.

Hujan masih deras ketika mobil Deril berhenti di depan kompleks pemukiman tempat kostan Ran. Sudah hampir jam 8 malam. Ran menggamit blazer dilipatan dalam sikunya, sedang jari-jarinya menenteng sepatu. Bersikeras untuk pulang ke kostan, menolak menginap dirumah Resti.

“Um… Mas gak papa ya aku bawa pulang jaketnya.” Kata Ran, urung membuka pintu mobil, menoleh pada Lian yang ketar-ketir melihat gadis itu hendak keluar menerabas hujan yang lebat.
Bukannya menjawab, Lian malah tertegun.
“Gak papa nih, Mbak pulang ujan deres gini?” alis Lian berkerut. Seandainya dia ikut turun pun tidak akan banyak membantu. Tidak ada payung, tidak ada mantel hujan. Menemani gadis itu hujan-hujanan bukan ide bagus, nanti ujung-ujungnya malah bikin repot, musti bikinin teh, mau pulang juga jadi makin susah.
“Gak apa-apa.” Ran membuka kunci pintu mobil. “Thanks Mas Deril, Mbak Judes…” teriak Ran, mengabaikan Resti yang geleng-geleng kepala.
“Thanks ya Mas Lian.” Sebuah senyum paling manis plus sorot mata mempesona dilempar Gadis itu, tidak sengaja, tapi telak mendarat di hati Lian. Membuat Lian membeku, hanya bisa memandang tubuh gadis mungil itu menerobos hujan deras lewat jendela mobil yang buram karena embun hujan, plus diluar sudah gelap. Lampu jalanan ikut menyamarkan gestur Ran yang setengah berlari kecil masuk kedalam gang.

Lian mendesah, menghempaskan tubuhnya ke belakang. Hujan hari ini, mungkin sama dengan hujan-hujan dihari yang lain. Siapa yang ditemuinya dalam kesempatan hujan kali inilah yang belum pernah dia temui di hari-hari kemarin. Hujan kali ini seolah tiba-tiba menyirami hatinya yang telah lama mengering. Hujan kali ini benar-benar menjadi satu-satunya hujan yang ingin dia nikmati.

Lian memutuskan turun 10 meter dari Workshopnya, beralasan harus membeli sebuah barang agar Deril mau memberhentikan mobilnya. Pria itu berjalan lambat-lambat dalam siraman air hujan jam setengah Sembilan malam. Kapan terakhir kali dia mandi hujan? Saat ia kecil? Saat ia kuliah? Yang pastinya tidak ada hujan saat bersama Liana, hanya hujan air mata yang ternyata perlahan telah mengeringkan hatinya. Tapi malam ini, hujan ini, membasahi hatinya lagi.

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar