Selasa, 11 Desember 2018

Sang Pelukis Hati (11)


Bab. XI

Hujan deras mengguyur seluruh ibu kota, petir bersahut-sahutan, udara dingin berhembus menusuk tulang.
Ran bergelung diatas ranjangnya sejak pulang kerja. Memakai piyama sejak jam 5 sore, tidak berniat pergi mencari makan malam, untuk apa? perutnya bahkan tidak merasakan lapar sejak siang tadi.

Sebuah tas ransel menggembung, teronggok di sebelah kakinya. Boarding pass pesawat paling pagi menuju Surabaya sudah terselip dikantong yang paling depan. Ran tidur meringkuk memeluk guling menghadap tembok, matanya terbuka, tapi ia tidak melihat, telinganya tak mendengar dan kulitnya tak merasakan hawa dingin yang masuk melalui kisi-kisi jendela. Tubuh itu seperti membeku. Jika tidak melihat dadanya yang turun naik, orang pasti mengira gadis itu sudah tinggal nama.

Sesekali berkedip, ketika air mata hendak tertumpah lagi. Sesekali berkedip ketika jalan pikirannya tidak lagi memberikan penjelasan yang masuk akal, berkedip lagi ketika ia salah memperkirakan masa lalu yang telah terjadi tanpa ia ketahui, berkedip lagi ketika wajah Lian lagi-lagi memenuhi kepalanya.

Ran menantikan penjelasan, tapi semua bukti-bukti itu telah berbicara jelas. Lian memiliki kekasih lain selain dirinya, dan gadis itu sekarang sedang hamil, dan pastinya mengandung darah daging Lian. Entah sudah berapa bulan. Memikirkan itu membuat tenggorokan Ran tercekat lagi, rasanya tidak bisa bernafas, rasanya ingin berteriak, ingin melayangkan tangannya ke wajah Lian, ingin mendorong, meninju wajah tampan yang mulai membuatnya hilang kewarasan itu. Gadis itu terisak, menggigit ujung sarung gulingnya.

Apakah dia adalah si pihak ketiga, yang menyebabkan Lian berpisah dengan gadis itu? Ran benar-benar merasa sakit. Seluruh tubuhnya serasa kesemutan. Jari-jemari tangannya mencengkeram guling kuat-kuat.

Ran membutuhkan penjelasan, dan saat hal itu benar-benar jelas, tentu saja dia akan suka rela untuk mundur, Gadis itu mendapatkan prioritas utama. Tidak peduli apakah kehamilan itu adalah buah dari sebuak kecelakaan yang tidak diinginkan, atau sebuah permainan. Selama Lian tidak bisa membuktikan kalau janin itu bukan anakknya, Ran akan melepaskan Lian.

Sebuah kenangan, sebuah masa lalu, tidak akan mungkin bisa dilupakan. Sesakit apapun. Hal itu akan tetap menjadi bagian dari sejarah hidup kita. Meskipun di masa depan nanti kita menjadi orang paling bersinar, diri ini tetap saja mempunyai sebuah titik gelap yang pernah dijalani. Kita tidak bisa lari, kita hanya bisa berdamai dengan semua itu, dan menerimanya dengan lapang dada, sebagai pengalaman, sebagai pembelajaran terbaik dalam hidup. Dan saat kita mengingat hal itu tanpa rasa sakit, itu lah makna sebenarnya dari lupa.

Ran memejamkan matanya, saat merasa hatinya terasa hangat. Merasa menerima kenyataan sebagai bagian dari perjalanan hidupnya.

Mungkin sudah saatnya ia melepaskan sebelum segalanya semakin sulit untuk dihentikan.

“Ran?” suara Meli terdengar disela-sela desisan kedinginan karena kehujanan. Meli baru pulang kerja.

Ran tak bergeming. Berpura-pura tidur. Dan berhasil, Meli tidak lagi merasa ingin tahu, mengapa dia begitu cepat pergi tidur. Dan Ran berusaha untuk tertidur.

“Ran…” sebuah sentuhan lembut terasa dibahu Ran, gadis itu terbangun, membuka matanya yang sembab, menoleh kebelakang.

“Astagaa…” Meli memekik lirih. “Lo kenapa?” buru-buru Meli duduk rapat disebelah Ran yang segera duduk diatas tempat tidur.

Suara petir masih terdengar membahana, hujan masih deras, mungkin besok kebanyakan jalanan ibukota dipenuhi air.

“Lo mau kemana, packing ransel?” Meli merangkul Ran.

“Surabaya, tugas kantor.” Jawab Ran lemah.

“Trus lo berantem sama Lian?” tebakan Meli membuat Ran terkesiap, menatap sahabatnya itu.

“Enggak, katanya dia lagi dibandung.” Kilah Ran, menggosok kedua matanya yang terasa menebal.

“Ada kabar dari kampung?” telisik Meli. Ran menggeleng.

“Ya udah, cepetan cuci muka, itu Lian datang, aku suruh tunggu didepan.”

“Hah?” Seperti terkena gigit semut api. “Hujan-hujan gini?” Ran berdiri mengintip dari jendela kamar. “Tapi katanya dia lagi ada urusan di Bandung…” kata-kata Ran terhenti demi melihat Lian yang berdiri  di beranda menatap hujan.

Rambutnya basah, bajunya basah, wajahnya terlihat memutih, kedinginan. Ran menyusut bulir air yang mulai mengambang dipelupuk matanya. Mengapa harus sesulit ini. Rasanya rumit sekali. Rasanya diaduk-aduk, antara mengusir pergi pria itu dan memeluknya agar tetap tinggal.

“Ran…” Meli berdiri disebelah Ran. “Ronal bahkan belum pernah ngelakuin yang dilakuin Lian ke kamu, Ran. Meskipun kami udah setahun pacaran.” Tangan Meli mengusap rambut Ran yang tergerai. “Kalau ada masalah, selesikan secepatnya, atau keadaannya jadi makin rumit nanti.” Meli menatap Ran yang berkaca-kaca. “Cuci muka, biar aku buatin cokelat panas buat kalian.” Ran menatap Meli, mengangguk.

Ran menemui Lian, dengan handuk tebal ditangannya. Haruskah diragukan lagi, jika dia memang menyayangi Lian?

“Ran…” Desis Lian, segera berdiri saat melihat Ran keluar dari pintu. Aduh, sakitnya hati Lian melihat kedua mata Ran yang sembab, bahkan senyuman riang yang selalu tersungging dibibir gadisnya itu sama sekali tak terlihat. Lian yakin, Ran telah membuat satu kesimpulan yang salah tentang semua foto-foto itu.

Ran tidak menjawab, mengulurkan handuknya pada Lian. Menghindari tatapan mata pria itu.

Lian menerima handuk dari Ran lalu menggosok kepala dan lengannya yang basah kuyup. Ran mengamati dari sudut mata, bgaiamana bulu-bulu halus dilengan Lian serentak berdiri. Pria itu kedinginan untuknya. Hatinya sakit. Melihat seseorang yang menderita karenanya. Tapi hatinya lebih sakit lagi, ketika mengetahui bahwa orang yang ia cintai, menyembunyikan sebuah rahasia besar dari dirinya selama ini.

“Ran, Aku harus menjelaskan ke kamu tentang foto-foto itu.” Lian menggosok kedua telapak tangannya, kedinginan.

“Juga test pack itu.” suara Ran bergetar, menatap Lian yang mulai menggigil. Gadis itu membuka sweater baseball yang dipakainya dan mengulurkannya pada Lian, lalu berpaling, bahkan hingga seluruh tubuhnya bisa dipastikan tidak melihat Lian yang dengan cepat membuka jaket dan kemejanya, menggantinya dengan sweater Ran. Meskipun terlalu besar untuk Ran, ternyata sweater itu sedikit terlalu kecil untuk Lian.

“Sudah.” Lian mendesah, merasakan kehangatan di dalam sweater itu, kehangatan tubuh Ran yang masih tertinggal di dalamnya. Kehangatan gadis yang juga telah menghangatkan hatinya.
Ran memutar badannya. Mendesah.

“Liana…” Lian memulai penjelasannya. Ran diam, menatap air hujan yang jatuh deras mengucur dari ujung atap rumah. “Kami udah lama bersama.” Lian menelan ludah. Ran tak bergeming.

“Aku mengenalnya saat aku bekerja di Surabaya. Kami pacaran selama dua tahun lebih, termasuk masa pedekate. Aku bahkan berencana membawa Liana ke Jakarta untuk bertemu keluargaku. Tapi sebelum hal itu terjadi, aku harus kembali ke Jakarta, ada urusan keluarga. Selama hampir lima bulan aku di Jakarta, hubungan jarak jauh kami tetap baik. Hingga suatu saat nomor ponselnya tidak bisa kuhubungi lagi-.”

“-Saat urusanku di Jakarta selesai, aku kembali ke Surabaya, tapi kostannya sudah kosong, aku berusaha kerumah keluarganya di daerah Kenjeran, tapi rumah itu kosong, menurut tetangga dekat, keluarga itu sedang pergi mengobatkan nenek Liana di Singapura. Dan aku hanya bisa menitipkan nomor telepon rumah di Jakarta, sambil minta tolong buat ngasih kabar, kapanpun mereka kembali.” Lian menghela nafas.

“Tapi tidak pernah ada kabar.” Pria itu menoleh Ran yang hanya terdiam sejak tadi. “Hingga setahun yang lalu, sebuah surat datang. Berisi foto-foto dan test pack itu. Aku benar-benar kaget, dan aku akui memang kami telah melakukan itu…” Lian terdiam menutup matanya, seolah menyesali yang telah terjadi. “…sebalum aku pergi ke Jakarta.” Lian berhenti bicara lagi, menatap Ran yang menatap hujan dengan pandangan hampa. Lian merasakan rasa sakit itu lagi, bahkan jauh lebih sakit dibandingkan rasa yang ia rasakan dulu, dulu sekali, saat ia kehilangan Liana.

“Sekarang anak itu pasti sudah lahir ke dunia.” Desis Ran parau. “Dan sedang mencari bapaknya…” Ran tercekat. Menoleh pada Lian.

“Kalau mau, ibunya tau benar dimana bisa menemukan aku.” Lian menjawab gamang, suaranya lirih tertelan desiran hujan. Keduanya terdiam.

Meli keluar membawakan dua gelas cokelat panas yang masih mengepul. Tanpa berkata-kata, Meli segera kembali kedalam rumah sambil menyentuh ringan bahu Ran.

“Mas nggak kepikiran mau cari anak itu? ketempat yang mungkin disinggahi Liana?” .

Deg. Jantung Lian serasa tak berdetak detik itu juga. Kedua matanya menatap gadis itu lamat-lamat. Disinikah kisah ini harus berakir?

“Aku nggak mau dianggap sebagai penghalang, seandainya Liana sebenarnya sedang menunggu kedatangan mas Lian.” Akhirnya Ran menyusut air mata yang mulai bergulir disudut mata indahnya.

“Ran…” Lian beringsut duduk lebih dekat. “Aku mencari Liana, bukan sehari atau dua hari, bukan sebulan atau dua bulan, aku mencarinya selama ini. Tidak hanya di dunia nyata bahkan hingga dunia maya. Bukan hanya di Jakarta atau Surabaya, tapi hingga Singapura. Aku tidak berhenti, hingga tubuhku sendiri memaksaku berhenti. Sepuluh bulan mencari, sebulan penuh tergeletak dirumah sakit, hingga akhirnya Deril, meyakinkanku untuk berhenti.”

“Sampai kapan? Itu pertanyaan Deril. Yang sekaligus membuatku perlahan berhenti mencari Liana. Karena terkadang, saat kita berhenti mencari, clue nya jadi semakin jelas, perlahan terkuak. Aku hanya perlu meyakini, cepat atau lambat aku dan Liana pasti bertemu.” Lian meraih gelas cokelat dihadapannya, meminumnya tanpa ditawari.

“Bagaimana kalau itu terjadi disaat yang sangat tidak tepat? Ketika mungkin kita sudah menikah dan punya anak, atau saat anak kita hendak menikah tapi ternyata mereka sedarah? Anakku dengan anak Liana? Bagaimana kalau Liana datang, menuntut tanggung jawab mas Lian sedangkan diantara kita sudah ada ikatan pernikahan? Apakah aku harus mengalah saat itu, atau lebih baik aku mundur saat ini juga?”

Ran menyusut air matanya lagi. “Meski aku tidak mengenalnya, aku tidak mau menyakiti hatinya dengan merebut Mas Lian darinya.”

“Tidak ada yang diperebutkan!” Lian mendesah. “Hebat sekali aku kalau sampai kalian perebutkan. Kenyataannya adalah Liana meninggalkan aku, menganggapku tidak berguna bahkan tidak berarti baginya. Jika tidak mengapa tidak menyusulku? Mengapa bersembunyi dariku? Mengapa?” kini dada Lian yang sesak. Merasa benci pada dirinya sendiri.

“Kalian makhluk yang sama bukan? Katakan padaku Ran, Apa yang bisa membuat kalian meninggalkan ayah dari bayi kalian sendiri?” Lian menatap Ran tajam. “Apa yang bisa membuat kalian tega melakukan itu?”

Ran terdiam, menatap mata Lian yang jelas terlihat luka. Baginya, memang tidak ada alasan untuk meninggalkan orang yang telah menanam benih dalam rahimu. Kecuali dia dipaksa untuk meninggalkannya.

“Keluarga Liana mungkin…”

“Aku bahkan sudah mendapatkan restu dari kedua orang tua dan keluarga besar Liana, apa lagi? Tidak mungkin mereka menyembunyikan Liana dariku yang jelas-jelas menginginkan Liana sebagai pendamping hidup, bukan sekedar teman atau pacar biasa.”

“Aku bertemu denganmu, Ran. Dan setiap hari yang kupikirkan adalah bagaimana caranya untuk menjelaskan padamu tentang masa laluku. Deril juga yang menyarankan padaku untuk mengubur masa lalu dalam-dalam, dan memulai cerita yang baru bersamamu, tapi kesalahan itu menghantuiku, hingga aku mengeluarkan amplop itu lagi, setelah sekian lama berulang kali berfikir, haruskah kau tau apa yang selama ini menghantuiku? Haruskah kau ikut menanggung penderitaan yang seharusnya aku sendiri yang merasakan? Katakan padaku Ran, apa yang harus aku lakukan agar kita bisa tetap melangkah bersama!”

Ran masih menatap Lian, seolah merasakan apa yang dirasakan pria dihadapannya itu. Ketika cintamu yang begitu besar, diabaikan begitu saja, seperti inikah rasanya?

“Lalu, aku harus gimana, Mas?” Ran mengerang. Menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Ran…” Lian memegang kedua tangan Ran, menurunkannya dari wajah yang dialiri air mata. Sakit sekali rasanya melihat gadis itu menangis, dan tangis itu hadir karena dirinya. “Silakan kamu anggap aku bohong, atau modus, atau terserah apapun, Aku ingin bilang kalau perasaanku sama kamu itu lain, Ran. Tidak seperti rasanya mencintai Liana. Aku…” Lian berhenti. Menatap wajah sayu yang tengah terisak pelan dihadapannya. “Kalau perasaan itu bertepuk sebelah tangan, aku bisa apa.” Sebelah tangan Lian mengenggam tangan Ran, sebelah lagi mengusap air mata dipipi gadis itu.

“Aku tidak mampu menjanjikanmu kebahagiaan, atau senyuman sepanjang hubungan kita, aku hanya mampu berjanji untuk tetap berusaha membuatmu bahagia.”

Lian melepaskan tangannya. Menyerahkan keputusan kepada Ran. Dia tidak berhak memaksa, meski yang dia inginkan sekarang hanyalah Ran, ingin Ran mengerti, ingin Ran memahami, ingin Ran mendukungnya, tapi ia tidak bisa memaksa. Apalah artinya menyanding gadis itu, jika hanya menyebabkan luka hati yang menganga dalam kehidupan mereka nantinya.

“Beri aku waktu, Mas.” Ran berbisik.

Lian sudah menduganya. Inilah tapal batas yang akan mengantarkan kisahnya kali ini. Berakhir sedih atau bahagia.

Lian mengangguk. “Tapi tolong jangan menghindar dariku, Ran. Tolong biarkan aku melakukan apa yang biasanya aku lakukan.” Ran mengangguk.

Hujan masih gerimis, tapi Guntur tak lagi terdengar garang. Seperti suasana hati Ran yang perlahan luruh, entah, tidak ada rasanya. Lian bangkit, mengambil kemeja dan bajunya yang basah. Berpamitan.

“Masuklah, aku pulang sekarang.” Desis Lian.

Ran masih menatap Lian yang setengah basah, setengah kering, rasanya pasti dingin sekali, seperti hatinya.
Gadis itu mengangguk, mengambil dua gelas cokelat yang masih setengah, membawanya masuk ke dalam rumah. Ran berjalan ke dalam kamarnya, sementara Lian berjalan gontai ke luar halaman, ketempat ia memarkirkan motor pinjamannya.

Ran meremas kedua tangannya, berusaha keras untuk tidak berlari dan memeluk tubuh orang yang memunggunginya itu. Apakah nama dari perasaan seprti itu jika bukan cinta? Lian hari itu meminjam lagi motor matic Agus, menekan klakson ringan sekali dan melihat sekilas ke jendela kamar Ran yang gelap. Akhirnya semua tumpah didepan Meli.



(To Be continue yah.... )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar