Bab.
II
Kantor
Ran adalah sebuah perusahaan multi konsultan. Sebuah perusahaan terkenal di ibu
kota yang dijuluki PT jawara tender. Terletak dijantung kota yang selalu menjadi
tempat yang dicari pembesar-pembesar perusahaan untuk membatu urusan legal,
ekspor impor, pajak dan hukum, sertifikasi hingga konstruksi gedung. Kebetulan
Ran dipercaya dibagian yang paling mudah, sebagai konsultan dalam Advertising.
Sebuah
ruangan, tepat sebelum ruangan kerja Pak Wardoyo salah satu empunya perusahaan.
Bertugas menerima job sebelum akhirnya disahkan oleh si bos mengenai diterima
atau tidaknya sebuah pekerjaan ataupun lamaran tender dari sub kontraktor yang
ingin bergabung dengan tender Pak Wardoyo CS, adalah ruangan kerja Ran.
“Selamat
pagi, Pak Hasan.” Sapanya pada satpam kantor yang sigap membuka pintu untuknya.
“Pagi
Mbak, agak siangan nih datangnya.” Jawab si satpam sambil tersenyum dibalik
kumis tebal ala Opie kumis.
“Iya
Pak, belajar naik Bus Trans.” Ran merapikan bawaannya. Meletakkan sekotak kue
sarapan pagi yang dibelinya di gerai kue basah samping kantor dimeja Satpam,
disamping pintu masuk. “Buat sarapan Pak!” Katanya sambil ngeloyor, mengacuhkan
beberapa orang tamu yang sudah duduk manis di ruang tunggu, bahkan tanpa
menjawab ucapan terima kasih dari si penerima kue sarapan.
“Heran
banget sama itu anak, bagi-bagi sarapan gak pernah kelupaan.” Gumam pak satpam
sambil menjejalkan sepotong kue bingka ke mulutnya, sementara sepasang mata
mengawasi adegan pagi itu dari sudut ruang tunggu.
“Ran,
ada meeting dengan kontraktor baliho dan neon box loh!” teriak seorang wanita
setengah baya ketika Ran bersiap masuk ruangannya.
“Siap,
Buk Mar. Orangnya sudah datangkah?” Sahut Ran. Meletakkan map laporan di ruang
kerja Pak Wardoyo, lalu berpindah lagi ke mejanya sendiri, memasukkan sepotong
getuk lindri kedalam mulutnya dan mengunyah cepat-cepat. “Tolong bawakan saya
CV nya ya Buk Mar.” Kata Ran sambil melongokkan kepala ke arah admin yang
dipanggil Buk Mar, tapi ternyata beliaunya tidak ada ditempat.
Ran
cepat-cepat bersiap di ruang meeting yang memang sudah dipersiapkan.
Menit
terakhir gadis itu masih sempat ke kamar mandi, melihat lagi stelan blazernya
yang hari ini sukses membuatnya keringatan parah, mengulangi ikatan rambut ekor
kudanya yang kelihatan mulai awut-awutan, memindah jalinan rambutnya yang
lembut lebih ke bawah agak sedikit menyamping. Mematut diri sedikit didepan
kaca sambil mengatakan pada dirinya sendiri.
“Kalau
dasarnya manis, diapa-apain juga tetep manis.” Kekehnya mengabaikan jerawat
yang mengintip di dahi. Mantra kuno yang sukses membuatnya selalu merasa optimis
bahkan ketika bertemu dengan orang-orang yang dasarnya memang udah manis, tapi
berpoles sempurna hingga kelihatan seperti boneka. Licin, kinclong,
warna-warani.
Meneguk
air putihnya dari gelas hingga tandas. Ran kembali ke meja Buk Mar. mengambil sebuah
map yang bertuliskan. Don Jean Advertising. Pagi ini ada meeting dengan bos
baliho bukan?
“Lian
Adrian… 27 tahun… berkarir sejak 2010.” Gumam Ran membaca CV yang ada
ditangannya sambil manggut-manggut.
“Yang
namanya Lian nggak seperti Lion kan, Buk Mar, udah ketemu belum sama orangnya?”
Kelakar Ran sambil menunggu yang mau presentasi.
“Ya
jelas enggak dong, lumayan kok bisa digandeng ke kondangan.” Timpal Ibu gendut
yang dipanggil Buk Mar itu.
“Astagaaa…
Ibuk ini ada-ada aja. Emang kalau Lion gak bisa gitu diajak kondangan.” Ran
tertawa, memegangi pipinya dengan kedua tangan.
“Ya
nyakar nanti kalau singa yang diajak kondangan. Tanyain coba Ran, barangkali
masih jomblo.” Imbuh Martuti, nama lengkap Buk Mar itu.
“Astagaaaaah…”
Ran mengelus dada tapi sambil tetap tertawa. “Iya deh, nanti biar aku tanya
sekalian, udah punya pacar apa belum, Bang?” Seloroh Ran sambil ngeloyor ke
ruangannya, tidak tahu menahu kalau yang dibicarakan sudah dari tadi duduk di
sudut ruangan, hanya dipisahkan kaca saja, menunggu sambil tersenyum-senyum dan
geleng-geleng kepala.
Jam
Sembilan kurang lima menit, Buk Mar memberitahu kalau Lian Adrian sudah datang
dan menunggu di ruang meeting. Ran bergerak dari benteng pertahanannya, menuju
medan perang.
Bukan
masalah, meeting ini hanya untuk mencari sub kontraktor yang memenuhi syarat
saja, meeting-meeting seperti ini juga seringkali digunakan Pak Wardoyo untuk
menjalin kerjasama dengan para kontraktor, sebagai referensi suatu saat bila
Pak Wardoyo ingin lepas dari kesatuan PT. Rajawali Mediatama.
Ran
mendorong pintu kaca dan terperangah.
“Eh…
Mas yang di Bus Trans tadi?” Alih-alih mengucapkan salam, justru kata-kata itu
yang refleks terlontar dari mulut Ran.
“Iya,
Bu. Perkenalkan, Lian Adrian.” Lian berdiri lalu mengulurkan tangan. Ran
menjabat tangan itu. Tangan yang besar dan hangat.
“Viorani,
tapi panggil saja Ran.” Keduanya saling melemparkan senyum. “Silakan duduk.”
Ran mempersilakan tamunya dan mengambil tempat berhadapan.
“Silakan,
bisa dimulai.” Kata Ran mulai membuka proposal yang diberikan Lian.
Tidak
seperti kisah dalam film india, yang kebanyakan waktunya habis untuk saling
memandang, Ran justru menghindari tatapan Lian. Jelas saja, sejak dari dalam
Bus Trans tadi gesture Lian sudah membuat hati Ran jingkrak-jingkrak, terus
terang pertemuan pertemuan empat mata ini bisa berkembang, tapi ia tidak
mungkin kepincut dengan kontraktornya sendiri walaupun semua kriteria pria
idaman ada pada diri Lian.
Lian
sendiri tidak dapat mengingkari. Saat melihat Ran masuk ke kantor itu, ia
begitu antusias. Mendengar gadis itu berkelakar, semakin membuatnya penasaran,
dan sekarang kesempatan untuk mengenal lebih jauh terpampang didepan mata.
Namun sebersit ragu masih ada dalah hatinya. Entahlah,
hal itu tidak semudah yang ia bayangkan. Gerak-gerik gadis itu jelas tidak bisa
disepelekan. Dari caranya menghormati satpam hingga staf yang lebih tua sangat
layak diapresiasi, dan cara gadis itu menghindari tatapannya, jelas memperlihatkan
kalau ia tidak seperti gadis kebanyakan. Tapi
Lian tidak datang untuk mencari cinta. Ia sudah cukup dengan kata cinta. Untuk
saat ini hal yang menjadi prioritasnya adalah mengembangkan Don Jean
Advertising yang sedang dirintisnya.
Tiga
puluh menit berlalu. Lian telah selesai dengan rancangan dan cetak biru proyek
yang ingin mereka kerjakan. Pemasangan layar v-tron sedang sepanjang jalan
Sudirman, Pemasangan LCD raksasa di sebuah Mall dan beberapa job lagi yang
ditawarkan Lian dengan masa pengerjaan kurang dari 6 bulan dan harga yang lebih
miring, walaupun masih saja memakai sepuluh digit angka.
Ran
membuka kembali beberapa Company profile yang telah diserahkan padanya, dan
perusahaan Lian adalah satu-satunya yang menawarkan harga dengan margin paling
masuk akal.
“Oke
kalau begitu, Pak. Sementara diterima ya, untuk keputusannya nanti saya
diskusikan lagi dengan Pak Wardoyo selaku direkturnya.” Ran menutup pertemuan
mereka.
Lian
mengangguk, memberesi kertas-kertas dari hadapannya dan memasukkannya kedalam
tas selempang yang ia bawa. Melirik sebentar jam tangan Swiss Army di
pergelangan tangannya sebelum berdiri.
“Mmm…
mungkin ada yang ingin ditanyakan lagi, Bu?” Tanya Lian saat keduanya berdiri
berhadapan.
Ran
tersenyum teringat janjinya pada Buk Mar untuk menanyakan status Lian, masih
jomblokah? Ran hampir terbahak.
Susah
payah menahan tawa, Ran menggeleng.
“Tidak
Ada. Dalam beberapa hari ini, nanti saya beri kabar lagi ya.” Ran mengulurkan
tangan lagi.
Lian
menjabatnya, sekilas, tidak seperti drama korea yang merasakan aliran listrik
saat bersentuhan. Keduanya merasa biasa-biasa saja, hanya sedikit canggung dan
kikuk.
Ran
keluar ruang meeting lebih dulu diikuti Lian.
“Raaan…”
panggil seorang pria. Gendut, rambut tipis hampir botak, sambil membawa sekotak
cokelat yang merknya sangat terkenal di Singapura.
“Eh…
Bapak… katanya nanti sore pulang?” Ran menyambut Bos besarnya.
“Ingat
pesananmu, nanti keburu lumer.” Pak Wardoyo mengulurkan kotak cokelat. “Eh
siapa ini? Bukan pacarmu kan?” seloroh Bos nyentrik itu sambil mengulurkan
tangan pada Lian.
“Astagaaaa…
asal ada yang kinclong dikit dikirain pacar Ran mulu.” Gadis itu pura-pura
cemberut.
Pak
Wardoyo terbahak, Lian tersenyum malu.
“Saya
Lian Adrian Pak, Dari Don Jean Advertising. Barusan ada meeting dengan Bu Ran.”
Lian bersalaman dengan Pak Wardoyo.
“Oh…
ya, ya, ya, ya. Tapi masih single kan?” kelakar Pak War.
Ran
menutup wajahnya dengan Map berkas. Berharap bosnya itu tidak mulai lagi jadi
mak comblang. Seperti yang biasa dilakukan jika ada kolega yang kelihatannya
masih muda.
Lian
terkekeh. “Kebetulan masih Pak.” Jawabnya.
What?
Masih jomblo, dia bilang kebetulan lagi. Ran melirik Buk Mar yang sedang
mengamati jalannya perbincangan sambil memainkan alis sambil tersenyum-senyum.
“Wah
ya benar, kebetulan itu. Jangan panggil Ibu, orang dia baru lulus kuliah. Masih
bau kencur. Kalau jomblo kan bagus, dari kemarin yang datang bapak-bapak terus,
ya kan Ran?” celoteh Pak Wardoyo. Ran hanya bisa nyengir sambil berharap Bos
besarnya itu tiba-tiba sakit perut atau kebelet pipis, biar si Lian bisa
cepetan pergi, sebelum semua rahasianya terbongkar.
Harapan
Ran tidak terwujud. Seperti air sungai bertemu samudra, mereka berdua malah
kompak, dengan cepat jadi begitu akrab, membicarakan jalanan Jakarta hingga
klub sepak bola, dan Ran jadi obat nyamuknya.
“Bagus
dong, nanti Ran yang akan handle semua tugas inspeksinya. Kalian jadi bisa
sering ketemunya.” Seloroh Pak War yang membuat Ran hanya garuk-garuk kepala
yang tidak gatal. Untung Lian segera pamit dan tinggalah Ran sendirian menjadi
bulan-bulanan Buk Mar dan Pak Wardoyo, untung juga Mbak Resti tidak jadi
datang, kalau datang, Ran pasti sudah ditanya kapan rencana kencan pertama.
Ran merasa jengkel tapi senang. Jengkel dengan perlakuan orang-orang yang selalu
menanyakan kapan punya pacar, kapan kawin padanya itu, tapi sekaligus senang,
banyak orang yang memperhatikannya dengan tulus.
Karena
tidak membawa mobil, sepulang dari meeting dan membeli beberapa alat, hari ini
Lian menunggu kawan sekampus yang kebetulan ada disekitar jalan Thamrin. Sudah
sore, hampir maghrib, dan jalanan di bundaran itu pasti sangat padat dan macet.
Mendung
semenjak pagi tidak mengalami kemajuan, tidak panas dan tidak hujan, udara
terasa gerah dan lembab. Lian
sedang menghabiskan minuman kemasannya yang ketiga untuk hari ini, ketika
sebuah mobil Honda CRV hitam berhenti didepannya. Kaca mobil terbuka, seraut
wajah tampak melongok.
“Woi,
naik! Tapi dibelakang ya!” Serunya pada Lian. Tanpa menunggu lama, Lian segera
bergegas naik ke jok belakang. Dibelakang pengemudi.
“Mau
jemput istri?” Lian menghempaskan tubuhnya ke sandaran mobil.
“Iya.”
Si sopir melirik dari kaca spion. “Kayaknya capek banget?” tanya sopir yang
bernama Deril itu.
“Biasa
lagi cari-cari alat.” Jawab Lian yang kemudian membuka botol minumannya yang
keempat. Cuaca ini benar-benar membuatnya dehidrasi.
Deril
baru saja pulang dari Singapura, menyertai ayah mertuanya melakukan lawatan
kerja. Sepanjang jalan menuju Mall disekitaran bundaran, banyak bercerita
tentang pesatnya perindutrian Singapore.
“Lo
harus pergi kesana Li, biar lihat banner-banner mereka itu luar biasa banget,
siapa tahu nanti Lo bisa bentangin sayap disana juga.” Deril mencerocos sambil
menunggu istrinya yang sedang berjalan mendekat dengan sekantong belanjaan.
“Eh
ada tamu.” Kelakar istrinya saat mendapati Lian duduk di jok belakang.
“Ini
teman kuliah, Yang. Dulu dia datang kok pas resepsi kita.” Deril menepuk lengan
istrinya.
“Oh
yang pacarnya chines itu kan?” timpal istri Deril yang di balas pelototan kaget
dari suaminya.
Lian
hanya tersenyum samar dan bergumam. “Sekarang kami udah gak sama-sama lagi kok.” Ditimpali ooh dari yang bertanya.
Hanya
percakapan ringan, pertanyaan sepele, tapi tidak bagi hati Lian. Sebuah pisau
bagai menikamnya sekali lagi. Ingatannya kembali pada seraut wajah oriental
yang kekanak-kanakan. Wajahnya gadis manja yang dulu sangat dia cintai. Wajah
Liliana.
Langit
seolah paham suasana hati Lian, karena hujan deras tiba-tiba saja turun tanpa
ampun. Pejalan kaki berhamburan mencari halte terdekat untuk berteduh. Pedagang
asongan tidak mau kalah saing, sebentar saja, jalanan yang macet semakin dibuat
suram karena hujan. Lian
memandang keluar jendela, pandangan mata dibatasi derasnya hujan yang menutup
hari ini. Hatinya
memang hancur lebur dengan kepergian Liliana. Tanpa pamit, tanpa penjelasan,
tanpa alasan. Liliana bak hilang ditelan bumi. Seluruh tempat yang mungkin
disinggahi Liliana ia datangi, setiap orang yang mengenal Liliana ia jumpai,
tapi setiap jawaban terus saja sama. Tidak ada yang tahu kemana Liliana pergi.
Seluruh nomor telepon tidak aktif lagi. Tempat kerja Liliana bahkan tidak
memberitahukan alasan Liliana mengundurkan diri. Semua menarik tabir hitam yang
menutupi Liliana darinya.
“Eh,
Sayang, bukannya itu Ran?” Deril berseru menujuk seseorang yang tidak kebagian
tempat disebuah halte bus. Lian terkejut demi mendengar nama itu disebut. Ikut-ikutan
menoleh kearah yang ditunjuk Deril. Benar sekali, nama dan orang yang sama. Gadis
itu berdiri dibawah kanopi yang retak-retak, tempias air hujan membasahi
tubuhnya yang mungil.
Jantung
Lian seolah hampir meloncat dari tempatnya. Gadis itu. Apa yang telah terjadi?
Bertelanjang
kaki, menenteng sepatu wedgesnya sambil kedinginan. Sebelah tangannya berusaha
menghangatkan diri sendiri, meski ia tahu hal itu sia-sia. Wajahnya manyun
menatap mobil-mobil yang berjalan bak keong.
“Woii..
anak Bawang!” Istri Deril berteriak dari dalam mobil, membuka kaca jendela
hingga hujan berebutan masuk kedalamnya. Deril berkali-kali menekan klakson,
tapi yang dipanggil tak juga menoleh.
“Raaaan…!!!”
teriak Resti sekencangnya. Berhasil. Bukan hanya gadis itu yang menoleh, tapi
hampir semua orang yang ada dihalte itu. Resti melambaikan tangan, dan tanpa
menunggu gadis itu berlari-lari mendekati mobil mereka.
Tanpa
disuruh, Lian membuka pintu belakang, agar Gadis itu bisa langsung masuk.
Lian
Tercengang. Gadis itu basah kuyup. Blazer dan celananya dikotori noda lumpur, wajahnya
juga terlihat pucat.
“Mbak
Restiii…” Gadis itu mengerang. Kesedihan jelas tergambar dari raut wajahnya.
Resti
memutar badannya.
“Ngapain
kok bisa-bisanya nyangsang disitu? Gak tahu jalan pulang?” Resti mengulurkan
kotak Tissue yang diambilnya dari dashboard mobil.
“Tasku
dijambret orang, Mbak, gak nyangka, sampai jatuh aku.” Entah sadar entah tidak,
Gadis itu membuka blazernya. Kemeja putihnya basah kuyup, melekat dikulitnya
yang sawo matang, tank top kuning yang dipakainya sampai terlihat jelas.
“Sempat bingung tadi mau pulang pake apa, gak ada pegang uang sama sekali.”
“Astagaaa...” seru Resti.
“Sudah
lapor polisi?” tanya Deril.
Gadis
itu menggeleng. Mengelap wajahnya dengan tissue.
“Enggak
kepikiran.”
Tidak
ada yang memerintahkan padanya, tapi ia ingin. Lian membuka jaketnya dan
mengulurkannya pada gadis itu.
“Loh,
Eh… Mas ini lagi… sampai nggak engeuh aku.” Gadis itu sempat tersenyum dalam
wajahnya yang amburadul.
“Pakai
aja.” Kata Lian melihat gadis itu canggung menerima jaket dari tangannya.
“Terima
kasih lagi.” Sebuah senyum lagi, tanpa memperlihatkan gigi-geliginya.
Jaket
itu terlalu panjang, menenggelamkan lengan kecil Ran, tapi rasanya hangat, sisa
kehangatan tubuh pemakai sebelumnya. Aromanya juga lembut, seperti kayu-kayuan
dan citrus, Ran suka baunya.
“Ngomong-ngomong
dikantong itu ada yang bisa dimakan gak ya Mbak?” Celetuk Ran. Membuat tidak
hanya Lian, tapi juga Deril yang segera meledak tawanya.
“Eeh…
Dasar anak bawang, tau aja hujan-hujan enaknya ngemil.” Keluh Resti pura-pura
marah, tapi segera sibuk mengaduk-aduk kantong belanjaannya dan menarik
sebungkus kue bolu cokelat.
“Asyik…”
pekik Ran menerima bungkusan kue kesukaannya. “Kayaknya yang ini sengaja beliin
buat aku kan?” Ran mencolek lengan Resti dari belakang.
Gadis ini, barusan aja kena jambret, tapi bukannya sedih barang-barangnya hilang,
malah kelihatan biasa aja. Batin Lian. Luar Biasa.
“Air minum ada, Mbak Resti?” Ran melongok ke arah Resti.
“Eh,
gak beli loh Ran.” Resti menoleh, menatap adik kecilnya yang mirip kucing
kecemplung got.
“Oh…”
Ran bersandar lagi, masih sibuk ngemil kue coklat tanpa menawari orang
disampingnya.
“Mas,
boleh minta airnya?” Ran meringis. Lian menoleh kaget. Menatap gadis itu
sedetik, lalu meraih tas di dekat kakinya, menarik keluar sebotol air mineral
yang sudah berkurang sedikit.
“Ini?
Tapi tadi udah saya minum?” Lian mengacungkan botol kedepan Ran.
“Tapi
boleh kan kalau aku minta?” Gadis itu nyengir. Lian mengangguk, membalas
senyum. Dan begitu saja. Dengan cepat gadis itu membuka tutup botol dan meminum
isinya hingga hampir tandas. Lian hanya bisa menatap takjub. Seolah kelas
jambret tidak cukup menggentarkan nyali gadis imut itu. Gadis yang mungkin baru
dua puluh tahunan.
“Jangan
banyak-banyak minum!” sergah Resti yang sedari tadi mengawasi dari spion. “Awas
nanti kalau minta turun pipis.” Wajah resti yang pura-pura marah dibalas dengan
bibir kerucut Ran.
Hujan
masih deras ketika mobil Deril berhenti di depan kompleks pemukiman tempat
kostan Ran. Sudah hampir jam 8 malam. Ran
menggamit blazer dilipatan dalam sikunya, sedang jari-jarinya menenteng sepatu.
Bersikeras untuk pulang ke kostan, menolak menginap dirumah Resti.
“Um…
Mas gak papa ya aku bawa pulang jaketnya.” Kata Ran, urung membuka pintu mobil,
menoleh pada Lian yang ketar-ketir melihat gadis itu hendak keluar menerabas
hujan yang lebat.
Bukannya
menjawab, Lian malah tertegun.
“Gak
papa nih, Mbak pulang ujan deres gini?” alis Lian berkerut. Seandainya dia ikut
turun pun tidak akan banyak membantu. Tidak ada payung, tidak ada mantel hujan.
Menemani gadis itu hujan-hujanan bukan ide bagus, nanti ujung-ujungnya malah
bikin repot, musti bikinin teh, mau pulang juga jadi makin susah.
“Gak
apa-apa.” Ran membuka kunci pintu mobil. “Thanks Mas Deril, Mbak Judes…” teriak
Ran, mengabaikan Resti yang geleng-geleng kepala.
“Thanks
ya Mas Lian.” Sebuah senyum paling manis plus sorot mata mempesona dilempar
Gadis itu, tidak sengaja, tapi telak mendarat di hati Lian. Membuat Lian
membeku, hanya bisa memandang tubuh gadis mungil itu menerobos hujan deras lewat
jendela mobil yang buram karena embun hujan, plus diluar sudah gelap. Lampu
jalanan ikut menyamarkan gestur Ran yang setengah berlari kecil masuk kedalam
gang.
Lian
mendesah, menghempaskan tubuhnya ke belakang. Hujan hari ini, mungkin sama
dengan hujan-hujan dihari yang lain. Siapa yang ditemuinya dalam kesempatan
hujan kali inilah yang belum pernah dia temui di hari-hari kemarin. Hujan kali
ini seolah tiba-tiba menyirami hatinya yang telah lama mengering. Hujan kali
ini benar-benar menjadi satu-satunya hujan yang ingin dia nikmati.
Lian
memutuskan turun 10 meter dari Workshopnya, beralasan harus membeli sebuah
barang agar Deril mau memberhentikan mobilnya. Pria itu berjalan lambat-lambat dalam
siraman air hujan jam setengah Sembilan malam. Kapan terakhir kali dia mandi
hujan? Saat ia kecil? Saat ia kuliah? Yang pastinya tidak ada hujan saat
bersama Liana, hanya hujan air mata yang ternyata perlahan telah mengeringkan
hatinya. Tapi malam ini, hujan ini, membasahi hatinya lagi.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar