Bab. I
Matahari masih mengintip malu-malu diufuk timur, meski ayam sudah bersahutan sejak sehabis subuh tadi. Mendung membayangi sang surya yang bertugas menghangatkan dunia. Udara berhembus membawa aroma hujan, makin lama makin pekat.
Tapi suasana itu tidak menghalangi kesibukan Ibu Kota dari hiruk pikuk penghuninya. Ada yang bangun tergesa-gesa sambil menenteng handuk dan ember kecil berisi perlengkapan mandi, setengah berlari supaya tidak perlu mengantri lama didepan pintu kamar mandi umum yang bau pesing. Pemandangan sudut kota yang kurang beruntung, dikategorikan sebagai kawasan kumuh. Rumah rapat, jalan kecil, kabel listrik bertumpang tindih, dan sanitasi yang tidak lancar.
Ditempat lain yang lebih beruntung begitu bangun dari tempat tidur sudah menghadap kamar mandi pribadi, tidak perlu antri, tidak perlu menenteng alat mandi dan yang terpenting, tidak takut kehabisan air, bisa mandi sepuasnya.
Tapi cerita ini bukan tentang kontras kehidupan ibukota, bukan tentang untung takberuntung.
Disebuah rumah kos disudut perkampungan kota dengan jalan-jalan yang sempit. Pohon mangga besar yang sedang kembang dihalaman rumah, di salah satu kamar yang letaknya paling depan, pagi hari selalu menjadi saat-saat super sibuk dan berantakan.
Namanya Viorani, tapi gadis itu ngotot minta dipanggil “Ran” seperti tokoh perempuan dalam sebuah komik detektif yang jadi favoritnya. Yang hari ini tertidur setelah subuh, kemudian harus berakrobat untuk bersiap pergi kerja karena terbangun satu jam kemudian.
“Raaan… Cepetan mandinya doooong!” Teriak seorang Gadis lain sambil menggedor pintu kamar mandi dalam kamar mereka.
Sialnya pagi ini kedua penghuni kamar itu bangun kesiangan.
Tak berapa lama pintu kamar mandi terbuka. Ran setengah berlari menuju tempat tidurnya, mengenakan tanktop kuning dan celana legging selutut dengan rambut dibungkus handuk, bersiap melakukan acrobat keduanya. Menyeduh cereal, memakai seragam kerja sambil membereskan tas kerjanya.
Ups… matanya tertumbuk pada sebuah nota tempel berwarna kuning yang melekat dimap kerjanya yang berwarna hitam, bertulisan spidol merah terang.
Ingat ya… senin gue gak bisa jemput, lo naik trans aja.
Serta merta Ran menepuk jidatnya. Akrobatnya sampai terhenti beberapa detik.
“Mel… Minum cereal gue ya, nggak sempat lagi nih!” Teriak Ran sambil menggedor pintu kamar mandi. Yang didalam tidak terdengar menjawab.
Ah anggap saja dia bilang oke, batin Ran.
Untungnya gadis itu bukan seorang yang ribet. Hanya sapuan bedak dan lipgloss. Yang namanya manis juga diapa-apain tetep aja manis. Itu hal yang diyakini Ran, meski dia tahu, wajahnya tidak manis-manis amat. Mata bulat, hidung tidak terlalu mancung, kulit cokelat, standar gadis jawa.
Bus dengan tempat duduk berhadapan itu sudah penuh sesak, bercampur baur berbagai aroma. Mulai parfum roll on lima ribuan hingga aroma cologne mahal tapi menusuk hidung. Perutnya mulai bergolak, untung sekali dia belum sempat sarapan tadi.
“Senin Gua ada acara jemput Deril dulu dibandara, jadi telat datang.” Kata Mbak Resti yang selama ini setia menjemput Ran untuk pergi kerja, naik Honda Jazz all new, hadiah pernikahan dari keluarga besan.
“Lo jangan lupa naik Bus Trans, yang lewat di jalanan depan kompleks, jalan dikit gak papa lah buat olahraga.” Imbuh Resti sambil menjitak pelan kepala Ran, teman sekantor yang sudah seperti adik sendiri.
Mereka berdua mulai dekat sejak pertama kali Ran masuk kerja, setahun lalu, berkat dijadikan asisten pak Wardoyo, Bos besar sekaligus pemilik perusahaan, sekaligus ayah dari Resti. Sejak saat itu, itu Resti yang memang setiap hari berangkat kerja melewati jalanan depan kompleks Ran bersedia menunggu untuk pergi bersama.
Dan hari itu jadi hari pertama Ran naik bus lagi setelah setahun keenakan dijemput Honda jazz dan pulang diantar Toyota vios, taksi langganan yang kebetulan sopirnya tetangga kompleks. Sebenarnya Ran bukan tipe orang yang mudah mabuk kendaraan darat, tapi hasil dari begadang mengerjakan laporan sambil minum kopi hitam adalah masuk angin, ditambah suasana yang mendung sangat mendukung. Ngantuk, mual, pusing, plus belum sarapan jadi satu.
Seorang wanita yang lebih tua darinya mendesak dari belakang, membuat Ran harus lebih merapat pada seorang bapak gendut berpakaian khaki yang sedari tadi melirik-liriknya. Ditekannya map hitam berisi laporan ditangan kirinya kedada. Preventif, batin Ran. Sudah banyak kasus pelecehan di moda transportasi umum seperti yang dia naiki sekarang ini.
Tak berapa lama ada sesuatu menyentuh punggung tangannya yang mengepit tas kerja. Jari jemari yang ramping panjang, terulur dari lengan yang juga panjang mengenakan jaket jeans. Menarik hati Ran untuk melihat siapa empunya. Seorang pria berkulit bersih tapi tidak putih, tersenyum pada Ran.
“Silakan duduk disini, Mbak.” Katanya sambil bangkit dari tempat duduk. Senyum dengan dua lesung pipit di kedua pipinya mengembang indah.
Pria itu berdiri diantara Ran dan Bapak gendut berpakaian khaki, bermaksud memberi Ran jalan supaya bisa duduk.
Si ibu yang mendesak Ran dari belakang tanpa ditanya tanpa disuruh, mendesak dan langsung duduk dikursi yang sedianya dikosongkan untuk Ran, merapikan posisinya lalu bersandar dan menutup matanya, tanpa merasa bersalah pura-pura tidur.
Ran mundur lagi, menoleh kearah pria tadi yang memberinya tempat duduk. Wajah ganteng pria itu tampak terkejut, menatap si ibu yang telah menyerobot tempat duduk. Tapi apalah daya, si ibu itu memang lebih tua dari gadis yang ditawarinya bangku.
“Nggak papa, terima kasih ya.” Ran nyengir menatap Pria yang geleng-geleng didepannya.
Suasana tetap sama, bus Trans melaju lebih cepat dari kendaraan yang ada disekitarnya, karena memiliki jalur khusus. Hanya kadang-kadang harus terpaksa mengklakson mobil dan motor lain yang entah tahu entah tidak tiba-tiba menyerobot jalur khusus busway, yang berbeda adalah perasaan hati Ran yang agak merasa salting. Bagaimana tidak, ini kali pertamanya ia berdiri begitu dekat dengan lawan jenis, ganteng pula. Seharusnya Ran berpegangan dengan tangan kiri, agar ia bisa membelakangi pria itu, tapi apalah daya, tangan kananya yang bebas dan refleks terangkat berpegangan pada ring khusus yang bergelentungan sebagai pegangan untuk penumpang berdiri.
Pria itu ternyata merasakan hal yang sama, salah tingkah. Bukan karena dia tidak pernah dekat seperti ini dengan seorang wanita, tapi karena sejak masuk bus tadi gadis ini langsung mencuri perhatiannya. Gadis imut dengan rambut ekor kuda dan wajah oval yang terlihat kikuk berjalan diantara kerumuana. Tak sengaja sebuah senyum tersungging dibibir pria itu, teringat pada momen saat ibu itu menyerobot tempat duduk, wajah gadis itu terlihat sebal, sempat merengut tapi tak lama, sepertinya segera menyadari jika ibu itu memang seharusnya lebih diprioritaskan dibanding dirinya.
Lima belas menit berdiri, beberapa orang turun dan naik, tapi tetap saja tidak memberi tempat bagi Ran untuk sekedar menekuk kakinya yang sudah mulai pegal. Tangannya yang terangkat memegang ring juga mulai kesemutan. Ran melepaskan pegangannya untuk sekedar mengibaskan jemarinya yang dingin dan berkeringat, sambil melirik pria didepannya yang tampak cuek dengan kepala tegak melihat kedepan.
Ckiiiit…
Tetiba rem diinjak sangat dalam, disusul suara bunyi jess dengan sssss yang panjang, tanda rem angin sedang difungsikan. Spontan penumpang satu bus berteriak dan hampir terjungkal kedepan. Sayang sekali Ran saat itu tidak berpegangan. Hentakan yang kuat segera membuatnya terlempar kedepan sambil terpekik.
“E..E..Eh…” pekik Ran sambil menubruk apapun itu yang dihadapannya.
Seperti drama korea yang ditelevisi itu, tapi kalau yang ini memang benar-benar terjadi. Ran yang mungil jatuh kedada bidang Pria berkemeja biru berjaket jeans hitam dihadapannya, sementara tangan bebas si pria secara refleks melingkar dipinggang Ran. Jadilah map berisi laporan pekerjaan itu pembatas antara mereka berdua. Tidak ada yang menyadari momen itu, tidak ada yang bilang cuit.. cuit atau cie-cie. Penumpang sibuk bertanya ada apa didepan. Berkasak-kusuk mulai dari menabarak pejalan kaki hingga kebakaran mesin. Tidak ada yang menyadari, wajah Ran yang memerah saat menarik diri dari pelukan pria itu, kembali meraih ring untuk mengamankan diri, kembali berdiri tegak lagi. Tidak ada yang menyadari, salah tingkah pria itu, yang sedikit takut dikira mengambil kesempatan dalam kesempitan, Segera menarik tangannya dan mengamankannya kedalam saku celana sambil berdeham dan menggigit bibir bawahnya.
“Maaf.” Desis Ran sambil lagi-lagi nyengir. Yang diajak ngomong hanya tersenyum tipis, mengangguk samar.
Beberapa menit kemudian, giliran Ran yang turun. Jam ditangannya menunjukkan pukul delapan kurang lima belas menit, cukup untuk setengah berlari menuju gedung kantornya. Pintu bus akhirnya terbuka. Seandainya ini film India, tentu si pria akan menoleh sekali lagi pada gadis nya, untuk melihat apakah ada yang terjadi antara mereka berdua dalam tiga puluh lima menit perjalanan. Tapi itu hanya ada dalam Film, karena Pria itu langsung saja keluar dari bus, tanpa kata perpisahan, bahkan tanpa menoleh sedikitpun pada Ran. Gadis itu terkekeh sendiri sambil menggelengkan kepala. Dasar penghayal tingkat tinggi, batin gadis itu sambil melangkah keluar dari bus. Jauh tertinggal dibelakang pria ganteng berlesung pipit itu.
Sementara Pria itu sengaja bergegas berjalan. Bukan tanpa alasan. Siapa yang tidak merasa tertarik dengan gadis imut bermata bola yang manis itu, tapi pria itu sedang ada janji, mengurus tender pekerjaan besar yang akan menjadi pondasi dalam kehidupan usahanya. Tidak ada waktu berleha-leha, kalau jodoh toh akan bertemu juga.
Bersambung...