Bab. VI
Jumat
sore, sepulang kerja, Ran berniat mampir ke tempat kerja Lian. Mampir sebentar
untuk membeli selusin donut, Ran menetapkan langkahnya untuk berjalan lebih
jauh. Menunggu Resti hilang dari pandangan, barulah Ran melanjutkan
perjalanannya. Kalau Mbak Resti tahu tujuannya adalah Don Jean advertising,
kantor pasti jadi heboh. Sempat
ingin balik kanan, khawatir Lian akan menanyakan alasannya datang ke workshop.
Malu, bukan pada Lian, tapi pada dirinya sendiri. Sedemikian rindunyakah ia
pada Lian hingga menepikan rasa malu, datang untuk sekedar melihat pemilik
wajah yang hilir mudik dipikirannya itu. Masa iya ada cewek nyamperin cowok
duluan.
Tidak.
Ran datang bukan untuk sekedar bertemu Lian, dia datang juga untuk inspeksi
mendadak. Ran mengulum senyum memikirkan alasan hebat yang tiba-tiba berkelebat
dikepalanya itu. Ingin melihat secara langsung cara kerja Don Jean Advertising.
Seorang
bapak setengah baya yang duduk disebuah kursi yang menghadap keluar langsung
berdiri begitu melihat seorang gadis datang menenteng kotak donat.
“Selamat
sore Mbak. Ada yang bisa dibantu?” Sapanya sopan.
“Sore,
Pak. Saya Ran, temannya Mas Lian. Mas Lian nya ada?” tanya Ran.
“Oh
ada, sebentar ya, lagi diatas, nyimpan alat.” Bapak itu berdiri mempersilakan
Ran untuk duduk dikursinya.
Beberapa
orang yang duduk dilantai sedang berbicara ringan tentang pertandingan bola
nanti malam. Kebanyakan mereka masih muda, seumuran dengan Ran.
“Oh
iya, Pak ini ada kue, silakan.” Ran mengulurkan kotak donat pada Bapak itu.
“Wah,
rejeki nih. Terima kasih ya Mbak.” Kata salah satu karyawan.
“Sering-sering
ya Mbak.” Lainnya menimpali. Yang
lainnya cukup mengucapkan terima kasih. Ran tersenyum menjawab sama-sama.
“Pak
Darsono!” Panggil sebuah suara dari arah tangga, sayang Ran tidak bisa melihat sekaligus
tidak terlihat dari arah tangga.
“Ya
Mas Li?” yang dipanggil langsung berdiri dan mendekat ke arah tangga.
“Pak
tolong bantu saya geser mesin diatas ya, sebentar.” Suara Lian terdengar
menggema.
“Siap,
Mas Li.” Kata bapak yang dipanggil Pak Darsono tadi. Bergegas naik ke atas.
“Mbak,
Pacarnya Mas Lian?” Tanya seorang karyawan Lian.
“Bukan!”
Ran tertawa. “Kebetulan Mas Lian ngerjain proyek kantor saya.”
“Oh,
kirain pacarnya, Soalnya kata Mas Lian pacarnya itu manis, imut. Orang
seringnya bawa motor aku kalau ngapel.” Lanjut orang itu.
“Emang
Mas Lian suka cerita-cerita gitu?” Ran penasaran, siapa yang dimaksud orang
ini.
“Nggak
juga, Cuma sekali aja, waktu terakhir pinjem motor aku. Katanya kok dia sayang
banget sama ceweknya ini, manis, imut tapi yang bikin kangen itu lucunya
katanya.” Keduanya tertawa.
“Emang
waktu itu pinjem motor mau buat kemana?” lanjut Ran.
“Buat
ngurus KTP sama ATM katanya. Hayo… mbak ini kan yang dimaksud.” Goda pria itu.
Tak
berapa lama, Pak Darsono turun bergegas ke lantai bawah.
“Gajian…
gajian…” teriaknya sambil mengacungkan setumpuk amplop putih polos.
“Alhamdulillah….”
Sambut rekan kerjanya serempak. Ran
tersenyum kagum. Hebat juga ya Mas Lian, masih muda sudah bisa menggaji orang.
Pak
Darsono mulai membagi amplop sesuai dengan nama yang tertera.
“Biasa,
kalau ada salah hitung langsung lapor Bos.” Imbuh Pak Darsono. Wajah-
wajah sumringah menerima amplop-amplop itu dengan bermacam-macam reaksi.
“Alhamdulillah,
lebih cepat tiga hari.”
“Wah,
bisa malam mingguan nih.” Dan
sebagainya. Ran seolah larut dalam kebahagiaan mereka, tidak memperhatikan
seseorang yang berdiri disampingnya sambil mengamati dan tersenyum.
“Balik
dulu Mas Li.” Kata salah satu yang mengaku motornya sering dipinjam Lian.
“Yup,
Ati-ati. Terima kasih ya.” Jawab Lian, mengagetkan Ran yang lengah hingga tidak
memperhatikan kedatangan Lian.
Ran
hendak berdiri, tapi Lian meletakkan tangannya di bahu Ran, seolah menahannya
agar tetap duduk saja.
Satu
persatu karyawan Don Jean Advertising berpamitan, seiring waktu yang semakin
senja. Tinggalah Pak Darsono, Lian dan Ran, dan sekotak donat yang sekarang
tinggal dua biji saja.
“Pulang
kerja, Ran?” Tanya Lian sambil menyimpan alat-alat yang masih menempel di
tubuhnya. Masker, sarung tangan, dan ear piece. Ran mengangguk.
“Tumben
mampir? Ada apa?” Lian menarik sebuah kursi plastic dan duduk secara terbalik
menghadap Ran.
“Iseng.”
Ran nyengir. Alasannya yang hebat tadi menguap, lenyap.
“Iseng
tapi bawa donat sekotak, Mas.” Sela Pak Darsono.
“Oh
ya? Mana?” Lian berdiri, menghampiri kotak donat yang sudah berpindah ke atas
sebuah meja. Pak Darsono menggulung kabel sambil tersenyum-senyum penuh arti
menggoda Lian.
“Pas
ini Mas, kalem, manis, dah cepet diresmikan.” Pak Darsono menyikut lengan Lian.
“Masa
sih Pak…” Lian tertawa membawa kotak donat yang tinggal dua dan duduk lagi
dihadapan Ran.
“Nih
tinggal dua, satu-satu kita.” Lian menyodorkan kotak donat.
“Makan
aja, Mas.” Ran menggeleng.
“Ah
nggak seru.” Lian mengambil sebuah donat dan mendekatkannya ke bibir Ran.
“Aaaaa!” Lian membuka mulutnya, memberi kode Ran untuk membuka mulut juga.
“Nggak
ah.” Ran menutup mulutnya dengan tangan.
“Ya
udah aku makan sendiri.” Lian menyuap donat kedalam mulutnya. Matanya menatap
ke jalanan yang semakin gelap, mendadak seperti ada yang dipikirkan.
“Aku
mandi dulu ya. Sebentar aja.” Kata Lian tiba-tiba, tanpa menunggu jawaban Ran
langsung melesat kelantai 2. “Pak Tunggu ya, jangan pulang dulu!” teriak Lian
dari tangga.
“Siap.”
Jawab Pak Darsono.
Setelah
mandi dan berpakaian ala Lian Adrian yang biasanya, jaket dan celana jeans,
t-shirt, menutup workshop, pria itu ngotot mengantar Ran pulang. Alih-alih
langsung mengantar Ran yang tidak seberapa jauh, Lian justru mengajak Ran
berkeliling di kompleks perumahan seberang jalan.
“Mau
kemana sih, Mas?” Ran bingung melihat Lian mengendarai Fortunernya pelan
sekali.
Ran
terdiam mendengar kata “mudah dijangkau”. Ada apa dengan itu? selama ini mereka
baik-baik saja. Tidak ada kesulitan dalam hal pulang-pergi kerja atau sekedar
jalan-jalan. Penjual makanan banyak, baik yang keliling maupun yang rumahan.
Jalur Busway di sebelah timur kompleks, dan jalur angkot disebelah selatan,
tidak ada jalur yang sulit dijangkau. Ran
menggigit bibirnya. Tentu saja. Jalanan kompleks mereka tidak cukup besar untuk
dilewati mobil sebesar fortuner. Ran mulai ke ge-er an lagi. Gadis
itu mendesah.
“Kostan
kami cukup mudah dijangkau, Mas.” Ran menyilangkan tangan didepan dada.
“Makasih
Mas, Mas Lian sampai repot nyariin kami kostan baru.” Ran tersenyum, berterima
kasih dari dalam hati, namun dengan keadaan hati yang terusik. “Eh,
ada mie pangsit…” Ran mengalihkan perhatian Lian.
“Mau
makan?” Lian menoleh, melihat gadis itu bersemangat sekali, tak sampai hati
kalau mau bilang bahwa sebenarnya dia belum ingin makan.
“Kalau
Mas Lian juga mau.” Ran nyengir. “Tapi kali ini aku yang bayar, Mas Lian udah
bayarin aku bakso kemarin.”
“Oookeee.”
Lian membelokkan mobilnya kearah sebuah ruko dengan spanduk mie pangsit arema.
Suasana
warung cukup ramai. Meski terletak di ruko pinggir jalan, kebersihan dan
interior dalam warung cukup berkesan.
“Kapan-kapan
kita nonton yuk.” Ajak Lian. Duduk berhadapan menunggu pesanan. Duduk diujung
warung.
“Yang
disukai, Film?” Ran membuka permainan mereka. Lian tersenyum hingga gigi-gigi
putihnya terlihat.
“Mmm,
Action, Horror, Drama, Komedi.” Jawab Lian, tangannya mempermainkan botol cuka.
“Yee…
itu mah semua film suka.” Ran protes. “Kalau aku harus lihat trailernya dulu,
baru bisa pastikan suka atau tidak.” Imbuh Ran.
“Kadang
kita bisa tertarik pada suatu film hanya dari lihat bannernya aja loh, karena
kadang banner gitu ada yang bersifat persuasif. Mempengaruhi minat yang
melihat.”
“Ehem…
yang expert dibidang ads.” Goda Ran.
“Bukan
gitu, eh, tapi emang gitu sih.” Lian beringsut, pesanan mereka datang.
Bersamaan dengan sekelompok gadis dengan pakaian seksi. Hot pants dengan
t-shirt ukuran anak-anak. Lian melengos. Sayangnya, salah satu gadis dengan
anting-anting sepanjang telinga langsung duduk disamping Ran. Dua
orang gadis duduk bersisian, yang satu, polos, hampir tanpa makeup, yang satu
lagi make up tebal. Satu gadis memakai blazer anggun, satu lagi berpakaian ketat
ala kadarnya. Kontras. Lian menatap Gadis mungil yang sibuk mengaduk mie
pangsit dihadapannya dengan rasa syukur. Bersyukur telah dipertemukan dengan gadis
semanis Ran.
Sekelompok
Gadis yang baru datang itu berjumlah empat orang. Berdandanan sama, berintonasi
sama, dan sama-sama tanpa segan tertawa terbahak-bahak, entah menertawakan apa. Ran
hanya melihat dari sudut matanya saja, saat salah satu gadis itu mengedikkan
kepala kearahnya, lalu berbisik bisik dengan teman disampingnya, lalu berantai
keteman didepannya. Ah, Ran selalu seperti itu, tidak suka mengurusi orang
lain, dia lebih sibuk mengaduk campuran mie pangsit, kecap dan sambel didalam
mangkoknya.
Ran
menoleh sebentar saat keempat gadis itu tertawa berbarengan. Bukan hanya Ran,
tapi Lian dan beberapa pengunjung lain yang terkejut dengan suara mereka. Ran
melirik Lian yang terlihat ogah-ogahan menyendok makanannya, dan justru
berkali-kali tertangkap sedang mengamati dirinya.
“Mas,
kecapnya dong!” Kata Gadis disamping Ran dengan suara manja. Mengulurkan tangan
yang dihiasi gelang perak berkerincingan kearah Lian.
“Ini
Mbak.” Ran mendorong kecap yang dekat dengannya kesebelah. Melirik Lian yang
raut wajahnya mendadak berubah.
Gadis
itu mengambil kecap yang disodorkan Ran, merengut. Selesai menuangkan kecap,
gadis itu berdiri, mengulurkan tangan mengambil kotak tissue didepan Lian, dan
dengan sengaja menyentuhkan ujung jarinya sepanjang punggung tangan Lian. Terkejut
dan merasa tidak senang, Lian melayangkan tatapan tajam pada Gadis itu, kemudian
melipat tangannya dibawah meja. Ran
berhenti sesaat, melihat perubahan raut wajah Lian yang drastis, bahkan baru
kali ini dia melihat Lian seperti itu. Ran mengulurkan sendoknya dan megetuk mangkok Lian dua kali. Lian
mendongak, mendapati wajah Ran tersenyum menatapnya, yang sepertinya berkata
supaya Lian tidak menghiraukan tetangga mereka. Lian membalas senyum Ran dengan
terpaksa, dia benar-benar tidak suka.
“Mau
pipis dulu gue.” Gadis disamping Ran bangkit.
Ah, Ran
tidak memperhatikannya. Gadis itu membalikkan badan dan terlihat sekali sengaja
menyenggol Gelas es jeruk Ran, hingga tertumpah diatas meja, masuk kedalam
mangkok pangsitnya, airnya meleber kemana-mana hingga membasahi blazer dan celana Ran. Gadis terpekik, seketika berdiri, menepiskan air dan es batu yang membasahi bajunya.
“Eh,
jatuh.” Kata Gadis itu manja, sambil tersenyum jahil.
“Ya
ampun!” pekik Ran. Lian
juga langsung berdiri dengan wajah merah padam, menghampiri Gadis itu.
“Lo,
kurang ajar banget sih dari tadi!” Lian meledak. Ran kaget, tidak menyadari
Lian sudah berdiri dibelakangnya. Ia sibuk menggosok bajunya dengan tissue
sejak tadi
“Apa
sih, orang gak sengaja juga.” Gadis itu mengkerut.
“Lo
sengaja kan? Gua lihat tangan lo nyamber gelas dia.” Lian menunjuk tajam wajah
gadis itu.
“Mas,
udah, biarin aja.” Ran berbalik. Meraih tangan Lian yang sedang menunjuk gadis
itu penuh kemarahan, mengamankannya dalam genggaman tangannya sebelum telapak
tangan Lian mendarat di mana saja area tubuh Gadis itu. Bisa bahaya nanti.
“Minta
maaf gak lo ke dia!” Hardik Lian. Wajah
Gadis itu memucat.
“Ye,
salah cewek lo juga naroh gelas diujung banget.” Kelitnya.
“Lo…”
Lian berusaha menarik tangannya dari genggaman Ran, tapi jari-jari yang
menggenggam tangannya itu ternyata lebih kuat.
“Mas
Lian!” Tangan Ran mengguncang lengannya. Lian menoleh, mendapati wajah Ran yang
memucat. “Udah!” kedua mata itu menyiratkan permohonan.
Lian
kalah, meraih tas tangan Ran dan menggandeng gadis itu keluar warung, menarik
selembar uang seratus ribu dari kantongnya dan meletakkannya begitu saja dimeja
kasir tanpa berkata-kata. Bahkan ia tidak menunggu kasir memberikan
kembaliannya, bergegas menarik Ran ke mobil.
“Sorry
Ran, kita pulang aja ya.” Desis Lian sambil membukakan pintu mobil untuk Ran.
Bergegas ke kursi sopir dan membanting pintu. Ran
duduk diam, setengah ketakutan melihat Lian marah. Entah mengapa Lian bisa
semarah itu, padahal masalahnya hanya sepele.
“Mas.”
Ran meraih lengan Lian yang memegang kemudi. Lian menoleh, bibirnya terkatup
rapat membentuk garsi lurus yang tegang, sorot matanya masih menyimpan amarah.
“Mas.”
Sekarang Ran menggosokkan telapak tangannya disepanjang lengan Lian. “Tarik
Nafas!” perintah Ran.
Menyadari
rona wajah Ran dan mendengar apa yang dikatakan gadis itu membuat Lian seperti
dibangunkan dari tidur. Menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajah. Dia bisa
merasakan gadis itu mengelus pundaknya.
“Astaghfirullah…”
desis Lian panjang. Ran membuang nafas panjang. Lega.
“Udahan
marahnya?” Ran menjulurkan kepala melihat wajah Lian yang sekarang mengulum
senyum.
“Sorry
ya.” Lian menoleh. Wajahnya sudah normal, baik warna maupun rautnya. “Aku antar
pulang, nanti kamu kemaleman pulangnya.” Kunci mobil diputar, mesin menggeram,
music dimainkan. Ran mengangguk.
“Kurang
ajar banget, cewek itu kan?” Lian membuka suara meski amarah sudah benar-benar
hilang dari nada bicaranya.
“Udah
ah, bahas itu lagi.” Ran merengut. “Nanti Mas Lian berubah jadi hulk lagi,
senam jantung aku.” Lanjut Ran.
Tawa
Lian meledak. “Sorry ya, udah bikin kamu takut.” Lian mengucap Sorry ketiga
kalinya.
“Ada
jaket dibelakang, kalau mau dipakai.” Tawar Lian.
“Mmm…Nggak
ah lagi malas nyuciin jaket.” Ran tertawa, menutup mulutnya dengan telapak
tangan.
Aduuh,
kali ini Lian harus mengerahkan segenap tenaga untuk tidak memeluk gemas gadis
itu. Belum saatnya.
Sejak
saat itu malam minggu adalah hari yang dinantikan keduanya. Tidak harus pergi
keluar, makan martabak di halaman bersama Meli dan Ronal pun jadi moment yang
berkesan bagi keduanya. Terkadang
Lian datang dengan motor pinjaman dari anak buahnya, terkadang berjalan kaki,
yang berarti fortuner menunggu di depan minimarket. Selalu membawa buah tangan,
walaupun hanya sekilo dua kilo jeruk yang dibeli dipinggir jalan. Dan itu
berarti, serumah bisa menikmati, karena begitulah Ran, tidak pernah menyimpan
makanan dikamarnya, semua yang dia punya diletakkan di lemari makan, siapa saja
yang suka boleh makan, tak terkecuali Devi yang sepertinya memang sangat
memusuhinya.
Suatu
ketika Lian datang ke kantor, mengambil cek pembayaran pekerjaannya selama dua
bulan ini. Pria itu membawa sekotak besar donat, meletakkannya di meja admin,
bukan untuk Ran, tapi untuk teman-teman kantornya. Membalas apa yang dilakukan
Ran tempo hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar