Rabu, 03 Oktober 2018

Sang Pelukis Hati (4)


Bab. IV   
         
Keesokan harinya Lian datang lagi. Ran sudah mendingan memang, tapi bagaimana mau memberi kabar Lian, ponsel saja tidak punya, apalagi kartu nama Lian jelas-jelas ada didalam Tas tangannya yang dijambret.

“Ran ada?” tanya Lian pada Mellisa yang kali ini membukakan pintu. 
Ran yang sedang nonton diruang depan mendengar ada yang mencarinya segera menoleh.
“Ada, Duduk dulu ya.” Mellisa mempersilakan Lian. “Pantesan pagi-pagi udah rapi aja, mau kencan dia.” Mellisa menggoda Ran. Yang digoda hanya senyum-senyum jahil.
Pagi itu Ran memang sudah rapi, bersiap ke kantor, tapi urung karena hendak mengurus surat kehilangan ke kepolisian, sekalian ke kecamatan dan Bank. Rencananya Ran mau ngajak Mellisa yang kebetulan lagi off, tapi ternyata Lian sudah lebih dulu datang.
“Eh Mas Lian. Wiuh keren banget hari ini.” kelakar Ran. Bukan tanpa alasan. Lian memang setiap hari tampil keren, rapi dan wangi. “Oh iya, sebentar ya.” Ran bergegas masuk kedalam. Meninggalkan Lian yang bahkan belum sempat melebarkan senyumnya.

Beberapa detik kemudian Ran keluar lagi membawa Jaket Lian yang sudah terlipat rapi dan wangi. Seperti pemiliknya.

“Terima kasih banyak. Rapi dan wangi seperti yang punya. Sebenarnya mau diminta tapi karena kebesaran jadi aku balikin aja.” Ran nyengir.
“Wah.. boleh ni kalau begini, kira-kira kapan mau hujan-hujanan lagi, biar  aku pinjami jaket yang sebulan lalu belum dicuci.” Timpal Lian. Keduanya tertawa.
“Udah sehat nih kayaknya?” Lian sengaja memandangi wajah Ran sedikit lebih lama.
Yang dipandangi jadi salting.
“Udah dong. Yang penting makan banyak, mau sakit apapun pasti cepet sehat lagi.” Ran tersenyum, kali ini bukan nyengir.
“Wah kayaknya gak jadi nganter ke polsek ini, gue.” Meli keluar membawa nampan berisi dua gelas minuman. Satu cokelat hangat, satu lagi air putih hangat. Tersenyum-senyum melirik Lian.
“Siapa bilang?” Ran protes sambil mendorong minuman cokelat ke dekat Lian.
“Tadi Mas Lian datang tanya kok, Lu udah ke polsek apa belum, dia mau nganterin katanya.” Dagu Meli bergerak kearah Lian. Yang di kode hanya senyum-senyum.
“Modus.” Ran  merengut. “Ini buat aku air putih doangan?” bibir gadis itu makin manyun menatap isi mug berwarna pink.
“Iritasi lambung gak bolek banyak konsumsi cokelat, pedes, soda, asem-asem. Jadi Lo Cuma boleh makan nasi putih aja sama telor ceplok, trus minumnya air putih tawar. Jadi kalo si Mas ngasih cokelat, berarti itu rejeki buat gue.” Meli terbahak.
“Oooh, jadi kemarin kena iritasi lambung juga?” Lian tersadar.
“Gara-gara begadang sambil ngabisin kopi segentong.” Meli masih tertawa, menjitak pelan kepala Ran. “Dah ya, tinggal dulu, jadi obat nyamuk ntar gue.” Selorohnya sambil beranjak masuk rumah.

“Tapi sekarang udah oke kan?” Lian kembali memandang gadis mungil disampingnya. Gadis sederhana yang ternyata banyak sekali penggemarnya. Dan orang-orang yang perhatian seperti Meli dan Resti ada bukan karena berkah dari langit saja, tapi pasti juga karena sifat gadis ini yang menyebabkannya. Lian ingat bagaimana gadis itu membawa sekotak sarapan untuk satpam penjaga kantor. Mungkin Pak satpam datang sejak pagi, hingga lupa sarapan, atau sudah merasa lapar karena sarapan terlalu dini.
Juga sekotak cokelat yang dibawa khusus dari luar negeri akhirnya berakhir diatas meja ibu Admin yang gendut, sambil berbisik, oleh-oleh buat anak-anak. Gadis itu sepertinya terlalu memikirkan orang lain hingga lupa memikirkan diri sendiri.

Tak lama sebuah sepeda motor masuk ke halaman, parkir disamping beberapa motor yang memang sudah parkir terlebih dahulu. Seorang Gadis lain, dengan tshirt pink ketat, celana dan jaket jeans, menenteng tas tangan keemasan. Merengut. Menatap dua orang yang duduk dikursi seolah tidak senang.

“Dev?” Ran menyapa ketika dengan cueknya gadis itu masuk rumah dan melewati mereka seolah tidak ada siapa-siapa.
Tanpa jawaban, sapaan Ran hanya digaungkan oleh partikel-partikel udara lalu menguap sia-sia. Ran mengedikkan bahu, mengerucutkan bibirnya sebentar, lalu tersenyum pada Lian yang ternyata mengamatinya.
“Mau pergi sekarang?” Lian mengalihkan mood Ran yang kelihatan mulai berubah.
“Boleh. Ambil tas dulu ya.” Ran berdiri hendak masuk ke rumah.
“Jaket sekalian!” Lian menambahkan dari belakang. Ran hanya menjawab dengan acungan jempol.
“Wah, mandi kembang tengah malamnya berhasil nih, dapat juga mangsa sebiji.” Sebuah suara menggelegar, judes sekali.
Tidak ada sahutan.
“Ran!” lanjut suara itu. “Besok pura-pura jatoh dari tangga, biar diantar jemput tiap hari!!!”
“Kayaknya kalo nggak sembarangan ngomong nama lo bukan Devi deh.” Terdengar Meli yang menjawab.
Lian tercenung. Ada juga yang tidak pro dengan Ran.
“Jangan lupa Ran, masukin rambut bawah Lo ke kopinya, biar nurut terus!!!” Suara judes Devi tak juga berhenti, dan hal itu membuat Lian refleks melirik kecangkir cokelatnya yang hampir habis.
“Terserah Lo mau ngomong apa Dev, Gue lagi budeg ndengerin hal-hal gak jelas.” Akhirnya Ran yang bersuara. Alih-alih balas judes, Ran malah menjawab dengan nada rendah.

Saat gadis itu keluar, wajahnya merah padam, menahan marah, tanpa menoleh, tiba-tiba menggamit lengan Lian yang sudah berdiri didepan pintu dan menariknya kejalanan. Sepanjang jalan Ran terdiam, merasa malu dengan ocehan Devi. Meskipun dia yakin, Lian tidak akan berfikiran sejauh itu, tapi siapa tahu, hati Lian terusik dengan guna-guna model lama seperti yang diocehkan Devi. Ran bahkan tidak berani berpegangan pada Lian. Bersyukur sekali Ran bisa menahan air matanya agar tidak jatuh didepan Lian.

Sesampainya di polsek, Ran memilih mengurus sendiri surat kehilangannya, menyuruh Lian menunggu di kantin polsek. Juga di kecamatan. Lian harus rela duduk diruang tunggu saat Ran naik ke lantai atas untuk mengurus KTP nya yang hilang. Hanya di Bank saja mereka bisa duduk berdua. Lian lega tidak disuruh menunggu di tempat parkir motor.
“Devi kurang akur sama kamu?” Lian membuka percakapan setelah beberapa menit berlalu kosong tanpa kata-kata.
Ran mengangguk tipis. Tidak menjawab, tidak bercerita tentang hubungannya dengan Devi, jadi Lian lebih memilih mengalihkan pembicaraan.
“Tadi aku minta nomor teleponmu dari kantor, tapi nomornya gak bisa dihubungi.” Lian mengeluarkan Ponselnya.
“Oh iya…” Suara Ran yang ceria telah kembali. “Hape aku rusak, Mas. Waktu dijambret kemarin kan aku lagi mau masukin hape kedalam tas, nah pas direbut tuh hape lompat dari dalam, jatuh kecomberan. Waktu dipungut udah game over.” Senyum itu sudah kembali ketempat seharusnya.
“Trus gak dibawa ke tukang service?”
“Udah dibawa sama Meli, cuman belum jadi, entah bisa apa gak diperbaiki.” Bibir itu mengerucut lagi.
“Apes banget ya aku seharian.” Ran nyengir.
“Gak juga kali.” Lian complain. “Masa ketemu aku kamu bilang apes juga sih, tega.” Rajuknya.
“Astagaaa… lebay.” Ran menyikut rusuk Lian. Yang disikut pura-pura kesakitan. Keduanya tertawa. Lian lega, sudah bisa membuat gadis itu ceria lagi.
“Jadi besok mulai kerja?”
Ran mengangguk.
“Resti jemput?”
Ran mengangguk lagi.
“Kenapa gak coba bawa motor sendiri?”
Ran garuk-garuk kepala. “Udah pernah, tapi kena tilang, habis gak ada SIM.”
“Kenapa gak bikin?”
“Nanti gak bisa lagi ngerepotin Mbak Resti dan Mas Lian dong.” Kali ini Ran membekap mulutnya sambil pura-pura takut Lian marah.
“Dasar.” Lian menjitak pelan kepala Ran. Tapi lalu terkejut sendiri. Yang dijitak juga terkejut. Tapi berusaha cuek.
Duuh, Cewek ini gampang banget bikin orang jatuh hati. Batin Lian.
Ya Ampun lupa! Ini calon klien kantor, bisa-bisanya dia nyaman banget cengengesan sama cowok ini sih. Batin Ran sambil menggigiti bibirnya.
(Bersambung,..)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar