Bab. VII
Suatu
hari terdengar kabar baik. Resti hamil, setelah setahun lebih menikah.
Keadaannya kurang baik. Morning sickness, membuat Teman terbaik Ran tidak bisa
datang ke tempat kerja. Namun sebelum Ran sempat naik Bus untuk kedua kalinya,
sebuah mobil fortuner sudah siap menjemput diujung gang didepan komplek. Lian,
menjemput Ran. Informasi dari Deril lagi. Deril sepertinya memang bermaksud
mendekatkan Lian dengan Ran.
“Eh
Ran, aku ada komik buat kamu.” Lian menyodorkan sebuah komik detektif kesukaan
Ran.
“Kok
beda komiknya?” Ran memandangi sampul komik dari kertas karton putih itu.
terlihat guratan-guratan pensil membekas disana. Komik itu bukan hasil cetakan,
tapi hasil gambaran. “Mas Lian, gambar sendiri komiknya?” Ran menatap Lian,
terpana.
“Gak
kayak Aoyama Gosho, ya?” Lian menirukan gaya Ran nyengir. Gadis itu malah
terkekeh.
“Eits,
nanti dirumah saja bacanya ya, ada misteri yang harus kamu pecahkan didalamnya.
Dibagian belakang komik ada satu halaman kosong, nanti tulis jawabannu disitu,
kalau udah selesai, balikin ke aku, kalau jawabannya betul, komik itu jadi
milik kamu.” Kata Lian.
Ran
hanya menatap Lian dengan penuh tanda tanya. Tapi baiklah. Ran menurut,
memasukkan komik itu kedalam tasnya.
Komik
itu bukan komik Detektif Connan seperti yang biasa dibaca Ran. Memang tokohnya
Shinichi Kudo dan Ran Mouri, tapi ceritanya bukanlah cerita yang pernah ada di
semua judul komik. Komik ini Lian buat sendiri ceritanya. Shinichi
Kudo, Detektif SMA yang terkenal, sedang meneliti sebuah kasus ketika ia
bertemu dengan Ran Mouri, teman satu sekolah yang selama ini tidak ia sadari
keberadaannya. Kasus
yang ditangani oleh Kogoro Mouri, Ayah Ran, diam-diam diteliti juga oleh Kudo.
Seorang
pencuri yang berpengalaman telah meninggalkan serentetan jejak yang harus
dipecahkan. Jejek tersebut berupa nama gedung, kata dan tempat tempat yang terkenal
didunia yang yang salah satu huruf dalam namanya menunjukkan dimana benda-benda
curian itu disimpan. Ran
yang memergoki Shinichi, memaksa untuk ikut dalam investigasi. Perlahan tapi
pasti, Shinichi memecahkan misteri dan tugas Ran adalah menulis jawaban di
kertas belakang komik.
London
India
Argentina
Norwegia
Sierra Leone
Austria
Yugoslavia
Suriah
Indian
Lagos bay
Origami
Venezia
Essex
Yordania
Oslo
Uganda
Roma
America
November
Rain
Angel
Next
Sunset
Angola
New era
Southern pacific
Wax
Echo
Rotterdame
Istanbul
Slovakia
?
Ran
berhenti menulis. Bingung. Terhenti dikalimat terakhir Shinichi di akhir komik.
“Perjalanan hidupku bukanlah sesuatu
yang bisa dibanggakan padamu? Duniaku pernah meledak dan membuatku berlari
pergi. Namun kali ini aku berhenti, untuk sejenak mengumpulkan serpih demi
serpih hatiku yang tercerai, dan menemukan namamu diantara tumpukan puingnya.
Kau belum pernah datang sebelumnya, dalam hidupku, tapi mengapa namamu dengan
mudahnya terpahat disana?”
Kata
Shinichi sambil memeluk Ran, karena kasus telah terpecahkan. Tapi
apa yang telah terpecahkan? Ran sendiri tidak mengerti dengan nama-nama negara
dan beberapa kata bantu yang sama sekali tidak berhubungan dengan kasus yang
sedang dipecahkan. Tidak perlu menghabiskan waktu lama untuk membaca komik
empat puluh halaman itu. Ran harus mengacungkan jempol untuk Lian yang sudah
meluangkan waktunya untuk menggambar komik itu untuknya. Setiap detil gambar
sangat mirip dengan komik aslinya. Bakat seni Lian memang berhak diacungi
jempol.
Tapi
perlu waktu satu minggu hingga Ran menyadari apa maksud dari kumpulan jawaban
yang dituliskan oleh Ran. Inti dari jawaban-jawaban itu terkuak begitu saja
ketika iseng-iseng Ran menuliskannya secara vertical. Dengan tangan yang berkeringat
dingin dan jantung berdebar kencang. Akhirnya Ran menuliskan jawaban dari teka-teki
kasus yang telah terpecahkan.
Malam
tahun baru ini Ran memberanikan diri mengajak Lian untuk ikut kawan-kawannya
yang lain menghabiskan malam disebuah resort di anyer, berangkat sore untuk
mengejar sunset. Tanpa banyak bertanya, Lian meluluskan permintaan Ran yang
sebenarnya sudah tidak sesuai lagi dengan usianya. Lima pasang muda mudi. Ran,
Meli dan Ronal dengan mobil Lian, sementara Diyah, Asri, Rosa dan pacar
masing-masing berangkat dengan APV Riko, pacar Rosa.
Ramai
sekali. Para pria saling berkenalan dihalaman, para gadis ribut mengeluarkan
barang-barang yang akan mereka gunakan. Jam 2 siang dua mobil beriringan
meninggalkan rumah kostan itu. Devi tidak ikut, menolak mentah-mentah saat Meli
mengajak tahun baruan bersama. Ran sampai harus menarik pergi Meli supaya tidak
nekat menampar wajah Devi karena berkata mereka pergi malam tahun baruan untuk
memproduksi anak setan. Sebentar
saja, karena kekisruhan segera lenyap dengan perginya Devi, tanpa pamit, tanpa
permisi.
Bagasi
mobil Lian penuh. 4 ransel yang menggembung, dan peralatan kemah. Ide Lian
untuk menyewa dua kamar hotel masing-masing untuk laki-laki dan perempuan ditolak
mentah-mentah, tidak seru alasannya. Para pacar yang notabene lebih muda dari
Lian itu memilih menyewa sebuah bungalow ditepi pantai, supaya mereka bisa
berkumpul bersama, ke sepuluh orang itu. Lian hanya bisa geleng kepala,
mempersiapkan stamina ekstra untuk melawan dingin angin pantai sekaligus
mengawasi para gadis, khusunya Ran.
Lian
tersenyum melihat Ran yang terlihat semangat untuk camping. Gadis itu bahkan
memakai topi terbalik, mengikat jaketnya dipinggang, memakai celana jeans
setengah betis dan sandal gunung. Ran memang terlihat paling bersinar diantara
teman-temannya dimata Lian, atau itu karena ada perasaan di dalam hati Lian, ia
tak tahu. Gadis itu sederhana tapi mengesankan.
“Kok
bisa?” Lian terkekeh.
“Setiap
cowok yang punya pacar disini pasti pada awalnya kesengsem sama si Ran dulu,
tapi karena pada minder, ya dapat temennya deh.” Arlen yang seumuran dengan Ran
menjawab.
“Kenapa
minder?” Lian mengerutkan alis.
“Dia
baiknya kebangetan, gak enak aja kalau ada salah-salah ngomong yang bikin dia
tersinggung atau kecewa.” Mereka
berlima tertawa.
“Ya
bener banget tuh, dulu aku juga ketemu Asri waktu doi lagi jalan sama Ran di
Mall. Yang aku ajak kenalan duluan sih Ran nya tapi yang nyangkut malah
Asrinya.” David, pacar Asri menimpali.
“Itu
bocah penuh kejutan memang, susah diajak ngomong serius, tapi pas serius dia
gak kasih celah buat cengengesan.” Riko yang bersuara.
“Dulu
waktu gua nembak si Meli, Ran yang cerewet ama gue, lebih cerewet dari
nyokapnya Meli deh kayaknya.” Ronal terbahak diikuti ketiga temannya.
Sesuatu
menelusup dalam hati Lian, meyakinkan dirinya bahwa Ran memang gadis yang unik
dan pantas ia perjuangkan. Diperjuangkan juga untuk kembali mencarikan hatinya
yang pernah beku juga karena cinta.
Suasana
pantai ramai, banyak pengunjung menghabiskan waktu libur di pantai. Maklum, tahun
baru jatuh pada hari minggu. Setelah membongkar muatan para pria membuat
perapian, Ronal yang menjadi spesialisnya. Para gadis menata bungalow bambo
mereka sedemikian rupa hingga terlihat nyaman untuk digunakan sebagai base
camp, tampat tidur mereka.
Setelah
makan malam, semuanya berkumpul di seputar api unggun. Berpasang-pasangan tentu
saja. Lian sempat berfikir, acara ini terlalu kekanak-kanakan bagi dirinya,
tapi sesuatu yang indah terlihat oleh mata hatinya. Betapa kebersamaan muda-mudi
yang lebih muda darinya itu sarat dengan cinta, perasaan yang paling rawan
untuk ditumbuhkan, harus dipupuk dengan kejujuran dan kasih sayang yang suci.
Lian mendesah. Sudah saatnya dia melangkah ke depan, meninggalkan masa lalu. Rosa,
Riko, David, Asri, Diyah, Arlen, Ronal, Meli, Ran dan Lian berkumpul membentuk
lingkaran. Ronal yang bertugas menjaga perapian.
“Disini
semua bisa main gitar kan, para saudara? Kalau saudari silakan bernyanyi.”
Arlen yang jago main gitar mulai menyanyikan lagu. “My Heart.” Arlen mulai
menyanyikan lagunya.
“Disini…
Kau dan aku… ter-biasa bersama, menjalani kasih sayang, bahagia ku denganmu…”
“Pernahkah
kau menguntai, ha-ri paling indah, kuukir nama kita berdua, disini surga kita…”
Diyah yang bersuara jernih mengiringi lagu Arlen.
“Jadi
jawaban komiknya sudah ketemu?” Lian berbisik ditelinga Ran. Gadis itu menoleh.
Wajah Lian sedemikan dekat dengannya.
“Sudah.”
Jawab Ran sumringah. “Nanti aku kasih ke Mas Lian biar dicek ulang, betul gak.”
Kedua pasang mata itu bertatapan, senyuman simpul dibibir.
Aduhai,
berjumpalitan rasanya jantung Ran di dalam dada. Gadis itu hanya bisa berdoa
agar jantungnya tidak melompat keluar, itu saja. Ia bahkan merasa malu hendak
memberikan komik itu pada Lian. Memangnya kalau sudah tahu perasaan
masing-masing, apa yang seterusnya akan terjadi? Apakah pada akhirnya dia akan
menyandang status pacar orang? Seperti teman-temannya yang lain. Ran menarik
nafas panjang, berusaha memperhatikan lagu Arlen yang sebentar lagi selesai dan
giliran Ronal bernyanyi.
Ran
sudah sering mendengar Meli besenandung di dalam kamarnya, tidak mengecewakan,
bagaimana dengan dirinya yang sangat jarang sekali bernyanyi, palingan hanya
lagu Jason mraz I won’t give up. Lagu yang seringkali dia impikan dinyanyikan
bersama psangannya suatu hari nanti. Tersenyum menundukkan wajahnya, teringat
satu impian anehnya itu. Menoleh Meli dan Ronal yang melantunkan lagu “Aku
Cinta Kau Apa Adanya.” Yang ditutup dengan tepukan dan suitan dari pendengar.
“Ayo…
Lian… tunjukkan bakatmu.” Ronal mengulurkan gitarnya. Lian tersenyum lebar,
berdiri menerima uluran gitar dari Ronal.
Ran
tersenyum lebar, setengah meragukan Lian yang jangankan bermain gitar,
bersenandung kecil saat mendengar lagu saja ia belum pernah mendengar
sebelumnya.
“When I looking to you’re eyes… it’s
like watching the night sky… or a beautifull sunrise… how old is your soul…”
Suara merdu Lian yang tidak pernah didengar Ran mengalun, disambut tepukan
tangan. Tapi rasanya Ran ingin menangis. Tidak percaya Lian menyanyikan lagu
itu, dari mana dia tahu, bagaimana dia tahu, bagaimana bisa tahu?
“Jus like them old star… I’ve seen
that you come so far… to be where there you are… houw old is your soul.”
Lian memandang Ran. Mata mereka bertemu. Sesuatu yang hangat terasa memenuhi
diri Ran, membuat pipinya terasa lebih panas dari sekedar dihangatkan oleh api
unggun. Gadis itu tersenyum simpul, malu-malu, menggelengkan kepalanya, tidak
menyangka Lian menyanyikan lagu yang jadi impiannya.
“I won’t give up on us… even if the
skies get rough…I’m giving you all my love… I’m still looking up.”
Ran
menatap Lian yang sekarang tersenyum-senyum dengan heran. Kemudian menoleh pada
Meli yang cekikian dengan Ronal. Ran mencubit pinggang Meli. Disaat chorus yang
paling dia sukai, Ran memegang lengan Lian, memberi isyarat kalau dia yang akan
bernyanyi. Lian memberi tanda dengan ibu jarinya.
“I don’t wanna be someone who walks
away so easily, I’m here to stay and make the difference that I can make. Our differences,
they do a lot to teach us how to use the tools and gifts we got yeah, we got a
lot at stake. And in the end you’re still my friends at least we did intend for
us to work we didn’t break, we didn’t burn. We had learn how to bend without
the world caving ini, I had to learn what I’ve got, and what I’m not and who I
am.”
Satu
bait, dan mereka menyelesaikan lagunya berdua. Disambut dengan suitan dan tepuk
tangan lagi.
“Kenapa
milih lagu itu?” Ran berbisik pada Lian. Sekarang giliran Riko yang menyanyikan
“Apa Kata Dunia.”
“Sebenarnya
mau nyanyi sandaran hati sih, tapi nanti yang dinyayiin gak bisa ikut nyanyi.”
Lian tersenyum jahil sambil mengangkat kedua alisnya.
“Pasti
dikasih tahu Meli ya?” Ran menyipitkan kedua matanya.
“Mmmm…
kasih tau gak ya…?” Lian berlagak bingung, mengulum senyum.
“Be
te we, terima kasih banyak udah nyanyiin lagu itu.” Ran menunduk, tersenyum
lagi, tulus mengucapkan terima kasih karena satu harapannya terkabulkan.
Tidak
bisa dilukiskan dengan kata-kata bunga-bunga yang sedang mekar dalam hati Ran,
kupu-kupu yang terbang diperutnya, dan angin semilir yang membelai wajahnya. Ran
pura-pura cemberut, melesakkan kedua tangannnya kedalam saku jaket, khawatir
kedua tangan itu mendarat dilengan Lian.
(Bersambung lagiii....)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar