Bab. IV
Keesokan
harinya Lian datang lagi. Ran sudah mendingan memang, tapi bagaimana mau
memberi kabar Lian, ponsel saja tidak punya, apalagi kartu nama Lian
jelas-jelas ada didalam Tas tangannya yang dijambret.
“Ran
ada?” tanya Lian pada Mellisa yang kali ini membukakan pintu.
Ran yang sedang
nonton diruang depan mendengar ada yang mencarinya segera menoleh.
“Ada,
Duduk dulu ya.” Mellisa mempersilakan Lian. “Pantesan pagi-pagi udah rapi aja,
mau kencan dia.” Mellisa menggoda Ran. Yang digoda hanya senyum-senyum jahil.
Pagi
itu Ran memang sudah rapi, bersiap ke kantor, tapi urung karena hendak mengurus
surat kehilangan ke kepolisian, sekalian ke kecamatan dan Bank. Rencananya Ran
mau ngajak Mellisa yang kebetulan lagi off, tapi ternyata Lian sudah lebih dulu
datang.
“Eh
Mas Lian. Wiuh keren banget hari ini.” kelakar Ran. Bukan tanpa alasan. Lian
memang setiap hari tampil keren, rapi dan wangi. “Oh iya, sebentar ya.” Ran
bergegas masuk kedalam. Meninggalkan Lian yang bahkan belum sempat melebarkan senyumnya.
Beberapa
detik kemudian Ran keluar lagi membawa Jaket Lian yang sudah terlipat rapi dan
wangi. Seperti pemiliknya.
“Terima
kasih banyak. Rapi dan wangi seperti yang punya. Sebenarnya mau diminta tapi
karena kebesaran jadi aku balikin aja.” Ran nyengir.
“Wah..
boleh ni kalau begini, kira-kira kapan mau hujan-hujanan lagi, biar aku pinjami jaket yang sebulan lalu belum
dicuci.” Timpal Lian. Keduanya tertawa.
“Udah
sehat nih kayaknya?” Lian sengaja memandangi wajah Ran sedikit lebih lama.
Yang
dipandangi jadi salting.
“Udah
dong. Yang penting makan banyak, mau sakit apapun pasti cepet sehat lagi.” Ran
tersenyum, kali ini bukan nyengir.
“Wah
kayaknya gak jadi nganter ke polsek ini, gue.” Meli keluar membawa nampan
berisi dua gelas minuman. Satu cokelat hangat, satu lagi air putih hangat.
Tersenyum-senyum melirik Lian.
“Siapa
bilang?” Ran protes sambil mendorong minuman cokelat ke dekat Lian.
“Tadi
Mas Lian datang tanya kok, Lu udah ke polsek apa belum, dia mau nganterin
katanya.” Dagu Meli bergerak kearah Lian. Yang di kode hanya senyum-senyum.
“Modus.”
Ran merengut. “Ini buat aku air putih
doangan?” bibir gadis itu makin manyun menatap isi mug berwarna pink.
“Iritasi
lambung gak bolek banyak konsumsi cokelat, pedes, soda, asem-asem. Jadi Lo Cuma
boleh makan nasi putih aja sama telor ceplok, trus minumnya air putih tawar.
Jadi kalo si Mas ngasih cokelat, berarti itu rejeki buat gue.” Meli terbahak.
“Oooh,
jadi kemarin kena iritasi lambung juga?” Lian tersadar.
“Gara-gara
begadang sambil ngabisin kopi segentong.” Meli masih tertawa, menjitak pelan
kepala Ran. “Dah ya, tinggal dulu, jadi obat nyamuk ntar gue.” Selorohnya
sambil beranjak masuk rumah.
“Tapi
sekarang udah oke kan?” Lian kembali memandang gadis mungil disampingnya. Gadis
sederhana yang ternyata banyak sekali penggemarnya. Dan orang-orang yang
perhatian seperti Meli dan Resti ada bukan karena berkah dari langit saja, tapi
pasti juga karena sifat gadis ini yang menyebabkannya. Lian ingat bagaimana
gadis itu membawa sekotak sarapan untuk satpam penjaga kantor. Mungkin Pak
satpam datang sejak pagi, hingga lupa sarapan, atau sudah merasa lapar karena
sarapan terlalu dini.
Juga
sekotak cokelat yang dibawa khusus dari luar negeri akhirnya berakhir diatas
meja ibu Admin yang gendut, sambil berbisik, oleh-oleh buat anak-anak. Gadis
itu sepertinya terlalu memikirkan orang lain hingga lupa memikirkan diri
sendiri.
Tak
lama sebuah sepeda motor masuk ke halaman, parkir disamping beberapa motor yang
memang sudah parkir terlebih dahulu. Seorang Gadis lain, dengan tshirt pink
ketat, celana dan jaket jeans, menenteng tas tangan keemasan. Merengut. Menatap
dua orang yang duduk dikursi seolah tidak senang.
“Dev?”
Ran menyapa ketika dengan cueknya gadis itu masuk rumah dan melewati mereka
seolah tidak ada siapa-siapa.
Tanpa
jawaban, sapaan Ran hanya digaungkan oleh partikel-partikel udara lalu menguap
sia-sia. Ran mengedikkan bahu, mengerucutkan bibirnya sebentar, lalu tersenyum
pada Lian yang ternyata mengamatinya.
“Mau
pergi sekarang?” Lian mengalihkan mood Ran yang kelihatan mulai berubah.
“Boleh.
Ambil tas dulu ya.” Ran berdiri hendak masuk ke rumah.
“Jaket
sekalian!” Lian menambahkan dari belakang. Ran hanya menjawab dengan acungan
jempol.
“Wah,
mandi kembang tengah malamnya berhasil nih, dapat juga mangsa sebiji.” Sebuah
suara menggelegar, judes sekali.
Tidak
ada sahutan.
“Ran!”
lanjut suara itu. “Besok pura-pura jatoh dari tangga, biar diantar jemput tiap
hari!!!”
“Kayaknya
kalo nggak sembarangan ngomong nama lo bukan Devi deh.” Terdengar Meli yang menjawab.
Lian
tercenung. Ada juga yang tidak pro dengan Ran.
“Jangan
lupa Ran, masukin rambut bawah Lo ke kopinya, biar nurut terus!!!” Suara judes
Devi tak juga berhenti, dan hal itu membuat Lian refleks melirik kecangkir
cokelatnya yang hampir habis.
“Terserah
Lo mau ngomong apa Dev, Gue lagi budeg ndengerin hal-hal gak jelas.” Akhirnya
Ran yang bersuara. Alih-alih balas judes, Ran malah menjawab dengan nada
rendah.
Saat
gadis itu keluar, wajahnya merah padam, menahan marah, tanpa menoleh, tiba-tiba
menggamit lengan Lian yang sudah berdiri didepan pintu dan menariknya
kejalanan. Sepanjang
jalan Ran terdiam, merasa malu dengan ocehan Devi. Meskipun dia yakin, Lian
tidak akan berfikiran sejauh itu, tapi siapa tahu, hati Lian terusik dengan
guna-guna model lama seperti yang diocehkan Devi. Ran bahkan tidak berani
berpegangan pada Lian. Bersyukur sekali Ran bisa menahan air matanya agar tidak
jatuh didepan Lian.
Sesampainya
di polsek, Ran memilih mengurus sendiri surat kehilangannya, menyuruh Lian
menunggu di kantin polsek. Juga di kecamatan. Lian harus rela duduk diruang
tunggu saat Ran naik ke lantai atas untuk mengurus KTP nya yang hilang. Hanya
di Bank saja mereka bisa duduk berdua. Lian lega tidak disuruh menunggu di
tempat parkir motor.
“Devi
kurang akur sama kamu?” Lian membuka percakapan setelah beberapa menit berlalu
kosong tanpa kata-kata.
Ran
mengangguk tipis. Tidak menjawab, tidak bercerita tentang hubungannya dengan
Devi, jadi Lian lebih memilih mengalihkan pembicaraan.
“Tadi
aku minta nomor teleponmu dari kantor, tapi nomornya gak bisa dihubungi.” Lian
mengeluarkan Ponselnya.
“Oh
iya…” Suara Ran yang ceria telah kembali. “Hape aku rusak, Mas. Waktu dijambret
kemarin kan aku lagi mau masukin hape kedalam tas, nah pas direbut tuh hape
lompat dari dalam, jatuh kecomberan. Waktu dipungut udah game over.” Senyum itu
sudah kembali ketempat seharusnya.
“Trus
gak dibawa ke tukang service?”
“Udah
dibawa sama Meli, cuman belum jadi, entah bisa apa gak diperbaiki.” Bibir itu
mengerucut lagi.
“Apes
banget ya aku seharian.” Ran nyengir.
“Gak
juga kali.” Lian complain. “Masa ketemu aku kamu bilang apes juga sih, tega.”
Rajuknya.
“Astagaaa…
lebay.” Ran menyikut rusuk Lian. Yang disikut pura-pura kesakitan. Keduanya
tertawa. Lian lega, sudah bisa membuat gadis itu ceria lagi.
“Jadi
besok mulai kerja?”
Ran
mengangguk.
“Resti
jemput?”
Ran
mengangguk lagi.
“Kenapa
gak coba bawa motor sendiri?”
Ran
garuk-garuk kepala. “Udah pernah, tapi kena tilang, habis gak ada SIM.”
“Kenapa
gak bikin?”
“Nanti
gak bisa lagi ngerepotin Mbak Resti dan Mas Lian dong.” Kali ini Ran membekap
mulutnya sambil pura-pura takut Lian marah.
“Dasar.”
Lian menjitak pelan kepala Ran. Tapi lalu terkejut sendiri. Yang dijitak juga
terkejut. Tapi berusaha cuek.
Duuh,
Cewek ini gampang banget bikin orang jatuh hati. Batin Lian.
Ya
Ampun lupa! Ini calon klien kantor, bisa-bisanya dia nyaman banget cengengesan
sama cowok ini sih. Batin Ran sambil menggigiti bibirnya.
(Bersambung,..)
(Bersambung,..)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar