Senin, 07 Januari 2019

Sang Pelukis Hati (14)

Bab. XIV

Hari ketiga di Pakuwon, Ran menerima sebuah undangan Gala dinner dari penyelenggara. Acaranya di Grand Ballroom Pakuwon, jam tujuh malam. Ran meletakkan pulpennya, menepikan lembaran-lembaran kertas yang memenuhi mejanya. Meraih ponsel disaku blazernya lalu menekan sebuah nomor kontak.
Setelah berdering sebanyak lima kali, akhirnya telepon diangkat.

“Halo, Ran?” Suara yang dirindukan gadis itu menyapa dari sebarang.

“Sedang apa, Mas?” keraguan terdengar jelas dari nada bicara Ran. Setelah berhari-hari tidak mendengar suara itu, rasanya seolah bertahun-tahun.

“Mmm, gak ada, lagi di workshop ngobrol sama anak-anak. Kamu apa kabar?” Suara Lian lembut seperti biasa. “Maaf ya, aku nggak pernah nelpon kamu, takut ganggu.”

“Nggak papa, lagian aku memang banyak kegiatan, jadi sampai rumah langsung tidur, nggak sempat ngapa-ngapain lagi.”

“Kamu pasti makin kurus…” kata-kata Lian mengambang. Ragu dengan perasaan yang harus dia bawa dalam perbincangan ini.

“Nggak juga, soalnya disini aku makan banyak, cocok dengan makanan warung-warung disini.” Ran berusaha ceria, seperti biasa. Bukankah berkata bohong itu memang paling mudah. Kenyataannya Ran bahkan sering ketinggalan jam makan.

“Bagus dong.”

“Iya…” Keduanya terdiam.

“Mas Lian…” Ran berencana menjalankan aksinya.

“Ya?”

“Kalau aku berharap Mas Lian ada disini, itu kelewatan nggak ya?”

Lian terdiam. Perasaannya seolah diaduk-aduk. Telinganya tidak salah dengar kan? Pikirnya.
“Nggak juga.” Lian mendesah. Bimbang.

“Kalau aku… ingin mas Lian kesini… itu kebangetan nggak?” Terdiam lagi.

“Ada dua hal yang membuat aku mau Mas Lian kesini. Satu karena bakalan ada gala dinner dan aku nggak punya teman, masa iya aku ngajakin tukang ojek langganan, nggak banget kan? Dan yang kedua karena aku… juga ingin Mas Lian juga mengingat aku saat mendengar kata Surabaya…” Nada bicara Ran meluncur turun. Sekuat apapun Ran ingin berada dihati Lian, gadis itu yakin tak akan bisa. Liana terlalu cantik, terlalu hebat, terlalu sempurna jika dibandingkan dirinya.

Lian menelan ludah, kehilangan kata-kata. Tahu kemana arah pembicaraan gadis itu, dan Lian memakluminya. Cemburu. Pria itu tersenyum, merasakan bahwa hati Ran masih ada padanya.
“Jam berapa gala dinnernya?” tanya Lian.

Ran justru tergeragap mendengar pertanyaan Lian.
“Um… besok jam tujuh malam.”  

“Nanti malam, mudah-mudahan aku sudah ada disana.” Kata Lian lembut namun tegas.

Ran tidak mengira Lian akan setuju untuk pergi ke Surabaya secepatnya. Lian juga tidak mengira bahwa keinginananya yang maju mundur untuk menyusul Ran ke Surabaya bak gayung yang bersambut.

“Kabari kalau Mas Lian berangkat dari Jakarta ya.” Gadis itu terdengar antusias.

“Ok.”

Lian meletakkan ponselnya.

“Pak Darsono, tolong antar saya ke bandara ya, penerbangan ke Surabaya berangkat jam 3 sore nanti.” Lian berseru.

Ran termangu, membereskan kertas-kertas yang berserakan dihadapannya. Apakah Lian berangkat ke Surabaya hanya untuk menemaninya, atau sebenarnya dia telah mempersiapkan agenda yang lain?
Jam setengah tiga sore, sebuah pesan dari Lian mengabarkan bahwa pesawat menuju Surabaya lepas landas sepuluh menit lagi, dan akan mendarat sekitar pukul setengah lima waktu Surabaya.
Detak jatung Ran langsung tak karuan mendapat berita itu. Lian benar-benar akan datang.

“Mas Jhon, bisa bantu aku?” Ran menelepon Jhon pada akhirnya.

Setengah lima sore tepat, sesuai dengan jam digital besar dibandara Juanda Surabaya, Ran berdiri menunggu kedatangan Lian. Gadis itu berdiri tepat dibelakang Jhon, yang bertubuh besar sehingga gadis itu benar-benar tak terlihat dari depan.

Ran sudah melihat Lian berjalan, menuruni escalator, menyandang tas ransel berwarna merah tua, memakai jaket jeans yang pernah dipinjam Ran, celana Jeans warna senada, Tshirt putih bergambar koala, dan sepatu sneakers. Mengapa pria itu selalu saja berhasil membuat jantungnya berdebar-debar. Ran beringsut menyembunyikan diri dibalik tiang besar disebelah Jhon.

“Dia baru keluar Ran.” Desis Jhon. Ran memejamkan matanya. Membiarkan rencana mereka berjalan.

“Dia lagi nyari kamu.” Kata Jhon lagi.

Ran menggenggam erat ponselnya yang bergetar tanpa suara.

“Dia lihat aku, dia jalan kesini.” Jhon berbicara cepat tanpa banyak menggerakkan bibirnya.

“Ko?” Suara Lian terdengar terkejut sekaligus senang.

“Li? Apa kabar?” Sahut Jhon. Keduanya berpelukan.

Ran mendengar suara punggung ditepuk. Gadis itu bertahan, tak beranjak.

“Koko kemana aja selama ini?” Nada suara Lian berubah. Seolah menahan haru dan bahagia.

“Kami disini aja kok, cuman memang dulu kami ke singkawang, mama sakit, jadi kami semua exsodus ke singkawang.” Jhon tertawa. “Ayo mampir kerumah.” Ajak Jhon.

“Pasti ko, tapi aku lagi nunggu seseorang.” Lian menyebut Ran seseorang. Bukan teman, bukan pacar.

Ran melangkahkan kaki pergi dari tiang marmer yang terasa dingin di punggungnya itu. Gadis itu berdiri, tepat dibelakang Jhon, di depan Lian.

“Ran?” Refleks Lian menatap Ran yang teresenyum simpul. Jhon berbalik, menghadap Ran juga.

“Kita berangkat sekarang?” tanya Ran. Jhon mengangguk. Lian menatap keduanya bergantian dengan heran.
Jhon menyetir sendiri seperti sopir, dengan Ran dan Lian yang duduk di belakang. Tidak banyak yang diceritakan, meski sebenarnya banyak pertanyaan yang tersimpan didalam benak masing-masing.

“Ups, Mas Jhon, bisa ke pakuwon sebentar? Ada file yang ketinggalan.” Ran memecah suasana. Sengaja ingin meninggalkan mereka berdua agar bisa bercerita dengan bebas tanpa harus merasa sungkan pada dirinya.

“Oke.” Jhon membelokkan jalan menuju Supermall Pakuwon.

“Sebentar ya, Mas.” Ran menyunggingkan senyum pada Lian yang sedari tadi berwajah tegang.

“Aku ikut.” Pekik Lian ketika Ran hendak menutup pintu mobil, dan bergegas keluar. Jhon hanya tersenyum lucu melihat keduanya dari dalam mobil.

“Jadi kamu kenal Jhon, Ran?” tanya Lian, kaku berjalan disisi Ran. Gadis itu mengangguk.

“Sejak kapan?” Tanya Lian lagi.

“Sejak datang kemari. Aku tinggal dirumahnya.” Ran menjawab ringan.

Lian tersentak hingga berhenti berjalan. Ran menoleh, menaikkan alisnya.

“Jadi kamu sudah ketemu dengan…” Lian seolah tercekat, tak mampu meneruskan kata-kata.

“Liana tidak ada dirumah itu.” Ran masih menjawab ringan, melanjutkan perjalanan.

“Jadi kamu sudah tahu semua?”

“Bukannya Mas Lian sudah ngasih tahu aku tentang semuanya?”

“Maksudku…” Lian menelan ludah. “Anak itu?” Ran mendongak menatap Lian yang terlihat bingung.

“Tidak ada disana juga.” Ran mengulurkan tangan, mengusap cepat lengan Lian, menawarkan senyuman, Lian membalas senyuman canggung.

Keduanya sudah sampai di booth Ran yang sudah kosong. Ran berlutut disebuah meja kecil dan menarik lacinya yang paling bawah.

“Ran.” Lian berjongkok disisi Ran. “Aku datang kesini, bukan untuk Liana.” Rahangnya mengeras. “Aku datang buat kamu, jadi apapun yang terjadi nanti aku akan tetap pulang ke Jakarta sama kamu.” Lian menatap mata gadis itu lekat-lekat. Menahan dengan sekuat tenaga keinginannya untuk memeluk gadis yang dicintainya itu. Kali ini Lian tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya.

“Setidaknya Mas Lian harus bertemu dengan keluarga Liana dulu, baru Mas Lian putuskan jalan terbaik buat kita.” Ran menjawab lirih, dengan wajah tersenyum. Bukan karena gadis itu yakin Lian akan lebih condong padanya, senyumnya hanyalah sebuah penguatan jiwa, bahwa akan mencoba berusaha berdiri disamping orang yang hanya memiliki separuh hati untuknya.

Lian mengangguk lemah, masih menatap dua bola mata indah milik kekasihnya itu. Dalam diam, keduanya kembali ketempat parkir, dimana Jhon menunggu.

(Bersambung Lagi)
Semangat Pagii.... 

Sabtu, 05 Januari 2019

Sang Pelukis Hati (12 & 13)


Happy New Year 2019Double update to celebrate.....

Bab. XII

“Yakin gak kasih kabar Lian dulu?” Meli duduk disamping Ran yang terpekur memeluk tas ranselnya. Dipinggir jalan depan kompleks.

“Nanti siapa yang jemput gue di bandara ya?” Ran mengutak atik ponselnya.

“Ran!” bentak Meli tak sabar.

“Apa Mel?” Ran menoleh.

“Yakin gak mau pamitan sama Lian?”

Ran menggeleng. “Nanti kalau dia kesini, kasih tau aja.” Jawab Ran enteng. 

Tidak ingin memikirkan tentang Lian dan dirinya sendiri. Ingin fokus pada tugasnya kali ini. Tidak lama, sebuah mobil sewa online datang mendekat menjemput Ran ke bandara. Tidak lama juga setelah Ran berlalu, fortuner hitam berhenti tepat di depan Meli.

“Loh, Kok ada disini Mel?” kata Lian yang bergegas keluar dari mobil dan menyapa Meli.

“Iya nungguin Mas Lian.” Meli tersenyum sungkan. Lian tertawa.

“Ada apa memangnya?”

“Ran, pagi ini berangkat ke Surabaya urusan kantor, dan gak sempat pamitan, jadi dia minta tolong aku tungguin mas Lian disini.” Meli nyengir, merasa bersalah.

Senyum di wajah Lian sirna. “Oh, gak apa-apa. Terima kasih banyak ya Mel, aku langsung aja.” Tersenyum sekilas, bergegas masuk ke mobil, dan memacu mobilnya kearah Ran pergi.

Baru saja menginjakkan kaki di terminal 1A cengkareng, ponsel Ran berdering. Nama Lian terlihat di layarnya.

“Selamat pagi, Pak.” Ran menyapa ramah, seolah tidak ada yang terjadi kemarin sore.

“Ran, kamu gak harus kesana…” suara diseberang ponsel terdengar cemas.

“Tunggu!” Ran menyela. “Kalau sekarang sedang nyetir, tolong matikan ponselnya dulu ya…” gurau Ran. Ia tahu benar Lian tidak akan mengemudi sambil mengangkat telepon.

“Ran, Please. Jangan bercanda sekarang!” suara itu masih gusar.

“Ups, berarti sedang tidak nyetir ya?” Ran menunjukkan kode bookingnya ke petugas di pintu masuk. Lalu bergegas ke meja X-ray, melepaskan ranselnya dan melangkah menuju scanner gate.

“Ran, berhenti!!!” bentak yang di seberang telepon. Berhasil menghentikan langkah gadis itu.

Ran langsung membalikkan badannya. Lian disana, didepan pintu masuk. Terengah-engah, menatap Ran dengan wajah pias.

“Aku pergi menggantikan Mbak Resti untuk Surabaya Expo, Mas.” Ran tersenyum. Persetan. Lupakan saja tangisan tadi malam. Gadis itu melambaikan tangan. Menatap Lian selalu menjadi hal yang menyenangkan.

“Berapa lama?” Lian berusaha mengatur nafasnya.

“Mungkin seminggu, maaf, acaranya mendadak. Biasa Pak War, lebih banyak lupa daripada ingatnya.” Senyum tidak hilang dari wajah Ran, meski jarak mereka lebih dari seratus meter sekarang. “Nanti aku kabari lagi kalau sudah sampai Surabaya, aku harus cek in sekarang.” Gadis itu berdiri, menatap seorang pria yang juga berdiri menatapnya. Pria yang ia cintai sepenuh hati, tapi mungkin tidak sepenuh hati mencintainya.

“Ok.” Jawab Lian lesu. “Jaga diri, Ran.” Desisnya.

Ran mengangguk, mengakhiri percakapan mereka, melambaikan tangan dan bergegas ke meja chek in.
Raganya pasti baik-baik saja, tapi jiwanya sedang sakit, bagaimana tidak, Gadis itu akan mengunjungi sebuah kota yang meninggalkan kenangan manis bagi orang yang dicintainya, sayang sekali, kenangan itu bukan saat bersamanya.

Ran mengangkat Ranselnya berjalan menuju ruang tunggu, untuk segera terbang meninggalkan Jakarta. Berkata bohong ternyata lebih mudah dari pada berpura-pura bahwa keadaanmu baik-baik saja.

Menginjakkan kaki yang kali pertama di kota Surabaya, bukanlah hal yang canggung bagi Ran. Jakarta lebih padat dan panas, dan Surabaya kurang lebihnya. Begitu keluar dari bandara ponsel Ran berdering lagi. Dengan malas, Ran mengeluarkannya dari saku jaket yang dipakainya. Alih-alih dari Lian, sederet nomor asing muncul di layarnya.

“Hallo, dengan Viorani.” Sapa Ran.

“Ran? Ini dengan Jhon. Pak Wardoyo memberi mandat untuk jemput kamu di bandara.” Kata suara di seberang. Suara Pria yang menggema dan sedikit berat.

“Oh, iya. Aku sudah keluar pintu kedatangan. Mas Jhon dimana?” Ran menyapu kerumunan penjemput yang ramai memenuhi pintu kedatangan.

“Oh, sebentar, aku baru datang. Tunggu disitu dulu ya, pakai baju apa?”

“Jaket biru laut, Ransel hijau tua. Aku duduk didekat loket bekas.”

“Oke. Tunggu sebentar ya, aku meluncur kesana.”

Jhon adalah seorang pria tiga puluhan ber etnis tionghoa, meski disamarkan oleh warna kulitnya yang kecoklatan, tapi raut mukanya sangat meyakinkan bahwa dia seorang tionghoa. Jhon orang yang ramah dan mudah berbaur, lihatlah, Ran langsung berani bercanda dengannya meski baru bertemu beberapa menit yang lalu.

“Sudah punya pacar, Ran?” tanya Jhon.

“Kenapa gitu?” Ran berkelit, malas membicarakannya.

“Nggak ada, aku mau bilang aja, kalau aku sudah punya istri dan dua orang anak.” Jhon menahan senyum.

“Owh, emang aku punya tampang-tampang pelakor ya mas?” Ran tertawa. “Maaf ya, gak tertarik sih dengan suami orang, pacar orang aja nggak minat.”

“Berarti masih jomblo nih?”

“Emang kayaknya jomblo itu jadi semacam penyakit berbahaya ya, banyak banget yang perhatian sama jomblo.” Ran manyun. Jhon terbahak.

“Betewe, hari ini kamu free, besok baru kita mulai ikut expo di tunjungan, selama dua hari, terusss… supermall pakuwon indah selama tiga hari, baru setelah itu kamu punya satu hari holiday, terserah sih, mau rental mobil aku buat jalan-jalan, atau rental untuk anter pulang ke bandara lagi…”

“Jadi intinya tetap rental ya….” Gurau Ran. Keduanya tertawa lagi.

“Pak Wardoyo itu memang agak pelupa sih ya, aku minta uang bensin aja belum dikasih-kasih.” Jhon mulai menggerutu.

“Itu baru benar, soalnya juga uang saku buat aku belum ditransfer, terpaksa makan indomi dulu nih.”

“Eits, kalau itu no way. Kamu tinggal dirumahku, jadi harus makan masakan nyonya Jhonatan Tham, Fellicia Tham. Dijamin halal karena kami muslim.”

“Oh ya? Wah syukur banget kalau gitu.”

“Nanti aku kenalin sama Fely.”

“Cece Fely pasti cantik ya…”

“Owh sudah pasti, orang suaminya ganteng begini…” Tawa terdengar merekah lagi. Rasanya menyenangkan sekali mengenal Jhon.

Rumah Jhonathan terletak di pinggir kota, disebuah kawasan yang asri dan terkesan hijau. Pohon-pohon peneduh tumbuh rindang, sampah tertib bersembunyi dalam tong masing-masing, penataan rumah sangat rapi meski bentuknya beragam, jalanan lebar dari paving.

Rumah itu bercat kuning gading dengan perpaduan list cokelat. Sebuah gambar khas ornament cina ditempelkan di depan pintu masuk, ucapan selamat datang berbahasa cina, kata Jhon. Beranda rumah adalah sebuah kebun anggur kecil, dengan buahnya yang mulai terlihat bergelantungan menjuntai keluar. Sebuah kolam ikan koi sederhana, berair bening terlihat dikanan dan kiri jalan setapak menuju beranda. Sungguh rumah impian.

Seorang wanita cantik keluar dari dalam rumah sambil menggendong balita laki-laki gendut.

“Nah ini Fellicia!” Jhon berseru bangga. “Sayang, ini Ran, anak buah Pak Wardoyo.”

“Halo, anggap rumah sendiri ya Ran.” Sapa wanita berusia 30 tahun itu.

“Terima kasih Jie.” Balas Ran.

Kamar Ran terletak di sebuah pavilion tersendiri, di bagian belakang rumah. Supaya lebih tenang, kata Jhon, saat mengantar Ran untuk beristirahat.

“Kami ada dua pembantu, Fely sibuk dengan Jhon kecil, jadi dia jarang masak, nanti kami antar makanan ke kamarmu ya.” Jhon menyerahkan sepasang kunci. Kunci kamar dan kunci pintu gerbang. Jikalau suatu ketika Ran harus pulang malam, sedangkan Jhon pulang lebih dahulu. Ran hanya mengangguk. Lagipula ia akan lebih lama berada diluar dibandingkan di dalam rumah.

“Jangan sungkan kalau perlu apa-apa bilang saja ya, Ran.” Imbuh Fely.

Antara pavilion dengan rumah utama dihubungkan sebuah koridor terbuka dengan taman bunga di kanan kirinya, bahkan lebih kekanan lagi ada kolam renang pribadi yang dikelilingi pagar setinggi pinggang.
Sebentar saja mereka berbincang, sejurus kemudian berinisiatif untuk meninggalkan Ran yang mungkin ingin beristirahat.

“Nanti jam setengah tujuh malam, bergabunglah dengan kami untuk makan malam, Ran.” Undang Fely. Gadis itu mengangguk sopan.

Sepeninggal tuan rumah, Ran segera meraih ponselnya. Mengirim pesan yang sama ke beberapa nomor yang berbeda. Lian, Resti dan Meli.

Ran sudah sampai di Surabaya ya… dengan selamat, sehat, dan tetap ceria. Jangan kangen ya, soalnya gak bakalan lama. Miss u.

Pesan terkirim. Tak lama kemudian. Balasan diterima.

Lian yang pertama membalas. Sesuai perkiraan Ran.

I miss u too.


Balas Lian. Klise. Ran berusaha mendongkrak entah apa itu yang terasa menggencet dadanya dengan kalimat yang ia ucapkan berkali-kali. Semua akan baik-baik saja. Mengesampingkan pikirannya tentang tampang Lian ketika mengetikkan kata-kata itu, sedihkah? Manyunkah? Ran terkekeh sendiri. Benar kata pujangga, karena cinta, bisa membuatmu menangis, bisa membuatmu tertawa, bisa membuatmu belajar dewasa.

Bab. XIII

Tahap pertama Surabaya Expo, Ran berhasil menggaet tiga orang penanam modal yang bersedia melakukan kerja sama dibidang konstruksi dan percetakan. Dua hari di Plasa Tunjungan, bersama seorang lagi utusan dari bidang ekspor impor. Ran tidak begitu mengenal Gadis itu, bukan karena tidak sempat berkanalan, namun lebih dari cara partnernya itu yang terlalu memasang harga diri terlalu tinggi.

Sandra, nama Gadis itu, menolak ajakan Ran untuk makan disebuah warung bakso diluar Plasa, lebih senang menghabiskan banyak uang untuk makan di gerai-gerai makanan western yang Ran kurang suka. Sandra juga tidak banyak berbicara dengan Ran, karena seringkali teman-teman Sandra datang beramai-ramai sekedar melakukan foto selfie dengan background maket proyek perusahaan Pak Wardoyo, entah caption apa yang dipasang mereka.

Setelah dua hari berlalu, mereka berpisah. Ran akan menuju Supermall Pakuwon, sedangkan Sandra lebih memilih ke BSD. Jhon adalah pengunjung setia Ran, yang datang setiap siang hanya untuk sekedar mengajak makan siang, padahal Ran tahu benar, makan siang keluarga itu selalu bersama-sama dirumah, Fely yang cerita.

Kabar Lian, datar. Mengirim pesan, bertanya kabar, kegiatan dan akhirnya menasehati agar tidak lupa makan, selain itu tidak ada lagi, bahkan Lian tidak pernah menelepon. Meski sedikit kecewa, Ran berusaha tetap mempertahankan mood bagusnya selama di Surabaya, itu tekadnya.

Hari pertama di Pakuwon membuat Ran kewalahan. Tanpa teman satupun, ia harus melayani pengunjung yang membludak, membagikan brosur dan company profile kepada para pengusaha yang memintanya. Ran harus balik meminta kartu nama mereka, atau mencatat nomor ponsel dan alamat email agar mudah melakukan follow up.

Hari kedua di Pakuwon sangat menyenangkan, meski banyak tamu, Ran bisa menyaksikan pagelaran budaya yang diadakan di sebuah panggung tepat didepan booth nya. Tarian adat, kontemporer, hingga ludruk. Hari itu Ran benar-benar lupa semuanya, lupa tentang dirinya, tentang Lian, Liliana, Devi, hingga alasan mengapa dia berdiri disana.

Jam delapan malam, Ran pulang diantar petugas supermall yang berbaik hati menawarkan tumpangan. Malam itu purnama, menjelang imlek.

“Raan…” sebuah suara merdu memanggilnya.

Fely berdiri diambang pintu rumah yang terbuka lebar. Ibu muda itu melambaikan tangan, meminta Ran agar mendekat.

“Ada apa Ce?” Ran sumringah.

“Ayuk makan malam bersama keluarga besar kami, mereka baru datang tadi siang.” Fely langsung menggamit lengan Ran sebelum gadis itu sempat menjawab. Ran lapar, tapi tidak ingin makan.

Suara orang yang sedang bercengkrama terdengar hingga ruang tamu. Ruang tengah rumah keluarga benar-benar ramai. Sepasang suami isteri yang sudah berumur duduk disebuah sofa besar diapit sepasang suami istri lain yang lebih muda, dua orang laki-laki menata meja makan, dua orang wanita paruh baya sedang mengasuh lima anak-anak yang dibiarkan bermain dilantai. Jhon yang sedang menggendong juniornya tersenyum menatap istrinya yang bersemangat menarik-narik Ran ketengah ruangan.

“Ran, ini oma dan opa, mama dan papa.” Fely menunjuk tetua yang duduk di sofa besar.

“Selamat malam, Saya Ran.” Ran membungkukkan badannya sedikit.

“Ran?” Ayah Fely menatap bingung.

Fely menjawab dengan Bahasa mandarin dan menyebut Pak Wardoyo di tengah kalimatnya, jadi Ran menyimpulkan kalau keluarga itu pasti mengenal Bos nya.

“Kita makan malam bersama ya Ran, kami akan mengadakan doa bersama juga, jadi kalau ada tamu, kami beruntung kalau tamu juga mau memberikan doanya.” Fely bergabung dengan kedua saudara perempuannya yang sedang duduk bermain bersama anak-anak.

Fely mengatakan sesuatu, dan dengan segera kedua ibu itu bangkit, bergabung dengan para pria yang sedang sibuk mengatur meja. Fely menarik sebuah kursi lagi ke tepi meja makan.

“Ce, aku perlu mandi dulu atau …” Ran sebenarnya cukup lelah dan ingin segera beristirahat, tapi apa daya, tidak enak menolak tawaran tuan rumah.

“Tak… letakkan saja tasmu dimeja ujung itu, kita mau segera mulai loh.” Fely mendorong Ran untuk duduk di salah satu kursi.

Tepat jam Sembilan malam, seluruh anggota keluarga berkumpul mengitari meja makan. Segala macam makanan khas oriental yang pernah dilihat Ran di televisi, hari itu tersedia semua di atas meja.

“Sebelum makan, kita akan berdoa, mendoakan salah satu adikku yang telah lebih dahulu meninggalkan kami semua.” Fely tersenyum, sedih.

“Nanti papa akan memimpin doa sambil memegang foto adik perempuanku, setelah itu foto akan bergilir dan setiap kali yang memgang, akan memanjatkan doa khusus untuk almarhumah. Ini bukan adat tionghoa loh, Ran. Ini kebiasaan keluarga kami saja untuk menyambut imlek.” Ran mengangguk, melirik sebuah benda persegi panjang yang didekap oleh ayah Fellicia.

Doa ayah Fellicia berbahasa mandarin, meskipun begitu Ran menangkap beberapa kali Ayah Fely menyebut Asma Allah. Ran mengaminkan, berbarengan dengan anggota keluarga lain.

Ibu Fely berurai air mata dalam panjatan doanya. Ran merasa haru. Seperti itu lah seorang ibu mencintai anak-anaknya, bahkan ketika tidak bisa bersanding dengan anak-anaknya pun doa dan air mata ibu tidak akan pernah terhenti.

Foto itu kemudian berpindah ke tangan Jhon, yang kemudian dengan khusuk menundukkan wajah, meletakkan telapak tangannya dipermukaan foto yang dilapisi kaca itu.

Foto beralih pada Fely, yang segera saja berlinangan air mata, mendekap dan mencium foto itu. Fely mendekap erat-erat foto itu didadanya, sambil berdoa. Matanya terpejam, bulir-bulir air mata jatuh dari sudutnya. Haru sekali.

Fely membuka mata, mengendurkan pelukannya dan menyerahkan foto itu kepada Ran. Tidak perlu menunggu hingga foto itu sampai ketangan Ran untuk bisa melihatnya. Foto seorang gadis dengan cheongsam berwarna kuning terang, bermotif bunga-bunga merah dan emas, duduk disebuah kursi kayu dengan tepian bulat. Foto itu diambil di depan pavilion yang kini ditempati Ran.

Dibelakang Gadis cantik bermata sipit itu, berdiri dengan gagah seorang pria memakai jas khas china, berwarna hitam dikombinasi warna putih. Tampan sekali. Wajah keduanya berseri-seri. Mungkin foto itu adalah sebuah foto pra pernikahan. Kedua mata Ran panas, bulir-bulir air mata jatuh tanpa ia sadari.

“Gadis ini Liliana, adikku. Dan pria dibelakangnya dulu adalah calon suaminya.” Bisik Fely lembut. Tapi entah mengapa seolah terdengar seperti teriakan lantang ditelinga Ran.

Oh Tuhaaan….

Gadis itu menjerit dalam hati. Dadanya seolah dipukul dengan keras, jantungnya berdesir-desir seolah tiba-tiba kehilangan irama, nafasnya tercekat. Sesak.

Mengapa seperti ini Engkau memberiku jalan kehidupan. Saat orang yang kucintai kesulitan mencari-cari, hingga bertahun-tahun, mengapa tidak Engkau berikan jalan kepadanya? Mengapa Engkau berikan jalan ini padaku.

Air mata Ran semakin Deras, mengabaikan pandangan berpasang-pasang mata yang menatapnya heran.
Apa yang Engkau ingin untuk aku lakukan, Tuhan. Gadis inilah yang dicintai oleh orang yang aku cintai. Gadis inilah yang selama ini dicari oleh orang yang aku sayangi, dan Gadis ini ternyata telah bersama-Mu.

Ran mendekap foto itu erat kedadanya. Serasa kepedihan dalam hatinya bertambah pilu, apa yang akan dilakukan Lian saat tahu bahwa gadis yang dicintainya telah pergi untuk selamanya?

Maafkan aku Liana, Maafkanlah Mas Lian, Maafkan jika aku telah berani mencintainya. Dia berusaha mencarimu selama ini. Dia masih mencintaimu, Liana. Aku tahu itu, dan terlihat jelas dimatanya, betapa besar kesedihannya karena telah kehilanganmu. Maafkan aku Liana. Ran Tergugu, Fely memegangi bahunya, berusaha menenangkannya.

Larut malam seusai makan malam, Fely menemani Ran berjalan ke pavilion.

“Maafkan aku tadi ya, Ce.” Ran menggamit lengan Fely.

“Tak apa.” Fely mengelus punggung tangan Ran. “Liana memang sakit-sakitan sebalum pergi sepuluh bulan lalu karena serangan jantung.” Senyum pahit mengambang dibibir wanita cantik itu.

Lian tidak tahu itu. Batin Ran. “Dimana dimakamkan?”

“Di pemakaman umum dekat sini. Itulah mengapa setiap menjelang imlek keluarga berkumpul disini, meskipun mama dan papa sekarang tinggal di singkawang. Mereka pasti pulang ke sini.” Keduanya duduk di undakan depan pavilion, bersisian.

“Hingga sekarang kurasa calon suaminya itu belum tahu kalau Liana sudah meninggal, karena Liana pergi meninggalkan lelaki itu beberapa bulan sebelum dia meninggal dan berpesan agar tidak menghubunginya lagi, padahal kami sudah menganggapnya seperti bagian dari keluarga.”
Ran terdiam.

“Kami pindah juga tanpa memberi kabar pada Lian.”

Deg. Jantung Ran seolah hendak melompat mendengar nama itu disebut.

“Itu semua permintaan Liana, yang merasa Lian tidak cocok untuknya lagi, dan adikku tidak ingin lelaki itu menghubunginya.” Suara Fely sendu. “Yah, apa boleh buat, mereka yang akan menjalani hidup bukan? Kami tidak bisa memaksa, meski sebenarnya kami sangat suka pada Lian, pemuda itu sopan dan sangat baik.” Senyum Fely merekah, Ran termangu. Apa yang dikatakan Fely tentang Lian benar adanya
.
Meski Fely telah kembali ke dalam rumah, Ran masih belum juga beranjak. Ada yang sedang bergumul di dalam pikirannya. Kenyataan sebesar ini, kenyataan yang tidak diperlukannya tapi sangat berharga untuk Lian. Jika Lian Tidak tahu kenyataan ini, mereka berdua mungkin akan bisa bersatu dengan sebuah kemungkinan bahwa rasa penyesalan sekaligus ingin tahu dalam diri Lian akan tetap hidup.

Jika Lian tahu, mungkin akan menjadi berat untuk Ran, karena hal itu akan mengingatkan Lian tentang kenangan yang berusaha ia lupakan. Mungkin akan membutuhkan waktu dua kali lipat bagi Lian untuk dapat melupakan Liliana lagi. Tidak. Ran sama sekali tidak ingin Lian melupakan Liliana. Namun jika Ran memutuskan untuk tetap bersama Lian, itu berarti ia harus bisa menerima seseorang yang memiliki dua nama dalam hatinya. Liana akan tetap menjadi ratunya, dan dirinya adalah sang selir.

Ran beranjak masuk ke dalam kamarnya. Tanpa melepas baju kerjanya, Ran menghempaskan tubuhnya ke ranjang dan memejamkan mata. Sesakit apapun pada akhirnya Lian harus tahu yang sebenarnya.

( to be continue....)

Selasa, 11 Desember 2018

Sang Pelukis Hati (11)


Bab. XI

Hujan deras mengguyur seluruh ibu kota, petir bersahut-sahutan, udara dingin berhembus menusuk tulang.
Ran bergelung diatas ranjangnya sejak pulang kerja. Memakai piyama sejak jam 5 sore, tidak berniat pergi mencari makan malam, untuk apa? perutnya bahkan tidak merasakan lapar sejak siang tadi.

Sebuah tas ransel menggembung, teronggok di sebelah kakinya. Boarding pass pesawat paling pagi menuju Surabaya sudah terselip dikantong yang paling depan. Ran tidur meringkuk memeluk guling menghadap tembok, matanya terbuka, tapi ia tidak melihat, telinganya tak mendengar dan kulitnya tak merasakan hawa dingin yang masuk melalui kisi-kisi jendela. Tubuh itu seperti membeku. Jika tidak melihat dadanya yang turun naik, orang pasti mengira gadis itu sudah tinggal nama.

Sesekali berkedip, ketika air mata hendak tertumpah lagi. Sesekali berkedip ketika jalan pikirannya tidak lagi memberikan penjelasan yang masuk akal, berkedip lagi ketika ia salah memperkirakan masa lalu yang telah terjadi tanpa ia ketahui, berkedip lagi ketika wajah Lian lagi-lagi memenuhi kepalanya.

Ran menantikan penjelasan, tapi semua bukti-bukti itu telah berbicara jelas. Lian memiliki kekasih lain selain dirinya, dan gadis itu sekarang sedang hamil, dan pastinya mengandung darah daging Lian. Entah sudah berapa bulan. Memikirkan itu membuat tenggorokan Ran tercekat lagi, rasanya tidak bisa bernafas, rasanya ingin berteriak, ingin melayangkan tangannya ke wajah Lian, ingin mendorong, meninju wajah tampan yang mulai membuatnya hilang kewarasan itu. Gadis itu terisak, menggigit ujung sarung gulingnya.

Apakah dia adalah si pihak ketiga, yang menyebabkan Lian berpisah dengan gadis itu? Ran benar-benar merasa sakit. Seluruh tubuhnya serasa kesemutan. Jari-jemari tangannya mencengkeram guling kuat-kuat.

Ran membutuhkan penjelasan, dan saat hal itu benar-benar jelas, tentu saja dia akan suka rela untuk mundur, Gadis itu mendapatkan prioritas utama. Tidak peduli apakah kehamilan itu adalah buah dari sebuak kecelakaan yang tidak diinginkan, atau sebuah permainan. Selama Lian tidak bisa membuktikan kalau janin itu bukan anakknya, Ran akan melepaskan Lian.

Sebuah kenangan, sebuah masa lalu, tidak akan mungkin bisa dilupakan. Sesakit apapun. Hal itu akan tetap menjadi bagian dari sejarah hidup kita. Meskipun di masa depan nanti kita menjadi orang paling bersinar, diri ini tetap saja mempunyai sebuah titik gelap yang pernah dijalani. Kita tidak bisa lari, kita hanya bisa berdamai dengan semua itu, dan menerimanya dengan lapang dada, sebagai pengalaman, sebagai pembelajaran terbaik dalam hidup. Dan saat kita mengingat hal itu tanpa rasa sakit, itu lah makna sebenarnya dari lupa.

Ran memejamkan matanya, saat merasa hatinya terasa hangat. Merasa menerima kenyataan sebagai bagian dari perjalanan hidupnya.

Mungkin sudah saatnya ia melepaskan sebelum segalanya semakin sulit untuk dihentikan.

“Ran?” suara Meli terdengar disela-sela desisan kedinginan karena kehujanan. Meli baru pulang kerja.

Ran tak bergeming. Berpura-pura tidur. Dan berhasil, Meli tidak lagi merasa ingin tahu, mengapa dia begitu cepat pergi tidur. Dan Ran berusaha untuk tertidur.

“Ran…” sebuah sentuhan lembut terasa dibahu Ran, gadis itu terbangun, membuka matanya yang sembab, menoleh kebelakang.

“Astagaa…” Meli memekik lirih. “Lo kenapa?” buru-buru Meli duduk rapat disebelah Ran yang segera duduk diatas tempat tidur.

Suara petir masih terdengar membahana, hujan masih deras, mungkin besok kebanyakan jalanan ibukota dipenuhi air.

“Lo mau kemana, packing ransel?” Meli merangkul Ran.

“Surabaya, tugas kantor.” Jawab Ran lemah.

“Trus lo berantem sama Lian?” tebakan Meli membuat Ran terkesiap, menatap sahabatnya itu.

“Enggak, katanya dia lagi dibandung.” Kilah Ran, menggosok kedua matanya yang terasa menebal.

“Ada kabar dari kampung?” telisik Meli. Ran menggeleng.

“Ya udah, cepetan cuci muka, itu Lian datang, aku suruh tunggu didepan.”

“Hah?” Seperti terkena gigit semut api. “Hujan-hujan gini?” Ran berdiri mengintip dari jendela kamar. “Tapi katanya dia lagi ada urusan di Bandung…” kata-kata Ran terhenti demi melihat Lian yang berdiri  di beranda menatap hujan.

Rambutnya basah, bajunya basah, wajahnya terlihat memutih, kedinginan. Ran menyusut bulir air yang mulai mengambang dipelupuk matanya. Mengapa harus sesulit ini. Rasanya rumit sekali. Rasanya diaduk-aduk, antara mengusir pergi pria itu dan memeluknya agar tetap tinggal.

“Ran…” Meli berdiri disebelah Ran. “Ronal bahkan belum pernah ngelakuin yang dilakuin Lian ke kamu, Ran. Meskipun kami udah setahun pacaran.” Tangan Meli mengusap rambut Ran yang tergerai. “Kalau ada masalah, selesikan secepatnya, atau keadaannya jadi makin rumit nanti.” Meli menatap Ran yang berkaca-kaca. “Cuci muka, biar aku buatin cokelat panas buat kalian.” Ran menatap Meli, mengangguk.

Ran menemui Lian, dengan handuk tebal ditangannya. Haruskah diragukan lagi, jika dia memang menyayangi Lian?

“Ran…” Desis Lian, segera berdiri saat melihat Ran keluar dari pintu. Aduh, sakitnya hati Lian melihat kedua mata Ran yang sembab, bahkan senyuman riang yang selalu tersungging dibibir gadisnya itu sama sekali tak terlihat. Lian yakin, Ran telah membuat satu kesimpulan yang salah tentang semua foto-foto itu.

Ran tidak menjawab, mengulurkan handuknya pada Lian. Menghindari tatapan mata pria itu.

Lian menerima handuk dari Ran lalu menggosok kepala dan lengannya yang basah kuyup. Ran mengamati dari sudut mata, bgaiamana bulu-bulu halus dilengan Lian serentak berdiri. Pria itu kedinginan untuknya. Hatinya sakit. Melihat seseorang yang menderita karenanya. Tapi hatinya lebih sakit lagi, ketika mengetahui bahwa orang yang ia cintai, menyembunyikan sebuah rahasia besar dari dirinya selama ini.

“Ran, Aku harus menjelaskan ke kamu tentang foto-foto itu.” Lian menggosok kedua telapak tangannya, kedinginan.

“Juga test pack itu.” suara Ran bergetar, menatap Lian yang mulai menggigil. Gadis itu membuka sweater baseball yang dipakainya dan mengulurkannya pada Lian, lalu berpaling, bahkan hingga seluruh tubuhnya bisa dipastikan tidak melihat Lian yang dengan cepat membuka jaket dan kemejanya, menggantinya dengan sweater Ran. Meskipun terlalu besar untuk Ran, ternyata sweater itu sedikit terlalu kecil untuk Lian.

“Sudah.” Lian mendesah, merasakan kehangatan di dalam sweater itu, kehangatan tubuh Ran yang masih tertinggal di dalamnya. Kehangatan gadis yang juga telah menghangatkan hatinya.
Ran memutar badannya. Mendesah.

“Liana…” Lian memulai penjelasannya. Ran diam, menatap air hujan yang jatuh deras mengucur dari ujung atap rumah. “Kami udah lama bersama.” Lian menelan ludah. Ran tak bergeming.

“Aku mengenalnya saat aku bekerja di Surabaya. Kami pacaran selama dua tahun lebih, termasuk masa pedekate. Aku bahkan berencana membawa Liana ke Jakarta untuk bertemu keluargaku. Tapi sebelum hal itu terjadi, aku harus kembali ke Jakarta, ada urusan keluarga. Selama hampir lima bulan aku di Jakarta, hubungan jarak jauh kami tetap baik. Hingga suatu saat nomor ponselnya tidak bisa kuhubungi lagi-.”

“-Saat urusanku di Jakarta selesai, aku kembali ke Surabaya, tapi kostannya sudah kosong, aku berusaha kerumah keluarganya di daerah Kenjeran, tapi rumah itu kosong, menurut tetangga dekat, keluarga itu sedang pergi mengobatkan nenek Liana di Singapura. Dan aku hanya bisa menitipkan nomor telepon rumah di Jakarta, sambil minta tolong buat ngasih kabar, kapanpun mereka kembali.” Lian menghela nafas.

“Tapi tidak pernah ada kabar.” Pria itu menoleh Ran yang hanya terdiam sejak tadi. “Hingga setahun yang lalu, sebuah surat datang. Berisi foto-foto dan test pack itu. Aku benar-benar kaget, dan aku akui memang kami telah melakukan itu…” Lian terdiam menutup matanya, seolah menyesali yang telah terjadi. “…sebalum aku pergi ke Jakarta.” Lian berhenti bicara lagi, menatap Ran yang menatap hujan dengan pandangan hampa. Lian merasakan rasa sakit itu lagi, bahkan jauh lebih sakit dibandingkan rasa yang ia rasakan dulu, dulu sekali, saat ia kehilangan Liana.

“Sekarang anak itu pasti sudah lahir ke dunia.” Desis Ran parau. “Dan sedang mencari bapaknya…” Ran tercekat. Menoleh pada Lian.

“Kalau mau, ibunya tau benar dimana bisa menemukan aku.” Lian menjawab gamang, suaranya lirih tertelan desiran hujan. Keduanya terdiam.

Meli keluar membawakan dua gelas cokelat panas yang masih mengepul. Tanpa berkata-kata, Meli segera kembali kedalam rumah sambil menyentuh ringan bahu Ran.

“Mas nggak kepikiran mau cari anak itu? ketempat yang mungkin disinggahi Liana?” .

Deg. Jantung Lian serasa tak berdetak detik itu juga. Kedua matanya menatap gadis itu lamat-lamat. Disinikah kisah ini harus berakir?

“Aku nggak mau dianggap sebagai penghalang, seandainya Liana sebenarnya sedang menunggu kedatangan mas Lian.” Akhirnya Ran menyusut air mata yang mulai bergulir disudut mata indahnya.

“Ran…” Lian beringsut duduk lebih dekat. “Aku mencari Liana, bukan sehari atau dua hari, bukan sebulan atau dua bulan, aku mencarinya selama ini. Tidak hanya di dunia nyata bahkan hingga dunia maya. Bukan hanya di Jakarta atau Surabaya, tapi hingga Singapura. Aku tidak berhenti, hingga tubuhku sendiri memaksaku berhenti. Sepuluh bulan mencari, sebulan penuh tergeletak dirumah sakit, hingga akhirnya Deril, meyakinkanku untuk berhenti.”

“Sampai kapan? Itu pertanyaan Deril. Yang sekaligus membuatku perlahan berhenti mencari Liana. Karena terkadang, saat kita berhenti mencari, clue nya jadi semakin jelas, perlahan terkuak. Aku hanya perlu meyakini, cepat atau lambat aku dan Liana pasti bertemu.” Lian meraih gelas cokelat dihadapannya, meminumnya tanpa ditawari.

“Bagaimana kalau itu terjadi disaat yang sangat tidak tepat? Ketika mungkin kita sudah menikah dan punya anak, atau saat anak kita hendak menikah tapi ternyata mereka sedarah? Anakku dengan anak Liana? Bagaimana kalau Liana datang, menuntut tanggung jawab mas Lian sedangkan diantara kita sudah ada ikatan pernikahan? Apakah aku harus mengalah saat itu, atau lebih baik aku mundur saat ini juga?”

Ran menyusut air matanya lagi. “Meski aku tidak mengenalnya, aku tidak mau menyakiti hatinya dengan merebut Mas Lian darinya.”

“Tidak ada yang diperebutkan!” Lian mendesah. “Hebat sekali aku kalau sampai kalian perebutkan. Kenyataannya adalah Liana meninggalkan aku, menganggapku tidak berguna bahkan tidak berarti baginya. Jika tidak mengapa tidak menyusulku? Mengapa bersembunyi dariku? Mengapa?” kini dada Lian yang sesak. Merasa benci pada dirinya sendiri.

“Kalian makhluk yang sama bukan? Katakan padaku Ran, Apa yang bisa membuat kalian meninggalkan ayah dari bayi kalian sendiri?” Lian menatap Ran tajam. “Apa yang bisa membuat kalian tega melakukan itu?”

Ran terdiam, menatap mata Lian yang jelas terlihat luka. Baginya, memang tidak ada alasan untuk meninggalkan orang yang telah menanam benih dalam rahimu. Kecuali dia dipaksa untuk meninggalkannya.

“Keluarga Liana mungkin…”

“Aku bahkan sudah mendapatkan restu dari kedua orang tua dan keluarga besar Liana, apa lagi? Tidak mungkin mereka menyembunyikan Liana dariku yang jelas-jelas menginginkan Liana sebagai pendamping hidup, bukan sekedar teman atau pacar biasa.”

“Aku bertemu denganmu, Ran. Dan setiap hari yang kupikirkan adalah bagaimana caranya untuk menjelaskan padamu tentang masa laluku. Deril juga yang menyarankan padaku untuk mengubur masa lalu dalam-dalam, dan memulai cerita yang baru bersamamu, tapi kesalahan itu menghantuiku, hingga aku mengeluarkan amplop itu lagi, setelah sekian lama berulang kali berfikir, haruskah kau tau apa yang selama ini menghantuiku? Haruskah kau ikut menanggung penderitaan yang seharusnya aku sendiri yang merasakan? Katakan padaku Ran, apa yang harus aku lakukan agar kita bisa tetap melangkah bersama!”

Ran masih menatap Lian, seolah merasakan apa yang dirasakan pria dihadapannya itu. Ketika cintamu yang begitu besar, diabaikan begitu saja, seperti inikah rasanya?

“Lalu, aku harus gimana, Mas?” Ran mengerang. Menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Ran…” Lian memegang kedua tangan Ran, menurunkannya dari wajah yang dialiri air mata. Sakit sekali rasanya melihat gadis itu menangis, dan tangis itu hadir karena dirinya. “Silakan kamu anggap aku bohong, atau modus, atau terserah apapun, Aku ingin bilang kalau perasaanku sama kamu itu lain, Ran. Tidak seperti rasanya mencintai Liana. Aku…” Lian berhenti. Menatap wajah sayu yang tengah terisak pelan dihadapannya. “Kalau perasaan itu bertepuk sebelah tangan, aku bisa apa.” Sebelah tangan Lian mengenggam tangan Ran, sebelah lagi mengusap air mata dipipi gadis itu.

“Aku tidak mampu menjanjikanmu kebahagiaan, atau senyuman sepanjang hubungan kita, aku hanya mampu berjanji untuk tetap berusaha membuatmu bahagia.”

Lian melepaskan tangannya. Menyerahkan keputusan kepada Ran. Dia tidak berhak memaksa, meski yang dia inginkan sekarang hanyalah Ran, ingin Ran mengerti, ingin Ran memahami, ingin Ran mendukungnya, tapi ia tidak bisa memaksa. Apalah artinya menyanding gadis itu, jika hanya menyebabkan luka hati yang menganga dalam kehidupan mereka nantinya.

“Beri aku waktu, Mas.” Ran berbisik.

Lian sudah menduganya. Inilah tapal batas yang akan mengantarkan kisahnya kali ini. Berakhir sedih atau bahagia.

Lian mengangguk. “Tapi tolong jangan menghindar dariku, Ran. Tolong biarkan aku melakukan apa yang biasanya aku lakukan.” Ran mengangguk.

Hujan masih gerimis, tapi Guntur tak lagi terdengar garang. Seperti suasana hati Ran yang perlahan luruh, entah, tidak ada rasanya. Lian bangkit, mengambil kemeja dan bajunya yang basah. Berpamitan.

“Masuklah, aku pulang sekarang.” Desis Lian.

Ran masih menatap Lian yang setengah basah, setengah kering, rasanya pasti dingin sekali, seperti hatinya.
Gadis itu mengangguk, mengambil dua gelas cokelat yang masih setengah, membawanya masuk ke dalam rumah. Ran berjalan ke dalam kamarnya, sementara Lian berjalan gontai ke luar halaman, ketempat ia memarkirkan motor pinjamannya.

Ran meremas kedua tangannya, berusaha keras untuk tidak berlari dan memeluk tubuh orang yang memunggunginya itu. Apakah nama dari perasaan seprti itu jika bukan cinta? Lian hari itu meminjam lagi motor matic Agus, menekan klakson ringan sekali dan melihat sekilas ke jendela kamar Ran yang gelap. Akhirnya semua tumpah didepan Meli.



(To Be continue yah.... )