Jumat, 26 Oktober 2018

Sang Pelukis Hati (8)



Hampir tengah malam, tapi muda mudi itu masih berkumpul ditepi pantai. Suara kayu berkeratak dilahap api, pasir pantai yang putih kecokelatan dibawah kaki mereka. Ini adalah pengalaman pertama Ran menghabiskan malam minggu bukannya dengan menghadap televisi, sambil melongo melihat pesta kembang api. Hari ini Ran bersuka cita, makan jagung bakar bersama orang-orang yang disayangi dan menyayanignya, dan hari ini juga dia akan menyaksikan secara langsung hujan kembang api diangkasa.

Ran menggigit bibir ketika tiba-tiba teringat komik yang masih belum juga ia kembalikan. Bimbang dan ragu memenuhi dadanya, kebimbangan yang membuat jantungnya tiba-tiba berdetak tak karuan, dan jemari tangan yang tiba-tiba dingin. Matanya mencari-cari apa saja yang bisa dihitung untuk membantunya mengundi, antara berikan atau simpan. Sementara Lian semakin membaur dengan pacar teman-temannya. Terdengar mereka sedang menceritakan pengalaman pertemuan mereka masing-masing.

“Bentar ya.” Ran menyentuh pundak Meli, bergegas ke bungalow, membongkar tasnya.

Bohong kalau Lian tidak tahu perasaan Ran padanya. Setiap kata yang terucap, setiap tatapan mata, bahkan tidak bisa lagi menyembunyikan suasana hati Ran yang berbunga-bunga. Ran sadar benar, bahwa Lian hanya butuh kepastian, kejelasan tentang hubungan mereka. Dan Ran tahu jelas kemana Lian ingin mengarahkan hubungan mereka ini.

Lian tidak seperti pria yang lain. Setiap gerakannya terjaga, setiap ucapannya seolah telah terpikirkan, kecuali saat kejadian di warung pangsit pastinya. Lian tidak pernah memaksa, tidak berusaha mencari celah untuk dapat menyentuh Ran, meskipun hanya sapuan tangan. Lian benar-benar menjaga jarak diantara mereka, namun hal itu justru mendekatkan hati mereka berdua. Tidak, Ran tidak bisa membayangkan jika mereka berdua duduk terlalu dekat atau saling menyentuh, jantungnya bisa langsung jatuh ke perut, menatap Lian saja sudah cukup membuatnya berhenti bernafas.

Perlahan tapi pasti, Ran menarik benda kotak putih bergambar itu keluar dari ranselnya. Membuka halaman terakhir yang tergurat Tulisan ceker ayam miliknya. Memastikan lagi pesan yang tersembunyi disana. Gadis itu mengatur nafas. Dan akhirnya melangkah keluar bungalow dengan komik itu ditangannya.
Saat ia datang kembali ke tempat api unggun, Lian tak terlihat disana. Ran mengedarkan pandangannya. Lautan terlihat hitam memantulkan cahaya bulan pucat yang waktu itu belum purnama. Angin berdesah pelan meski terasa dingin. Suara hiruk pikuk kelompok-kelompok yang lain memenuhi telinga, tertawa, bernyanyi, bercerita, tidak ada kesedihan malam ini.

Pandangan Ran berhenti pada sosok yang berdiri ditepi pantai, membiarkan air laut menjilat-jilat ujung kakinya. Kedua tangannya tersimpan rapi didalam saku celana skatter setengah betis. Gelap. Ran tidak dapat melihat wajah orang itu, tapi Ran bisa melihat dari gestur tubuhnya. Ran mendekat.

“Mas Lian!” Panggil Ran, lima meter dibelakang sosok itu, melambaikan tangan supaya yang dipanggil mendekat.

Yang dipanggil menoleh, tersenyum menatap Ran. Mengulurkan tangan supaya yang memanggil yang mendekat. Ran menggeleng. Lian menggeleng, membuka telapak tangannya lebih lebar. Ran nyengir, tak urung mendekat, Pria itu memang sudah menarik-narik hatinya sejak awal bertemu. Alih-alih menyambut uluran tangan Lian dengan tangannya, Ran meletakkan buku komik itu disana. Lian terkekeh pelan.

“Jadi sudah ketemu jawabannya?” Tanya Lian saat Ran berdiri disebelahnya.

“Sudah.” Gadis itu menjawab riang.

“Pemecahan kasus?”

“Belum. Nggak ngerti maksudnya, soalnya kata-kata yang aku temukan nggak saling berhubungan, jadi makin lieur, mikirnya.” Gadis itu nyengir lagi.

Lian membuka halaman terakhir komik yang ia gambar, dan menemukan Ran telah menjawab dengan benar semua pertanyaan. Tinggal memperlihatkan saja korelasinya. Lian ragu jika Ran tidak mengerti korelasinya, pasti hanya alasan supaya dia benar-benar mengatakan isi hatinya secara langsung.

“Aduh, disini gelap.” Lian mengeluh.

“Kan udah aku ajak kebelakang situ tadi yang agak terangan.” Ran menunjuk sebuah bungalow yang lebih kecil dan tidak begitu ramai.

“Ya udah kesana yuk.” Lian mendahului Ran berjalan. Lian berhenti sebentar, berpura-pura meneliti jawaban Ran, padahal sebenarnya dia membiarkan Ran mengambil tempat duduk lebih dulu. Baru setelah Ran duduk, Lian menghampiri dan duduk disebelah Ran, Bahunya menyentuh bahu Ran.

“Lihat jawaban kamu. Coba kita baca.” Lian menunjukkan tulisan Ran dibagian belakang komik. Ujung jari Lian perlahan menyapu huruf awal setiap kata. Dan keduanya mengeja.

“L-I-A-N, S-A-Y-S, I, L-O-V-E, Y-O-U, R-A-N.” Ran mendongak menatap Lian.

I Love you, Ran.” Ulang Lian. Tenang, lembut seperti angin sama sekali tanpa tekanan.
Ran hampir pingsan rasanya. Lian yang seringnya tersenyum manis, kali ini menatapnya dengan wajah serius. Seluruh tubuh Ran merinding.

“Selanjutnya.” Desis Lian. Kembali menatap komiknya.

Ran sudah tahu apa yang akan dia baca setelah ini. Jantungnya sudah benar-benar melorot sekarang. Seolah ingin bersembunyi dibawah bungalow.

“R-A-N-S, A-N-S-W-E-R, I-S.” eja mereka berdua.

And what is your answer?” Lian berbisik. Menatap Ran lurus-lurus tepat di manik mata.

Ran membeku, dia sudah memperkirakan hal ini. Instingnya tidak salah lagi. Kacaunya dia sudah menulis jawabannya dibelakang halaman terakhir.

“Ah, nggak seru.” Ran berkelit menghindari tatapan Lian. “Masak bukan shinichi kudo yang bilang gitu ke Ran?” Ran merengut.

Benar apa yang dikatakan teman-temannya, Ran sulit diajak serius, tapi saat serius dia tidak akan pernah bercanda. Dan sekarang Lian yang akan berlaku seperti itu.

“Aku hitung sampai lima.” Lian mengancam, wajahnya masih serius. “Satu…” Telunjuk Lian terangkat.

“Ups tunggu dong Mas, kan belum mikir.” Ran menggumam.

“Dua…” jari tengah menyusul telunjuk.

“Maaas…” Ran mencoba memasang wajah memelas. Menangkupkan kedua tangannya.

“Tiga…” Lian mulai tersenyum. Ran merengut, memejamkan mata. Menarik nafas panjang.

“Empat…” keempat jari sudah berkumpul.

“Jawabannya ada disebalik kertas.” Ran membuka mata, masih merengut.

“Udah tahu, tapi aku gak mau baca, mau kamu bilang.” Lian terlihat menahan tawa.

“Iss, kalau udah tahu kenapa nanya?” Ran protes, memalingkan wajah dari Lian.

“Bilang dong…” Goda Lian. “Mas Lian… I…” Lian memutar badan Ran agar menghadapnya lagi. “Love…

“Kok bisa tahu kalau jawabannya I love you too?” Ran tersenyum lebar, menatap Lian malu sekaligus penasaran. Lian tertawa hingga bahunya bergetar.

“Bilang, dari mana tahunya?” Ran tanpa sadar mencengkeram lengan kanan Lian.

“Siapa bilang aku tahu apa jawabannya?”

“Tapi tadi…” Ran mencelos. Jebakan Lian. Cubitan Ran mendarat dilengan Lian. Lian mengaduh, mengusap lengannya yang dicubit.

“Jawabannya terlihat jelas kok.” Ke empat mata itu kembali bertemu pandang.

“Masa?” Ran meraih buku komik yang di pegang Lian. Mencoba melihat apakah benar tulisannya terlihat jelas disebalik kertas.

Ran merengut menatap buku dihadapannya. Kena jebakan lagi.

“Bohong banget.” Ran masih merengut.

“Coba lihat!” Lian merebut komik itu lagi, membuka halaman terakhir yang paling akhir. Empat suku kata tertulis disana. Senyum Lian mengembang. Pria itu bangkit, berdiri dihadapan Ran dan mengulurkan tangan, meletakkan telapak tangannya dibawah rahang Ran.

“Aku bisa lihat jawabannya dengan jelas di matamu, Ran. Tapi pikirkanlah lagi, karena jika tidak bertepuk sebelah tangan, hubungan ini akan kubawa jauh kedepan.” Suara Lian selembut angin malam itu. Berusaha tetap tenang meskipun sebenarnya jantungnya sudah jumpalitan sejak tadi.

Pria itu membalikkan badannya, berpaling dari Gadis yang menatapnya kaget, karena sebuah tangan menyentuh wajahnya. Lian berjalan perlahan, menuju bungalow dimana teman-teman yang lain sudah bersiap melihat pesta kembang api, melangkah meninggalkan Ran, yang tengah dibuat resah, benarkah hatinya ingin menjadikan pria itu sebagai bagian dari masa depannya.

Gadis itu berlari kecil menyusul Lian, bukan lelaki pertama yang mengatakan kata cinta padanya, namun dialah satu-satunya yang menawarkan masa depan, bukan sekedar hubungan singkat dalam rangka pencarian cinta. Ran berhasil menyusul Lian, yang menoleh sekilas saat gadis itu berjalan disampingnya. Lian mengulurkan tangannya, membiarkan Ran meraih dan meneluspkan jemarinya diantara jari-jari Lian yang ramping dan panjang.

Keduanya berjalan bersisian, bergandengan tangan, tepat saat kembang api pertama meledak di udara. Seperti itulah yang terjadi dengan hati keduanya, setelah sebelumnya terasa mengembang memenuhi rongga dada, kini terasa meledak, hanya kepribadian keduanyalah yang akan berperan berikutnya. Membawa ke arah perbaikankah, atau justru menjatuhkan keduanya kedalam kubangan dosa dan kesalahan.

Sabtu, 20 Oktober 2018

Sang Pelukis Hati (7)


Bab. VII

Suatu hari terdengar kabar baik. Resti hamil, setelah setahun lebih menikah. Keadaannya kurang baik. Morning sickness, membuat Teman terbaik Ran tidak bisa datang ke tempat kerja. Namun sebelum Ran sempat naik Bus untuk kedua kalinya, sebuah mobil fortuner sudah siap menjemput diujung gang didepan komplek. Lian, menjemput Ran. Informasi dari Deril lagi. Deril sepertinya memang bermaksud mendekatkan Lian dengan Ran.

“Eh Ran, aku ada komik buat kamu.” Lian menyodorkan sebuah komik detektif kesukaan Ran.

“Kok beda komiknya?” Ran memandangi sampul komik dari kertas karton putih itu. terlihat guratan-guratan pensil membekas disana. Komik itu bukan hasil cetakan, tapi hasil gambaran. “Mas Lian, gambar sendiri komiknya?” Ran menatap Lian, terpana.

“Gak kayak Aoyama Gosho, ya?” Lian menirukan gaya Ran nyengir. Gadis itu malah terkekeh.

“Terima kasih banyak ya Mas, ini keren bangeeeet.” Ran hendak membuak komik itu tapi yang memberi komik mencegah.

“Eits, nanti dirumah saja bacanya ya, ada misteri yang harus kamu pecahkan didalamnya. Dibagian belakang komik ada satu halaman kosong, nanti tulis jawabannu disitu, kalau udah selesai, balikin ke aku, kalau jawabannya betul, komik itu jadi milik kamu.” Kata Lian.

Ran hanya menatap Lian dengan penuh tanda tanya. Tapi baiklah. Ran menurut, memasukkan komik itu kedalam tasnya.

Komik itu bukan komik Detektif Connan seperti yang biasa dibaca Ran. Memang tokohnya Shinichi Kudo dan Ran Mouri, tapi ceritanya bukanlah cerita yang pernah ada di semua judul komik. Komik ini Lian buat sendiri ceritanya. Shinichi Kudo, Detektif SMA yang terkenal, sedang meneliti sebuah kasus ketika ia bertemu dengan Ran Mouri, teman satu sekolah yang selama ini tidak ia sadari keberadaannya. Kasus yang ditangani oleh Kogoro Mouri, Ayah Ran, diam-diam diteliti juga oleh Kudo.

Seorang pencuri yang berpengalaman telah meninggalkan serentetan jejak yang harus dipecahkan. Jejek tersebut berupa nama gedung, kata dan tempat tempat yang terkenal didunia yang yang salah satu huruf dalam namanya menunjukkan dimana benda-benda curian itu disimpan. Ran yang memergoki Shinichi, memaksa untuk ikut dalam investigasi. Perlahan tapi pasti, Shinichi memecahkan misteri dan tugas Ran adalah menulis jawaban di kertas belakang komik.

London
India
Argentina
Norwegia
Sierra Leone
Austria
Yugoslavia
Suriah
Indian
Lagos bay
Origami
Venezia
Essex
Yordania
Oslo
Uganda
Roma
America
November
Rain
Angel
Next
Sunset
Angola
New era
Southern pacific
Wax
Echo
Rotterdame
Istanbul
Slovakia
?
Ran berhenti menulis. Bingung. Terhenti dikalimat terakhir Shinichi di akhir komik.

“Perjalanan hidupku bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan padamu? Duniaku pernah meledak dan membuatku berlari pergi. Namun kali ini aku berhenti, untuk sejenak mengumpulkan serpih demi serpih hatiku yang tercerai, dan menemukan namamu diantara tumpukan puingnya. Kau belum pernah datang sebelumnya, dalam hidupku, tapi mengapa namamu dengan mudahnya terpahat disana?”

Kata Shinichi sambil memeluk Ran, karena kasus telah terpecahkan. Tapi apa yang telah terpecahkan? Ran sendiri tidak mengerti dengan nama-nama negara dan beberapa kata bantu yang sama sekali tidak berhubungan dengan kasus yang sedang dipecahkan. Tidak perlu menghabiskan waktu lama untuk membaca komik empat puluh halaman itu. Ran harus mengacungkan jempol untuk Lian yang sudah meluangkan waktunya untuk menggambar komik itu untuknya. Setiap detil gambar sangat mirip dengan komik aslinya. Bakat seni Lian memang berhak diacungi jempol.

Tapi perlu waktu satu minggu hingga Ran menyadari apa maksud dari kumpulan jawaban yang dituliskan oleh Ran. Inti dari jawaban-jawaban itu terkuak begitu saja ketika iseng-iseng Ran menuliskannya secara vertical. Dengan tangan yang berkeringat dingin dan jantung berdebar kencang. Akhirnya Ran menuliskan jawaban dari teka-teki kasus yang telah terpecahkan.

Sejak pagi, Ran sudah merasa grogi, jantungnya bermasalah. Bukan penyakit jantung atau serangan jantung, tapi hari itu jantung Ran benar-benar tidak bisa dikendalikan. Terkadang berdetak dengan irama yang normal, melajukan darahnya dengan lembut teratur seperti biasa, terkadang tiba-tiba degupannya meningkat, apalagi jika melihat komik Lian yang tergeletak diatas tempat tidur. Jalan terakhir, Ran menyimpan komik itu didalam tas ranselnya.

Malam tahun baru ini Ran memberanikan diri mengajak Lian untuk ikut kawan-kawannya yang lain menghabiskan malam disebuah resort di anyer, berangkat sore untuk mengejar sunset. Tanpa banyak bertanya, Lian meluluskan permintaan Ran yang sebenarnya sudah tidak sesuai lagi dengan usianya. Lima pasang muda mudi. Ran, Meli dan Ronal dengan mobil Lian, sementara Diyah, Asri, Rosa dan pacar masing-masing berangkat dengan APV Riko, pacar Rosa.

Ramai sekali. Para pria saling berkenalan dihalaman, para gadis ribut mengeluarkan barang-barang yang akan mereka gunakan. Jam 2 siang dua mobil beriringan meninggalkan rumah kostan itu. Devi tidak ikut, menolak mentah-mentah saat Meli mengajak tahun baruan bersama. Ran sampai harus menarik pergi Meli supaya tidak nekat menampar wajah Devi karena berkata mereka pergi malam tahun baruan untuk memproduksi anak setan. Sebentar saja, karena kekisruhan segera lenyap dengan perginya Devi, tanpa pamit, tanpa permisi.

Bagasi mobil Lian penuh. 4 ransel yang menggembung, dan peralatan kemah. Ide Lian untuk menyewa dua kamar hotel masing-masing untuk laki-laki dan perempuan ditolak mentah-mentah, tidak seru alasannya. Para pacar yang notabene lebih muda dari Lian itu memilih menyewa sebuah bungalow ditepi pantai, supaya mereka bisa berkumpul bersama, ke sepuluh orang itu. Lian hanya bisa geleng kepala, mempersiapkan stamina ekstra untuk melawan dingin angin pantai sekaligus mengawasi para gadis, khusunya Ran.
Lian tersenyum melihat Ran yang terlihat semangat untuk camping. Gadis itu bahkan memakai topi terbalik, mengikat jaketnya dipinggang, memakai celana jeans setengah betis dan sandal gunung. Ran memang terlihat paling bersinar diantara teman-temannya dimata Lian, atau itu karena ada perasaan di dalam hati Lian, ia tak tahu. Gadis itu sederhana tapi mengesankan.

“Lo beruntung banget dapetin Ran, Bro.” Kata Ronal saat dihalaman rumah kost.

“Kok bisa?” Lian terkekeh.

“Setiap cowok yang punya pacar disini pasti pada awalnya kesengsem sama si Ran dulu, tapi karena pada minder, ya dapat temennya deh.” Arlen yang seumuran dengan Ran menjawab.

“Kenapa minder?” Lian mengerutkan alis.

“Dia baiknya kebangetan, gak enak aja kalau ada salah-salah ngomong yang bikin dia tersinggung atau kecewa.” Mereka berlima tertawa.

“Ya bener banget tuh, dulu aku juga ketemu Asri waktu doi lagi jalan sama Ran di Mall. Yang aku ajak kenalan duluan sih Ran nya tapi yang nyangkut malah Asrinya.” David, pacar Asri menimpali.

“Itu bocah penuh kejutan memang, susah diajak ngomong serius, tapi pas serius dia gak kasih celah buat cengengesan.” Riko yang bersuara.

“Dulu waktu gua nembak si Meli, Ran yang cerewet ama gue, lebih cerewet dari nyokapnya Meli deh kayaknya.” Ronal terbahak diikuti ketiga temannya.

Sesuatu menelusup dalam hati Lian, meyakinkan dirinya bahwa Ran memang gadis yang unik dan pantas ia perjuangkan. Diperjuangkan juga untuk kembali mencarikan hatinya yang pernah beku juga karena cinta.
Suasana pantai ramai, banyak pengunjung menghabiskan waktu libur di pantai. Maklum, tahun baru jatuh pada hari minggu. Setelah membongkar muatan para pria membuat perapian, Ronal yang menjadi spesialisnya. Para gadis menata bungalow bambo mereka sedemikian rupa hingga terlihat nyaman untuk digunakan sebagai base camp, tampat tidur mereka.

Sebentar saja aroma ayam bakar menguar kemana-mana, membuat perut lapar semakin keroncongan. Suara gitar yang dipetik Arlen terdengar mendayu, your beautifull nya james blunt. Diyah terlihat berlari-lari kecil menghampiri Arlen sambil membawa botol air mineral dan sekantong biscuit. Lian melirik ke arah Ran yang masih sibuk dengan Meli di bungalow, bukan sibuk menatap lagi, tapi sibuk bercanda. Berkali-kali terlihat Ran tertawa lepas bersama Meli dan Asri. Menyenangkan sekali bisa melihat gadis itu tertawa hingga lupa menutup mulutnya dengan telapak tangan. Menyenangkan sekali melihat Ran terlihat sangat bahagia, Lian benar-benar bersyukur Devi tidak ikut andil dalam acara ini. Kini Lian tinggal berdebar-debar, menunggu Ran mengembalikan komik itu dan membaca jawaban Ran.

Setelah makan malam, semuanya berkumpul di seputar api unggun. Berpasang-pasangan tentu saja. Lian sempat berfikir, acara ini terlalu kekanak-kanakan bagi dirinya, tapi sesuatu yang indah terlihat oleh mata hatinya. Betapa kebersamaan muda-mudi yang lebih muda darinya itu sarat dengan cinta, perasaan yang paling rawan untuk ditumbuhkan, harus dipupuk dengan kejujuran dan kasih sayang yang suci. Lian mendesah. Sudah saatnya dia melangkah ke depan, meninggalkan masa lalu. Rosa, Riko, David, Asri, Diyah, Arlen, Ronal, Meli, Ran dan Lian berkumpul membentuk lingkaran. Ronal yang bertugas menjaga perapian.

“Disini semua bisa main gitar kan, para saudara? Kalau saudari silakan bernyanyi.” Arlen yang jago main gitar mulai menyanyikan lagu. “My Heart.” Arlen mulai menyanyikan lagunya.

“Disini… Kau dan aku… ter-biasa bersama, menjalani kasih sayang, bahagia ku denganmu…”

“Pernahkah kau menguntai, ha-ri paling indah, kuukir nama kita berdua, disini surga kita…” Diyah yang bersuara jernih mengiringi lagu Arlen.

“Jadi jawaban komiknya sudah ketemu?” Lian berbisik ditelinga Ran. Gadis itu menoleh. Wajah Lian sedemikan dekat dengannya.

“Sudah.” Jawab Ran sumringah. “Nanti aku kasih ke Mas Lian biar dicek ulang, betul gak.” Kedua pasang mata itu bertatapan, senyuman simpul dibibir.

Aduhai, berjumpalitan rasanya jantung Ran di dalam dada. Gadis itu hanya bisa berdoa agar jantungnya tidak melompat keluar, itu saja. Ia bahkan merasa malu hendak memberikan komik itu pada Lian. Memangnya kalau sudah tahu perasaan masing-masing, apa yang seterusnya akan terjadi? Apakah pada akhirnya dia akan menyandang status pacar orang? Seperti teman-temannya yang lain. Ran menarik nafas panjang, berusaha memperhatikan lagu Arlen yang sebentar lagi selesai dan giliran Ronal bernyanyi.
Ran sudah sering mendengar Meli besenandung di dalam kamarnya, tidak mengecewakan, bagaimana dengan dirinya yang sangat jarang sekali bernyanyi, palingan hanya lagu Jason mraz I won’t give up. Lagu yang seringkali dia impikan dinyanyikan bersama psangannya suatu hari nanti. Tersenyum menundukkan wajahnya, teringat satu impian anehnya itu. Menoleh Meli dan Ronal yang melantunkan lagu “Aku Cinta Kau Apa Adanya.” Yang ditutup dengan tepukan dan suitan dari pendengar.

“Ayo… Lian… tunjukkan bakatmu.” Ronal mengulurkan gitarnya. Lian tersenyum lebar, berdiri menerima uluran gitar dari Ronal.

Ran tersenyum lebar, setengah meragukan Lian yang jangankan bermain gitar, bersenandung kecil saat mendengar lagu saja ia belum pernah mendengar sebelumnya.

“Mau request lagu apa,Ran?” Bisik Lian. Ran mengedikkan bahu. 

Lian terdiam sebentar, menatap api unggun dihadapan mereka. Lalu jari-jemarinya menari diatas senar gitar. Lembut dan gemulai, seolah telah terbiasa. Dan mendengar petikan demi petikan gitar akustik di tangan Lian, Ran langsung menoleh dengan pandangan tak percaya.
“When I looking to you’re eyes… it’s like watching the night sky… or a beautifull sunrise… how old is your soul…” Suara merdu Lian yang tidak pernah didengar Ran mengalun, disambut tepukan tangan. Tapi rasanya Ran ingin menangis. Tidak percaya Lian menyanyikan lagu itu, dari mana dia tahu, bagaimana dia tahu, bagaimana bisa tahu?
“Jus like them old star… I’ve seen that you come so far… to be where there you are… houw old is your soul.” Lian memandang Ran. Mata mereka bertemu. Sesuatu yang hangat terasa memenuhi diri Ran, membuat pipinya terasa lebih panas dari sekedar dihangatkan oleh api unggun. Gadis itu tersenyum simpul, malu-malu, menggelengkan kepalanya, tidak menyangka Lian menyanyikan lagu yang jadi impiannya.
“I won’t give up on us… even if the skies get rough…I’m giving you all my love… I’m still looking up.”
Ran menatap Lian yang sekarang tersenyum-senyum dengan heran. Kemudian menoleh pada Meli yang cekikian dengan Ronal. Ran mencubit pinggang Meli. Disaat chorus yang paling dia sukai, Ran memegang lengan Lian, memberi isyarat kalau dia yang akan bernyanyi. Lian memberi tanda dengan ibu jarinya.
“I don’t wanna be someone who walks away so easily, I’m here to stay and make the difference that I can make. Our differences, they do a lot to teach us how to use the tools and gifts we got yeah, we got a lot at stake. And in the end you’re still my friends at least we did intend for us to work we didn’t break, we didn’t burn. We had learn how to bend without the world caving ini, I had to learn what I’ve got, and what I’m not and who I am.”
Satu bait, dan mereka menyelesaikan lagunya berdua. Disambut dengan suitan dan tepuk tangan lagi.

“Kenapa milih lagu itu?” Ran berbisik pada Lian. Sekarang giliran Riko yang menyanyikan “Apa Kata Dunia.”

“Sebenarnya mau nyanyi sandaran hati sih, tapi nanti yang dinyayiin gak bisa ikut nyanyi.” Lian tersenyum jahil sambil mengangkat kedua alisnya.

“Pasti dikasih tahu Meli ya?” Ran menyipitkan kedua matanya.

“Mmmm… kasih tau gak ya…?” Lian berlagak bingung, mengulum senyum.

“Be te we, terima kasih banyak udah nyanyiin lagu itu.” Ran menunduk, tersenyum lagi, tulus mengucapkan terima kasih karena satu harapannya terkabulkan.

Tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata bunga-bunga yang sedang mekar dalam hati Ran, kupu-kupu yang terbang diperutnya, dan angin semilir yang membelai wajahnya. Ran pura-pura cemberut, melesakkan kedua tangannnya kedalam saku jaket, khawatir kedua tangan itu mendarat dilengan Lian.

(Bersambung lagiii....)

Senin, 08 Oktober 2018

Sang Pelukis Hati (6)


Bab. VI

Jumat sore, sepulang kerja, Ran berniat mampir ke tempat kerja Lian. Mampir sebentar untuk membeli selusin donut, Ran menetapkan langkahnya untuk berjalan lebih jauh. Menunggu Resti hilang dari pandangan, barulah Ran melanjutkan perjalanannya. Kalau Mbak Resti tahu tujuannya adalah Don Jean advertising, kantor pasti jadi heboh. Sempat ingin balik kanan, khawatir Lian akan menanyakan alasannya datang ke workshop. Malu, bukan pada Lian, tapi pada dirinya sendiri. Sedemikian rindunyakah ia pada Lian hingga menepikan rasa malu, datang untuk sekedar melihat pemilik wajah yang hilir mudik dipikirannya itu. Masa iya ada cewek nyamperin cowok duluan.

Tidak. Ran datang bukan untuk sekedar bertemu Lian, dia datang juga untuk inspeksi mendadak. Ran mengulum senyum memikirkan alasan hebat yang tiba-tiba berkelebat dikepalanya itu. Ingin melihat secara langsung cara kerja Don Jean Advertising.

Don Jean Advertising workshop hanya sebuah ruko lantai dua yang memang sedikit lebih lebar dari ruko-ruko disampingnya. Pintu rolling doornya terbuka lebar, terlihat beberapa orang sedang duduk-duduk santai, kelihatannya sebentar lagi jam pulang. Seragam meraka jumpsuit berwarna biru muda.
Seorang bapak setengah baya yang duduk disebuah kursi yang menghadap keluar langsung berdiri begitu melihat seorang gadis datang menenteng kotak donat.

“Selamat sore Mbak. Ada yang bisa dibantu?” Sapanya sopan.

“Sore, Pak. Saya Ran, temannya Mas Lian. Mas Lian nya ada?” tanya Ran.

“Oh ada, sebentar ya, lagi diatas, nyimpan alat.” Bapak itu berdiri mempersilakan Ran untuk duduk dikursinya.

Beberapa orang yang duduk dilantai sedang berbicara ringan tentang pertandingan bola nanti malam. Kebanyakan mereka masih muda, seumuran dengan Ran.

“Oh iya, Pak ini ada kue, silakan.” Ran mengulurkan kotak donat pada Bapak itu.

“Wah, rejeki nih. Terima kasih ya Mbak.” Kata salah satu karyawan.

“Sering-sering ya Mbak.” Lainnya menimpali. Yang lainnya cukup mengucapkan terima kasih. Ran tersenyum menjawab sama-sama.

“Pak Darsono!” Panggil sebuah suara dari arah tangga, sayang Ran tidak bisa melihat sekaligus tidak terlihat dari arah tangga.

“Ya Mas Li?” yang dipanggil langsung berdiri dan mendekat ke arah tangga.

“Pak tolong bantu saya geser mesin diatas ya, sebentar.” Suara Lian terdengar menggema.

“Siap, Mas Li.” Kata bapak yang dipanggil Pak Darsono tadi. Bergegas naik ke atas.

“Mbak, Pacarnya Mas Lian?” Tanya seorang karyawan Lian.

“Bukan!” Ran tertawa. “Kebetulan Mas Lian ngerjain proyek kantor saya.”

“Oh, kirain pacarnya, Soalnya kata Mas Lian pacarnya itu manis, imut. Orang seringnya bawa motor aku kalau ngapel.” Lanjut orang itu.

“Emang Mas Lian suka cerita-cerita gitu?” Ran penasaran, siapa yang dimaksud orang ini.

“Nggak juga, Cuma sekali aja, waktu terakhir pinjem motor aku. Katanya kok dia sayang banget sama ceweknya ini, manis, imut tapi yang bikin kangen itu lucunya katanya.” Keduanya tertawa.

“Emang waktu itu pinjem motor mau buat kemana?” lanjut Ran.

“Buat ngurus KTP sama ATM katanya. Hayo… mbak ini kan yang dimaksud.” Goda pria itu.

“Kasih tau nggak ya…” Ran mulai berseloroh. Membuat sekumpulan orang yang sedang makan donat itu tertawa berbarengan.

Tak berapa lama, Pak Darsono turun bergegas ke lantai bawah.

“Gajian… gajian…” teriaknya sambil mengacungkan setumpuk amplop putih polos.

“Alhamdulillah….” Sambut rekan kerjanya serempak. Ran tersenyum kagum. Hebat juga ya Mas Lian, masih muda sudah bisa menggaji orang.

Pak Darsono mulai membagi amplop sesuai dengan nama yang tertera.

“Biasa, kalau ada salah hitung langsung lapor Bos.” Imbuh Pak Darsono. Wajah- wajah sumringah menerima amplop-amplop itu dengan bermacam-macam reaksi.

“Alhamdulillah, lebih cepat tiga hari.”

“Wah, bisa malam mingguan nih.” Dan sebagainya. Ran seolah larut dalam kebahagiaan mereka, tidak memperhatikan seseorang yang berdiri disampingnya sambil mengamati dan tersenyum.

“Balik dulu Mas Li.” Kata salah satu yang mengaku motornya sering dipinjam Lian.

“Yup, Ati-ati. Terima kasih ya.” Jawab Lian, mengagetkan Ran yang lengah hingga tidak memperhatikan kedatangan Lian.

Ran hendak berdiri, tapi Lian meletakkan tangannya di bahu Ran, seolah menahannya agar tetap duduk saja.
Satu persatu karyawan Don Jean Advertising berpamitan, seiring waktu yang semakin senja. Tinggalah Pak Darsono, Lian dan Ran, dan sekotak donat yang sekarang tinggal dua biji saja.

“Pulang kerja, Ran?” Tanya Lian sambil menyimpan alat-alat yang masih menempel di tubuhnya. Masker, sarung tangan, dan ear piece. Ran mengangguk.

“Tumben mampir? Ada apa?” Lian menarik sebuah kursi plastic dan duduk secara terbalik menghadap Ran.

“Iseng.” Ran nyengir. Alasannya yang hebat tadi menguap, lenyap.

“Iseng tapi bawa donat sekotak, Mas.” Sela Pak Darsono.

“Oh ya? Mana?” Lian berdiri, menghampiri kotak donat yang sudah berpindah ke atas sebuah meja. Pak Darsono menggulung kabel sambil tersenyum-senyum penuh arti menggoda Lian.

“Pas ini Mas, kalem, manis, dah cepet diresmikan.” Pak Darsono menyikut lengan Lian.

“Masa sih Pak…” Lian tertawa membawa kotak donat yang tinggal dua dan duduk lagi dihadapan Ran.

“Nih tinggal dua, satu-satu kita.” Lian menyodorkan kotak donat.

“Makan aja, Mas.” Ran menggeleng.

“Ah nggak seru.” Lian mengambil sebuah donat dan mendekatkannya ke bibir Ran. “Aaaaa!” Lian membuka mulutnya, memberi kode Ran untuk membuka mulut juga.

“Nggak ah.” Ran menutup mulutnya dengan tangan.

“Ya udah aku makan sendiri.” Lian menyuap donat kedalam mulutnya. Matanya menatap ke jalanan yang semakin gelap, mendadak seperti ada yang dipikirkan.

“Aku mandi dulu ya. Sebentar aja.” Kata Lian tiba-tiba, tanpa menunggu jawaban Ran langsung melesat kelantai 2. “Pak Tunggu ya, jangan pulang dulu!” teriak Lian dari tangga.

“Siap.” Jawab Pak Darsono.

Setelah mandi dan berpakaian ala Lian Adrian yang biasanya, jaket dan celana jeans, t-shirt, menutup workshop, pria itu ngotot mengantar Ran pulang. Alih-alih langsung mengantar Ran yang tidak seberapa jauh, Lian justru mengajak Ran berkeliling di kompleks perumahan seberang jalan.

“Mau kemana sih, Mas?” Ran bingung melihat Lian mengendarai Fortunernya pelan sekali.

“Kemarin, waktu lewat sini, aku lihat ada rumah di kontrakin. Mungkin kalian bisa pindah ketempat yang lebih mudah dijangkau.” Mata Lian beredar ke kanan-kiri.

Ran terdiam mendengar kata “mudah dijangkau”. Ada apa dengan itu? selama ini mereka baik-baik saja. Tidak ada kesulitan dalam hal pulang-pergi kerja atau sekedar jalan-jalan. Penjual makanan banyak, baik yang keliling maupun yang rumahan. Jalur Busway di sebelah timur kompleks, dan jalur angkot disebelah selatan, tidak ada jalur yang sulit dijangkau. Ran menggigit bibirnya. Tentu saja. Jalanan kompleks mereka tidak cukup besar untuk dilewati mobil sebesar fortuner. Ran mulai ke ge-er an lagi. Gadis itu mendesah.

“Kostan kami cukup mudah dijangkau, Mas.” Ran menyilangkan tangan didepan dada.

“Kamu dan Meli kan bisa nggak serumah lagi dengan teman kalian yang judes itu.” Lian mengungkapkan alasan utama mengapa dia ingin Ran menyingkir dari rumah kostnya. “Anak itu bawa imbas negative buat kalian semua.” Lanjutnya.

“Makasih Mas, Mas Lian sampai repot nyariin kami kostan baru.” Ran tersenyum, berterima kasih dari dalam hati, namun dengan keadaan hati yang terusik. “Eh, ada mie pangsit…” Ran mengalihkan perhatian Lian.

“Mau makan?” Lian menoleh, melihat gadis itu bersemangat sekali, tak sampai hati kalau mau bilang bahwa sebenarnya dia belum ingin makan.

“Kalau Mas Lian juga mau.” Ran nyengir. “Tapi kali ini aku yang bayar, Mas Lian udah bayarin aku bakso kemarin.”

“Oookeee.” Lian membelokkan mobilnya kearah sebuah ruko dengan spanduk mie pangsit arema.
Suasana warung cukup ramai. Meski terletak di ruko pinggir jalan, kebersihan dan interior dalam warung cukup berkesan.

“Kapan-kapan kita nonton yuk.” Ajak Lian. Duduk berhadapan menunggu pesanan. Duduk diujung warung.

“Yang disukai, Film?” Ran membuka permainan mereka. Lian tersenyum hingga gigi-gigi putihnya terlihat.

“Mmm, Action, Horror, Drama, Komedi.” Jawab Lian, tangannya mempermainkan botol cuka.

“Yee… itu mah semua film suka.” Ran protes. “Kalau aku harus lihat trailernya dulu, baru bisa pastikan suka atau tidak.” Imbuh Ran.

“Kadang kita bisa tertarik pada suatu film hanya dari lihat bannernya aja loh, karena kadang banner gitu ada yang bersifat persuasif. Mempengaruhi minat yang melihat.”

“Ehem… yang expert dibidang ads.” Goda Ran.

“Bukan gitu, eh, tapi emang gitu sih.” Lian beringsut, pesanan mereka datang. 

Bersamaan dengan sekelompok gadis dengan pakaian seksi. Hot pants dengan t-shirt ukuran anak-anak. Lian melengos. Sayangnya, salah satu gadis dengan anting-anting sepanjang telinga langsung duduk disamping Ran. Dua orang gadis duduk bersisian, yang satu, polos, hampir tanpa makeup, yang satu lagi make up tebal. Satu gadis memakai blazer anggun, satu lagi berpakaian ketat ala kadarnya. Kontras. Lian menatap Gadis mungil yang sibuk mengaduk mie pangsit dihadapannya dengan rasa syukur. Bersyukur telah dipertemukan dengan gadis semanis Ran.

Sekelompok Gadis yang baru datang itu berjumlah empat orang. Berdandanan sama, berintonasi sama, dan sama-sama tanpa segan tertawa terbahak-bahak, entah menertawakan apa. Ran hanya melihat dari sudut matanya saja, saat salah satu gadis itu mengedikkan kepala kearahnya, lalu berbisik bisik dengan teman disampingnya, lalu berantai keteman didepannya. Ah, Ran selalu seperti itu, tidak suka mengurusi orang lain, dia lebih sibuk mengaduk campuran mie pangsit, kecap dan sambel didalam mangkoknya.

Ran menoleh sebentar saat keempat gadis itu tertawa berbarengan. Bukan hanya Ran, tapi Lian dan beberapa pengunjung lain yang terkejut dengan suara mereka. Ran melirik Lian yang terlihat ogah-ogahan menyendok makanannya, dan justru berkali-kali tertangkap sedang mengamati dirinya.

“Mas, kecapnya dong!” Kata Gadis disamping Ran dengan suara manja. Mengulurkan tangan yang dihiasi gelang perak berkerincingan kearah Lian.

“Ini Mbak.” Ran mendorong kecap yang dekat dengannya kesebelah. Melirik Lian yang raut wajahnya mendadak berubah.

Gadis itu mengambil kecap yang disodorkan Ran, merengut. Selesai menuangkan kecap, gadis itu berdiri, mengulurkan tangan mengambil kotak tissue didepan Lian, dan dengan sengaja menyentuhkan ujung jarinya sepanjang punggung tangan Lian. Terkejut dan merasa tidak senang, Lian melayangkan tatapan tajam pada Gadis itu, kemudian melipat tangannya dibawah meja. Ran berhenti sesaat, melihat perubahan raut wajah Lian yang drastis, bahkan baru kali ini dia melihat Lian seperti itu. Ran mengulurkan sendoknya dan megetuk  mangkok Lian dua kali. Lian mendongak, mendapati wajah Ran tersenyum menatapnya, yang sepertinya berkata supaya Lian tidak menghiraukan tetangga mereka. Lian membalas senyum Ran dengan terpaksa, dia benar-benar tidak suka.

“Mau pipis dulu gue.” Gadis disamping Ran bangkit.

Ah, Ran tidak memperhatikannya. Gadis itu membalikkan badan dan terlihat sekali sengaja menyenggol Gelas es jeruk Ran, hingga tertumpah diatas meja, masuk kedalam mangkok pangsitnya, airnya meleber kemana-mana hingga membasahi blazer dan celana Ran. Gadis terpekik, seketika berdiri, menepiskan air dan es batu yang membasahi bajunya.

“Eh, jatuh.” Kata Gadis itu manja, sambil tersenyum jahil.

“Ya ampun!” pekik Ran. Lian juga langsung berdiri dengan wajah merah padam, menghampiri Gadis itu.

“Lo, kurang ajar banget sih dari tadi!” Lian meledak. Ran kaget, tidak menyadari Lian sudah berdiri dibelakangnya. Ia sibuk menggosok bajunya dengan tissue sejak tadi

“Apa sih, orang gak sengaja juga.” Gadis itu mengkerut.

“Lo sengaja kan? Gua lihat tangan lo nyamber gelas dia.” Lian menunjuk tajam wajah gadis itu.

“Mas, udah, biarin aja.” Ran berbalik. Meraih tangan Lian yang sedang menunjuk gadis itu penuh kemarahan, mengamankannya dalam genggaman tangannya sebelum telapak tangan Lian mendarat di mana saja area tubuh Gadis itu. Bisa bahaya nanti.

“Minta maaf gak lo  ke dia!” Hardik Lian. Wajah Gadis itu memucat.

“Ye, salah cewek lo juga naroh gelas diujung banget.” Kelitnya.

“Lo…” Lian berusaha menarik tangannya dari genggaman Ran, tapi jari-jari yang menggenggam tangannya itu ternyata lebih kuat.

“Mas Lian!” Tangan Ran mengguncang lengannya. Lian menoleh, mendapati wajah Ran yang memucat. “Udah!” kedua mata itu menyiratkan permohonan.

Lian kalah, meraih tas tangan Ran dan menggandeng gadis itu keluar warung, menarik selembar uang seratus ribu dari kantongnya dan meletakkannya begitu saja dimeja kasir tanpa berkata-kata. Bahkan ia tidak menunggu kasir memberikan kembaliannya, bergegas menarik Ran ke mobil.

“Sorry Ran, kita pulang aja ya.” Desis Lian sambil membukakan pintu mobil untuk Ran. Bergegas ke kursi sopir dan membanting pintu. Ran duduk diam, setengah ketakutan melihat Lian marah. Entah mengapa Lian bisa semarah itu, padahal masalahnya hanya sepele.

“Mas.” Ran meraih lengan Lian yang memegang kemudi. Lian menoleh, bibirnya terkatup rapat membentuk garsi lurus yang tegang, sorot matanya masih menyimpan amarah.

“Mas.” Sekarang Ran menggosokkan telapak tangannya disepanjang lengan Lian. “Tarik Nafas!” perintah Ran.

Menyadari rona wajah Ran dan mendengar apa yang dikatakan gadis itu membuat Lian seperti dibangunkan dari tidur. Menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajah. Dia bisa merasakan gadis itu mengelus pundaknya.

“Astaghfirullah…” desis Lian panjang. Ran membuang nafas panjang. Lega.

“Udahan marahnya?” Ran menjulurkan kepala melihat wajah Lian yang sekarang mengulum senyum.

“Sorry ya.” Lian menoleh. Wajahnya sudah normal, baik warna maupun rautnya. “Aku antar pulang, nanti kamu kemaleman pulangnya.” Kunci mobil diputar, mesin menggeram, music dimainkan. Ran mengangguk.

“Kurang ajar banget, cewek itu kan?” Lian membuka suara meski amarah sudah benar-benar hilang dari nada bicaranya.

“Udah ah, bahas itu lagi.” Ran merengut. “Nanti Mas Lian berubah jadi hulk lagi, senam jantung aku.” Lanjut Ran.

Tawa Lian meledak. “Sorry ya, udah bikin kamu takut.” Lian mengucap Sorry ketiga kalinya.

“Takut banget kalau sampai Mas Lian mukul cewek itu.” Ran membuka Blazernya yang basah.

“Ada jaket dibelakang, kalau mau dipakai.” Tawar Lian.

“Mmm…Nggak ah lagi malas nyuciin jaket.” Ran tertawa, menutup mulutnya dengan telapak tangan.

Aduuh, kali ini Lian harus mengerahkan segenap tenaga untuk tidak memeluk gemas gadis itu. Belum saatnya.

Sejak saat itu malam minggu adalah hari yang dinantikan keduanya. Tidak harus pergi keluar, makan martabak di halaman bersama Meli dan Ronal pun jadi moment yang berkesan bagi keduanya. Terkadang Lian datang dengan motor pinjaman dari anak buahnya, terkadang berjalan kaki, yang berarti fortuner menunggu di depan minimarket. Selalu membawa buah tangan, walaupun hanya sekilo dua kilo jeruk yang dibeli dipinggir jalan. Dan itu berarti, serumah bisa menikmati, karena begitulah Ran, tidak pernah menyimpan makanan dikamarnya, semua yang dia punya diletakkan di lemari makan, siapa saja yang suka boleh makan, tak terkecuali Devi yang sepertinya memang sangat memusuhinya.

Suatu ketika Lian datang ke kantor, mengambil cek pembayaran pekerjaannya selama dua bulan ini. Pria itu membawa sekotak besar donat, meletakkannya di meja admin, bukan untuk Ran, tapi untuk teman-teman kantornya. Membalas apa yang dilakukan Ran tempo hari.