Bab. X
Lian
seolah diempaskan kedalam bumi. Pikirannya segera terbang pada kejadian lebih
dari setahun yang lalu, ketika sebuah amplop cokelat dikirimkan seseorang
untuknya. Membuatnya berkali-kali terjatuh, bangkit lagi, dan jatuh lagi,
bangkit lagi, tapi jatuh lagi. Dunianya meledak bagai bigbang, berhamburan
kemana-mana, membuatnya salah arah, membuanya sempat berfikir untuk melakukan
apa yang dilakukan Devi sekarang ini. Segalanya terasa salah, hingga ia bertemu
dengan gadis mungil disampingnya itu.
Setelah
sekian lama berusaha mengubur perasaan itu, hari ini, hati itu robek kembali,
dan isinya berhamburan keluar, berusaha memutar ulang setiap kenangan yang
sebelumnya tersimpan disudut yang paling tersembunyi. Hari ini wajah itu
kembali membayangi pandangannya, suara tawa itu kembali memenuhi telinganya,
dan kabar itu kembali mengusiknya. Apakah Liana juga telah melakukan hal yang
sama dengan apa yang dilakukan Devi?
Tepat
sebelum maghrib, Lian sudah mengantar Ran pulang, terburu-buru pamitan,
mungkin karena mengantuk jadi Ran tidak berusaha menahan Lian.
“Jadi
lo pakai duit lo semua, Ran?” Meli duduk meringkuk diranjang Ran. Gadis itu
mengangguk.
“Nanti
kita patungan buat bantu lo ya.” Hibur Meli, meski sangat yakin meskipun
keempat teman kostannya itu patungan, paling hanya menyentuh setengah saja dari
jumlah uang yang telah Ran keluarkan.
“Udah
gak usah dipikirin sekarang. Oh iya, selama hari kerja gue nggak bisa bantu
jagain Devi, palingan pulang kerja aja, dan gak bisa nginap.” Ran menggaruk
kepalanya yang tidak gatal.
“Tidur
yuk, besok kerja. Gak enak kalau ketiduran dikantor.” Ran merangkul Meli untuk
tidur bersamanya.
Setengah
tujuh pagi, Ran sudah bersiap di depan kompleks. Tidak terlalu lama, Fortuner
hitam Lian menepi.
“Selamat
pagi.” Sapa yang didalam mobil.
“Pagi
juga, Pak.” Jawab Ran, tersenyum lebar. Cukup tidur.
“Sudah
sarapan?” Lian tersenyum, menyodorkan sekotak kue basah. “Siang ini aku mau ke
bandung, Ran. Sore mungkin gak bisa jemput.”
“Iya
gak papa.” Ran menyuap sepotong getuk lindri kedalam mulutnya. Kenapa harus
selalu getuk lindri yang menarik perhatiannya.
“Sore
mau ke rumah sakit?” tanya Lian lagi.
“Kelihatannya
begitu.” Ran menjawab, menyesap air mineral gelas untuk membersihkan
tenggorokannya.
“Jangan
pulang malam-malam, cepat kabari kalau ada apa-apa ya.”
“Siap,
Pak.”
“Eh,
kapan invoice terakhir cair?” Lian bertanya, sambil mengulum senyum.
Ran
merengut sambil mengunyah dadar gulung.
“Gak
tahu, steker nya belum dicabut.” Jawab Ran sekenanya.
“Hah?”
Lian membelalak tak mengerti, apa hubungannya cek dengan steker.
“Kalau
steker gak dicabut ya beku terus, gak cair-cair.” Ran nyengir. Menyadari yang
diajak bicara tidak paham. Lian
menepuk dahi, tertawa.
Ran
turun didepan lobby gedung, melangkah masuk setelah mobil Lian memberikan
klakson pendek sekali dan berjalan pergi.
“Nah
ini dia sudah datang.” Buk Mar langsung menggamit lengan Ran begitu dia masuk
ke dalam kantor.
“Ada
apa buk?”
“Ini,
bapak minta laporan buat attachment invoice nya Don Jean yang terakhir,
ditunggu sampai jam 10 nanti, kalau tidak invoice dipending sampai bulan
depan.” Buk Mar menyodorkan selembar invoice yang minggu kemarin.
“Oh,
oke Buk, Terima kasih banyak.” Ran berjalan masuk ke kantornya. Mengeluarkan
hape untuk mengirim pesan.
Kalau dua tangan udah gak ada di
kemudi, balas sms ya.
Tulis
Ran. Satu jam kemudian pesan Ran dibalas dengan panggilan.
“Ya,
Ran?” Sapa Lian.
“Mas
udah jalan ke Bandung?”
“Udah,
ini lagi berhenti sebentar, ada apa?”
“Pak
Wardoyo minta dokumen pendukung buat attachment invoice, apa aja, boleh foto
atau laporan apa kek gitu, yang penting ada attachmentnya buat disubmit ke
owner.”
“Oh,
ada, beberapa foto dan gambar rancang bangun proyeknya. Mmm… Nanti biar diantar
Agus kekantor ya.”
“Boleh,
sebelum jam 10 ya.”
“Siap,
Bu.”
“Hehehe... Baiklah Pak, untuk sementara itu saja dulu ya. Jangan lupa oleh-oleh, eh emang mau
pulang kapan?”
“Nanti
aku kabari.”
“Ok
deh.”
“Ok.
Bye.”
Telepon
ditutup. Ran kembali ke kegiatan rutinnya.
Jam
setengah sepuluh, Pak Wardoyo datang dari breakfast meeting dengan kolega.
“Sayangku…”
Teriaknya begitu masuk kantor.
“Dari
mana Pak?” Ran bertanya dari balik meja. Tersenyum melihat wajah Pak Wardoyo
yang sumringah.
“Eh,
ada kabar baik buat kamu.” Pak Wardoyo memberi kode Ran untuk masuk ke
ruangannya.
“Ada
apa Pak?” Ran duduk didepan Pak War.
“Besok
kamu ke surabaya, Buk Mar nanti yang siapin akomodasinya. Ada expo yang kamu
harus datangi…” Ran menahan nafas.
“Surabaya?”
Ran garuk-garuk kepala. “Kok nggak bali sekalian, Pak?” bibir gadis itu
mengerucut.
“Weleh,
kan biasa Resti yang pergi, sekarang dia lagi hamil, jadi kamu aja yang pergi.
Semua yang diperlukan buat Expo dikirim lewat ekspedisi, nanti ada yang bantu
kamu disana, tiga hari dua malam minimal, tiga malam empat hari maksimal, belum
termasuk perjalanan.” Pak War menyodorkan berkas dalam map hitam. “Simpan,
besok bawa ke Surabaya!” lanjutnya.
“Mendadak
banget Pak.” Masih merengut.
“Enggak
mendadak sih, udah setengah bulan lalu infonya, tapi lupa aku kemarin.” Tanpa
merasa bersalah Pak Wardoyo malah tertawa.
Perjalanan
dinas pertama Ran. Seharusnya menyenangkan sih, tapi jauh dari Lian adalah
sesuatu yang terasa aneh, setelah hampir tiga bulan ini mereka sering bertemu. Suara
pintu diketuk, terlihat dari jendela seorang lelaki muda berdiri sambil membawa
amplop cokelat. Karyawan Don Jean.
“Masuk!”
Ran setengah teriak. Pintu
didorong dengan mudah.
“Permisi,
Mbak Ran.” Lelaki itu menyapa.
“Owh
Mas Agus, silakan mas.” Ran berdiri mempersilakan.
“Ini
buat lampiran invoice, kata Mas Lian suruh kasih Mbak Ran.” Agus berkata
canggung.
“Iya,
terima kasih banyak ya Mas.” Agus
pamit.
Seharusnya
amplop itu bukan untuk Ran, dua amplop tergeletak diatas meja, warna amplop
yang sama. Apalah yang diketahui Agus mengenai lampiran, ia hanya ditugaskan
untuk mengambil amplop diatas meja kerja Lian dan mengantarkannya ke kantor
Ran.
Lian
mungkin lupa, jika amplop yang seharusnya untuk Ran, tertimpa blue print proyek
yang lain hingga sama sekali tidak kelihatan. Lian juga mungkin lupa, kalau
malam itu ia telah membuka lagi amplop cokelat yang datang lebih dari setahun
yang lalu itu. Lian benar-benar lupa jika belum menyimpan amplop itu ketempat
yang semestinya. Malang sekali bagi Ran, karena ia ikut-ikutan melihat isi
amplop itu.
Ran
memasukkan tangannnya dan menarik selembar foto. Seketika
jantungnya terasa berhenti berdetak, kemudian tiba-tiba berdetak dengan amat
kencangnya. Foto
seorang Gadis cantik, sangat cantik, berkulit bersih seputih kapas, rambut
hitam tergerai indah, bibir indah dengan polesan lipstick pink, dan sepasang
mata sipit oriental, tengah memeluk seorang pria yang duduk didepannya. Wajah
keduanya terlihat bahagia. Kedua lengan gadis itu terjulur kedepan menyilang
didada sang pria dan kedua lengan itu digenggam dengan lembut oleh sepuluh jari
ramping dan panjang-panjang. Berlatar sebuah wahana permainan yang entah
dimana. Keduanya terlihat bahagia, sangat bahagia. Tapi entah mengapa Ran tidak
suka dengan kebahagiaan itu.
Kedua
tangannya gemetar, menuangkan seluruh isi amplop keatas mejanya. Dan benda
kecil tipis itu jatuh tepat didepan matanya. Sebuah
benda yang seperti plastic, berwarna putih dengan kombinasi warna biru, dengan
sedikit huruf, dan dua garis berwarna merah. Ran
menahan nafas, menutup mulutnya dengan kedua tangan ketika satu-persatu air
mata jatuh dari pelupuk matanya.
Sepuluh
lembar foto dengan orang yang sama, tempat yang berbeda-beda, bahkan salah
satunya memperlihatkan bahwa dua orang itu bukan hanya sepasang teman. Teman
tidak memeluk seerat itu, teman tidak sedekat itu, hingga dahi dan hidungnya
bertemu, teman tidak seperti ini. Air
matanya semakin deras, bukan karean cemburu dengan foto-foto itu, tapi lebih
karena benda kecil yang bermakna besar. Jika
gadis dalam foto itu hamil, berarti Lian akan jadi seorang ayah. Kapan? Kapan
Lian menjadi seorang ayah?
Jika
bisa dikatakan, tentu Ran akan mengatakan apa yang dia rasakan. Jika bisa
didefiniskan, Ran pasti akan dengan mudah mempersonifikasikan perasaannya. Tapi
hatinya benar-benar kebas. Apakah Lian adalah salah satu dari segelintir lelaki
yang hanya mencari kesenangan sesaat saja? Setelah kisahnya dengan gadis itu
berakhir dengan kehamilan, ia lari, dan kini menjeratnya dalam tipuan baru? Mengapa?
Mengapa Lian?
Ran
mengusap air matanya. Bersyukur bahwa Tuhan menunjukkan segalanya sekarang.
Dengan tangan gemetar dan hati remuk redam, Ran memasukkan kembali foto-foto
itu kedalam amplop, juga benda kecil itu. Melipat ujungnya dan mengamankannya
lagi dengan empat staples sepanjang bibir amplop. Mengapa?
Mengapa Lian berbohong?
Gemetar,
tangan Ran meraih ponsel dan mengetikkan pesan untuk Lian.
Pak, Filenya salah, kayaknya yang
seharusnya dikasih masih ada dikantor deh, asap ya, minta salah satu anak buah antar.
Trims.
Ran
mengirimkan pesan pada Lian. Bergegas keruangan Pak Wardoyo.
“Pak…Fix
nih ya, besok aku berangkat ke Surabaya?”
“Fix
doong, bilang Buk Mar, minta booking tiket buat besok.” Pak War gagal
mendeteksi roman wajah Ran yang mendadak mendung, seperti cuaca diluar.
Ran
bergegas ke meja Buk Mar. Ia tidak ingin pergi, tapi ia ingin sejenak lepas
dari Lian.
“Buk
Mar, tolong booking pesawat pertama besok ya Bu, yang buat Surabaya Expo itu.”
Suara Ran bergetar. Dadanya hampir meledak menahan tangis.
“Siab,
Ran.” Buk Mar juga gagal melihat air mata yang nyaris tumpah ke luar.
Terpekur
sendirian, Ran berusaha menguatkan hatinya, ia sama sekali belum mendengar
penjelasan apapun dari Lian, tapi ia tidak ingin dengar. Segalanya terlihat
jelas. Melewatkan
makan siang, Ran akhirnya kembali bertemu dengan Agus yang mungkin dikirim Lian
untuk memberikan dokumen yang sebenarnya.
“Maaf,
Mbak Ran, Mas Lian sendiri lupa naruhnya dimana, kirain amplop yang itu,
ternyata yang ini Mbak.” Agus mengulurkan sebuah amplop yang berwarna sama. Ran
membuka amplop itu dan mengintipnya sekilas. Kali ini amplop yang benar.
“Nggak
papa Mas, Terima kasih banyak aku sama Mas Agus.” Ran mengulurkan amplop
pertama. “Tolong langsung diberikan pada Mas Lian ya, Mas.” Ran tersenyum.
Terpaksa.
“Siap
Mbak. Permisi.”
Agus
berlalu, tapi sakit dihati Ran tidak mau pergi bersama perginya foto-foto yang
sempat membuat jantungnya seolah kehilangan detakkan itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar