Happy New Year 2019Double update to celebrate.....
Bab. XII
“Yakin
gak kasih kabar Lian dulu?” Meli duduk disamping Ran yang terpekur memeluk tas
ranselnya. Dipinggir jalan depan kompleks.
“Nanti
siapa yang jemput gue di bandara ya?” Ran mengutak atik ponselnya.
“Ran!”
bentak Meli tak sabar.
“Apa
Mel?” Ran menoleh.
“Yakin
gak mau pamitan sama Lian?”
Ran
menggeleng. “Nanti kalau dia kesini, kasih tau aja.” Jawab Ran enteng.
Tidak
ingin memikirkan tentang Lian dan dirinya sendiri. Ingin fokus pada tugasnya
kali ini. Tidak
lama, sebuah mobil sewa online datang mendekat menjemput Ran ke bandara. Tidak
lama juga setelah Ran berlalu, fortuner hitam berhenti tepat di depan Meli.
“Loh,
Kok ada disini Mel?” kata Lian yang bergegas keluar dari mobil dan menyapa
Meli.
“Iya
nungguin Mas Lian.” Meli tersenyum sungkan. Lian tertawa.
“Ada
apa memangnya?”
“Ran,
pagi ini berangkat ke Surabaya urusan kantor, dan gak sempat pamitan, jadi dia
minta tolong aku tungguin mas Lian disini.” Meli nyengir, merasa bersalah.
Senyum
di wajah Lian sirna. “Oh,
gak apa-apa. Terima kasih banyak ya Mel, aku langsung aja.” Tersenyum sekilas, bergegas
masuk ke mobil, dan memacu mobilnya kearah Ran pergi.
Baru
saja menginjakkan kaki di terminal 1A cengkareng, ponsel Ran berdering. Nama
Lian terlihat di layarnya.
“Selamat
pagi, Pak.” Ran menyapa ramah, seolah tidak ada yang terjadi kemarin sore.
“Ran,
kamu gak harus kesana…” suara diseberang ponsel terdengar cemas.
“Tunggu!”
Ran menyela. “Kalau sekarang sedang nyetir, tolong matikan ponselnya dulu ya…”
gurau Ran. Ia tahu benar Lian tidak akan mengemudi sambil mengangkat telepon.
“Ran,
Please. Jangan bercanda sekarang!”
suara itu masih gusar.
“Ups,
berarti sedang tidak nyetir ya?” Ran menunjukkan kode bookingnya ke petugas di
pintu masuk. Lalu bergegas ke meja X-ray, melepaskan ranselnya dan melangkah
menuju scanner gate.
“Ran,
berhenti!!!” bentak yang di seberang telepon. Berhasil menghentikan langkah
gadis itu.
Ran
langsung membalikkan badannya. Lian disana, didepan pintu masuk.
Terengah-engah, menatap Ran dengan wajah pias.
“Aku
pergi menggantikan Mbak Resti untuk Surabaya Expo, Mas.” Ran tersenyum.
Persetan. Lupakan saja tangisan tadi malam. Gadis itu melambaikan tangan.
Menatap Lian selalu menjadi hal yang menyenangkan.
“Berapa
lama?” Lian berusaha mengatur nafasnya.
“Mungkin
seminggu, maaf, acaranya mendadak. Biasa Pak War, lebih banyak lupa daripada
ingatnya.” Senyum tidak hilang dari wajah Ran, meski jarak mereka lebih dari
seratus meter sekarang. “Nanti aku kabari lagi kalau sudah sampai Surabaya, aku
harus cek in sekarang.” Gadis itu berdiri, menatap seorang pria yang juga
berdiri menatapnya. Pria yang ia cintai sepenuh hati, tapi mungkin tidak
sepenuh hati mencintainya.
“Ok.”
Jawab Lian lesu. “Jaga diri, Ran.” Desisnya.
Ran
mengangguk, mengakhiri percakapan mereka, melambaikan tangan dan bergegas ke meja
chek in.
Raganya
pasti baik-baik saja, tapi jiwanya sedang sakit, bagaimana tidak, Gadis itu
akan mengunjungi sebuah kota yang meninggalkan kenangan manis bagi orang yang
dicintainya, sayang sekali, kenangan itu bukan saat bersamanya.
Ran
mengangkat Ranselnya berjalan menuju ruang tunggu, untuk segera terbang
meninggalkan Jakarta. Berkata
bohong ternyata lebih mudah dari pada berpura-pura bahwa keadaanmu baik-baik
saja.
Menginjakkan
kaki yang kali pertama di kota Surabaya, bukanlah hal yang canggung bagi Ran.
Jakarta lebih padat dan panas, dan Surabaya kurang lebihnya. Begitu
keluar dari bandara ponsel Ran berdering lagi. Dengan malas, Ran
mengeluarkannya dari saku jaket yang dipakainya. Alih-alih dari Lian, sederet
nomor asing muncul di layarnya.
“Hallo,
dengan Viorani.” Sapa Ran.
“Ran?
Ini dengan Jhon. Pak Wardoyo memberi mandat untuk jemput kamu di bandara.” Kata
suara di seberang. Suara Pria yang menggema dan sedikit berat.
“Oh,
iya. Aku sudah keluar pintu kedatangan. Mas Jhon dimana?” Ran menyapu kerumunan
penjemput yang ramai memenuhi pintu kedatangan.
“Oh,
sebentar, aku baru datang. Tunggu disitu dulu ya, pakai baju apa?”
“Jaket
biru laut, Ransel hijau tua. Aku duduk didekat loket bekas.”
“Oke.
Tunggu sebentar ya, aku meluncur kesana.”
Jhon
adalah seorang pria tiga puluhan ber etnis tionghoa, meski disamarkan oleh
warna kulitnya yang kecoklatan, tapi raut mukanya sangat meyakinkan bahwa dia
seorang tionghoa. Jhon
orang yang ramah dan mudah berbaur, lihatlah, Ran langsung berani bercanda
dengannya meski baru bertemu beberapa menit yang lalu.
“Sudah
punya pacar, Ran?” tanya Jhon.
“Kenapa
gitu?” Ran berkelit, malas membicarakannya.
“Nggak
ada, aku mau bilang aja, kalau aku sudah punya istri dan dua orang anak.” Jhon
menahan senyum.
“Owh,
emang aku punya tampang-tampang pelakor ya mas?” Ran tertawa. “Maaf ya, gak
tertarik sih dengan suami orang, pacar orang aja nggak minat.”
“Berarti
masih jomblo nih?”
“Emang
kayaknya jomblo itu jadi semacam penyakit berbahaya ya, banyak banget yang
perhatian sama jomblo.” Ran manyun. Jhon terbahak.
“Betewe,
hari ini kamu free, besok baru kita mulai ikut expo di tunjungan, selama dua hari,
terusss… supermall pakuwon indah selama tiga hari, baru setelah itu kamu punya
satu hari holiday, terserah sih, mau rental mobil aku buat jalan-jalan, atau
rental untuk anter pulang ke bandara lagi…”
“Jadi
intinya tetap rental ya….” Gurau Ran. Keduanya
tertawa lagi.
“Pak
Wardoyo itu memang agak pelupa sih ya, aku minta uang bensin aja belum
dikasih-kasih.” Jhon mulai menggerutu.
“Itu
baru benar, soalnya juga uang saku buat aku belum ditransfer, terpaksa makan
indomi dulu nih.”
“Eits,
kalau itu no way. Kamu tinggal dirumahku, jadi harus makan masakan nyonya
Jhonatan Tham, Fellicia Tham. Dijamin halal karena kami muslim.”
“Oh
ya? Wah syukur banget kalau gitu.”
“Nanti
aku kenalin sama Fely.”
“Cece
Fely pasti cantik ya…”
“Owh
sudah pasti, orang suaminya ganteng begini…” Tawa
terdengar merekah lagi. Rasanya menyenangkan sekali mengenal Jhon.
Rumah
Jhonathan terletak di pinggir kota, disebuah kawasan yang asri dan terkesan
hijau. Pohon-pohon peneduh tumbuh rindang, sampah tertib bersembunyi dalam tong
masing-masing, penataan rumah sangat rapi meski bentuknya beragam, jalanan
lebar dari paving.
Rumah
itu bercat kuning gading dengan perpaduan list cokelat. Sebuah gambar khas
ornament cina ditempelkan di depan pintu masuk, ucapan selamat datang berbahasa
cina, kata Jhon. Beranda rumah adalah sebuah kebun anggur kecil, dengan buahnya
yang mulai terlihat bergelantungan menjuntai keluar. Sebuah kolam ikan koi
sederhana, berair bening terlihat dikanan dan kiri jalan setapak menuju
beranda. Sungguh rumah impian.
Seorang
wanita cantik keluar dari dalam rumah sambil menggendong balita laki-laki
gendut.
“Nah
ini Fellicia!” Jhon berseru bangga. “Sayang, ini Ran, anak buah Pak Wardoyo.”
“Halo,
anggap rumah sendiri ya Ran.” Sapa wanita berusia 30 tahun itu.
“Terima
kasih Jie.” Balas Ran.
Kamar
Ran terletak di sebuah pavilion tersendiri, di bagian belakang rumah. Supaya
lebih tenang, kata Jhon, saat mengantar Ran untuk beristirahat.
“Kami
ada dua pembantu, Fely sibuk dengan Jhon kecil, jadi dia jarang masak, nanti
kami antar makanan ke kamarmu ya.” Jhon menyerahkan sepasang kunci. Kunci kamar
dan kunci pintu gerbang. Jikalau suatu ketika Ran harus pulang malam, sedangkan
Jhon pulang lebih dahulu. Ran hanya mengangguk. Lagipula ia akan lebih lama
berada diluar dibandingkan di dalam rumah.
“Jangan
sungkan kalau perlu apa-apa bilang saja ya, Ran.” Imbuh Fely.
Antara
pavilion dengan rumah utama dihubungkan sebuah koridor terbuka dengan taman
bunga di kanan kirinya, bahkan lebih kekanan lagi ada kolam renang pribadi yang
dikelilingi pagar setinggi pinggang.
Sebentar
saja mereka berbincang, sejurus kemudian berinisiatif untuk meninggalkan Ran
yang mungkin ingin beristirahat.
“Nanti
jam setengah tujuh malam, bergabunglah dengan kami untuk makan malam, Ran.”
Undang Fely. Gadis itu mengangguk sopan.
Sepeninggal
tuan rumah, Ran segera meraih ponselnya. Mengirim pesan yang sama ke beberapa
nomor yang berbeda. Lian, Resti dan Meli.
Ran sudah sampai di Surabaya ya…
dengan selamat, sehat, dan tetap ceria. Jangan kangen ya, soalnya gak bakalan
lama. Miss u.
Pesan
terkirim. Tak lama kemudian. Balasan diterima.
Lian
yang pertama membalas. Sesuai perkiraan Ran.
I miss u too.
Balas
Lian. Klise. Ran berusaha mendongkrak entah apa itu yang terasa menggencet
dadanya dengan kalimat yang ia ucapkan berkali-kali. Semua akan baik-baik saja.
Mengesampingkan pikirannya tentang tampang Lian ketika mengetikkan kata-kata
itu, sedihkah? Manyunkah? Ran terkekeh sendiri. Benar kata pujangga, karena
cinta, bisa membuatmu menangis, bisa membuatmu tertawa, bisa membuatmu belajar
dewasa.
Bab. XIII
Tahap
pertama Surabaya Expo, Ran berhasil menggaet tiga orang penanam modal yang
bersedia melakukan kerja sama dibidang konstruksi dan percetakan. Dua hari di
Plasa Tunjungan, bersama seorang lagi utusan dari bidang ekspor impor. Ran
tidak begitu mengenal Gadis itu, bukan karena tidak sempat berkanalan, namun
lebih dari cara partnernya itu yang terlalu memasang harga diri terlalu tinggi.
Sandra,
nama Gadis itu, menolak ajakan Ran untuk makan disebuah warung bakso diluar
Plasa, lebih senang menghabiskan banyak uang untuk makan di gerai-gerai makanan
western yang Ran kurang suka. Sandra juga tidak banyak berbicara dengan Ran,
karena seringkali teman-teman Sandra datang beramai-ramai sekedar melakukan
foto selfie dengan background maket proyek perusahaan Pak Wardoyo, entah
caption apa yang dipasang mereka.
Setelah
dua hari berlalu, mereka berpisah. Ran akan menuju Supermall Pakuwon, sedangkan
Sandra lebih memilih ke BSD. Jhon adalah pengunjung setia Ran, yang datang
setiap siang hanya untuk sekedar mengajak makan siang, padahal Ran tahu benar,
makan siang keluarga itu selalu bersama-sama dirumah, Fely yang cerita.
Kabar
Lian, datar. Mengirim pesan, bertanya kabar, kegiatan dan akhirnya menasehati
agar tidak lupa makan, selain itu tidak ada lagi, bahkan Lian tidak pernah
menelepon. Meski sedikit kecewa, Ran berusaha tetap mempertahankan mood
bagusnya selama di Surabaya, itu tekadnya.
Hari
pertama di Pakuwon membuat Ran kewalahan. Tanpa teman satupun, ia harus
melayani pengunjung yang membludak, membagikan brosur dan company profile
kepada para pengusaha yang memintanya. Ran harus balik meminta kartu nama
mereka, atau mencatat nomor ponsel dan alamat email agar mudah melakukan follow
up.
Hari
kedua di Pakuwon sangat menyenangkan, meski banyak tamu, Ran bisa menyaksikan
pagelaran budaya yang diadakan di sebuah panggung tepat didepan booth nya. Tarian
adat, kontemporer, hingga ludruk. Hari itu Ran benar-benar lupa semuanya, lupa
tentang dirinya, tentang Lian, Liliana, Devi, hingga alasan mengapa dia berdiri
disana.
Jam
delapan malam, Ran pulang diantar petugas supermall yang berbaik hati
menawarkan tumpangan. Malam itu purnama, menjelang imlek.
“Raan…”
sebuah suara merdu memanggilnya.
Fely
berdiri diambang pintu rumah yang terbuka lebar. Ibu muda itu melambaikan
tangan, meminta Ran agar mendekat.
“Ada
apa Ce?” Ran sumringah.
“Ayuk
makan malam bersama keluarga besar kami, mereka baru datang tadi siang.” Fely
langsung menggamit lengan Ran sebelum gadis itu sempat menjawab. Ran lapar,
tapi tidak ingin makan.
Suara
orang yang sedang bercengkrama terdengar hingga ruang tamu. Ruang tengah rumah
keluarga benar-benar ramai. Sepasang suami isteri yang sudah berumur duduk
disebuah sofa besar diapit sepasang suami istri lain yang lebih muda, dua orang
laki-laki menata meja makan, dua orang wanita paruh baya sedang mengasuh lima
anak-anak yang dibiarkan bermain dilantai. Jhon yang sedang menggendong
juniornya tersenyum menatap istrinya yang bersemangat menarik-narik Ran
ketengah ruangan.
“Ran,
ini oma dan opa, mama dan papa.” Fely menunjuk tetua yang duduk di sofa besar.
“Selamat
malam, Saya Ran.” Ran membungkukkan badannya sedikit.
“Ran?”
Ayah Fely menatap bingung.
Fely
menjawab dengan Bahasa mandarin dan menyebut Pak Wardoyo di tengah kalimatnya,
jadi Ran menyimpulkan kalau keluarga itu pasti mengenal Bos nya.
“Kita
makan malam bersama ya Ran, kami akan mengadakan doa bersama juga, jadi kalau
ada tamu, kami beruntung kalau tamu juga mau memberikan doanya.” Fely bergabung
dengan kedua saudara perempuannya yang sedang duduk bermain bersama anak-anak.
Fely
mengatakan sesuatu, dan dengan segera kedua ibu itu bangkit, bergabung dengan
para pria yang sedang sibuk mengatur meja. Fely menarik sebuah kursi lagi ke
tepi meja makan.
“Ce,
aku perlu mandi dulu atau …” Ran sebenarnya cukup lelah dan ingin segera
beristirahat, tapi apa daya, tidak enak menolak tawaran tuan rumah.
“Tak…
letakkan saja tasmu dimeja ujung itu, kita mau segera mulai loh.” Fely
mendorong Ran untuk duduk di salah satu kursi.
Tepat
jam Sembilan malam, seluruh anggota keluarga berkumpul mengitari meja makan.
Segala macam makanan khas oriental yang pernah dilihat Ran di televisi, hari
itu tersedia semua di atas meja.
“Sebelum
makan, kita akan berdoa, mendoakan salah satu adikku yang telah lebih dahulu
meninggalkan kami semua.” Fely tersenyum, sedih.
“Nanti
papa akan memimpin doa sambil memegang foto adik perempuanku, setelah itu foto
akan bergilir dan setiap kali yang memgang, akan memanjatkan doa khusus untuk
almarhumah. Ini bukan adat tionghoa loh, Ran. Ini kebiasaan keluarga kami saja
untuk menyambut imlek.” Ran
mengangguk, melirik sebuah benda persegi panjang yang didekap oleh ayah
Fellicia.
Doa
ayah Fellicia berbahasa mandarin, meskipun begitu Ran menangkap beberapa kali
Ayah Fely menyebut Asma Allah. Ran mengaminkan, berbarengan dengan anggota
keluarga lain.
Ibu
Fely berurai air mata dalam panjatan doanya. Ran merasa haru. Seperti itu lah
seorang ibu mencintai anak-anaknya, bahkan ketika tidak bisa bersanding dengan
anak-anaknya pun doa dan air mata ibu tidak akan pernah terhenti.
Foto
itu kemudian berpindah ke tangan Jhon, yang kemudian dengan khusuk menundukkan
wajah, meletakkan telapak tangannya dipermukaan foto yang dilapisi kaca itu.
Foto
beralih pada Fely, yang segera saja berlinangan air mata, mendekap dan mencium
foto itu. Fely mendekap erat-erat foto itu didadanya, sambil berdoa. Matanya
terpejam, bulir-bulir air mata jatuh dari sudutnya. Haru sekali.
Fely
membuka mata, mengendurkan pelukannya dan menyerahkan foto itu kepada Ran. Tidak
perlu menunggu hingga foto itu sampai ketangan Ran untuk bisa melihatnya. Foto
seorang gadis dengan cheongsam berwarna kuning terang, bermotif bunga-bunga
merah dan emas, duduk disebuah kursi kayu dengan tepian bulat. Foto itu diambil
di depan pavilion yang kini ditempati Ran.
Dibelakang
Gadis cantik bermata sipit itu, berdiri dengan gagah seorang pria memakai jas
khas china, berwarna hitam dikombinasi warna putih. Tampan sekali. Wajah
keduanya berseri-seri. Mungkin foto itu adalah sebuah foto pra pernikahan. Kedua
mata Ran panas, bulir-bulir air mata jatuh tanpa ia sadari.
“Gadis
ini Liliana, adikku. Dan pria dibelakangnya dulu adalah calon suaminya.” Bisik
Fely lembut. Tapi entah mengapa seolah terdengar seperti teriakan lantang
ditelinga Ran.
Oh Tuhaaan….
Gadis
itu menjerit dalam hati. Dadanya seolah dipukul dengan keras, jantungnya
berdesir-desir seolah tiba-tiba kehilangan irama, nafasnya tercekat. Sesak.
Mengapa seperti ini Engkau memberiku
jalan kehidupan. Saat orang yang kucintai kesulitan mencari-cari, hingga
bertahun-tahun, mengapa tidak Engkau berikan jalan kepadanya? Mengapa Engkau
berikan jalan ini padaku.
Air
mata Ran semakin Deras, mengabaikan pandangan berpasang-pasang mata yang
menatapnya heran.
Apa yang Engkau ingin untuk aku
lakukan, Tuhan. Gadis inilah yang dicintai oleh orang yang aku cintai. Gadis
inilah yang selama ini dicari oleh orang yang aku sayangi, dan Gadis ini
ternyata telah bersama-Mu.
Ran
mendekap foto itu erat kedadanya. Serasa kepedihan dalam hatinya bertambah
pilu, apa yang akan dilakukan Lian saat tahu bahwa gadis yang dicintainya telah
pergi untuk selamanya?
Maafkan aku Liana, Maafkanlah Mas
Lian, Maafkan jika aku telah berani mencintainya. Dia berusaha mencarimu selama
ini. Dia masih mencintaimu, Liana. Aku tahu itu, dan terlihat jelas dimatanya,
betapa besar kesedihannya karena telah kehilanganmu. Maafkan aku Liana. Ran
Tergugu, Fely memegangi bahunya, berusaha menenangkannya.
Larut
malam seusai makan malam, Fely menemani Ran berjalan ke pavilion.
“Maafkan
aku tadi ya, Ce.” Ran menggamit lengan Fely.
“Tak
apa.” Fely mengelus punggung tangan Ran. “Liana memang sakit-sakitan sebalum pergi
sepuluh bulan lalu karena serangan jantung.” Senyum pahit mengambang dibibir
wanita cantik itu.
Lian tidak tahu itu. Batin
Ran. “Dimana dimakamkan?”
“Di
pemakaman umum dekat sini. Itulah mengapa setiap menjelang imlek keluarga
berkumpul disini, meskipun mama dan papa sekarang tinggal di singkawang. Mereka
pasti pulang ke sini.” Keduanya
duduk di undakan depan pavilion, bersisian.
“Hingga
sekarang kurasa calon suaminya itu belum tahu kalau Liana sudah meninggal,
karena Liana pergi meninggalkan lelaki itu beberapa bulan sebelum dia meninggal
dan berpesan agar tidak menghubunginya lagi, padahal kami sudah menganggapnya
seperti bagian dari keluarga.”
Ran
terdiam.
“Kami
pindah juga tanpa memberi kabar pada Lian.”
Deg.
Jantung Ran seolah hendak melompat mendengar nama itu disebut.
“Itu
semua permintaan Liana, yang merasa Lian tidak cocok untuknya lagi, dan adikku
tidak ingin lelaki itu menghubunginya.” Suara Fely sendu. “Yah, apa boleh buat,
mereka yang akan menjalani hidup bukan? Kami tidak bisa memaksa, meski
sebenarnya kami sangat suka pada Lian, pemuda itu sopan dan sangat baik.”
Senyum Fely merekah, Ran termangu. Apa yang dikatakan Fely tentang Lian benar adanya
.
Meski
Fely telah kembali ke dalam rumah, Ran masih belum juga beranjak. Ada
yang sedang bergumul di dalam pikirannya. Kenyataan sebesar ini, kenyataan yang
tidak diperlukannya tapi sangat berharga untuk Lian. Jika Lian Tidak tahu
kenyataan ini, mereka berdua mungkin akan bisa bersatu dengan sebuah
kemungkinan bahwa rasa penyesalan sekaligus ingin tahu dalam diri Lian akan
tetap hidup.
Jika
Lian tahu, mungkin akan menjadi berat untuk Ran, karena hal itu akan
mengingatkan Lian tentang kenangan yang berusaha ia lupakan. Mungkin akan
membutuhkan waktu dua kali lipat bagi Lian untuk dapat melupakan Liliana lagi. Tidak.
Ran sama sekali tidak ingin Lian melupakan Liliana. Namun jika Ran memutuskan
untuk tetap bersama Lian, itu berarti ia harus bisa menerima seseorang yang
memiliki dua nama dalam hatinya. Liana akan tetap menjadi ratunya, dan dirinya
adalah sang selir.
Ran
beranjak masuk ke dalam kamarnya. Tanpa melepas baju kerjanya, Ran
menghempaskan tubuhnya ke ranjang dan memejamkan mata. Sesakit
apapun pada akhirnya Lian harus tahu yang sebenarnya.
( to be continue....)