Sabtu, 20 Oktober 2018

Sang Pelukis Hati (7)


Bab. VII

Suatu hari terdengar kabar baik. Resti hamil, setelah setahun lebih menikah. Keadaannya kurang baik. Morning sickness, membuat Teman terbaik Ran tidak bisa datang ke tempat kerja. Namun sebelum Ran sempat naik Bus untuk kedua kalinya, sebuah mobil fortuner sudah siap menjemput diujung gang didepan komplek. Lian, menjemput Ran. Informasi dari Deril lagi. Deril sepertinya memang bermaksud mendekatkan Lian dengan Ran.

“Eh Ran, aku ada komik buat kamu.” Lian menyodorkan sebuah komik detektif kesukaan Ran.

“Kok beda komiknya?” Ran memandangi sampul komik dari kertas karton putih itu. terlihat guratan-guratan pensil membekas disana. Komik itu bukan hasil cetakan, tapi hasil gambaran. “Mas Lian, gambar sendiri komiknya?” Ran menatap Lian, terpana.

“Gak kayak Aoyama Gosho, ya?” Lian menirukan gaya Ran nyengir. Gadis itu malah terkekeh.

“Terima kasih banyak ya Mas, ini keren bangeeeet.” Ran hendak membuak komik itu tapi yang memberi komik mencegah.

“Eits, nanti dirumah saja bacanya ya, ada misteri yang harus kamu pecahkan didalamnya. Dibagian belakang komik ada satu halaman kosong, nanti tulis jawabannu disitu, kalau udah selesai, balikin ke aku, kalau jawabannya betul, komik itu jadi milik kamu.” Kata Lian.

Ran hanya menatap Lian dengan penuh tanda tanya. Tapi baiklah. Ran menurut, memasukkan komik itu kedalam tasnya.

Komik itu bukan komik Detektif Connan seperti yang biasa dibaca Ran. Memang tokohnya Shinichi Kudo dan Ran Mouri, tapi ceritanya bukanlah cerita yang pernah ada di semua judul komik. Komik ini Lian buat sendiri ceritanya. Shinichi Kudo, Detektif SMA yang terkenal, sedang meneliti sebuah kasus ketika ia bertemu dengan Ran Mouri, teman satu sekolah yang selama ini tidak ia sadari keberadaannya. Kasus yang ditangani oleh Kogoro Mouri, Ayah Ran, diam-diam diteliti juga oleh Kudo.

Seorang pencuri yang berpengalaman telah meninggalkan serentetan jejak yang harus dipecahkan. Jejek tersebut berupa nama gedung, kata dan tempat tempat yang terkenal didunia yang yang salah satu huruf dalam namanya menunjukkan dimana benda-benda curian itu disimpan. Ran yang memergoki Shinichi, memaksa untuk ikut dalam investigasi. Perlahan tapi pasti, Shinichi memecahkan misteri dan tugas Ran adalah menulis jawaban di kertas belakang komik.

London
India
Argentina
Norwegia
Sierra Leone
Austria
Yugoslavia
Suriah
Indian
Lagos bay
Origami
Venezia
Essex
Yordania
Oslo
Uganda
Roma
America
November
Rain
Angel
Next
Sunset
Angola
New era
Southern pacific
Wax
Echo
Rotterdame
Istanbul
Slovakia
?
Ran berhenti menulis. Bingung. Terhenti dikalimat terakhir Shinichi di akhir komik.

“Perjalanan hidupku bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan padamu? Duniaku pernah meledak dan membuatku berlari pergi. Namun kali ini aku berhenti, untuk sejenak mengumpulkan serpih demi serpih hatiku yang tercerai, dan menemukan namamu diantara tumpukan puingnya. Kau belum pernah datang sebelumnya, dalam hidupku, tapi mengapa namamu dengan mudahnya terpahat disana?”

Kata Shinichi sambil memeluk Ran, karena kasus telah terpecahkan. Tapi apa yang telah terpecahkan? Ran sendiri tidak mengerti dengan nama-nama negara dan beberapa kata bantu yang sama sekali tidak berhubungan dengan kasus yang sedang dipecahkan. Tidak perlu menghabiskan waktu lama untuk membaca komik empat puluh halaman itu. Ran harus mengacungkan jempol untuk Lian yang sudah meluangkan waktunya untuk menggambar komik itu untuknya. Setiap detil gambar sangat mirip dengan komik aslinya. Bakat seni Lian memang berhak diacungi jempol.

Tapi perlu waktu satu minggu hingga Ran menyadari apa maksud dari kumpulan jawaban yang dituliskan oleh Ran. Inti dari jawaban-jawaban itu terkuak begitu saja ketika iseng-iseng Ran menuliskannya secara vertical. Dengan tangan yang berkeringat dingin dan jantung berdebar kencang. Akhirnya Ran menuliskan jawaban dari teka-teki kasus yang telah terpecahkan.

Sejak pagi, Ran sudah merasa grogi, jantungnya bermasalah. Bukan penyakit jantung atau serangan jantung, tapi hari itu jantung Ran benar-benar tidak bisa dikendalikan. Terkadang berdetak dengan irama yang normal, melajukan darahnya dengan lembut teratur seperti biasa, terkadang tiba-tiba degupannya meningkat, apalagi jika melihat komik Lian yang tergeletak diatas tempat tidur. Jalan terakhir, Ran menyimpan komik itu didalam tas ranselnya.

Malam tahun baru ini Ran memberanikan diri mengajak Lian untuk ikut kawan-kawannya yang lain menghabiskan malam disebuah resort di anyer, berangkat sore untuk mengejar sunset. Tanpa banyak bertanya, Lian meluluskan permintaan Ran yang sebenarnya sudah tidak sesuai lagi dengan usianya. Lima pasang muda mudi. Ran, Meli dan Ronal dengan mobil Lian, sementara Diyah, Asri, Rosa dan pacar masing-masing berangkat dengan APV Riko, pacar Rosa.

Ramai sekali. Para pria saling berkenalan dihalaman, para gadis ribut mengeluarkan barang-barang yang akan mereka gunakan. Jam 2 siang dua mobil beriringan meninggalkan rumah kostan itu. Devi tidak ikut, menolak mentah-mentah saat Meli mengajak tahun baruan bersama. Ran sampai harus menarik pergi Meli supaya tidak nekat menampar wajah Devi karena berkata mereka pergi malam tahun baruan untuk memproduksi anak setan. Sebentar saja, karena kekisruhan segera lenyap dengan perginya Devi, tanpa pamit, tanpa permisi.

Bagasi mobil Lian penuh. 4 ransel yang menggembung, dan peralatan kemah. Ide Lian untuk menyewa dua kamar hotel masing-masing untuk laki-laki dan perempuan ditolak mentah-mentah, tidak seru alasannya. Para pacar yang notabene lebih muda dari Lian itu memilih menyewa sebuah bungalow ditepi pantai, supaya mereka bisa berkumpul bersama, ke sepuluh orang itu. Lian hanya bisa geleng kepala, mempersiapkan stamina ekstra untuk melawan dingin angin pantai sekaligus mengawasi para gadis, khusunya Ran.
Lian tersenyum melihat Ran yang terlihat semangat untuk camping. Gadis itu bahkan memakai topi terbalik, mengikat jaketnya dipinggang, memakai celana jeans setengah betis dan sandal gunung. Ran memang terlihat paling bersinar diantara teman-temannya dimata Lian, atau itu karena ada perasaan di dalam hati Lian, ia tak tahu. Gadis itu sederhana tapi mengesankan.

“Lo beruntung banget dapetin Ran, Bro.” Kata Ronal saat dihalaman rumah kost.

“Kok bisa?” Lian terkekeh.

“Setiap cowok yang punya pacar disini pasti pada awalnya kesengsem sama si Ran dulu, tapi karena pada minder, ya dapat temennya deh.” Arlen yang seumuran dengan Ran menjawab.

“Kenapa minder?” Lian mengerutkan alis.

“Dia baiknya kebangetan, gak enak aja kalau ada salah-salah ngomong yang bikin dia tersinggung atau kecewa.” Mereka berlima tertawa.

“Ya bener banget tuh, dulu aku juga ketemu Asri waktu doi lagi jalan sama Ran di Mall. Yang aku ajak kenalan duluan sih Ran nya tapi yang nyangkut malah Asrinya.” David, pacar Asri menimpali.

“Itu bocah penuh kejutan memang, susah diajak ngomong serius, tapi pas serius dia gak kasih celah buat cengengesan.” Riko yang bersuara.

“Dulu waktu gua nembak si Meli, Ran yang cerewet ama gue, lebih cerewet dari nyokapnya Meli deh kayaknya.” Ronal terbahak diikuti ketiga temannya.

Sesuatu menelusup dalam hati Lian, meyakinkan dirinya bahwa Ran memang gadis yang unik dan pantas ia perjuangkan. Diperjuangkan juga untuk kembali mencarikan hatinya yang pernah beku juga karena cinta.
Suasana pantai ramai, banyak pengunjung menghabiskan waktu libur di pantai. Maklum, tahun baru jatuh pada hari minggu. Setelah membongkar muatan para pria membuat perapian, Ronal yang menjadi spesialisnya. Para gadis menata bungalow bambo mereka sedemikian rupa hingga terlihat nyaman untuk digunakan sebagai base camp, tampat tidur mereka.

Sebentar saja aroma ayam bakar menguar kemana-mana, membuat perut lapar semakin keroncongan. Suara gitar yang dipetik Arlen terdengar mendayu, your beautifull nya james blunt. Diyah terlihat berlari-lari kecil menghampiri Arlen sambil membawa botol air mineral dan sekantong biscuit. Lian melirik ke arah Ran yang masih sibuk dengan Meli di bungalow, bukan sibuk menatap lagi, tapi sibuk bercanda. Berkali-kali terlihat Ran tertawa lepas bersama Meli dan Asri. Menyenangkan sekali bisa melihat gadis itu tertawa hingga lupa menutup mulutnya dengan telapak tangan. Menyenangkan sekali melihat Ran terlihat sangat bahagia, Lian benar-benar bersyukur Devi tidak ikut andil dalam acara ini. Kini Lian tinggal berdebar-debar, menunggu Ran mengembalikan komik itu dan membaca jawaban Ran.

Setelah makan malam, semuanya berkumpul di seputar api unggun. Berpasang-pasangan tentu saja. Lian sempat berfikir, acara ini terlalu kekanak-kanakan bagi dirinya, tapi sesuatu yang indah terlihat oleh mata hatinya. Betapa kebersamaan muda-mudi yang lebih muda darinya itu sarat dengan cinta, perasaan yang paling rawan untuk ditumbuhkan, harus dipupuk dengan kejujuran dan kasih sayang yang suci. Lian mendesah. Sudah saatnya dia melangkah ke depan, meninggalkan masa lalu. Rosa, Riko, David, Asri, Diyah, Arlen, Ronal, Meli, Ran dan Lian berkumpul membentuk lingkaran. Ronal yang bertugas menjaga perapian.

“Disini semua bisa main gitar kan, para saudara? Kalau saudari silakan bernyanyi.” Arlen yang jago main gitar mulai menyanyikan lagu. “My Heart.” Arlen mulai menyanyikan lagunya.

“Disini… Kau dan aku… ter-biasa bersama, menjalani kasih sayang, bahagia ku denganmu…”

“Pernahkah kau menguntai, ha-ri paling indah, kuukir nama kita berdua, disini surga kita…” Diyah yang bersuara jernih mengiringi lagu Arlen.

“Jadi jawaban komiknya sudah ketemu?” Lian berbisik ditelinga Ran. Gadis itu menoleh. Wajah Lian sedemikan dekat dengannya.

“Sudah.” Jawab Ran sumringah. “Nanti aku kasih ke Mas Lian biar dicek ulang, betul gak.” Kedua pasang mata itu bertatapan, senyuman simpul dibibir.

Aduhai, berjumpalitan rasanya jantung Ran di dalam dada. Gadis itu hanya bisa berdoa agar jantungnya tidak melompat keluar, itu saja. Ia bahkan merasa malu hendak memberikan komik itu pada Lian. Memangnya kalau sudah tahu perasaan masing-masing, apa yang seterusnya akan terjadi? Apakah pada akhirnya dia akan menyandang status pacar orang? Seperti teman-temannya yang lain. Ran menarik nafas panjang, berusaha memperhatikan lagu Arlen yang sebentar lagi selesai dan giliran Ronal bernyanyi.
Ran sudah sering mendengar Meli besenandung di dalam kamarnya, tidak mengecewakan, bagaimana dengan dirinya yang sangat jarang sekali bernyanyi, palingan hanya lagu Jason mraz I won’t give up. Lagu yang seringkali dia impikan dinyanyikan bersama psangannya suatu hari nanti. Tersenyum menundukkan wajahnya, teringat satu impian anehnya itu. Menoleh Meli dan Ronal yang melantunkan lagu “Aku Cinta Kau Apa Adanya.” Yang ditutup dengan tepukan dan suitan dari pendengar.

“Ayo… Lian… tunjukkan bakatmu.” Ronal mengulurkan gitarnya. Lian tersenyum lebar, berdiri menerima uluran gitar dari Ronal.

Ran tersenyum lebar, setengah meragukan Lian yang jangankan bermain gitar, bersenandung kecil saat mendengar lagu saja ia belum pernah mendengar sebelumnya.

“Mau request lagu apa,Ran?” Bisik Lian. Ran mengedikkan bahu. 

Lian terdiam sebentar, menatap api unggun dihadapan mereka. Lalu jari-jemarinya menari diatas senar gitar. Lembut dan gemulai, seolah telah terbiasa. Dan mendengar petikan demi petikan gitar akustik di tangan Lian, Ran langsung menoleh dengan pandangan tak percaya.
“When I looking to you’re eyes… it’s like watching the night sky… or a beautifull sunrise… how old is your soul…” Suara merdu Lian yang tidak pernah didengar Ran mengalun, disambut tepukan tangan. Tapi rasanya Ran ingin menangis. Tidak percaya Lian menyanyikan lagu itu, dari mana dia tahu, bagaimana dia tahu, bagaimana bisa tahu?
“Jus like them old star… I’ve seen that you come so far… to be where there you are… houw old is your soul.” Lian memandang Ran. Mata mereka bertemu. Sesuatu yang hangat terasa memenuhi diri Ran, membuat pipinya terasa lebih panas dari sekedar dihangatkan oleh api unggun. Gadis itu tersenyum simpul, malu-malu, menggelengkan kepalanya, tidak menyangka Lian menyanyikan lagu yang jadi impiannya.
“I won’t give up on us… even if the skies get rough…I’m giving you all my love… I’m still looking up.”
Ran menatap Lian yang sekarang tersenyum-senyum dengan heran. Kemudian menoleh pada Meli yang cekikian dengan Ronal. Ran mencubit pinggang Meli. Disaat chorus yang paling dia sukai, Ran memegang lengan Lian, memberi isyarat kalau dia yang akan bernyanyi. Lian memberi tanda dengan ibu jarinya.
“I don’t wanna be someone who walks away so easily, I’m here to stay and make the difference that I can make. Our differences, they do a lot to teach us how to use the tools and gifts we got yeah, we got a lot at stake. And in the end you’re still my friends at least we did intend for us to work we didn’t break, we didn’t burn. We had learn how to bend without the world caving ini, I had to learn what I’ve got, and what I’m not and who I am.”
Satu bait, dan mereka menyelesaikan lagunya berdua. Disambut dengan suitan dan tepuk tangan lagi.

“Kenapa milih lagu itu?” Ran berbisik pada Lian. Sekarang giliran Riko yang menyanyikan “Apa Kata Dunia.”

“Sebenarnya mau nyanyi sandaran hati sih, tapi nanti yang dinyayiin gak bisa ikut nyanyi.” Lian tersenyum jahil sambil mengangkat kedua alisnya.

“Pasti dikasih tahu Meli ya?” Ran menyipitkan kedua matanya.

“Mmmm… kasih tau gak ya…?” Lian berlagak bingung, mengulum senyum.

“Be te we, terima kasih banyak udah nyanyiin lagu itu.” Ran menunduk, tersenyum lagi, tulus mengucapkan terima kasih karena satu harapannya terkabulkan.

Tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata bunga-bunga yang sedang mekar dalam hati Ran, kupu-kupu yang terbang diperutnya, dan angin semilir yang membelai wajahnya. Ran pura-pura cemberut, melesakkan kedua tangannnya kedalam saku jaket, khawatir kedua tangan itu mendarat dilengan Lian.

(Bersambung lagiii....)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar