Bab. XI
Hujan
deras mengguyur seluruh ibu kota, petir bersahut-sahutan, udara dingin
berhembus menusuk tulang.
Ran
bergelung diatas ranjangnya sejak pulang kerja. Memakai piyama sejak jam 5
sore, tidak berniat pergi mencari makan malam, untuk apa? perutnya bahkan tidak
merasakan lapar sejak siang tadi.
Sebuah
tas ransel menggembung, teronggok di sebelah kakinya. Boarding pass pesawat
paling pagi menuju Surabaya sudah terselip dikantong yang paling depan. Ran
tidur meringkuk memeluk guling menghadap tembok, matanya terbuka, tapi ia tidak
melihat, telinganya tak mendengar dan kulitnya tak merasakan hawa dingin yang
masuk melalui kisi-kisi jendela. Tubuh itu seperti membeku. Jika tidak melihat
dadanya yang turun naik, orang pasti mengira gadis itu sudah tinggal nama.
Sesekali
berkedip, ketika air mata hendak tertumpah lagi. Sesekali berkedip ketika jalan
pikirannya tidak lagi memberikan penjelasan yang masuk akal, berkedip lagi
ketika ia salah memperkirakan masa lalu yang telah terjadi tanpa ia ketahui,
berkedip lagi ketika wajah Lian lagi-lagi memenuhi kepalanya.
Ran
menantikan penjelasan, tapi semua bukti-bukti itu telah berbicara jelas. Lian
memiliki kekasih lain selain dirinya, dan gadis itu sekarang sedang hamil, dan
pastinya mengandung darah daging Lian. Entah sudah berapa bulan. Memikirkan itu
membuat tenggorokan Ran tercekat lagi, rasanya tidak bisa bernafas, rasanya
ingin berteriak, ingin melayangkan tangannya ke wajah Lian, ingin mendorong,
meninju wajah tampan yang mulai membuatnya hilang kewarasan itu. Gadis itu
terisak, menggigit ujung sarung gulingnya.
Apakah
dia adalah si pihak ketiga, yang menyebabkan Lian berpisah dengan gadis itu? Ran
benar-benar merasa sakit. Seluruh tubuhnya serasa kesemutan. Jari-jemari
tangannya mencengkeram guling kuat-kuat.
Ran
membutuhkan penjelasan, dan saat hal itu benar-benar jelas, tentu saja dia akan
suka rela untuk mundur, Gadis itu mendapatkan prioritas utama. Tidak peduli
apakah kehamilan itu adalah buah dari sebuak kecelakaan yang tidak diinginkan,
atau sebuah permainan. Selama Lian tidak bisa membuktikan kalau janin itu bukan
anakknya, Ran akan melepaskan Lian.
Ran
memejamkan matanya, saat merasa hatinya terasa hangat. Merasa menerima
kenyataan sebagai bagian dari perjalanan hidupnya.
Mungkin
sudah saatnya ia melepaskan sebelum segalanya semakin sulit untuk dihentikan.
“Ran?”
suara Meli terdengar disela-sela desisan kedinginan karena kehujanan. Meli baru
pulang kerja.
Ran
tak bergeming. Berpura-pura tidur. Dan berhasil, Meli tidak lagi merasa ingin
tahu, mengapa dia begitu cepat pergi tidur. Dan Ran berusaha untuk tertidur.
“Ran…”
sebuah sentuhan lembut terasa dibahu Ran, gadis itu terbangun, membuka matanya
yang sembab, menoleh kebelakang.
“Astagaa…”
Meli memekik lirih. “Lo kenapa?” buru-buru Meli duduk rapat disebelah Ran yang
segera duduk diatas tempat tidur.
Suara
petir masih terdengar membahana, hujan masih deras, mungkin besok kebanyakan
jalanan ibukota dipenuhi air.
“Lo
mau kemana, packing ransel?” Meli merangkul Ran.
“Surabaya,
tugas kantor.” Jawab Ran lemah.
“Trus
lo berantem sama Lian?” tebakan Meli membuat Ran terkesiap, menatap sahabatnya
itu.
“Enggak,
katanya dia lagi dibandung.” Kilah Ran, menggosok kedua matanya yang terasa
menebal.
“Ya
udah, cepetan cuci muka, itu Lian datang, aku suruh tunggu didepan.”
Rambutnya
basah, bajunya basah, wajahnya terlihat memutih, kedinginan. Ran
menyusut bulir air yang mulai mengambang dipelupuk matanya. Mengapa harus
sesulit ini. Rasanya rumit sekali. Rasanya diaduk-aduk, antara mengusir pergi
pria itu dan memeluknya agar tetap tinggal.
“Ran…”
Meli berdiri disebelah Ran. “Ronal bahkan belum pernah ngelakuin yang dilakuin
Lian ke kamu, Ran. Meskipun kami udah setahun pacaran.” Tangan Meli mengusap
rambut Ran yang tergerai. “Kalau ada masalah, selesikan secepatnya, atau
keadaannya jadi makin rumit nanti.” Meli menatap Ran yang berkaca-kaca. “Cuci
muka, biar aku buatin cokelat panas buat kalian.” Ran
menatap Meli, mengangguk.
Ran
menemui Lian, dengan handuk tebal ditangannya. Haruskah diragukan lagi, jika
dia memang menyayangi Lian?
“Ran…”
Desis Lian, segera berdiri saat melihat Ran keluar dari pintu. Aduh, sakitnya
hati Lian melihat kedua mata Ran yang sembab, bahkan senyuman riang yang selalu
tersungging dibibir gadisnya itu sama sekali tak terlihat. Lian yakin, Ran
telah membuat satu kesimpulan yang salah tentang semua foto-foto itu.
Ran
tidak menjawab, mengulurkan handuknya pada Lian. Menghindari tatapan mata pria
itu.
Lian
menerima handuk dari Ran lalu menggosok kepala dan lengannya yang basah kuyup.
Ran mengamati dari sudut mata, bgaiamana bulu-bulu halus dilengan Lian serentak
berdiri. Pria itu kedinginan untuknya. Hatinya sakit. Melihat seseorang yang
menderita karenanya. Tapi hatinya lebih sakit lagi, ketika mengetahui bahwa
orang yang ia cintai, menyembunyikan sebuah rahasia besar dari dirinya selama
ini.
“Juga
test pack itu.” suara Ran bergetar, menatap Lian yang mulai menggigil. Gadis
itu membuka sweater baseball yang dipakainya dan mengulurkannya pada Lian, lalu
berpaling, bahkan hingga seluruh tubuhnya bisa dipastikan tidak melihat Lian
yang dengan cepat membuka jaket dan kemejanya, menggantinya dengan sweater Ran. Meskipun
terlalu besar untuk Ran, ternyata sweater itu sedikit terlalu kecil untuk Lian.
“Sudah.”
Lian mendesah, merasakan kehangatan di dalam sweater itu, kehangatan tubuh Ran
yang masih tertinggal di dalamnya. Kehangatan gadis yang juga telah
menghangatkan hatinya.
Ran
memutar badannya. Mendesah.
“Liana…”
Lian memulai penjelasannya. Ran diam, menatap air hujan yang jatuh deras
mengucur dari ujung atap rumah. “Kami udah lama bersama.” Lian menelan ludah.
Ran tak bergeming.
“Aku
mengenalnya saat aku bekerja di Surabaya. Kami pacaran selama dua tahun lebih,
termasuk masa pedekate. Aku bahkan berencana membawa Liana ke Jakarta untuk
bertemu keluargaku. Tapi sebelum hal itu terjadi, aku harus kembali ke Jakarta,
ada urusan keluarga. Selama hampir lima bulan aku di Jakarta, hubungan jarak
jauh kami tetap baik. Hingga suatu saat nomor ponselnya tidak bisa kuhubungi
lagi-.”
“Tapi
tidak pernah ada kabar.” Pria itu menoleh Ran yang hanya terdiam sejak tadi. “Hingga
setahun yang lalu, sebuah surat datang. Berisi foto-foto dan test pack itu. Aku
benar-benar kaget, dan aku akui memang kami telah melakukan itu…” Lian terdiam
menutup matanya, seolah menyesali yang telah terjadi. “…sebalum aku pergi ke
Jakarta.” Lian berhenti bicara lagi, menatap Ran yang menatap hujan dengan
pandangan hampa. Lian merasakan rasa sakit itu lagi, bahkan jauh lebih sakit
dibandingkan rasa yang ia rasakan dulu, dulu sekali, saat ia kehilangan Liana.
“Sekarang
anak itu pasti sudah lahir ke dunia.” Desis Ran parau. “Dan sedang mencari
bapaknya…” Ran tercekat. Menoleh pada Lian.
“Kalau
mau, ibunya tau benar dimana bisa menemukan aku.” Lian menjawab gamang,
suaranya lirih tertelan desiran hujan. Keduanya terdiam.
Meli
keluar membawakan dua gelas cokelat panas yang masih mengepul. Tanpa
berkata-kata, Meli segera kembali kedalam rumah sambil menyentuh ringan bahu
Ran.
“Mas
nggak kepikiran mau cari anak itu? ketempat yang mungkin disinggahi Liana?” .
Deg.
Jantung Lian serasa tak berdetak detik itu juga. Kedua matanya menatap gadis
itu lamat-lamat. Disinikah kisah ini harus berakir?
“Ran…”
Lian beringsut duduk lebih dekat. “Aku mencari Liana, bukan sehari atau dua
hari, bukan sebulan atau dua bulan, aku mencarinya selama ini. Tidak hanya di
dunia nyata bahkan hingga dunia maya. Bukan hanya di Jakarta atau Surabaya,
tapi hingga Singapura. Aku tidak berhenti, hingga tubuhku sendiri memaksaku
berhenti. Sepuluh
bulan mencari, sebulan penuh tergeletak dirumah sakit, hingga akhirnya Deril,
meyakinkanku untuk berhenti.”
“Sampai
kapan? Itu pertanyaan Deril. Yang sekaligus membuatku perlahan berhenti mencari
Liana. Karena terkadang, saat kita berhenti mencari, clue nya jadi semakin
jelas, perlahan terkuak. Aku hanya perlu meyakini, cepat atau lambat aku dan
Liana pasti bertemu.” Lian meraih gelas cokelat dihadapannya, meminumnya tanpa
ditawari.
“Bagaimana
kalau itu terjadi disaat yang sangat tidak tepat? Ketika mungkin kita sudah
menikah dan punya anak, atau saat anak kita hendak menikah tapi ternyata mereka
sedarah? Anakku dengan anak Liana? Bagaimana kalau Liana datang, menuntut
tanggung jawab mas Lian sedangkan diantara kita sudah ada ikatan pernikahan?
Apakah aku harus mengalah saat itu, atau lebih baik aku mundur saat ini juga?”
Ran
menyusut air matanya lagi. “Meski aku tidak mengenalnya, aku tidak mau
menyakiti hatinya dengan merebut Mas Lian darinya.”
“Tidak
ada yang diperebutkan!” Lian mendesah. “Hebat sekali aku kalau sampai kalian
perebutkan. Kenyataannya adalah Liana meninggalkan aku, menganggapku tidak
berguna bahkan tidak berarti baginya. Jika tidak mengapa tidak menyusulku?
Mengapa bersembunyi dariku? Mengapa?” kini dada Lian yang sesak. Merasa benci
pada dirinya sendiri.
“Keluarga
Liana mungkin…”
“Aku
bahkan sudah mendapatkan restu dari kedua orang tua dan keluarga besar Liana,
apa lagi? Tidak mungkin mereka menyembunyikan Liana dariku yang jelas-jelas
menginginkan Liana sebagai pendamping hidup, bukan sekedar teman atau pacar
biasa.”
“Aku
bertemu denganmu, Ran. Dan setiap hari yang kupikirkan adalah bagaimana caranya
untuk menjelaskan padamu tentang masa laluku. Deril juga yang menyarankan
padaku untuk mengubur masa lalu dalam-dalam, dan memulai cerita yang baru
bersamamu, tapi kesalahan itu menghantuiku, hingga aku mengeluarkan amplop itu
lagi, setelah sekian lama berulang kali berfikir, haruskah kau tau apa yang
selama ini menghantuiku? Haruskah kau ikut menanggung penderitaan yang
seharusnya aku sendiri yang merasakan? Katakan padaku Ran, apa yang harus aku
lakukan agar kita bisa tetap melangkah bersama!”
Ran
masih menatap Lian, seolah merasakan apa yang dirasakan pria dihadapannya itu.
Ketika cintamu yang begitu besar, diabaikan begitu saja, seperti inikah
rasanya?
“Lalu,
aku harus gimana, Mas?” Ran mengerang. Menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Ran…”
Lian memegang kedua tangan Ran, menurunkannya dari wajah yang dialiri air mata.
Sakit sekali rasanya melihat gadis itu menangis, dan tangis itu hadir karena
dirinya. “Silakan kamu anggap aku bohong, atau modus, atau terserah apapun, Aku
ingin bilang kalau perasaanku sama kamu itu lain, Ran. Tidak seperti rasanya
mencintai Liana. Aku…” Lian berhenti. Menatap wajah sayu yang tengah terisak
pelan dihadapannya. “Kalau perasaan itu bertepuk sebelah tangan, aku bisa apa.”
Sebelah tangan Lian mengenggam tangan Ran, sebelah lagi mengusap air mata
dipipi gadis itu.
“Aku
tidak mampu menjanjikanmu kebahagiaan, atau senyuman sepanjang hubungan kita,
aku hanya mampu berjanji untuk tetap berusaha membuatmu bahagia.”
Lian
melepaskan tangannya. Menyerahkan keputusan kepada Ran. Dia tidak berhak
memaksa, meski yang dia inginkan sekarang hanyalah Ran, ingin Ran mengerti,
ingin Ran memahami, ingin Ran mendukungnya, tapi ia tidak bisa memaksa. Apalah
artinya menyanding gadis itu, jika hanya menyebabkan luka hati yang menganga
dalam kehidupan mereka nantinya.
“Beri
aku waktu, Mas.” Ran berbisik.
Lian
sudah menduganya. Inilah tapal batas yang akan mengantarkan kisahnya kali ini.
Berakhir sedih atau bahagia.
Lian
mengangguk. “Tapi tolong jangan menghindar dariku, Ran. Tolong biarkan aku
melakukan apa yang biasanya aku lakukan.” Ran
mengangguk.
Hujan
masih gerimis, tapi Guntur tak lagi terdengar garang. Seperti suasana hati Ran
yang perlahan luruh, entah, tidak ada rasanya. Lian
bangkit, mengambil kemeja dan bajunya yang basah. Berpamitan.
“Masuklah,
aku pulang sekarang.” Desis Lian.
Ran
masih menatap Lian yang setengah basah, setengah kering, rasanya pasti dingin
sekali, seperti hatinya.
Gadis itu mengangguk, mengambil dua gelas cokelat yang masih setengah, membawanya masuk
ke dalam rumah. Ran berjalan ke dalam kamarnya, sementara Lian berjalan gontai
ke luar halaman, ketempat ia memarkirkan motor pinjamannya.
Ran
meremas kedua tangannya, berusaha keras untuk tidak berlari dan memeluk tubuh
orang yang memunggunginya itu. Apakah nama dari perasaan seprti itu jika bukan
cinta? Lian hari itu meminjam lagi motor matic Agus, menekan klakson ringan
sekali dan melihat sekilas ke jendela kamar Ran yang gelap. Akhirnya
semua tumpah didepan Meli.
(To Be continue yah.... )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar