Selasa, 11 Desember 2018

Sang Pelukis Hati (11)


Bab. XI

Hujan deras mengguyur seluruh ibu kota, petir bersahut-sahutan, udara dingin berhembus menusuk tulang.
Ran bergelung diatas ranjangnya sejak pulang kerja. Memakai piyama sejak jam 5 sore, tidak berniat pergi mencari makan malam, untuk apa? perutnya bahkan tidak merasakan lapar sejak siang tadi.

Sebuah tas ransel menggembung, teronggok di sebelah kakinya. Boarding pass pesawat paling pagi menuju Surabaya sudah terselip dikantong yang paling depan. Ran tidur meringkuk memeluk guling menghadap tembok, matanya terbuka, tapi ia tidak melihat, telinganya tak mendengar dan kulitnya tak merasakan hawa dingin yang masuk melalui kisi-kisi jendela. Tubuh itu seperti membeku. Jika tidak melihat dadanya yang turun naik, orang pasti mengira gadis itu sudah tinggal nama.

Sesekali berkedip, ketika air mata hendak tertumpah lagi. Sesekali berkedip ketika jalan pikirannya tidak lagi memberikan penjelasan yang masuk akal, berkedip lagi ketika ia salah memperkirakan masa lalu yang telah terjadi tanpa ia ketahui, berkedip lagi ketika wajah Lian lagi-lagi memenuhi kepalanya.

Ran menantikan penjelasan, tapi semua bukti-bukti itu telah berbicara jelas. Lian memiliki kekasih lain selain dirinya, dan gadis itu sekarang sedang hamil, dan pastinya mengandung darah daging Lian. Entah sudah berapa bulan. Memikirkan itu membuat tenggorokan Ran tercekat lagi, rasanya tidak bisa bernafas, rasanya ingin berteriak, ingin melayangkan tangannya ke wajah Lian, ingin mendorong, meninju wajah tampan yang mulai membuatnya hilang kewarasan itu. Gadis itu terisak, menggigit ujung sarung gulingnya.

Apakah dia adalah si pihak ketiga, yang menyebabkan Lian berpisah dengan gadis itu? Ran benar-benar merasa sakit. Seluruh tubuhnya serasa kesemutan. Jari-jemari tangannya mencengkeram guling kuat-kuat.

Ran membutuhkan penjelasan, dan saat hal itu benar-benar jelas, tentu saja dia akan suka rela untuk mundur, Gadis itu mendapatkan prioritas utama. Tidak peduli apakah kehamilan itu adalah buah dari sebuak kecelakaan yang tidak diinginkan, atau sebuah permainan. Selama Lian tidak bisa membuktikan kalau janin itu bukan anakknya, Ran akan melepaskan Lian.

Sebuah kenangan, sebuah masa lalu, tidak akan mungkin bisa dilupakan. Sesakit apapun. Hal itu akan tetap menjadi bagian dari sejarah hidup kita. Meskipun di masa depan nanti kita menjadi orang paling bersinar, diri ini tetap saja mempunyai sebuah titik gelap yang pernah dijalani. Kita tidak bisa lari, kita hanya bisa berdamai dengan semua itu, dan menerimanya dengan lapang dada, sebagai pengalaman, sebagai pembelajaran terbaik dalam hidup. Dan saat kita mengingat hal itu tanpa rasa sakit, itu lah makna sebenarnya dari lupa.

Ran memejamkan matanya, saat merasa hatinya terasa hangat. Merasa menerima kenyataan sebagai bagian dari perjalanan hidupnya.

Mungkin sudah saatnya ia melepaskan sebelum segalanya semakin sulit untuk dihentikan.

“Ran?” suara Meli terdengar disela-sela desisan kedinginan karena kehujanan. Meli baru pulang kerja.

Ran tak bergeming. Berpura-pura tidur. Dan berhasil, Meli tidak lagi merasa ingin tahu, mengapa dia begitu cepat pergi tidur. Dan Ran berusaha untuk tertidur.

“Ran…” sebuah sentuhan lembut terasa dibahu Ran, gadis itu terbangun, membuka matanya yang sembab, menoleh kebelakang.

“Astagaa…” Meli memekik lirih. “Lo kenapa?” buru-buru Meli duduk rapat disebelah Ran yang segera duduk diatas tempat tidur.

Suara petir masih terdengar membahana, hujan masih deras, mungkin besok kebanyakan jalanan ibukota dipenuhi air.

“Lo mau kemana, packing ransel?” Meli merangkul Ran.

“Surabaya, tugas kantor.” Jawab Ran lemah.

“Trus lo berantem sama Lian?” tebakan Meli membuat Ran terkesiap, menatap sahabatnya itu.

“Enggak, katanya dia lagi dibandung.” Kilah Ran, menggosok kedua matanya yang terasa menebal.

“Ada kabar dari kampung?” telisik Meli. Ran menggeleng.

“Ya udah, cepetan cuci muka, itu Lian datang, aku suruh tunggu didepan.”

“Hah?” Seperti terkena gigit semut api. “Hujan-hujan gini?” Ran berdiri mengintip dari jendela kamar. “Tapi katanya dia lagi ada urusan di Bandung…” kata-kata Ran terhenti demi melihat Lian yang berdiri  di beranda menatap hujan.

Rambutnya basah, bajunya basah, wajahnya terlihat memutih, kedinginan. Ran menyusut bulir air yang mulai mengambang dipelupuk matanya. Mengapa harus sesulit ini. Rasanya rumit sekali. Rasanya diaduk-aduk, antara mengusir pergi pria itu dan memeluknya agar tetap tinggal.

“Ran…” Meli berdiri disebelah Ran. “Ronal bahkan belum pernah ngelakuin yang dilakuin Lian ke kamu, Ran. Meskipun kami udah setahun pacaran.” Tangan Meli mengusap rambut Ran yang tergerai. “Kalau ada masalah, selesikan secepatnya, atau keadaannya jadi makin rumit nanti.” Meli menatap Ran yang berkaca-kaca. “Cuci muka, biar aku buatin cokelat panas buat kalian.” Ran menatap Meli, mengangguk.

Ran menemui Lian, dengan handuk tebal ditangannya. Haruskah diragukan lagi, jika dia memang menyayangi Lian?

“Ran…” Desis Lian, segera berdiri saat melihat Ran keluar dari pintu. Aduh, sakitnya hati Lian melihat kedua mata Ran yang sembab, bahkan senyuman riang yang selalu tersungging dibibir gadisnya itu sama sekali tak terlihat. Lian yakin, Ran telah membuat satu kesimpulan yang salah tentang semua foto-foto itu.

Ran tidak menjawab, mengulurkan handuknya pada Lian. Menghindari tatapan mata pria itu.

Lian menerima handuk dari Ran lalu menggosok kepala dan lengannya yang basah kuyup. Ran mengamati dari sudut mata, bgaiamana bulu-bulu halus dilengan Lian serentak berdiri. Pria itu kedinginan untuknya. Hatinya sakit. Melihat seseorang yang menderita karenanya. Tapi hatinya lebih sakit lagi, ketika mengetahui bahwa orang yang ia cintai, menyembunyikan sebuah rahasia besar dari dirinya selama ini.

“Ran, Aku harus menjelaskan ke kamu tentang foto-foto itu.” Lian menggosok kedua telapak tangannya, kedinginan.

“Juga test pack itu.” suara Ran bergetar, menatap Lian yang mulai menggigil. Gadis itu membuka sweater baseball yang dipakainya dan mengulurkannya pada Lian, lalu berpaling, bahkan hingga seluruh tubuhnya bisa dipastikan tidak melihat Lian yang dengan cepat membuka jaket dan kemejanya, menggantinya dengan sweater Ran. Meskipun terlalu besar untuk Ran, ternyata sweater itu sedikit terlalu kecil untuk Lian.

“Sudah.” Lian mendesah, merasakan kehangatan di dalam sweater itu, kehangatan tubuh Ran yang masih tertinggal di dalamnya. Kehangatan gadis yang juga telah menghangatkan hatinya.
Ran memutar badannya. Mendesah.

“Liana…” Lian memulai penjelasannya. Ran diam, menatap air hujan yang jatuh deras mengucur dari ujung atap rumah. “Kami udah lama bersama.” Lian menelan ludah. Ran tak bergeming.

“Aku mengenalnya saat aku bekerja di Surabaya. Kami pacaran selama dua tahun lebih, termasuk masa pedekate. Aku bahkan berencana membawa Liana ke Jakarta untuk bertemu keluargaku. Tapi sebelum hal itu terjadi, aku harus kembali ke Jakarta, ada urusan keluarga. Selama hampir lima bulan aku di Jakarta, hubungan jarak jauh kami tetap baik. Hingga suatu saat nomor ponselnya tidak bisa kuhubungi lagi-.”

“-Saat urusanku di Jakarta selesai, aku kembali ke Surabaya, tapi kostannya sudah kosong, aku berusaha kerumah keluarganya di daerah Kenjeran, tapi rumah itu kosong, menurut tetangga dekat, keluarga itu sedang pergi mengobatkan nenek Liana di Singapura. Dan aku hanya bisa menitipkan nomor telepon rumah di Jakarta, sambil minta tolong buat ngasih kabar, kapanpun mereka kembali.” Lian menghela nafas.

“Tapi tidak pernah ada kabar.” Pria itu menoleh Ran yang hanya terdiam sejak tadi. “Hingga setahun yang lalu, sebuah surat datang. Berisi foto-foto dan test pack itu. Aku benar-benar kaget, dan aku akui memang kami telah melakukan itu…” Lian terdiam menutup matanya, seolah menyesali yang telah terjadi. “…sebalum aku pergi ke Jakarta.” Lian berhenti bicara lagi, menatap Ran yang menatap hujan dengan pandangan hampa. Lian merasakan rasa sakit itu lagi, bahkan jauh lebih sakit dibandingkan rasa yang ia rasakan dulu, dulu sekali, saat ia kehilangan Liana.

“Sekarang anak itu pasti sudah lahir ke dunia.” Desis Ran parau. “Dan sedang mencari bapaknya…” Ran tercekat. Menoleh pada Lian.

“Kalau mau, ibunya tau benar dimana bisa menemukan aku.” Lian menjawab gamang, suaranya lirih tertelan desiran hujan. Keduanya terdiam.

Meli keluar membawakan dua gelas cokelat panas yang masih mengepul. Tanpa berkata-kata, Meli segera kembali kedalam rumah sambil menyentuh ringan bahu Ran.

“Mas nggak kepikiran mau cari anak itu? ketempat yang mungkin disinggahi Liana?” .

Deg. Jantung Lian serasa tak berdetak detik itu juga. Kedua matanya menatap gadis itu lamat-lamat. Disinikah kisah ini harus berakir?

“Aku nggak mau dianggap sebagai penghalang, seandainya Liana sebenarnya sedang menunggu kedatangan mas Lian.” Akhirnya Ran menyusut air mata yang mulai bergulir disudut mata indahnya.

“Ran…” Lian beringsut duduk lebih dekat. “Aku mencari Liana, bukan sehari atau dua hari, bukan sebulan atau dua bulan, aku mencarinya selama ini. Tidak hanya di dunia nyata bahkan hingga dunia maya. Bukan hanya di Jakarta atau Surabaya, tapi hingga Singapura. Aku tidak berhenti, hingga tubuhku sendiri memaksaku berhenti. Sepuluh bulan mencari, sebulan penuh tergeletak dirumah sakit, hingga akhirnya Deril, meyakinkanku untuk berhenti.”

“Sampai kapan? Itu pertanyaan Deril. Yang sekaligus membuatku perlahan berhenti mencari Liana. Karena terkadang, saat kita berhenti mencari, clue nya jadi semakin jelas, perlahan terkuak. Aku hanya perlu meyakini, cepat atau lambat aku dan Liana pasti bertemu.” Lian meraih gelas cokelat dihadapannya, meminumnya tanpa ditawari.

“Bagaimana kalau itu terjadi disaat yang sangat tidak tepat? Ketika mungkin kita sudah menikah dan punya anak, atau saat anak kita hendak menikah tapi ternyata mereka sedarah? Anakku dengan anak Liana? Bagaimana kalau Liana datang, menuntut tanggung jawab mas Lian sedangkan diantara kita sudah ada ikatan pernikahan? Apakah aku harus mengalah saat itu, atau lebih baik aku mundur saat ini juga?”

Ran menyusut air matanya lagi. “Meski aku tidak mengenalnya, aku tidak mau menyakiti hatinya dengan merebut Mas Lian darinya.”

“Tidak ada yang diperebutkan!” Lian mendesah. “Hebat sekali aku kalau sampai kalian perebutkan. Kenyataannya adalah Liana meninggalkan aku, menganggapku tidak berguna bahkan tidak berarti baginya. Jika tidak mengapa tidak menyusulku? Mengapa bersembunyi dariku? Mengapa?” kini dada Lian yang sesak. Merasa benci pada dirinya sendiri.

“Kalian makhluk yang sama bukan? Katakan padaku Ran, Apa yang bisa membuat kalian meninggalkan ayah dari bayi kalian sendiri?” Lian menatap Ran tajam. “Apa yang bisa membuat kalian tega melakukan itu?”

Ran terdiam, menatap mata Lian yang jelas terlihat luka. Baginya, memang tidak ada alasan untuk meninggalkan orang yang telah menanam benih dalam rahimu. Kecuali dia dipaksa untuk meninggalkannya.

“Keluarga Liana mungkin…”

“Aku bahkan sudah mendapatkan restu dari kedua orang tua dan keluarga besar Liana, apa lagi? Tidak mungkin mereka menyembunyikan Liana dariku yang jelas-jelas menginginkan Liana sebagai pendamping hidup, bukan sekedar teman atau pacar biasa.”

“Aku bertemu denganmu, Ran. Dan setiap hari yang kupikirkan adalah bagaimana caranya untuk menjelaskan padamu tentang masa laluku. Deril juga yang menyarankan padaku untuk mengubur masa lalu dalam-dalam, dan memulai cerita yang baru bersamamu, tapi kesalahan itu menghantuiku, hingga aku mengeluarkan amplop itu lagi, setelah sekian lama berulang kali berfikir, haruskah kau tau apa yang selama ini menghantuiku? Haruskah kau ikut menanggung penderitaan yang seharusnya aku sendiri yang merasakan? Katakan padaku Ran, apa yang harus aku lakukan agar kita bisa tetap melangkah bersama!”

Ran masih menatap Lian, seolah merasakan apa yang dirasakan pria dihadapannya itu. Ketika cintamu yang begitu besar, diabaikan begitu saja, seperti inikah rasanya?

“Lalu, aku harus gimana, Mas?” Ran mengerang. Menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Ran…” Lian memegang kedua tangan Ran, menurunkannya dari wajah yang dialiri air mata. Sakit sekali rasanya melihat gadis itu menangis, dan tangis itu hadir karena dirinya. “Silakan kamu anggap aku bohong, atau modus, atau terserah apapun, Aku ingin bilang kalau perasaanku sama kamu itu lain, Ran. Tidak seperti rasanya mencintai Liana. Aku…” Lian berhenti. Menatap wajah sayu yang tengah terisak pelan dihadapannya. “Kalau perasaan itu bertepuk sebelah tangan, aku bisa apa.” Sebelah tangan Lian mengenggam tangan Ran, sebelah lagi mengusap air mata dipipi gadis itu.

“Aku tidak mampu menjanjikanmu kebahagiaan, atau senyuman sepanjang hubungan kita, aku hanya mampu berjanji untuk tetap berusaha membuatmu bahagia.”

Lian melepaskan tangannya. Menyerahkan keputusan kepada Ran. Dia tidak berhak memaksa, meski yang dia inginkan sekarang hanyalah Ran, ingin Ran mengerti, ingin Ran memahami, ingin Ran mendukungnya, tapi ia tidak bisa memaksa. Apalah artinya menyanding gadis itu, jika hanya menyebabkan luka hati yang menganga dalam kehidupan mereka nantinya.

“Beri aku waktu, Mas.” Ran berbisik.

Lian sudah menduganya. Inilah tapal batas yang akan mengantarkan kisahnya kali ini. Berakhir sedih atau bahagia.

Lian mengangguk. “Tapi tolong jangan menghindar dariku, Ran. Tolong biarkan aku melakukan apa yang biasanya aku lakukan.” Ran mengangguk.

Hujan masih gerimis, tapi Guntur tak lagi terdengar garang. Seperti suasana hati Ran yang perlahan luruh, entah, tidak ada rasanya. Lian bangkit, mengambil kemeja dan bajunya yang basah. Berpamitan.

“Masuklah, aku pulang sekarang.” Desis Lian.

Ran masih menatap Lian yang setengah basah, setengah kering, rasanya pasti dingin sekali, seperti hatinya.
Gadis itu mengangguk, mengambil dua gelas cokelat yang masih setengah, membawanya masuk ke dalam rumah. Ran berjalan ke dalam kamarnya, sementara Lian berjalan gontai ke luar halaman, ketempat ia memarkirkan motor pinjamannya.

Ran meremas kedua tangannya, berusaha keras untuk tidak berlari dan memeluk tubuh orang yang memunggunginya itu. Apakah nama dari perasaan seprti itu jika bukan cinta? Lian hari itu meminjam lagi motor matic Agus, menekan klakson ringan sekali dan melihat sekilas ke jendela kamar Ran yang gelap. Akhirnya semua tumpah didepan Meli.



(To Be continue yah.... )

Sabtu, 01 Desember 2018

Sang Pelukis Hati (9)

Ups....

Ternyata bab ini ketinggalan, supaya tidak terlalu lama mencari... let cekidot pals...


Bab. IX


Meskipun kini telah hadir kejelasan tentang hubungan Lian dengan Gadis itu , tak lantas membuat Lian kehilangan kendali atas tingkah lakunya. Pria itu tetap seperti biasa, dewasa dan menjaga setiap gerak-geriknya, tidak lantas mencari kesempatan untuk berdekat-dekatan dengan Ran, apalagi bersentuhan yang berlebihan, Lian benar-benar menjaga pilihan hatinya, komitmennya.

Saat semua orang tertidur, Lian duduk sendirian ditepian pantai. Memandang jauh kelutan lepas yang berdebur perlahan. Jemarinya mempermainkan gelang tali berbandul bulan bintang dipergelangan tangannya. Gelang yang seolah telah mengikat hatinya hanya untuk satu nama, namun begitu saja meninggalkannya tanpa kepastian. Lian tidak akan pernah bisa melupakan Liana, gadis itu telah menjadi bagian dari hidupnya, pernah mengisi hari-harinya hingga dua tahun lamanya. Bertengkar, berbaikan, kesedihan, kebahagiaan, silih berganti dalam hubungan mereka. Tidak mungkin dilupakan.

Tapi kini satu sosok hadir. Seperti matahari, menerangi ruangan gelap dalam hatinya dengan kesederhanaan dan keceriaan. Dan dengan keegoisannya, telah menarik matahari itu masuk kedunianya yang samar-samar. Separuh hatinya berkata untuk tetap mencari Liana, sampai kapanpun. Separuhnya lagi berbisik agar mulai sepenuhnya mencintai Ran, matahari hatinya. Dan ia akan terus mancari dengan tetap belajar menjadikan Ran satu-satunya. Jikalau Liana kembali, tangannya akan tetap terbuka, tapi bukan untuk bersama, seperti dulu kala.

Gontai. Pria itu berjalan perlahan, mendekati bungalow, dimana kekasihnya tidur didalam sleeping bag. Seperti kepompong, hanya terlihat wajahnya saja. Lian duduk di bawah bungalow, tepat disebelah Ran. Menatap wajah polos gadis itu saat tertidur. Terlihat tenang dan damai. Berbeda jauh dengan wajahnya saat terbangun, selalu tersenyum, nyengir, melucu, seolah mengajak semua orang untuk berbahagia bersamanya. Wajah ketakutannya, kecemasannya, bahkan marah, sangat sulit dipancing keluar, tapi mudah sekali menghilang. Semakin memandang wajah Ran, semakin Lian merasakan keyakinan dalam dirinya.

Tertidur sejak pukul 2 malam, Ran dikejutkan dengan percikan air dingin diwajahnya. Ia membuka mata dan melihat Lian berjongkok dihadapannya, dibawah bungalow.

“Subuh.” Pria itu berbisik. Wajahnya cerah, rambutnya basah, aroma wangi khas Lian menguar.

Ran menggeleng, duduk memeluk lututnya. Udara dingin masih terasa, langit masih gelap. Teman-temannya masih terlelap dalam kantong tidur masing-masing. Ran mengedarkan pandangan, Terlihat Arlen juga sudah bangun. Masih memakai jaket tebal, menyalakan api lagi.

“Mas Lian tidur jam berapa?” tanya Ran. Teringat masih melihat Lian berbincang dengan Ronal dan Arlen saat ia berpamitan tidur.

“Mmm, Jam berapa ya, lupa.” Lian memasang wajah bingung. “Tapi tidur kok. Gak usah khawatir gitu.” Lian tersenyum.

Gadis itu menatap Lian yang memang sama sekali tidak terlihat lelah. Masih segar, masih steady, tapi itu sekarang. Bagaimana jam pulang nanti. Ran mengedikkan bahu lalu bergegas keluar dari kantong tidurnya, meraih tas dan mengeluarkan sebuah bungkusan plastic, dan baju ganti.

“Mau mandi.” Bisiknya pada Lian lalu bergegas ke kamar mandi disudut bungalow.

Tepat jam sembilan, rombongan itu meninggalkan pantai anyer. Sopir APV baru saja bangun, tapi sopir Fortuner, entah berapa jam dia tidur semalam. Ran menatap Lian yang sudah siap dibelakang kemudi. Terlihat tetap segar bugar apalagi setelah menghabiskan satu mug kopi hitam yang dibuat Arlen sebelum sarapan. Gadis itu menguap, meski sudah tidur 3 jam rasanya kelopak matanya sangat berat.

“Tidur aja.” Perintah Lian.

Ran menggeleng. Dia tidak akan membiarkan sopir kurang tidurnya mengemudi sendirian. Seandainya saja ia bisa meminum segelas kopi pagi ini, matanya pasti lebih lebar terbuka. Lian yang mengambil jatah kopinya, gara-gara Meli mengingatkan bahwa kopi membuat asam lambungnya naik.

Kedua mobil beriringan pelan, meskipun sebenarnya berjalan pelan justru makin membuat ngantuk, Riko tetap berkeras mereka berjalan santai dengan alasan makan siang mereka sudah sampai di kostan.
Benarlah perkiraan Riko, jam dua belas mereka sampai di kostan. Para pria membongkar muatan, para Gadis mempersiapkan makan siang yang mereka beli diperjalanan tadi. Suasana masih menyenangkan seperti di pantai, tikar digelar dihalaman, dibawah pohon mangga rimbun yang buahnya mulai membesar. Kotak-kotak makan siang ditata melingkar, buah dan minuman ringan diletakkan ditengah. Arlen mulai memainkan gitar lagi.

Namun keceriaan itu tidak bertahan lama. Karena Diyah tiba-tiba berteriak dari dalam kamarnya. Memanggil-manggil nama Devi. Semua orang berhamburan masuk, peraturan yang melarang pria masuk ke rumah mereka mendadak dilupakan oleh semua orang.

Devi tergeletak di kamar mandi, wajahnya pucat, bibirnya membiru, rambut dan bajunya basah. Darah mengalir dari pergelangan tangannya. Sebilah mata cutter tergeletak dilantai. Rumah kost itu gempar. Lian, Arlen, Riko dan Ronal masuk ke kamar mandi, membebat pergelangan tangan Devi dengan kain, lalu mengangkat tubuh lemah itu ke mobil, disaksikan beberapa tetangga yang kebetulan lewat didepan rumah, pulang dari masjid. Ran, Meli, dan Rosa ikut mengantar ke rumah sakit, sisanya menunggu dirumah.

Devi dibawa ke ruang UGD, diberi pertolongan pertama. Ran yang pucat terpaksa harus ditarik duduk diruang tunggu oleh Lian, Gadis itu hampir pingsan.

“Ya ampuun, darahnya banyak banget.” tubuh Ran gemetaran menutup kedua mata rapat-rapat. Kedua tangannya dingin.

“Dia gak tahan lihat darah banyak.” Meli menatap Lian yang terlihat sedikit panik. Pria itu berlutut didepan Ran, menggosok lengan Ran lembut.

“Ran…” Rosa mendekat, mengulurkan ponsel. “Perusahaannya nolak bayarin biaya pengobatan, karena percobaan bunuh diri tidak masuk dalam pertanggungan.” Katanya.

“Halo. Iya bu, Maaf ini dengan siapa?” Suara Ran masih gemetar. “Bukan.., maksud saya begini, Bu. Saya minta bantuannya untuk sekedar memastikan Devi segera ditangani. Masalah biaya nanti bisa kami usahakan disini…” lanjutnya. Kepalanya berkedut, kurang tidur, kaget, sekaligus phobia.

“…Lalu?” Ran memejamkan mata, memijat pelipisnya dengan ujung jari. Berusaha berkonsentrasi pada lawan bicaranya yang cerewet luar biasa, berbicara banyak tanpa menyentuh inti permasalahan. Ran terkekeh getir. Semua orang menatapnya.

“Pada intinya, perusahaan lepas tangan bukan?” Nada suara Ran meningkat. “Saya tahu…” Ran mendongak, menatap Lian yang memang tepat didepan nya. Menggeleng. “Baik… baik… Terima kasih banyak, Saya hargai bantuan Ibu. Selamat siang.” Gadis itu menghempaskan tubuhnya kebelakang, mengulurkan ponsel pada Rosa.

“Ibu itu tadi udah ngomong sama dokter?” Ran menatap Rosa. Yang ditatap mengangguk. Ran membeo.

“Pada dasarnya, perusahaan cuci tangan pada masalah ini, bahkan jika sampai ke tangan pihak berwajib, mereka tidak akan bertanggung jawab, karena kasusnya percobaan bunuh diri.” Ran melipat tangannya kedepan dada. “Dan semua biaya ditanggung pasien sendiri.” Ran menatap Meli dan Rosa bergantian lalu terdiam.

“Aku coba telpon Carlos.” Rosa memecah sepi lalu sibuk dengan ponselnya. Ran mengangguk samar, terkenang dengan adegan pertemuan pertamanya dengan Carlos.

“Jangan kabari orang tuanya dulu, Ros.” Ran menyentuh lengan Rosa yang duduk disebelahnya. Rosa mengangguk.

“Kita patungan dulu?” Meli berbisik.

“Gampang Mel, yang penting kita tunggu keadaan Devi dulu bagaimana.” Ran menggosok lengan Meli, tersenyum. Ran menyadari Lian menatapnya lekat-lekat seolah tahu apa yang dipikirkannya. Kedua bibir Lian terkatup rapat, membentuk garis lurus, sepi dari senyuman. Bahkan saat Ran mencoba tersenyum padanya, pria itu malah mengerutkan alis dan menyipitkan matanya, seolah tahu apa yang sedang ada dalam pikirannya.

Kantuknya hilang pergi entah kemana, berganti dengan migraine. Meli tertidur disudut ruang tunggu dengan Ronal disampingnya. Lian sedang menelepon keluar ruangan, Rosa, Riko dan Arlen pulang kembali ke kostan, membereskan kekacuan dirumah. Seorang suster datang menghampiri Ran.

“Keluarga Bu Devi?” tanyanya.

“Iya sus, Saya.” Ran berdiri.

“Mari ke kedalam Mbak.” Suster itu mempersilakan Ran mengikutinya.

Devi tergolek lemah tak sadarkan diri disebuah ranjang dengan selimut garis-garis khas rumah sakit, bajunya juga sudah diganti dengan seragam pasien.

“Halo, Mbak.” Sapa seorang dokter perempuan setengah baya.

“Saya Ran, Dokter, Teman sekost Devi.” Ran memperkenalkan diri.

“Oh, baik Mbak Ran.” Dokter itu membuka sebuah map berwarna hijau muda. “Sudah tahu ya, kalau Mbak Devi melakukan percobaan bunuh diri. Tapi sayangnya gagal, dan syukurlah nyawanya masih bisa ditolong.” Tutur dokter dengan nama dada Suryatanti itu. “Kabar baiknya lagi, bayi dikandungan Mbak Devi juga selamat.” Imbuh dokter itu.

Seperti disengat aliran listrik, Ran mengerjap menatap wajah dokter yang ayu itu. “Devi hamil, Dok?” Ran mendesis.

“Iya, diperkirakan sudah masuk minggu ke 8. Kondisi janin sudah bagus, hanya saja kita perlu transfusi darah ya, Mbak Ran, karena pasien kehilangan banyak darah.”

“Iya bu, tolong dibantu teman saya dan bayinya.”

“Baik, kami akan usahakan yang sebaik mungkin.” Dokter Surya memutar map itu hingga menghadap Ran. Sebuah pernyataan kesanggupan dilengkapi dengan nominal yang harus dijadikan deposit sebagai tanda jadi melakukan perawatan. Delapan juta rupiah. Tanpa menunggu lama, Ran membubuhkan tanda tangannya dikolom yang disediakan.

“Baik, silakan dilanjutkan di kasir.” Dokter Surya mempersilakan Ran menuju sebuah loket.

Ran berjalan gontai. Delapan juta rupiah adalah isi tabungannya plus setengah gaji yang baru saja diterimnya akhir bulan kemarin. Uang itu sedianya akan digunakan untuk biaya masuk SMA adik bungsunya. Tapi apa yang bisa dia lakukan. Ia tahu benar siapa teman-temannya, bukan bermaksud meremehkan atau menganggap pekerjaan mereka tidak sebaik dirinya. Masing-masing temannya memiliki kebutuhan masing-masing, bahkan seringkali mereka meminjam uang Ran, jika tanggal semakin beruban.

“Delapan juta rupiah sebagai deposit?” seorang wanita bertanya dari balik jendela kaca.

“Bisa dengan kartu debit?” Jawab Ran.

“Bisa Bu.”

Ran mengulurkan kartu ATM nya yang kini berfungsi sebagai kartu debit juga, Kartu baru yang dibuatnya bersama Lian. Ternyata ini sudah jalanNya.

Saat Ran kembali ke ruang tunggu, ia melihat Lian yang duduk sambil memegang ponsel namun segera menyimpannya saat ia melihat Ran datang.

“Gimana?” bisik Lian. Ran menatap Lian lama.

Devi hamil bukan karena kesalahan satu orang saja, setidaknya ia mendapatkan anugerah itu dari seorang lelaki, dan ia yakin itu Carlos. Pria yang pergi begitu saja setelah tahu benihnya tertanam dalam Rahim seorang perempuan. Mengapa selalu saja seperti itu. Mengapa harus membiarkan hal seperti itu terjadi. Sebesar apapun rasa cinta membutakan mata, seharusnya ia tidak membuatmu buta hati. Dan Pria yang duduk dihadapannya ini, pada dasarnya setiap makhluk yang bernama lelaki, pasti memiliki sifat dasar yang sama. Namun pergaulan, pendidikan dan pengalaman yang akan menumbuhkan mereka menjadi orang-orang dengan pemikiran yang berbeda. Ran duduk disamping Lian, yang menatapnya antusias, menunggu jawaban.

“Devi hamil, 8 minggu.” Desis Ran. Lian terkesiap, kaget.

“Jadi dia bunuh diri karena hamil?” Lian terlihat pucat. Pria itu terdiam.

Sang Pelukis Hati (10)


Bab. X

Lian seolah diempaskan kedalam bumi. Pikirannya segera terbang pada kejadian lebih dari setahun yang lalu, ketika sebuah amplop cokelat dikirimkan seseorang untuknya. Membuatnya berkali-kali terjatuh, bangkit lagi, dan jatuh lagi, bangkit lagi, tapi jatuh lagi. Dunianya meledak bagai bigbang, berhamburan kemana-mana, membuatnya salah arah, membuanya sempat berfikir untuk melakukan apa yang dilakukan Devi sekarang ini. Segalanya terasa salah, hingga ia bertemu dengan gadis mungil disampingnya itu.

Setelah sekian lama berusaha mengubur perasaan itu, hari ini, hati itu robek kembali, dan isinya berhamburan keluar, berusaha memutar ulang setiap kenangan yang sebelumnya tersimpan disudut yang paling tersembunyi. Hari ini wajah itu kembali membayangi pandangannya, suara tawa itu kembali memenuhi telinganya, dan kabar itu kembali mengusiknya. Apakah Liana juga telah melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Devi?

Tepat sebelum maghrib, Lian sudah mengantar Ran pulang, terburu-buru pamitan, mungkin karena mengantuk jadi Ran tidak berusaha menahan Lian.

“Jadi lo pakai duit lo semua, Ran?” Meli duduk meringkuk diranjang Ran. Gadis itu mengangguk.

“Nanti kita patungan buat bantu lo ya.” Hibur Meli, meski sangat yakin meskipun keempat teman kostannya itu patungan, paling hanya menyentuh setengah saja dari jumlah uang yang telah Ran keluarkan.

“Udah gak usah dipikirin sekarang. Oh iya, selama hari kerja gue nggak bisa bantu jagain Devi, palingan pulang kerja aja, dan gak bisa nginap.” Ran menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Tidur yuk, besok kerja. Gak enak kalau ketiduran dikantor.” Ran merangkul Meli untuk tidur bersamanya.
Setengah tujuh pagi, Ran sudah bersiap di depan kompleks. Tidak terlalu lama, Fortuner hitam Lian menepi.

“Selamat pagi.” Sapa yang didalam mobil.

“Pagi juga, Pak.” Jawab Ran, tersenyum lebar. Cukup tidur.

“Sudah sarapan?” Lian tersenyum, menyodorkan sekotak kue basah. “Siang ini aku mau ke bandung, Ran. Sore mungkin gak bisa jemput.”

“Iya gak papa.” Ran menyuap sepotong getuk lindri kedalam mulutnya. Kenapa harus selalu getuk lindri yang menarik perhatiannya.

“Sore mau ke rumah sakit?” tanya Lian lagi.

“Kelihatannya begitu.” Ran menjawab, menyesap air mineral gelas untuk membersihkan tenggorokannya.

“Jangan pulang malam-malam, cepat kabari kalau ada apa-apa ya.”

“Siap, Pak.”

“Eh, kapan invoice terakhir cair?” Lian bertanya, sambil mengulum senyum.
Ran merengut sambil mengunyah dadar gulung.

“Gak tahu, steker nya belum dicabut.” Jawab Ran sekenanya.

“Hah?” Lian membelalak tak mengerti, apa hubungannya cek dengan steker.

“Kalau steker gak dicabut ya beku terus, gak cair-cair.” Ran nyengir. Menyadari yang diajak bicara tidak paham. Lian menepuk dahi, tertawa.

Ran turun didepan lobby gedung, melangkah masuk setelah mobil Lian memberikan klakson pendek sekali dan berjalan pergi.

“Nah ini dia sudah datang.” Buk Mar langsung menggamit lengan Ran begitu dia masuk ke dalam kantor.

“Ada apa buk?”

“Ini, bapak minta laporan buat attachment invoice nya Don Jean yang terakhir, ditunggu sampai jam 10 nanti, kalau tidak invoice dipending sampai bulan depan.” Buk Mar menyodorkan selembar invoice yang minggu kemarin.

“Oh, oke Buk, Terima kasih banyak.” Ran berjalan masuk ke kantornya. Mengeluarkan hape untuk mengirim pesan.

Kalau dua tangan udah gak ada di kemudi, balas sms ya.

Tulis Ran. Satu jam kemudian pesan Ran dibalas dengan panggilan.

“Ya, Ran?” Sapa Lian.

“Mas udah jalan ke Bandung?”

“Udah, ini lagi berhenti sebentar, ada apa?”

“Pak Wardoyo minta dokumen pendukung buat attachment invoice, apa aja, boleh foto atau laporan apa kek gitu, yang penting ada attachmentnya buat disubmit ke owner.”

“Oh, ada, beberapa foto dan gambar rancang bangun proyeknya. Mmm… Nanti biar diantar Agus kekantor ya.”

“Boleh, sebelum jam 10 ya.”

“Siap, Bu.”

“Hehehe... Baiklah Pak, untuk sementara itu saja dulu ya. Jangan lupa oleh-oleh, eh emang mau pulang kapan?”

“Nanti aku kabari.”

“Ok deh.”

“Ok. Bye.”

Telepon ditutup. Ran kembali ke kegiatan rutinnya.

Jam setengah sepuluh, Pak Wardoyo datang dari breakfast meeting dengan kolega.

“Sayangku…” Teriaknya begitu masuk kantor.

“Dari mana Pak?” Ran bertanya dari balik meja. Tersenyum melihat wajah Pak Wardoyo yang sumringah.

“Eh, ada kabar baik buat kamu.” Pak Wardoyo memberi kode Ran untuk masuk ke ruangannya.

“Ada apa Pak?” Ran duduk didepan Pak War.

“Besok kamu ke surabaya, Buk Mar nanti yang siapin akomodasinya. Ada expo yang kamu harus datangi…” Ran menahan nafas.

“Surabaya?” Ran garuk-garuk kepala. “Kok nggak bali sekalian, Pak?” bibir gadis itu mengerucut.

“Weleh, kan biasa Resti yang pergi, sekarang dia lagi hamil, jadi kamu aja yang pergi. Semua yang diperlukan buat Expo dikirim lewat ekspedisi, nanti ada yang bantu kamu disana, tiga hari dua malam minimal, tiga malam empat hari maksimal, belum termasuk perjalanan.” Pak War menyodorkan berkas dalam map hitam. “Simpan, besok bawa ke Surabaya!” lanjutnya.

“Mendadak banget Pak.” Masih merengut.

“Enggak mendadak sih, udah setengah bulan lalu infonya, tapi lupa aku kemarin.” Tanpa merasa bersalah Pak Wardoyo malah tertawa.

“Astagaaa…” Ran mengelus dada. “Iya deh nanti Ran pikirin.” Kata Ran sambil ngeloyor keluar.

Perjalanan dinas pertama Ran. Seharusnya menyenangkan sih, tapi jauh dari Lian adalah sesuatu yang terasa aneh, setelah hampir tiga bulan ini mereka sering bertemu. Suara pintu diketuk, terlihat dari jendela seorang lelaki muda berdiri sambil membawa amplop cokelat. Karyawan Don Jean.

“Masuk!” Ran setengah teriak. Pintu didorong dengan mudah.

“Permisi, Mbak Ran.” Lelaki itu menyapa.

“Owh Mas Agus, silakan mas.” Ran berdiri mempersilakan.

“Ini buat lampiran invoice, kata Mas Lian suruh kasih Mbak Ran.” Agus berkata canggung.

“Iya, terima kasih banyak ya Mas.” Agus pamit.

Seharusnya amplop itu bukan untuk Ran, dua amplop tergeletak diatas meja, warna amplop yang sama. Apalah yang diketahui Agus mengenai lampiran, ia hanya ditugaskan untuk mengambil amplop diatas meja kerja Lian dan mengantarkannya ke kantor Ran.

Lian mungkin lupa, jika amplop yang seharusnya untuk Ran, tertimpa blue print proyek yang lain hingga sama sekali tidak kelihatan. Lian juga mungkin lupa, kalau malam itu ia telah membuka lagi amplop cokelat yang datang lebih dari setahun yang lalu itu. Lian benar-benar lupa jika belum menyimpan amplop itu ketempat yang semestinya. Malang sekali bagi Ran, karena ia ikut-ikutan melihat isi amplop itu.

Ran memasukkan tangannnya dan menarik selembar foto. Seketika jantungnya terasa berhenti berdetak, kemudian tiba-tiba berdetak dengan amat kencangnya. Foto seorang Gadis cantik, sangat cantik, berkulit bersih seputih kapas, rambut hitam tergerai indah, bibir indah dengan polesan lipstick pink, dan sepasang mata sipit oriental, tengah memeluk seorang pria yang duduk didepannya. Wajah keduanya terlihat bahagia. Kedua lengan gadis itu terjulur kedepan menyilang didada sang pria dan kedua lengan itu digenggam dengan lembut oleh sepuluh jari ramping dan panjang-panjang. Berlatar sebuah wahana permainan yang entah dimana. Keduanya terlihat bahagia, sangat bahagia. Tapi entah mengapa Ran tidak suka dengan kebahagiaan itu.

Kedua tangannya gemetar, menuangkan seluruh isi amplop keatas mejanya. Dan benda kecil tipis itu jatuh tepat didepan matanya. Sebuah benda yang seperti plastic, berwarna putih dengan kombinasi warna biru, dengan sedikit huruf, dan dua garis berwarna merah. Ran menahan nafas, menutup mulutnya dengan kedua tangan ketika satu-persatu air mata jatuh dari pelupuk matanya.

Sepuluh lembar foto dengan orang yang sama, tempat yang berbeda-beda, bahkan salah satunya memperlihatkan bahwa dua orang itu bukan hanya sepasang teman. Teman tidak memeluk seerat itu, teman tidak sedekat itu, hingga dahi dan hidungnya bertemu, teman tidak seperti ini. Air matanya semakin deras, bukan karean cemburu dengan foto-foto itu, tapi lebih karena benda kecil yang bermakna besar. Jika gadis dalam foto itu hamil, berarti Lian akan jadi seorang ayah. Kapan? Kapan Lian menjadi seorang ayah?

Jika bisa dikatakan, tentu Ran akan mengatakan apa yang dia rasakan. Jika bisa didefiniskan, Ran pasti akan dengan mudah mempersonifikasikan perasaannya. Tapi hatinya benar-benar kebas. Apakah Lian adalah salah satu dari segelintir lelaki yang hanya mencari kesenangan sesaat saja? Setelah kisahnya dengan gadis itu berakhir dengan kehamilan, ia lari, dan kini menjeratnya dalam tipuan baru? Mengapa? Mengapa Lian?

Ran mengusap air matanya. Bersyukur bahwa Tuhan menunjukkan segalanya sekarang. Dengan tangan gemetar dan hati remuk redam, Ran memasukkan kembali foto-foto itu kedalam amplop, juga benda kecil itu. Melipat ujungnya dan mengamankannya lagi dengan empat staples sepanjang bibir amplop. Mengapa? Mengapa Lian berbohong?

Gemetar, tangan Ran meraih ponsel dan mengetikkan pesan untuk Lian.

Pak, Filenya salah, kayaknya yang seharusnya dikasih masih ada dikantor deh, asap ya, minta salah satu anak buah antar. Trims.

Ran mengirimkan pesan pada Lian. Bergegas keruangan Pak Wardoyo.

“Pak…Fix nih ya, besok aku berangkat ke Surabaya?”

“Fix doong, bilang Buk Mar, minta booking tiket buat besok.” Pak War gagal mendeteksi roman wajah Ran yang mendadak mendung, seperti cuaca diluar.

Ran bergegas ke meja Buk Mar. Ia tidak ingin pergi, tapi ia ingin sejenak lepas dari Lian.
“Buk Mar, tolong booking pesawat pertama besok ya Bu, yang buat Surabaya Expo itu.” Suara Ran bergetar. Dadanya hampir meledak menahan tangis.

“Siab, Ran.” Buk Mar juga gagal melihat air mata yang nyaris tumpah ke luar.

Terpekur sendirian, Ran berusaha menguatkan hatinya, ia sama sekali belum mendengar penjelasan apapun dari Lian, tapi ia tidak ingin dengar. Segalanya terlihat jelas. Melewatkan makan siang, Ran akhirnya kembali bertemu dengan Agus yang mungkin dikirim Lian untuk memberikan dokumen yang sebenarnya.

“Maaf, Mbak Ran, Mas Lian sendiri lupa naruhnya dimana, kirain amplop yang itu, ternyata yang ini Mbak.” Agus mengulurkan sebuah amplop yang berwarna sama. Ran membuka amplop itu dan mengintipnya sekilas. Kali ini amplop yang benar.

“Nggak papa Mas, Terima kasih banyak aku sama Mas Agus.” Ran mengulurkan amplop pertama. “Tolong langsung diberikan pada Mas Lian ya, Mas.” Ran tersenyum. Terpaksa.

“Siap Mbak. Permisi.”

Agus berlalu, tapi sakit dihati Ran tidak mau pergi bersama perginya foto-foto yang sempat membuat jantungnya seolah kehilangan detakkan itu.