Sabtu, 01 Desember 2018

Sang Pelukis Hati (10)


Bab. X

Lian seolah diempaskan kedalam bumi. Pikirannya segera terbang pada kejadian lebih dari setahun yang lalu, ketika sebuah amplop cokelat dikirimkan seseorang untuknya. Membuatnya berkali-kali terjatuh, bangkit lagi, dan jatuh lagi, bangkit lagi, tapi jatuh lagi. Dunianya meledak bagai bigbang, berhamburan kemana-mana, membuatnya salah arah, membuanya sempat berfikir untuk melakukan apa yang dilakukan Devi sekarang ini. Segalanya terasa salah, hingga ia bertemu dengan gadis mungil disampingnya itu.

Setelah sekian lama berusaha mengubur perasaan itu, hari ini, hati itu robek kembali, dan isinya berhamburan keluar, berusaha memutar ulang setiap kenangan yang sebelumnya tersimpan disudut yang paling tersembunyi. Hari ini wajah itu kembali membayangi pandangannya, suara tawa itu kembali memenuhi telinganya, dan kabar itu kembali mengusiknya. Apakah Liana juga telah melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Devi?

Tepat sebelum maghrib, Lian sudah mengantar Ran pulang, terburu-buru pamitan, mungkin karena mengantuk jadi Ran tidak berusaha menahan Lian.

“Jadi lo pakai duit lo semua, Ran?” Meli duduk meringkuk diranjang Ran. Gadis itu mengangguk.

“Nanti kita patungan buat bantu lo ya.” Hibur Meli, meski sangat yakin meskipun keempat teman kostannya itu patungan, paling hanya menyentuh setengah saja dari jumlah uang yang telah Ran keluarkan.

“Udah gak usah dipikirin sekarang. Oh iya, selama hari kerja gue nggak bisa bantu jagain Devi, palingan pulang kerja aja, dan gak bisa nginap.” Ran menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Tidur yuk, besok kerja. Gak enak kalau ketiduran dikantor.” Ran merangkul Meli untuk tidur bersamanya.
Setengah tujuh pagi, Ran sudah bersiap di depan kompleks. Tidak terlalu lama, Fortuner hitam Lian menepi.

“Selamat pagi.” Sapa yang didalam mobil.

“Pagi juga, Pak.” Jawab Ran, tersenyum lebar. Cukup tidur.

“Sudah sarapan?” Lian tersenyum, menyodorkan sekotak kue basah. “Siang ini aku mau ke bandung, Ran. Sore mungkin gak bisa jemput.”

“Iya gak papa.” Ran menyuap sepotong getuk lindri kedalam mulutnya. Kenapa harus selalu getuk lindri yang menarik perhatiannya.

“Sore mau ke rumah sakit?” tanya Lian lagi.

“Kelihatannya begitu.” Ran menjawab, menyesap air mineral gelas untuk membersihkan tenggorokannya.

“Jangan pulang malam-malam, cepat kabari kalau ada apa-apa ya.”

“Siap, Pak.”

“Eh, kapan invoice terakhir cair?” Lian bertanya, sambil mengulum senyum.
Ran merengut sambil mengunyah dadar gulung.

“Gak tahu, steker nya belum dicabut.” Jawab Ran sekenanya.

“Hah?” Lian membelalak tak mengerti, apa hubungannya cek dengan steker.

“Kalau steker gak dicabut ya beku terus, gak cair-cair.” Ran nyengir. Menyadari yang diajak bicara tidak paham. Lian menepuk dahi, tertawa.

Ran turun didepan lobby gedung, melangkah masuk setelah mobil Lian memberikan klakson pendek sekali dan berjalan pergi.

“Nah ini dia sudah datang.” Buk Mar langsung menggamit lengan Ran begitu dia masuk ke dalam kantor.

“Ada apa buk?”

“Ini, bapak minta laporan buat attachment invoice nya Don Jean yang terakhir, ditunggu sampai jam 10 nanti, kalau tidak invoice dipending sampai bulan depan.” Buk Mar menyodorkan selembar invoice yang minggu kemarin.

“Oh, oke Buk, Terima kasih banyak.” Ran berjalan masuk ke kantornya. Mengeluarkan hape untuk mengirim pesan.

Kalau dua tangan udah gak ada di kemudi, balas sms ya.

Tulis Ran. Satu jam kemudian pesan Ran dibalas dengan panggilan.

“Ya, Ran?” Sapa Lian.

“Mas udah jalan ke Bandung?”

“Udah, ini lagi berhenti sebentar, ada apa?”

“Pak Wardoyo minta dokumen pendukung buat attachment invoice, apa aja, boleh foto atau laporan apa kek gitu, yang penting ada attachmentnya buat disubmit ke owner.”

“Oh, ada, beberapa foto dan gambar rancang bangun proyeknya. Mmm… Nanti biar diantar Agus kekantor ya.”

“Boleh, sebelum jam 10 ya.”

“Siap, Bu.”

“Hehehe... Baiklah Pak, untuk sementara itu saja dulu ya. Jangan lupa oleh-oleh, eh emang mau pulang kapan?”

“Nanti aku kabari.”

“Ok deh.”

“Ok. Bye.”

Telepon ditutup. Ran kembali ke kegiatan rutinnya.

Jam setengah sepuluh, Pak Wardoyo datang dari breakfast meeting dengan kolega.

“Sayangku…” Teriaknya begitu masuk kantor.

“Dari mana Pak?” Ran bertanya dari balik meja. Tersenyum melihat wajah Pak Wardoyo yang sumringah.

“Eh, ada kabar baik buat kamu.” Pak Wardoyo memberi kode Ran untuk masuk ke ruangannya.

“Ada apa Pak?” Ran duduk didepan Pak War.

“Besok kamu ke surabaya, Buk Mar nanti yang siapin akomodasinya. Ada expo yang kamu harus datangi…” Ran menahan nafas.

“Surabaya?” Ran garuk-garuk kepala. “Kok nggak bali sekalian, Pak?” bibir gadis itu mengerucut.

“Weleh, kan biasa Resti yang pergi, sekarang dia lagi hamil, jadi kamu aja yang pergi. Semua yang diperlukan buat Expo dikirim lewat ekspedisi, nanti ada yang bantu kamu disana, tiga hari dua malam minimal, tiga malam empat hari maksimal, belum termasuk perjalanan.” Pak War menyodorkan berkas dalam map hitam. “Simpan, besok bawa ke Surabaya!” lanjutnya.

“Mendadak banget Pak.” Masih merengut.

“Enggak mendadak sih, udah setengah bulan lalu infonya, tapi lupa aku kemarin.” Tanpa merasa bersalah Pak Wardoyo malah tertawa.

“Astagaaa…” Ran mengelus dada. “Iya deh nanti Ran pikirin.” Kata Ran sambil ngeloyor keluar.

Perjalanan dinas pertama Ran. Seharusnya menyenangkan sih, tapi jauh dari Lian adalah sesuatu yang terasa aneh, setelah hampir tiga bulan ini mereka sering bertemu. Suara pintu diketuk, terlihat dari jendela seorang lelaki muda berdiri sambil membawa amplop cokelat. Karyawan Don Jean.

“Masuk!” Ran setengah teriak. Pintu didorong dengan mudah.

“Permisi, Mbak Ran.” Lelaki itu menyapa.

“Owh Mas Agus, silakan mas.” Ran berdiri mempersilakan.

“Ini buat lampiran invoice, kata Mas Lian suruh kasih Mbak Ran.” Agus berkata canggung.

“Iya, terima kasih banyak ya Mas.” Agus pamit.

Seharusnya amplop itu bukan untuk Ran, dua amplop tergeletak diatas meja, warna amplop yang sama. Apalah yang diketahui Agus mengenai lampiran, ia hanya ditugaskan untuk mengambil amplop diatas meja kerja Lian dan mengantarkannya ke kantor Ran.

Lian mungkin lupa, jika amplop yang seharusnya untuk Ran, tertimpa blue print proyek yang lain hingga sama sekali tidak kelihatan. Lian juga mungkin lupa, kalau malam itu ia telah membuka lagi amplop cokelat yang datang lebih dari setahun yang lalu itu. Lian benar-benar lupa jika belum menyimpan amplop itu ketempat yang semestinya. Malang sekali bagi Ran, karena ia ikut-ikutan melihat isi amplop itu.

Ran memasukkan tangannnya dan menarik selembar foto. Seketika jantungnya terasa berhenti berdetak, kemudian tiba-tiba berdetak dengan amat kencangnya. Foto seorang Gadis cantik, sangat cantik, berkulit bersih seputih kapas, rambut hitam tergerai indah, bibir indah dengan polesan lipstick pink, dan sepasang mata sipit oriental, tengah memeluk seorang pria yang duduk didepannya. Wajah keduanya terlihat bahagia. Kedua lengan gadis itu terjulur kedepan menyilang didada sang pria dan kedua lengan itu digenggam dengan lembut oleh sepuluh jari ramping dan panjang-panjang. Berlatar sebuah wahana permainan yang entah dimana. Keduanya terlihat bahagia, sangat bahagia. Tapi entah mengapa Ran tidak suka dengan kebahagiaan itu.

Kedua tangannya gemetar, menuangkan seluruh isi amplop keatas mejanya. Dan benda kecil tipis itu jatuh tepat didepan matanya. Sebuah benda yang seperti plastic, berwarna putih dengan kombinasi warna biru, dengan sedikit huruf, dan dua garis berwarna merah. Ran menahan nafas, menutup mulutnya dengan kedua tangan ketika satu-persatu air mata jatuh dari pelupuk matanya.

Sepuluh lembar foto dengan orang yang sama, tempat yang berbeda-beda, bahkan salah satunya memperlihatkan bahwa dua orang itu bukan hanya sepasang teman. Teman tidak memeluk seerat itu, teman tidak sedekat itu, hingga dahi dan hidungnya bertemu, teman tidak seperti ini. Air matanya semakin deras, bukan karean cemburu dengan foto-foto itu, tapi lebih karena benda kecil yang bermakna besar. Jika gadis dalam foto itu hamil, berarti Lian akan jadi seorang ayah. Kapan? Kapan Lian menjadi seorang ayah?

Jika bisa dikatakan, tentu Ran akan mengatakan apa yang dia rasakan. Jika bisa didefiniskan, Ran pasti akan dengan mudah mempersonifikasikan perasaannya. Tapi hatinya benar-benar kebas. Apakah Lian adalah salah satu dari segelintir lelaki yang hanya mencari kesenangan sesaat saja? Setelah kisahnya dengan gadis itu berakhir dengan kehamilan, ia lari, dan kini menjeratnya dalam tipuan baru? Mengapa? Mengapa Lian?

Ran mengusap air matanya. Bersyukur bahwa Tuhan menunjukkan segalanya sekarang. Dengan tangan gemetar dan hati remuk redam, Ran memasukkan kembali foto-foto itu kedalam amplop, juga benda kecil itu. Melipat ujungnya dan mengamankannya lagi dengan empat staples sepanjang bibir amplop. Mengapa? Mengapa Lian berbohong?

Gemetar, tangan Ran meraih ponsel dan mengetikkan pesan untuk Lian.

Pak, Filenya salah, kayaknya yang seharusnya dikasih masih ada dikantor deh, asap ya, minta salah satu anak buah antar. Trims.

Ran mengirimkan pesan pada Lian. Bergegas keruangan Pak Wardoyo.

“Pak…Fix nih ya, besok aku berangkat ke Surabaya?”

“Fix doong, bilang Buk Mar, minta booking tiket buat besok.” Pak War gagal mendeteksi roman wajah Ran yang mendadak mendung, seperti cuaca diluar.

Ran bergegas ke meja Buk Mar. Ia tidak ingin pergi, tapi ia ingin sejenak lepas dari Lian.
“Buk Mar, tolong booking pesawat pertama besok ya Bu, yang buat Surabaya Expo itu.” Suara Ran bergetar. Dadanya hampir meledak menahan tangis.

“Siab, Ran.” Buk Mar juga gagal melihat air mata yang nyaris tumpah ke luar.

Terpekur sendirian, Ran berusaha menguatkan hatinya, ia sama sekali belum mendengar penjelasan apapun dari Lian, tapi ia tidak ingin dengar. Segalanya terlihat jelas. Melewatkan makan siang, Ran akhirnya kembali bertemu dengan Agus yang mungkin dikirim Lian untuk memberikan dokumen yang sebenarnya.

“Maaf, Mbak Ran, Mas Lian sendiri lupa naruhnya dimana, kirain amplop yang itu, ternyata yang ini Mbak.” Agus mengulurkan sebuah amplop yang berwarna sama. Ran membuka amplop itu dan mengintipnya sekilas. Kali ini amplop yang benar.

“Nggak papa Mas, Terima kasih banyak aku sama Mas Agus.” Ran mengulurkan amplop pertama. “Tolong langsung diberikan pada Mas Lian ya, Mas.” Ran tersenyum. Terpaksa.

“Siap Mbak. Permisi.”

Agus berlalu, tapi sakit dihati Ran tidak mau pergi bersama perginya foto-foto yang sempat membuat jantungnya seolah kehilangan detakkan itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar