Jumat, 05 Oktober 2018

Sang Pelukis Hati (5)

Bab. V

Sudah seminggu sejak terakhir kali Lian dan Ran jalan berdua, seminggu juga Resti kembali mengantar jemput Ran, seminggu juga Ran sudah mulai bekerja dikantor, dan seminggu pula gadis itu menerima olok-olok dari Devi. Sabtu malam, hari special bagi yang punya pacar. Masing-masing teman kost Ran sudah mulai pergi kencan sejak jam 5 sore. Sabtu hari Ran full dirumah karena kantor hanya buka setiap senin sampai jumat saja. Meskipun dirumah, tidak berarti Ran berhenti kerja. Ia tetap menerima telepon dari klien, membuat notulen, membuat laporan progress pekerjaan yang sudah selesai untuk dilaporkan ke Pak Wardoyo, termasuk progress pekerjaan Lian yang sudah dimulai tiga hari yang lalu.

Sudah seminggu Ran tidak bertemu Lian. Lian juga tidak sempat menelepon, sibuk menggarap tender yang didapatkan dari kantor Ran. Hanya laporan formal yang dikirimkan lewat email. Ah, Ran mungkin berharap terlalu banyak pada Lian. Cowok seganteng itu, mana mungkin kepincut cewek sekelas Ran. Pendek, item, gak mancung, gak seksi lagi, betisnya aja besar-besar kayak pemain bola,

“Udah luntur ya, rapalan waktu mandi kembang kemaren, sepi aja malam minggunya.” Devi lagi-lagi memancing percakapan yang tidak sehat. Tiduran sambil nonton televisi langsung nyolot begitu melihat Ran keluar kamar.

“Enggak keluar?” Ran berusaha menjaga hati dan kepalanya tetap dingin. Meskipun diucapkan dengan intonasi lemah lembut, kata-kata itu bak api yang menyambar bensin bagi Devi.

“Mau keluar kek, enggak kek, kan bukan urusan elo. Urusin aja pacar lo yang bentar dateng bentar ilang itu.” semprot Devi.

Meli yang juga keluar dari kamar, memegang bahu Ran, menatap penuh arti dan menggeleng. Jangan dilayanin, mungkin itu maksud Meli. Ran mengedikkan bahu, mengekor Meli yang sudah dijemput kekasih hati.

“Mau kemana Ron?” tanya Ran pada Ronal, pacar Meli.

“Nonton paling, trus makan, tapi terserah Meli juga.” Ronal menunjuk dengan dagu.

“Mau nitip?” Meli melingkarkan lengan ke bahu Ran. “Si Mas gak kesini?”

“Mungkin masih sibuk, ngurus tender.” Ran mengedikkan bahu lagi, tapi memasang wajah ceria. Meli tahu itu palsu. Lagi pula Ran sadar, mereka hanya sebatas teman, tidak boleh menyalah artikan perhatian Lian selama ini. Lian baik karena mereka sama-sama kenal Deril dan Resti, mengerjakan pekerjaan yang sama juga. Tak mungkin lebih dari itu.

“Ya udah. Barangkali nanti doi kesini, kalau bingung mau kemana, gue ama Ron nonton di bioskop central park ya, nyusul aja.” Meli melepas rangkulannya.

“Yew… jangan bikin baper dong.” Ran mencubit lengan Meli.

Setelah berpesan hati-hati, Ran kembali ke dalam rumah, langsung masuk ke kamar, tanpa mau walau hanya sekejap melirik orang yang sedang tiduran diruang tengah. Horror. Ran merebahkan tubuhnya di ranjang, mengepit guling, meraih komik detektif favoritnya yang sudah dibaca berkali-kali hingga lecek. Ada lima belas seri komik dan semuanya Ran ada, selain Novel baik lokal maupun terjemahan, komik adalah teman setia Ran.

Sampailah ia dibagian dimana sang tokoh detektif mengkerut karena diberi obat oleh musuh-musuhnya, dan Ran, kekasih detektif itu kebingungan karena kehilangan kekasihnya tanpa kabar. Kok sama bener perasaan ran dikomik dengan perasaannya sekarang ya, galau. Batin gadis itu. Ran menutupkan komiknya ke wajah, dan memejamkan mata, mencoba untuk tidur. Tidur jam 7 di malam minggu. Ran tertawa sendiri. Tapi bukankah selalu begitu selama ini. Ran hanya keluar malam kalau Meli berbaik hati membookingnya untuk menjadi obat nyamuk, yang berasap mengusir pengganggu diantara Ronal dan Meli. Atau ketika mereka keluar beramai-ramai sekedar makan bakso di blok sebelah. Datar banget hidup Ran.

Baru hari ini Ran merasa galau, pengen ngerasain nge-date bareng pacar. Baru sekali dua kali ketemu, tapi Ran sudah berangan banyak pada cowok itu. Ah, dasar cewek kampung, baru kenal sama cowok kota ganteng saja sudah ke ge-er an. Ran tertawa sendiri. Memang benar, Lian membuatnya merasa nyaman, tapi belum tentu juga Lian benar-benar suka pada dirinya. Siapa tahu memang dasarnya Lian itu baik, ramah, suka menolong pada semua orang. Semua cewek.

Jam 8 malam. Perut keroncongan. Ran bangkit dari tempat tidur, mencuci muka, menyambar cardigan hitam yang tergantung di pintu lemari. Ketoprak diujung gang adalah pilihan terdekat. Ia yakin, Meli pasti membawa buah tangan meski hanya sekotak kue cubit, tapi perutnya minta diisi sekarang.

Suasana rumah sepi. Mungkin semua orang sudah pergi keluar, dan Ran tinggal sendirian. Ketika hendak membuka pintu depan, ia mendengar suara cekikikan yang anehnya seperti suara laki-laki. Ran berbalik. Menatap ke koridor yang menghubungkan ruang tamu dengan 2 kamar yang lain. Ran berdiri mematung, kunci rumah telah diputar dalam posisi terbuka, tinggal menekan handle saja dan pintu akan terbuka. Jika memang ada hal-hal mistis, Ran bisa langsung lari. Senyap. Beberapa detik. Lalu terdengar suara Devi dari dalam kamarnya, yang kedengarannya sedang menerima telepon dari seseorang. Fiuh… Ran menghela nafas. Berbalik, menekan handle dan membuka pintu saat tiba-tiba seraut wajah itu terlihat dibaliknya.

“Eh!” keduanya terkejut. Yang satu hendak mengetuk pintu, satunya lagi tiba-tiba  membuka pintu.

 “Mau kemana?” tanya Lian setelah sekilas melihat Ran yang kelihatannya siap pergi keluar.

“Beli Ketoprak.” Ran tersenyum, dengan pipi panas. Tuh kan, Si Mas ini datang, kayaknya memang ada rasa. Batinnya.

“Ikut ya.” Lian memasukkan sesuatu ke saku celana jeansnya. Kunci mobil. Ran mengangguk.

“Baru pulang kerja?” keduanya berjalan bersisian keluar halaman. “Eh, kok motornya gak ada? Naik apa kesini?” Ran menyadari jalanan depan kostnya lengang dari motor yang parkir.

“Bawa mobil, ditinggal di depan minimarket.” Lian menjawab santai, memasukkan kedua tangan ke saku celana.

Jalanan basah, bekas hujan. Ran tidak tahu kalau barusan hujan, ia pasti ketiduran setelah baca buku tadi. Lengang, hanya beberapa anak kecil berjeritan, bermain diberanda rumah masing-masing. Lampu-lampu jalan bersinar temaram. Udara lembab, membawa sisa-sisa air hujan.

“Mau makan keluar?” Lian akhirnya bertanya setelah hening beberapa saat. Ditolehnya gadis mungil setinggi bahunya itu.

“Lah ini kan udah keluar makan.” Ran menoleh sedikit mendongak.

“Maksudnya keluar kompleks, ke mana gitu yang kamu pengen.” Lian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Heran, sejak kapan dia merasa canggung begini berhadapan dengan cewek.
“Mmm… ada usul kemana?” kedua tangan Ran menyilang di depan dada.
“Kafe Ramyon khas korea?”
Ran menggeleng setelah menoleh dan tersenyum.
“Kalau Steak and Shake?”
Menggeleng lagi.
“Gak mau semua?” Lian menggosok-gosokkan kedua telapak tangan seperti orang kedinginan. Grogi.
“Depan SPBU ada bakso kaki lima, kata Meli sih enak. Mau coba?” Ran bertepuk tangan penuh antusias. Setidaknya isi kantongnya cukup untuk membayar dua porsi bakso dan dua gelas es jeruk.
“Boleh.” Kata Lian. Apa salahnya makan di kaki lima sekali-kali, lagipula bakso adalah makanan favoritnya.

Bukannya anti dengan Restoran mewah atau menu makanan luar negeri, tapi saat ini, Ran hanya pakai tshirt pink gambar hamtaro, celana jeans selutut dan cardigan hitam milik Meli yang sedikit kepanjangan. Tanpa bedak apalagi make up, setelah cuci muka dia langsung ke pintu depan tadi. Coba lihat Lian malam ini. Tshirt v-neck abu-abu, Celana Jeans biru muda, sneakers putih, tidak lupa jam tangan Swiss army melingkari pergelangan tangan kirinya, gelang tali dengan bandul bulan bintang ditangan kanan. Aroma parfum yang lembut seperti biasa, rambut pendek di styling jigrak. Ran baru kali ini melihat lengan Lian yang berotot terbuka.

Sesampainya di depan komplek terlihat fortuner hitam doff terparkir sendirian di depan minimarket. Lian merogoh saku celananya, menekan ringan sebuah benda bulat hitam dengan dua tombol dipermukaannya. Keempat lampu mobil itu berkedip dengan suara bip yang lumayan keras. Lian mendahului, membukakan pintu depan untuk Ran sambil tersenyum. Kemudian berputar untuk naik ke kursi pengemudi. Sebuah lagu mengalun otomatis begitu kunci mobil diputar.

“Letto?” Ran menyebut nama sebuah Grup Band local.
“Yup.” Lian menimpali, sambil berkonsentrasi ke kemudi. “Aneh ya? Tapi nggak tahu kenapa aku suka.” Lian tertawa. Padahal tidak ada yang lucu. Ran hanya tersenyum manggut-manggut.
Perlahan mobil meluncur ke jalanan.
“Mmm, aku ada permainan, kita tes kesukaan atau favorit. Misalnya kalau aku bilang warna, kamu sebutin warna favoritmu, nanti gantian. Dan begitu juga nanti aku tanya yang tidak kamu sukai.” Lian menoleh Ran sekilas. Ran antusias mengangguk.
“Kegiatan?” Lian memulai.
“Ngerem.”
“Hah? Apaan ngerem?”
“Diam di kamar dong maksudnya.”
“Masak diem aja, gak ngapa-ngapain gitu?”
“Ugh… Baca buku deh.”
“Kalau aku, Mikirin kamu.”
Deg. Ran mencelos. Melirik Lian yang tersenyum jahil. Ini pasti Cuma bercanda. Batin Ran.
“Wuuu… Lebay.” Ran menepuk lengan Lian.
“Biarin.”
Keduanya tertawa.
“Makanan?” lanjut Lian.
“Bakso.”
“Nah, mentang-mentang mau diajak makan bakso. Satu porsi aja nanti ya.” Goda Lian.
“Satu porsi dong, yang dimakan disana, yang dibungkus tiga.” Ran tertawa, hingga menutup mulutnya dengan telapak tangan.
“Aku juga suka bakso.”
“Ah, nggak kreatif.” Ran memajukan bibir bawahnya. Kesampingkan penampilan, udah ancur ini juga. Batin Ran. Lian tertawa lagi.
“Yang dibenci, Hewan?” babak ketiga dimulai.
“Yang lembek-lembek.”
“Apaan yang lembek-lembek?”
“Ya… cacing, cicak terutama. Hii…” Ran bergidik.
“Oh… kalau aku nggak ada.” Kata Lian bangga.
“Iya deh. Lagian masa cowok takut kecoak, kan gak lucu.” Ran nyengir. Entah kenapa, Lian malah suka gaya gadis itu kalau lagi nyengir. Lucu. Hidung mengkerut, bibir manyun, tapi tetep manis.
“Yang disukai, Tipe cowok?” Lian memulai lagi.
Ran diam, tersenyum lebar sambil menoleh Lian.
“Jebakan nih, atau modus?” ah sepertinya Ran memang mulai tertarik pada Lian yang ramah dan hangat..
“Apaan?” Lian tertawa. “Udah Jawab!”
“Mmm… Yang lucu, yang… standart lah…” Pipi Ran terasa panas.
“Yang seperti aku lah ya?” Lian berlagak polos. Ran tertawa, menutup mulutnya.
“Mmm… gak lah.” Ran nyengir, Lian mengerutkan alis. Hah, Ni cewek gak suka tipe kayak gue, beneran? Batin Lian. “Aku mah apa atuh.” Imbuh Ran.
“Aduuh, padahal aku suka cewek tipe kayak kamu Ran, Lucu, Imut, baik, gak suka ngupil lagi.” Lian pasang wajah sedih.
“Wah kalau ini pasti beneran modus nih.” Ran menggelengkan kepala.
Keduanya tertawa. Mengapa tawa mudah sekali hadir diantara mereka.
Pertanyaan masih berlanjut hingga di meja warung pinggir jalan. Dua gelas es jeruk dihadapan mereka.
“Buku bacaan?” kali ini Ran yang bertanya.
“Mmm… buku… design.” Jawab Lian sekenanya, dia memang kurang suka membaca.
“Kalau aku komik detektif.” Ran meminum es jeruknya dengan sedotan.
“Kota Favorit?” Ran bertanya lagi.
“Jakarta.” Lian menjawab mantap.
“Kalau aku Jogja.”
Lian berhenti mengaduk es jeruknya. Menoleh ke arah Ran.
“Kenapa jogja?” selidik Lian.
“Enggak tahu, padahal belum pernah kesana juga. Palingan cuman lewat naik kereta api.” Ran melipat tangan diatas meja, menatap ke arah terpal yang dibentangkan diatas kepala mereka sebagai atap tenda. “Kata orang Jogja itu ngangenin.” Ran menoleh Lian. Pandangan mereka bertemu. Dua detik. Karena pesanan mereka datang, membuyarkan adegan paling lama dalam film india itu.
Bakso di warung itu memang enak. Tidak sampai lima belas menit, dua mangkok bakso itu segera kosong, berikut es jeruk yang kini hanya tinggal es batu di dalam gelas saja.
“Jadi mau bungkus?” Tawar Lian.
“Eh, enggak Mas, becanda aja.” Ran melambaikan tangannya.
“Gak papa, buat yang lagi dirumah.” Lian memanggil tukang bakso dan memesan tiga porsi untuk dibungkus. “Mau bungkus es jeruk juga?” tanya Lian, tapi malah dijawab dengan cubitan dilengan Lian yang terbuka. “Aduh, sakit.” Erang Lian, menggosok bekas cubitan Ran. Gadis itu tersenyum simpul.
Jam tangan Lian menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Sedikit kecewa karena tidak datang sejak awal. Perjalanan pulang sedikit lebih lama karena harus mengambil jalan memutar.
“Progres sudah berapa persen, Mas?” Ran menanyakan tender mereka.
“Sembilan puluh persen.” Jawab Lian enteng.
“Hah? Ngebut banget? Katanya tenggat enam bulan, lah ini baru tiga hari?” Ran hampir memutar badan untuk menghadap Lian yang sedang mengemudi.
“Progres apaan sih?” Lian berpura-pura tidak mengerti, bibirnya mengulum senyum.
“Emang yang Sembilan puluh persen tadi progress apa? yang aku tanyain progress proyek.” Ran melipat tangan, mengempaskan punggung ke sandaran.
“Oh…” Lian tertawa. “Baru set up sih kalau proyek. Kirain Progress apaan.” melirik dari sudut matanya, Lian jelas-jelas melihat Ran salah tingkah, sekipun dia memasang wajah datar. “Udah ah, jangan ngomongin proyek, seminggu tujuh hari ngomongin kerjaan terus, lama-lama penuaan dini.” Seloroh Lian. Ran tersenyum. Menggut-manggut, dan bergumam pelan iya.

Udara mulai dingin. Lian sudah memakai jaket jeans berwarna hijau Navy, yang tadi hanya teroggok di kursi belakang. Keduanya berjalan bersisian menuju kostan Ran.
“Emang kamu umur berapa Ran?” Tanya Lian tiba-tiba, sepuluh meter sebelum sampai rumah. Pertanyaan yang jarang ditanyakan karena takut yang punya umur jadi gagal paham.
“Dua-dua.” Jawab Ran enteng. “Mas Lian lima tahun lebih tua dariku.” Imbuhnya.
“Pasti dari CV.” Tebak Lian, menyadari Ran tahu berapa usianya.
Ran mengangguk.
Tiga meter dari halaman rumah. Langkah Ran terhenti karena melihat seorang laki-laki keluar dari kostan mereka.
“Kok ada cowok?” Ran bergegas menuju rumah. Lian mengikuti.
“Siapa ya?” tanya Ran tegas. Lian heran, mendadak wajah manis itu lenyap. Berubah jadi wajah tim buser.
“Emang apa urusan Lo?” jawab cowok gempal itu. Wajahnya terkesan cengengesan. Meremahkan.
“Urusan gue dong, sejak kapan ada laki-laki boleh masuk kostan cewek?” sergah Ran berani.
“Alah, Gak usah munafik deh lu, Ran.” Suara perempuan menyahut dari belakang cowok itu. “Gak usah sok suci!” Devi muncul dari dalam rumah.
Ran menangkupkan rahangnya kuat-kuat, berharap amarahnya tidak meladak.
“Sorry ya Dev. Gue nggak mau ikut campur urusan pribadi lo. Tapi tolong sebagai penghuni rumah ini, lo ikuti aturan yang ada.” Ran terdengar susah payah menahan nada suaranya terdengar nyaman ditelinga.
“Gak mau ikut campur ya udah jangan banyak bacot lu!!!” cowok gempal itu merangsek maju mendekati Ran mengacungkan telujuknya. Secepat kilat, Lian mendekat dan meletakkan telapak tangan kirinya di depan dada cowok itu.
“Whoow, Sabar Bang, masak begitu sama cewek.” Kata Lian.
“Gak usah ikut campur lo!!!” hardik cowok itu menepis tangan Lian.
“Udah Bang, cabut aja kita.” Kata Devi judes. “Lo, Gua muak banget ama gaya lu, Ran. Sok alim, sok baik, ntar ujung-ujungnya bunting juga.” Devi sengaja menabrakkan bahunya ke bahu Ran, membuat Gadis itu hampir terpelanting, kalau saja setengah badan Lian tidak berada dibelakangnya.
Pria gempal yang dipanggil Bang oleh Devi mengekor pergi setelah sempat menunjukkan jari tengahnya ke wajah Lian sambil menggertak. “Awas lo!!”
Ran tahu Lian tidak akan melayani tantangan orang seperti itu, tapi entahlah, refleks ia menggamit lengan Lian.
“Kamu gak papa kan?” Tanya Lian saat Ran sudah duduk dikursi panjang, rahangnya masih keras.
“Kadang pengen banget nonjok mulut si Devi itu, biar dia berhenti ngata-ngatain orang seenaknya.” Kedua jemari Ran mengepal.
“Udah, ngapain kamu mikirin orang seperti itu, anggep aja anjing menggonggong kafilah  berlalu.” Hibur Lian.
Ran tertawa, getir. Memang berusaha menjadi orang baik itu tidak pernah mudah.
“Walau dia tidak pernah suka sama aku, aku tetap anggap dia anggota keluarga, Mas. Beda lagi kalau dia sudah tidak tinggal seatap lagi denganku.” Ran tersenyum, menatap pria disampingnya yang menatapnya penuh tanda tanya.
Mungkin pilihan hidupnya ini banyak yang akan menganggap aneh, tapi setiap manusia bebas menentukan untuk hidup seperti apa.
Tak berapa lama. Beberapa sepeda motor memasuki halaman rumah. Salah satunya Meli dan Ronal.
“Aduh… si Mas kirain nggak datang, sampai kebut-kebutan kami, takut Ran digondol kolor ijo kalau pulang kemalaman.” Goda Meli.
Ran bangkit mengikuti Meli masuk kedalam rumah. Menenteng bakso yang dibelikan Lian.
“Ada yang mau bakso?” Teriak Ran di dalam rumah. Suaranya sudah kembali terdengar ceria, seperti biasa. Disambut pekikan senang dari Meli dan dua temannya yang juga baru datang, Diyah dan Asri si kacamata. Lian duduk didepan dengan Ronal dan pacar Diyah dan Asri. Hanya sebentar, karena saat Ran keluar lagi, Lian berpamitan untuk pulang.
“Kenapa kita harus pacaran ya?” Erang Ran saat sudah berdua saja dengan Meli di dalam kamar. Memakai piyama, berbaring ditempat tidur masing-masing. Meli sudah siap dengan masker lumpur melekat diwajahnya.
“Kalau nggak pacaran, gimana kita ketemu sama orang yang tepat buat masa depan kita?” jawab Meli.
“Tapi apa berarti itu bisa membuat kita nerima cowok sembarangan buat jadi pacar kita?” Ran memiringkan tubuhnya, menghadap Meli.
“Itu namanya gila!” Meli terduduk. “Kamu mikirin apa sih?”
Ran terdiam. Tidak ingin menyulut api.
“Enggak. Kadang kok kayaknya banyak kita lihat ada cewek yang cowoknya blangsak, preman, ugal-ugalan. Kenapa ya?” Ran ikut-ikutan duduk.
“Karena kebanyakan cowok yang ugal-ugalan itu terlihat lebih mentereng kalau digandeng.” Meli menggeleng. “Terkadang ada yang pacaran hanya karena coba-coba, iseng-iseng, hingga mereka juga memilih asal-asalan. Digodain sebentar, eh kasih sinyal, yang namanya kucing mana ada yang nolak dikasih ikan asin.” Meli merebahkan badannya lagi.
Ran mendesah, ikut merebah.
“Eh, betewe, kapan sih lu jadian sama si Mas itu?” Tenya Meli.
“Lian?” Ran memperjelas. Meli ber HU-UM.
“Kami cuma temen.” Ringan dikatakan oleh Ran tapi bagai Guntur ditelinga Meli.
“Raan, kalian udah cocok banget, masak masih tahap pedekate doang sih?” Meli bangkit lagi, kali ini berjalan ke ranjang Ran dan ikutan merebah. “Ran, lo harus tembak doi.”
“Ah, apaan, dia kan klien gue dikantor.” Ran berkilah. Ragu pada perasaannya. Ragu apakah Lian merasakan hal yang sama dengannya. Ketertarikan hati.

Lian baru beberapa hari dikenalnya, tapi Ran tidak bisa membohongi diri sendiri kalau kehadiran Lian terkadang ia tunggu-tunggu. Ran juga tidak bisa bohong jika bersama Lian, suasana selalu menyenangkan, meskipun hanya ngobrolin warna kesukaan. Ran juga tidak bisa memungkiri kehadiran Lian yang membuat hari-harinya penuh warna. Menunggu telepon dari Lian, menunggu balasan email, atau bahkan berandai-andai ada Lian lagi didalam mobil Mbak Resti atau Mas Deril. Ran jadi memiliki sesuatu yang ringan dan menyenangkan untuk dipikirkan, selain pekerjaan. Jadi ada yang dirindukan saat buka mata dipagi hari.
Lian Adrian. Bahkan kini Ran tidak perlu membuka CV nya lagi untuk mengingat Nama, tempat tanggal lahir, alamat, nomor telepon, hingga hobby. Minggu depan mungkin Ran bisa main ke workshop Lian yang tidak berapa jauh dari rumahnya.

(Bersambung...)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar