Senin, 08 Oktober 2018

Sang Pelukis Hati (6)


Bab. VI

Jumat sore, sepulang kerja, Ran berniat mampir ke tempat kerja Lian. Mampir sebentar untuk membeli selusin donut, Ran menetapkan langkahnya untuk berjalan lebih jauh. Menunggu Resti hilang dari pandangan, barulah Ran melanjutkan perjalanannya. Kalau Mbak Resti tahu tujuannya adalah Don Jean advertising, kantor pasti jadi heboh. Sempat ingin balik kanan, khawatir Lian akan menanyakan alasannya datang ke workshop. Malu, bukan pada Lian, tapi pada dirinya sendiri. Sedemikian rindunyakah ia pada Lian hingga menepikan rasa malu, datang untuk sekedar melihat pemilik wajah yang hilir mudik dipikirannya itu. Masa iya ada cewek nyamperin cowok duluan.

Tidak. Ran datang bukan untuk sekedar bertemu Lian, dia datang juga untuk inspeksi mendadak. Ran mengulum senyum memikirkan alasan hebat yang tiba-tiba berkelebat dikepalanya itu. Ingin melihat secara langsung cara kerja Don Jean Advertising.

Don Jean Advertising workshop hanya sebuah ruko lantai dua yang memang sedikit lebih lebar dari ruko-ruko disampingnya. Pintu rolling doornya terbuka lebar, terlihat beberapa orang sedang duduk-duduk santai, kelihatannya sebentar lagi jam pulang. Seragam meraka jumpsuit berwarna biru muda.
Seorang bapak setengah baya yang duduk disebuah kursi yang menghadap keluar langsung berdiri begitu melihat seorang gadis datang menenteng kotak donat.

“Selamat sore Mbak. Ada yang bisa dibantu?” Sapanya sopan.

“Sore, Pak. Saya Ran, temannya Mas Lian. Mas Lian nya ada?” tanya Ran.

“Oh ada, sebentar ya, lagi diatas, nyimpan alat.” Bapak itu berdiri mempersilakan Ran untuk duduk dikursinya.

Beberapa orang yang duduk dilantai sedang berbicara ringan tentang pertandingan bola nanti malam. Kebanyakan mereka masih muda, seumuran dengan Ran.

“Oh iya, Pak ini ada kue, silakan.” Ran mengulurkan kotak donat pada Bapak itu.

“Wah, rejeki nih. Terima kasih ya Mbak.” Kata salah satu karyawan.

“Sering-sering ya Mbak.” Lainnya menimpali. Yang lainnya cukup mengucapkan terima kasih. Ran tersenyum menjawab sama-sama.

“Pak Darsono!” Panggil sebuah suara dari arah tangga, sayang Ran tidak bisa melihat sekaligus tidak terlihat dari arah tangga.

“Ya Mas Li?” yang dipanggil langsung berdiri dan mendekat ke arah tangga.

“Pak tolong bantu saya geser mesin diatas ya, sebentar.” Suara Lian terdengar menggema.

“Siap, Mas Li.” Kata bapak yang dipanggil Pak Darsono tadi. Bergegas naik ke atas.

“Mbak, Pacarnya Mas Lian?” Tanya seorang karyawan Lian.

“Bukan!” Ran tertawa. “Kebetulan Mas Lian ngerjain proyek kantor saya.”

“Oh, kirain pacarnya, Soalnya kata Mas Lian pacarnya itu manis, imut. Orang seringnya bawa motor aku kalau ngapel.” Lanjut orang itu.

“Emang Mas Lian suka cerita-cerita gitu?” Ran penasaran, siapa yang dimaksud orang ini.

“Nggak juga, Cuma sekali aja, waktu terakhir pinjem motor aku. Katanya kok dia sayang banget sama ceweknya ini, manis, imut tapi yang bikin kangen itu lucunya katanya.” Keduanya tertawa.

“Emang waktu itu pinjem motor mau buat kemana?” lanjut Ran.

“Buat ngurus KTP sama ATM katanya. Hayo… mbak ini kan yang dimaksud.” Goda pria itu.

“Kasih tau nggak ya…” Ran mulai berseloroh. Membuat sekumpulan orang yang sedang makan donat itu tertawa berbarengan.

Tak berapa lama, Pak Darsono turun bergegas ke lantai bawah.

“Gajian… gajian…” teriaknya sambil mengacungkan setumpuk amplop putih polos.

“Alhamdulillah….” Sambut rekan kerjanya serempak. Ran tersenyum kagum. Hebat juga ya Mas Lian, masih muda sudah bisa menggaji orang.

Pak Darsono mulai membagi amplop sesuai dengan nama yang tertera.

“Biasa, kalau ada salah hitung langsung lapor Bos.” Imbuh Pak Darsono. Wajah- wajah sumringah menerima amplop-amplop itu dengan bermacam-macam reaksi.

“Alhamdulillah, lebih cepat tiga hari.”

“Wah, bisa malam mingguan nih.” Dan sebagainya. Ran seolah larut dalam kebahagiaan mereka, tidak memperhatikan seseorang yang berdiri disampingnya sambil mengamati dan tersenyum.

“Balik dulu Mas Li.” Kata salah satu yang mengaku motornya sering dipinjam Lian.

“Yup, Ati-ati. Terima kasih ya.” Jawab Lian, mengagetkan Ran yang lengah hingga tidak memperhatikan kedatangan Lian.

Ran hendak berdiri, tapi Lian meletakkan tangannya di bahu Ran, seolah menahannya agar tetap duduk saja.
Satu persatu karyawan Don Jean Advertising berpamitan, seiring waktu yang semakin senja. Tinggalah Pak Darsono, Lian dan Ran, dan sekotak donat yang sekarang tinggal dua biji saja.

“Pulang kerja, Ran?” Tanya Lian sambil menyimpan alat-alat yang masih menempel di tubuhnya. Masker, sarung tangan, dan ear piece. Ran mengangguk.

“Tumben mampir? Ada apa?” Lian menarik sebuah kursi plastic dan duduk secara terbalik menghadap Ran.

“Iseng.” Ran nyengir. Alasannya yang hebat tadi menguap, lenyap.

“Iseng tapi bawa donat sekotak, Mas.” Sela Pak Darsono.

“Oh ya? Mana?” Lian berdiri, menghampiri kotak donat yang sudah berpindah ke atas sebuah meja. Pak Darsono menggulung kabel sambil tersenyum-senyum penuh arti menggoda Lian.

“Pas ini Mas, kalem, manis, dah cepet diresmikan.” Pak Darsono menyikut lengan Lian.

“Masa sih Pak…” Lian tertawa membawa kotak donat yang tinggal dua dan duduk lagi dihadapan Ran.

“Nih tinggal dua, satu-satu kita.” Lian menyodorkan kotak donat.

“Makan aja, Mas.” Ran menggeleng.

“Ah nggak seru.” Lian mengambil sebuah donat dan mendekatkannya ke bibir Ran. “Aaaaa!” Lian membuka mulutnya, memberi kode Ran untuk membuka mulut juga.

“Nggak ah.” Ran menutup mulutnya dengan tangan.

“Ya udah aku makan sendiri.” Lian menyuap donat kedalam mulutnya. Matanya menatap ke jalanan yang semakin gelap, mendadak seperti ada yang dipikirkan.

“Aku mandi dulu ya. Sebentar aja.” Kata Lian tiba-tiba, tanpa menunggu jawaban Ran langsung melesat kelantai 2. “Pak Tunggu ya, jangan pulang dulu!” teriak Lian dari tangga.

“Siap.” Jawab Pak Darsono.

Setelah mandi dan berpakaian ala Lian Adrian yang biasanya, jaket dan celana jeans, t-shirt, menutup workshop, pria itu ngotot mengantar Ran pulang. Alih-alih langsung mengantar Ran yang tidak seberapa jauh, Lian justru mengajak Ran berkeliling di kompleks perumahan seberang jalan.

“Mau kemana sih, Mas?” Ran bingung melihat Lian mengendarai Fortunernya pelan sekali.

“Kemarin, waktu lewat sini, aku lihat ada rumah di kontrakin. Mungkin kalian bisa pindah ketempat yang lebih mudah dijangkau.” Mata Lian beredar ke kanan-kiri.

Ran terdiam mendengar kata “mudah dijangkau”. Ada apa dengan itu? selama ini mereka baik-baik saja. Tidak ada kesulitan dalam hal pulang-pergi kerja atau sekedar jalan-jalan. Penjual makanan banyak, baik yang keliling maupun yang rumahan. Jalur Busway di sebelah timur kompleks, dan jalur angkot disebelah selatan, tidak ada jalur yang sulit dijangkau. Ran menggigit bibirnya. Tentu saja. Jalanan kompleks mereka tidak cukup besar untuk dilewati mobil sebesar fortuner. Ran mulai ke ge-er an lagi. Gadis itu mendesah.

“Kostan kami cukup mudah dijangkau, Mas.” Ran menyilangkan tangan didepan dada.

“Kamu dan Meli kan bisa nggak serumah lagi dengan teman kalian yang judes itu.” Lian mengungkapkan alasan utama mengapa dia ingin Ran menyingkir dari rumah kostnya. “Anak itu bawa imbas negative buat kalian semua.” Lanjutnya.

“Makasih Mas, Mas Lian sampai repot nyariin kami kostan baru.” Ran tersenyum, berterima kasih dari dalam hati, namun dengan keadaan hati yang terusik. “Eh, ada mie pangsit…” Ran mengalihkan perhatian Lian.

“Mau makan?” Lian menoleh, melihat gadis itu bersemangat sekali, tak sampai hati kalau mau bilang bahwa sebenarnya dia belum ingin makan.

“Kalau Mas Lian juga mau.” Ran nyengir. “Tapi kali ini aku yang bayar, Mas Lian udah bayarin aku bakso kemarin.”

“Oookeee.” Lian membelokkan mobilnya kearah sebuah ruko dengan spanduk mie pangsit arema.
Suasana warung cukup ramai. Meski terletak di ruko pinggir jalan, kebersihan dan interior dalam warung cukup berkesan.

“Kapan-kapan kita nonton yuk.” Ajak Lian. Duduk berhadapan menunggu pesanan. Duduk diujung warung.

“Yang disukai, Film?” Ran membuka permainan mereka. Lian tersenyum hingga gigi-gigi putihnya terlihat.

“Mmm, Action, Horror, Drama, Komedi.” Jawab Lian, tangannya mempermainkan botol cuka.

“Yee… itu mah semua film suka.” Ran protes. “Kalau aku harus lihat trailernya dulu, baru bisa pastikan suka atau tidak.” Imbuh Ran.

“Kadang kita bisa tertarik pada suatu film hanya dari lihat bannernya aja loh, karena kadang banner gitu ada yang bersifat persuasif. Mempengaruhi minat yang melihat.”

“Ehem… yang expert dibidang ads.” Goda Ran.

“Bukan gitu, eh, tapi emang gitu sih.” Lian beringsut, pesanan mereka datang. 

Bersamaan dengan sekelompok gadis dengan pakaian seksi. Hot pants dengan t-shirt ukuran anak-anak. Lian melengos. Sayangnya, salah satu gadis dengan anting-anting sepanjang telinga langsung duduk disamping Ran. Dua orang gadis duduk bersisian, yang satu, polos, hampir tanpa makeup, yang satu lagi make up tebal. Satu gadis memakai blazer anggun, satu lagi berpakaian ketat ala kadarnya. Kontras. Lian menatap Gadis mungil yang sibuk mengaduk mie pangsit dihadapannya dengan rasa syukur. Bersyukur telah dipertemukan dengan gadis semanis Ran.

Sekelompok Gadis yang baru datang itu berjumlah empat orang. Berdandanan sama, berintonasi sama, dan sama-sama tanpa segan tertawa terbahak-bahak, entah menertawakan apa. Ran hanya melihat dari sudut matanya saja, saat salah satu gadis itu mengedikkan kepala kearahnya, lalu berbisik bisik dengan teman disampingnya, lalu berantai keteman didepannya. Ah, Ran selalu seperti itu, tidak suka mengurusi orang lain, dia lebih sibuk mengaduk campuran mie pangsit, kecap dan sambel didalam mangkoknya.

Ran menoleh sebentar saat keempat gadis itu tertawa berbarengan. Bukan hanya Ran, tapi Lian dan beberapa pengunjung lain yang terkejut dengan suara mereka. Ran melirik Lian yang terlihat ogah-ogahan menyendok makanannya, dan justru berkali-kali tertangkap sedang mengamati dirinya.

“Mas, kecapnya dong!” Kata Gadis disamping Ran dengan suara manja. Mengulurkan tangan yang dihiasi gelang perak berkerincingan kearah Lian.

“Ini Mbak.” Ran mendorong kecap yang dekat dengannya kesebelah. Melirik Lian yang raut wajahnya mendadak berubah.

Gadis itu mengambil kecap yang disodorkan Ran, merengut. Selesai menuangkan kecap, gadis itu berdiri, mengulurkan tangan mengambil kotak tissue didepan Lian, dan dengan sengaja menyentuhkan ujung jarinya sepanjang punggung tangan Lian. Terkejut dan merasa tidak senang, Lian melayangkan tatapan tajam pada Gadis itu, kemudian melipat tangannya dibawah meja. Ran berhenti sesaat, melihat perubahan raut wajah Lian yang drastis, bahkan baru kali ini dia melihat Lian seperti itu. Ran mengulurkan sendoknya dan megetuk  mangkok Lian dua kali. Lian mendongak, mendapati wajah Ran tersenyum menatapnya, yang sepertinya berkata supaya Lian tidak menghiraukan tetangga mereka. Lian membalas senyum Ran dengan terpaksa, dia benar-benar tidak suka.

“Mau pipis dulu gue.” Gadis disamping Ran bangkit.

Ah, Ran tidak memperhatikannya. Gadis itu membalikkan badan dan terlihat sekali sengaja menyenggol Gelas es jeruk Ran, hingga tertumpah diatas meja, masuk kedalam mangkok pangsitnya, airnya meleber kemana-mana hingga membasahi blazer dan celana Ran. Gadis terpekik, seketika berdiri, menepiskan air dan es batu yang membasahi bajunya.

“Eh, jatuh.” Kata Gadis itu manja, sambil tersenyum jahil.

“Ya ampun!” pekik Ran. Lian juga langsung berdiri dengan wajah merah padam, menghampiri Gadis itu.

“Lo, kurang ajar banget sih dari tadi!” Lian meledak. Ran kaget, tidak menyadari Lian sudah berdiri dibelakangnya. Ia sibuk menggosok bajunya dengan tissue sejak tadi

“Apa sih, orang gak sengaja juga.” Gadis itu mengkerut.

“Lo sengaja kan? Gua lihat tangan lo nyamber gelas dia.” Lian menunjuk tajam wajah gadis itu.

“Mas, udah, biarin aja.” Ran berbalik. Meraih tangan Lian yang sedang menunjuk gadis itu penuh kemarahan, mengamankannya dalam genggaman tangannya sebelum telapak tangan Lian mendarat di mana saja area tubuh Gadis itu. Bisa bahaya nanti.

“Minta maaf gak lo  ke dia!” Hardik Lian. Wajah Gadis itu memucat.

“Ye, salah cewek lo juga naroh gelas diujung banget.” Kelitnya.

“Lo…” Lian berusaha menarik tangannya dari genggaman Ran, tapi jari-jari yang menggenggam tangannya itu ternyata lebih kuat.

“Mas Lian!” Tangan Ran mengguncang lengannya. Lian menoleh, mendapati wajah Ran yang memucat. “Udah!” kedua mata itu menyiratkan permohonan.

Lian kalah, meraih tas tangan Ran dan menggandeng gadis itu keluar warung, menarik selembar uang seratus ribu dari kantongnya dan meletakkannya begitu saja dimeja kasir tanpa berkata-kata. Bahkan ia tidak menunggu kasir memberikan kembaliannya, bergegas menarik Ran ke mobil.

“Sorry Ran, kita pulang aja ya.” Desis Lian sambil membukakan pintu mobil untuk Ran. Bergegas ke kursi sopir dan membanting pintu. Ran duduk diam, setengah ketakutan melihat Lian marah. Entah mengapa Lian bisa semarah itu, padahal masalahnya hanya sepele.

“Mas.” Ran meraih lengan Lian yang memegang kemudi. Lian menoleh, bibirnya terkatup rapat membentuk garsi lurus yang tegang, sorot matanya masih menyimpan amarah.

“Mas.” Sekarang Ran menggosokkan telapak tangannya disepanjang lengan Lian. “Tarik Nafas!” perintah Ran.

Menyadari rona wajah Ran dan mendengar apa yang dikatakan gadis itu membuat Lian seperti dibangunkan dari tidur. Menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajah. Dia bisa merasakan gadis itu mengelus pundaknya.

“Astaghfirullah…” desis Lian panjang. Ran membuang nafas panjang. Lega.

“Udahan marahnya?” Ran menjulurkan kepala melihat wajah Lian yang sekarang mengulum senyum.

“Sorry ya.” Lian menoleh. Wajahnya sudah normal, baik warna maupun rautnya. “Aku antar pulang, nanti kamu kemaleman pulangnya.” Kunci mobil diputar, mesin menggeram, music dimainkan. Ran mengangguk.

“Kurang ajar banget, cewek itu kan?” Lian membuka suara meski amarah sudah benar-benar hilang dari nada bicaranya.

“Udah ah, bahas itu lagi.” Ran merengut. “Nanti Mas Lian berubah jadi hulk lagi, senam jantung aku.” Lanjut Ran.

Tawa Lian meledak. “Sorry ya, udah bikin kamu takut.” Lian mengucap Sorry ketiga kalinya.

“Takut banget kalau sampai Mas Lian mukul cewek itu.” Ran membuka Blazernya yang basah.

“Ada jaket dibelakang, kalau mau dipakai.” Tawar Lian.

“Mmm…Nggak ah lagi malas nyuciin jaket.” Ran tertawa, menutup mulutnya dengan telapak tangan.

Aduuh, kali ini Lian harus mengerahkan segenap tenaga untuk tidak memeluk gemas gadis itu. Belum saatnya.

Sejak saat itu malam minggu adalah hari yang dinantikan keduanya. Tidak harus pergi keluar, makan martabak di halaman bersama Meli dan Ronal pun jadi moment yang berkesan bagi keduanya. Terkadang Lian datang dengan motor pinjaman dari anak buahnya, terkadang berjalan kaki, yang berarti fortuner menunggu di depan minimarket. Selalu membawa buah tangan, walaupun hanya sekilo dua kilo jeruk yang dibeli dipinggir jalan. Dan itu berarti, serumah bisa menikmati, karena begitulah Ran, tidak pernah menyimpan makanan dikamarnya, semua yang dia punya diletakkan di lemari makan, siapa saja yang suka boleh makan, tak terkecuali Devi yang sepertinya memang sangat memusuhinya.

Suatu ketika Lian datang ke kantor, mengambil cek pembayaran pekerjaannya selama dua bulan ini. Pria itu membawa sekotak besar donat, meletakkannya di meja admin, bukan untuk Ran, tapi untuk teman-teman kantornya. Membalas apa yang dilakukan Ran tempo hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar