Bab. V
Sudah
seminggu sejak terakhir kali Lian dan Ran jalan berdua, seminggu juga Resti
kembali mengantar jemput Ran, seminggu juga Ran sudah mulai bekerja dikantor,
dan seminggu pula gadis itu menerima olok-olok dari Devi. Sabtu
malam, hari special bagi yang punya pacar. Masing-masing teman kost Ran sudah
mulai pergi kencan sejak jam 5 sore. Sabtu hari Ran full dirumah karena kantor
hanya buka setiap senin sampai jumat saja. Meskipun dirumah, tidak berarti Ran
berhenti kerja. Ia tetap menerima telepon dari klien, membuat notulen, membuat
laporan progress pekerjaan yang sudah selesai untuk dilaporkan ke Pak Wardoyo,
termasuk progress pekerjaan Lian yang sudah dimulai tiga hari yang lalu.
Sudah
seminggu Ran tidak bertemu Lian. Lian juga tidak sempat menelepon, sibuk
menggarap tender yang didapatkan dari kantor Ran. Hanya laporan formal yang
dikirimkan lewat email. Ah, Ran mungkin berharap terlalu banyak pada Lian. Cowok
seganteng itu, mana mungkin kepincut cewek sekelas Ran. Pendek, item, gak
mancung, gak seksi lagi, betisnya aja besar-besar kayak pemain bola,
“Udah
luntur ya, rapalan waktu mandi kembang kemaren, sepi aja malam minggunya.” Devi
lagi-lagi memancing percakapan yang tidak sehat. Tiduran sambil nonton televisi
langsung nyolot begitu melihat Ran keluar kamar.
“Enggak
keluar?” Ran berusaha menjaga hati dan kepalanya tetap dingin. Meskipun
diucapkan dengan intonasi lemah lembut, kata-kata itu bak api yang menyambar
bensin bagi Devi.
“Mau
keluar kek, enggak kek, kan bukan urusan elo. Urusin aja pacar lo yang bentar
dateng bentar ilang itu.” semprot Devi.
Meli
yang juga keluar dari kamar, memegang bahu Ran, menatap penuh arti dan
menggeleng. Jangan dilayanin, mungkin itu maksud Meli. Ran mengedikkan bahu,
mengekor Meli yang sudah dijemput kekasih hati.
“Mau
kemana Ron?” tanya Ran pada Ronal, pacar Meli.
“Nonton
paling, trus makan, tapi terserah Meli juga.” Ronal menunjuk dengan dagu.
“Mau
nitip?” Meli melingkarkan lengan ke bahu Ran. “Si Mas gak kesini?”
“Mungkin
masih sibuk, ngurus tender.” Ran mengedikkan bahu lagi, tapi memasang wajah
ceria. Meli tahu itu palsu. Lagi pula Ran sadar, mereka hanya sebatas teman,
tidak boleh menyalah artikan perhatian Lian selama ini. Lian baik karena mereka
sama-sama kenal Deril dan Resti, mengerjakan pekerjaan yang sama juga. Tak
mungkin lebih dari itu.
“Ya
udah. Barangkali nanti doi kesini, kalau bingung mau kemana, gue ama Ron nonton
di bioskop central park ya, nyusul aja.” Meli melepas rangkulannya.
“Yew…
jangan bikin baper dong.” Ran mencubit lengan Meli.
Setelah
berpesan hati-hati, Ran kembali ke dalam rumah, langsung masuk ke kamar, tanpa
mau walau hanya sekejap melirik orang yang sedang tiduran diruang tengah.
Horror. Ran
merebahkan tubuhnya di ranjang, mengepit guling, meraih komik detektif
favoritnya yang sudah dibaca berkali-kali hingga lecek. Ada lima belas seri
komik dan semuanya Ran ada, selain Novel baik lokal maupun terjemahan, komik
adalah teman setia Ran.
Sampailah
ia dibagian dimana sang tokoh detektif mengkerut karena diberi obat oleh
musuh-musuhnya, dan Ran, kekasih detektif itu kebingungan karena kehilangan kekasihnya
tanpa kabar. Kok sama bener perasaan ran dikomik dengan perasaannya sekarang
ya, galau. Batin gadis itu. Ran
menutupkan komiknya ke wajah, dan memejamkan mata, mencoba untuk tidur. Tidur
jam 7 di malam minggu. Ran tertawa sendiri. Tapi bukankah selalu begitu selama
ini. Ran hanya keluar malam kalau Meli berbaik hati membookingnya untuk menjadi
obat nyamuk, yang berasap mengusir pengganggu diantara Ronal dan Meli. Atau
ketika mereka keluar beramai-ramai sekedar makan bakso di blok sebelah. Datar
banget hidup Ran.
Baru
hari ini Ran merasa galau, pengen ngerasain nge-date bareng pacar. Baru sekali
dua kali ketemu, tapi Ran sudah berangan banyak pada cowok itu. Ah, dasar cewek
kampung, baru kenal sama cowok kota ganteng saja sudah ke ge-er an. Ran tertawa
sendiri. Memang benar, Lian membuatnya merasa nyaman, tapi belum tentu juga
Lian benar-benar suka pada dirinya. Siapa tahu memang dasarnya Lian itu baik,
ramah, suka menolong pada semua orang. Semua cewek.
Suasana
rumah sepi. Mungkin semua orang sudah pergi keluar, dan Ran tinggal sendirian.
Ketika hendak membuka pintu depan, ia mendengar suara cekikikan yang anehnya
seperti suara laki-laki. Ran berbalik. Menatap ke koridor yang menghubungkan
ruang tamu dengan 2 kamar yang lain. Ran berdiri mematung, kunci rumah telah
diputar dalam posisi terbuka, tinggal menekan handle saja dan pintu akan
terbuka. Jika memang ada hal-hal mistis, Ran bisa langsung lari. Senyap.
Beberapa detik. Lalu terdengar suara Devi dari dalam kamarnya, yang
kedengarannya sedang menerima telepon dari seseorang. Fiuh…
Ran menghela nafas. Berbalik, menekan handle dan membuka pintu saat tiba-tiba
seraut wajah itu terlihat dibaliknya.
“Eh!”
keduanya terkejut. Yang satu hendak mengetuk pintu, satunya lagi tiba-tiba membuka pintu.
“Mau kemana?” tanya Lian setelah sekilas
melihat Ran yang kelihatannya siap pergi keluar.
“Beli
Ketoprak.” Ran tersenyum, dengan pipi panas. Tuh kan, Si Mas ini datang,
kayaknya memang ada rasa. Batinnya.
“Ikut
ya.” Lian memasukkan sesuatu ke saku celana jeansnya. Kunci mobil. Ran
mengangguk.
“Bawa
mobil, ditinggal di depan minimarket.” Lian menjawab santai, memasukkan kedua
tangan ke saku celana.
Jalanan
basah, bekas hujan. Ran tidak tahu kalau barusan hujan, ia pasti ketiduran setelah
baca buku tadi. Lengang, hanya beberapa anak kecil berjeritan, bermain
diberanda rumah masing-masing. Lampu-lampu jalan bersinar temaram. Udara
lembab, membawa sisa-sisa air hujan.
“Mau
makan keluar?” Lian akhirnya bertanya setelah hening beberapa saat. Ditolehnya
gadis mungil setinggi bahunya itu.
“Lah
ini kan udah keluar makan.” Ran menoleh sedikit mendongak.
“Maksudnya
keluar kompleks, ke mana gitu yang kamu pengen.” Lian menggaruk kepalanya yang
tidak gatal. Heran, sejak kapan dia merasa canggung begini berhadapan dengan
cewek.
“Mmm…
ada usul kemana?” kedua tangan Ran menyilang di depan dada.
“Kafe
Ramyon khas korea?”
Ran
menggeleng setelah menoleh dan tersenyum.
“Kalau
Steak and Shake?”
Menggeleng
lagi.
“Gak
mau semua?” Lian menggosok-gosokkan kedua telapak tangan seperti orang
kedinginan. Grogi.
“Depan
SPBU ada bakso kaki lima, kata Meli sih enak. Mau coba?” Ran bertepuk tangan
penuh antusias. Setidaknya isi kantongnya cukup untuk membayar dua porsi bakso
dan dua gelas es jeruk.
“Boleh.”
Kata Lian. Apa salahnya makan di kaki lima sekali-kali, lagipula bakso adalah
makanan favoritnya.
Bukannya
anti dengan Restoran mewah atau menu makanan luar negeri, tapi saat ini, Ran
hanya pakai tshirt pink gambar hamtaro, celana jeans selutut dan cardigan hitam
milik Meli yang sedikit kepanjangan. Tanpa bedak apalagi make up, setelah cuci
muka dia langsung ke pintu depan tadi. Coba
lihat Lian malam ini. Tshirt v-neck abu-abu, Celana Jeans biru muda, sneakers
putih, tidak lupa jam tangan Swiss army melingkari pergelangan tangan kirinya,
gelang tali dengan bandul bulan bintang ditangan kanan. Aroma parfum yang lembut
seperti biasa, rambut pendek di styling jigrak. Ran baru kali ini melihat
lengan Lian yang berotot terbuka.
Sesampainya
di depan komplek terlihat fortuner hitam doff terparkir sendirian di depan
minimarket. Lian merogoh saku celananya, menekan ringan sebuah benda bulat
hitam dengan dua tombol dipermukaannya. Keempat lampu mobil itu berkedip dengan
suara bip yang lumayan keras. Lian
mendahului, membukakan pintu depan untuk Ran sambil tersenyum. Kemudian
berputar untuk naik ke kursi pengemudi. Sebuah lagu mengalun otomatis begitu
kunci mobil diputar.
“Letto?”
Ran menyebut nama sebuah Grup Band local.
“Yup.”
Lian menimpali, sambil berkonsentrasi ke kemudi. “Aneh ya? Tapi nggak tahu
kenapa aku suka.” Lian tertawa. Padahal tidak ada yang lucu. Ran hanya
tersenyum manggut-manggut.
Perlahan
mobil meluncur ke jalanan.
“Mmm,
aku ada permainan, kita tes kesukaan atau favorit. Misalnya kalau aku bilang
warna, kamu sebutin warna favoritmu, nanti gantian. Dan begitu juga nanti aku
tanya yang tidak kamu sukai.” Lian menoleh Ran sekilas. Ran antusias
mengangguk.
“Kegiatan?”
Lian memulai.
“Ngerem.”
“Hah?
Apaan ngerem?”
“Diam
di kamar dong maksudnya.”
“Masak
diem aja, gak ngapa-ngapain gitu?”
“Ugh…
Baca buku deh.”
“Kalau
aku, Mikirin kamu.”
Deg.
Ran mencelos. Melirik Lian yang tersenyum jahil. Ini pasti Cuma bercanda. Batin
Ran.
“Wuuu…
Lebay.” Ran menepuk lengan Lian.
“Biarin.”
Keduanya
tertawa.
“Makanan?”
lanjut Lian.
“Bakso.”
“Nah,
mentang-mentang mau diajak makan bakso. Satu porsi aja nanti ya.” Goda Lian.
“Satu
porsi dong, yang dimakan disana, yang dibungkus tiga.” Ran tertawa, hingga
menutup mulutnya dengan telapak tangan.
“Aku
juga suka bakso.”
“Ah,
nggak kreatif.” Ran memajukan bibir bawahnya. Kesampingkan penampilan, udah
ancur ini juga. Batin Ran. Lian tertawa lagi.
“Yang
dibenci, Hewan?” babak ketiga dimulai.
“Yang
lembek-lembek.”
“Apaan
yang lembek-lembek?”
“Ya…
cacing, cicak terutama. Hii…” Ran bergidik.
“Oh…
kalau aku nggak ada.” Kata Lian bangga.
“Iya
deh. Lagian masa cowok takut kecoak, kan gak lucu.” Ran nyengir. Entah kenapa,
Lian malah suka gaya gadis itu kalau lagi nyengir. Lucu. Hidung mengkerut,
bibir manyun, tapi tetep manis.
“Yang
disukai, Tipe cowok?” Lian memulai lagi.
Ran
diam, tersenyum lebar sambil menoleh Lian.
“Jebakan
nih, atau modus?” ah sepertinya Ran memang mulai tertarik pada Lian yang ramah
dan hangat..
“Apaan?”
Lian tertawa. “Udah Jawab!”
“Mmm…
Yang lucu, yang… standart lah…” Pipi Ran terasa panas.
“Yang
seperti aku lah ya?” Lian berlagak polos. Ran tertawa, menutup mulutnya.
“Mmm…
gak lah.” Ran nyengir, Lian mengerutkan alis. Hah, Ni cewek gak suka tipe kayak
gue, beneran? Batin Lian. “Aku mah apa atuh.” Imbuh Ran.
“Aduuh,
padahal aku suka cewek tipe kayak kamu Ran, Lucu, Imut, baik, gak suka ngupil
lagi.” Lian pasang wajah sedih.
“Wah
kalau ini pasti beneran modus nih.” Ran menggelengkan kepala.
Keduanya
tertawa. Mengapa tawa mudah sekali hadir diantara mereka.
Pertanyaan
masih berlanjut hingga di meja warung pinggir jalan. Dua gelas es jeruk
dihadapan mereka.
“Buku
bacaan?” kali ini Ran yang bertanya.
“Mmm…
buku… design.” Jawab Lian sekenanya, dia memang kurang suka membaca.
“Kalau
aku komik detektif.” Ran meminum es jeruknya dengan sedotan.
“Kota
Favorit?” Ran bertanya lagi.
“Jakarta.”
Lian menjawab mantap.
“Kalau
aku Jogja.”
Lian
berhenti mengaduk es jeruknya. Menoleh ke arah Ran.
“Kenapa
jogja?” selidik Lian.
“Enggak
tahu, padahal belum pernah kesana juga. Palingan cuman lewat naik kereta api.”
Ran melipat tangan diatas meja, menatap ke arah terpal yang dibentangkan diatas
kepala mereka sebagai atap tenda. “Kata orang Jogja itu ngangenin.” Ran menoleh
Lian. Pandangan mereka bertemu. Dua detik. Karena pesanan mereka datang,
membuyarkan adegan paling lama dalam film india itu.
Bakso
di warung itu memang enak. Tidak sampai lima belas menit, dua mangkok bakso itu
segera kosong, berikut es jeruk yang kini hanya tinggal es batu di dalam gelas
saja.
“Jadi
mau bungkus?” Tawar Lian.
“Eh,
enggak Mas, becanda aja.” Ran melambaikan tangannya.
“Gak
papa, buat yang lagi dirumah.” Lian memanggil tukang bakso dan memesan tiga
porsi untuk dibungkus. “Mau bungkus es jeruk juga?” tanya Lian, tapi malah
dijawab dengan cubitan dilengan Lian yang terbuka. “Aduh, sakit.” Erang Lian,
menggosok bekas cubitan Ran. Gadis itu tersenyum simpul.
Jam
tangan Lian menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Sedikit kecewa karena
tidak datang sejak awal. Perjalanan pulang sedikit lebih lama karena harus
mengambil jalan memutar.
“Progres
sudah berapa persen, Mas?” Ran menanyakan tender mereka.
“Sembilan
puluh persen.” Jawab Lian enteng.
“Hah?
Ngebut banget? Katanya tenggat enam bulan, lah ini baru tiga hari?” Ran hampir
memutar badan untuk menghadap Lian yang sedang mengemudi.
“Progres
apaan sih?” Lian berpura-pura tidak mengerti, bibirnya mengulum senyum.
“Emang
yang Sembilan puluh persen tadi progress apa? yang aku tanyain progress
proyek.” Ran melipat tangan, mengempaskan punggung ke sandaran.
“Oh…”
Lian tertawa. “Baru set up sih kalau proyek. Kirain Progress apaan.” melirik
dari sudut matanya, Lian jelas-jelas melihat Ran salah tingkah, sekipun dia
memasang wajah datar. “Udah ah, jangan ngomongin proyek, seminggu tujuh hari
ngomongin kerjaan terus, lama-lama penuaan dini.” Seloroh Lian. Ran tersenyum.
Menggut-manggut, dan bergumam pelan iya.
Udara
mulai dingin. Lian sudah memakai jaket jeans berwarna hijau Navy, yang tadi
hanya teroggok di kursi belakang. Keduanya berjalan bersisian menuju kostan
Ran.
“Emang
kamu umur berapa Ran?” Tanya Lian tiba-tiba, sepuluh meter sebelum sampai
rumah. Pertanyaan yang jarang ditanyakan karena takut yang punya umur jadi
gagal paham.
“Dua-dua.”
Jawab Ran enteng. “Mas Lian lima tahun lebih tua dariku.” Imbuhnya.
“Pasti
dari CV.” Tebak Lian, menyadari Ran tahu berapa usianya.
Ran
mengangguk.
Tiga
meter dari halaman rumah. Langkah Ran terhenti karena melihat seorang laki-laki
keluar dari kostan mereka.
“Kok
ada cowok?” Ran bergegas menuju rumah. Lian mengikuti.
“Siapa
ya?” tanya Ran tegas. Lian heran, mendadak wajah manis itu lenyap. Berubah jadi
wajah tim buser.
“Emang
apa urusan Lo?” jawab cowok gempal itu. Wajahnya terkesan cengengesan.
Meremahkan.
“Urusan
gue dong, sejak kapan ada laki-laki boleh masuk kostan cewek?” sergah Ran
berani.
“Alah,
Gak usah munafik deh lu, Ran.” Suara perempuan menyahut dari belakang cowok
itu. “Gak usah sok suci!” Devi muncul dari dalam rumah.
Ran
menangkupkan rahangnya kuat-kuat, berharap amarahnya tidak meladak.
“Sorry
ya Dev. Gue nggak mau ikut campur urusan pribadi lo. Tapi tolong sebagai
penghuni rumah ini, lo ikuti aturan yang ada.” Ran terdengar susah payah
menahan nada suaranya terdengar nyaman ditelinga.
“Gak
mau ikut campur ya udah jangan banyak bacot lu!!!” cowok gempal itu merangsek
maju mendekati Ran mengacungkan telujuknya. Secepat kilat, Lian mendekat dan
meletakkan telapak tangan kirinya di depan dada cowok itu.
“Whoow,
Sabar Bang, masak begitu sama cewek.” Kata Lian.
“Gak
usah ikut campur lo!!!” hardik cowok itu menepis tangan Lian.
“Udah
Bang, cabut aja kita.” Kata Devi judes. “Lo, Gua muak banget ama gaya lu, Ran.
Sok alim, sok baik, ntar ujung-ujungnya bunting juga.” Devi sengaja menabrakkan
bahunya ke bahu Ran, membuat Gadis itu hampir terpelanting, kalau saja setengah
badan Lian tidak berada dibelakangnya.
Pria
gempal yang dipanggil Bang oleh Devi mengekor pergi setelah sempat menunjukkan
jari tengahnya ke wajah Lian sambil menggertak. “Awas lo!!”
Ran
tahu Lian tidak akan melayani tantangan orang seperti itu, tapi entahlah,
refleks ia menggamit lengan Lian.
“Kamu
gak papa kan?” Tanya Lian saat Ran sudah duduk dikursi panjang, rahangnya masih
keras.
“Kadang
pengen banget nonjok mulut si Devi itu, biar dia berhenti ngata-ngatain orang
seenaknya.” Kedua jemari Ran mengepal.
“Udah,
ngapain kamu mikirin orang seperti itu, anggep aja anjing menggonggong
kafilah berlalu.” Hibur Lian.
Ran
tertawa, getir. Memang berusaha menjadi orang baik itu tidak pernah mudah.
“Walau
dia tidak pernah suka sama aku, aku tetap anggap dia anggota keluarga, Mas.
Beda lagi kalau dia sudah tidak tinggal seatap lagi denganku.” Ran tersenyum,
menatap pria disampingnya yang menatapnya penuh tanda tanya.
Mungkin
pilihan hidupnya ini banyak yang akan menganggap aneh, tapi setiap manusia
bebas menentukan untuk hidup seperti apa.
Tak
berapa lama. Beberapa sepeda motor memasuki halaman rumah. Salah satunya Meli
dan Ronal.
“Aduh…
si Mas kirain nggak datang, sampai kebut-kebutan kami, takut Ran digondol kolor
ijo kalau pulang kemalaman.” Goda Meli.
Ran
bangkit mengikuti Meli masuk kedalam rumah. Menenteng bakso yang dibelikan
Lian.
“Ada
yang mau bakso?” Teriak Ran di dalam rumah. Suaranya sudah kembali terdengar
ceria, seperti biasa. Disambut pekikan senang dari Meli dan dua temannya yang
juga baru datang, Diyah dan Asri si kacamata. Lian duduk didepan dengan Ronal
dan pacar Diyah dan Asri. Hanya sebentar, karena saat Ran keluar lagi, Lian
berpamitan untuk pulang.
“Kenapa
kita harus pacaran ya?” Erang Ran saat sudah berdua saja dengan Meli di dalam kamar.
Memakai piyama, berbaring ditempat tidur masing-masing. Meli sudah siap dengan
masker lumpur melekat diwajahnya.
“Kalau
nggak pacaran, gimana kita ketemu sama orang yang tepat buat masa depan kita?”
jawab Meli.
“Tapi
apa berarti itu bisa membuat kita nerima cowok sembarangan buat jadi pacar
kita?” Ran memiringkan tubuhnya, menghadap Meli.
“Itu
namanya gila!” Meli terduduk. “Kamu mikirin apa sih?”
Ran
terdiam. Tidak ingin menyulut api.
“Enggak.
Kadang kok kayaknya banyak kita lihat ada cewek yang cowoknya blangsak, preman,
ugal-ugalan. Kenapa ya?” Ran ikut-ikutan duduk.
“Karena
kebanyakan cowok yang ugal-ugalan itu terlihat lebih mentereng kalau
digandeng.” Meli menggeleng. “Terkadang ada yang pacaran hanya karena
coba-coba, iseng-iseng, hingga mereka juga memilih asal-asalan. Digodain
sebentar, eh kasih sinyal, yang namanya kucing mana ada yang nolak dikasih ikan
asin.” Meli merebahkan badannya lagi.
Ran
mendesah, ikut merebah.
“Eh,
betewe, kapan sih lu jadian sama si Mas itu?” Tenya Meli.
“Lian?”
Ran memperjelas. Meli ber HU-UM.
“Kami
cuma temen.” Ringan dikatakan oleh Ran tapi bagai Guntur ditelinga Meli.
“Raan,
kalian udah cocok banget, masak masih tahap pedekate doang sih?” Meli bangkit
lagi, kali ini berjalan ke ranjang Ran dan ikutan merebah. “Ran, lo harus
tembak doi.”
“Ah,
apaan, dia kan klien gue dikantor.” Ran berkilah. Ragu pada perasaannya. Ragu
apakah Lian merasakan hal yang sama dengannya. Ketertarikan hati.
Lian
baru beberapa hari dikenalnya, tapi Ran tidak bisa membohongi diri sendiri
kalau kehadiran Lian terkadang ia tunggu-tunggu. Ran juga tidak bisa bohong
jika bersama Lian, suasana selalu menyenangkan, meskipun hanya ngobrolin warna
kesukaan. Ran juga tidak bisa memungkiri kehadiran Lian yang membuat
hari-harinya penuh warna. Menunggu telepon dari Lian, menunggu balasan email,
atau bahkan berandai-andai ada Lian lagi didalam mobil Mbak Resti atau Mas Deril.
Ran jadi memiliki sesuatu yang ringan dan menyenangkan untuk dipikirkan, selain
pekerjaan. Jadi ada yang dirindukan saat buka mata dipagi hari.
Lian
Adrian. Bahkan kini Ran tidak perlu membuka CV nya lagi untuk mengingat Nama,
tempat tanggal lahir, alamat, nomor telepon, hingga hobby. Minggu depan mungkin
Ran bisa main ke workshop Lian yang tidak berapa jauh dari rumahnya.
(Bersambung...)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar