Ternyata bab ini ketinggalan, supaya tidak terlalu lama mencari... let cekidot pals...
Bab. IX
Meskipun
kini telah hadir kejelasan tentang hubungan Lian dengan Gadis itu , tak lantas
membuat Lian kehilangan kendali atas tingkah lakunya. Pria itu tetap seperti
biasa, dewasa dan menjaga setiap gerak-geriknya, tidak lantas mencari
kesempatan untuk berdekat-dekatan dengan Ran, apalagi bersentuhan yang
berlebihan, Lian benar-benar menjaga pilihan hatinya, komitmennya.
Saat
semua orang tertidur, Lian duduk sendirian ditepian pantai. Memandang jauh
kelutan lepas yang berdebur perlahan. Jemarinya mempermainkan gelang tali
berbandul bulan bintang dipergelangan tangannya. Gelang yang seolah telah
mengikat hatinya hanya untuk satu nama, namun begitu saja meninggalkannya tanpa
kepastian. Lian tidak akan pernah bisa melupakan Liana, gadis itu telah menjadi
bagian dari hidupnya, pernah mengisi hari-harinya hingga dua tahun lamanya.
Bertengkar, berbaikan, kesedihan, kebahagiaan, silih berganti dalam hubungan
mereka. Tidak mungkin dilupakan.
Tapi
kini satu sosok hadir. Seperti matahari, menerangi ruangan gelap dalam hatinya
dengan kesederhanaan dan keceriaan. Dan dengan keegoisannya, telah menarik
matahari itu masuk kedunianya yang samar-samar. Separuh hatinya berkata untuk
tetap mencari Liana, sampai kapanpun. Separuhnya lagi berbisik agar mulai
sepenuhnya mencintai Ran, matahari hatinya. Dan ia akan terus mancari dengan
tetap belajar menjadikan Ran satu-satunya. Jikalau Liana kembali, tangannya
akan tetap terbuka, tapi bukan untuk bersama, seperti dulu kala.
Gontai.
Pria itu berjalan perlahan, mendekati bungalow, dimana kekasihnya tidur didalam
sleeping bag. Seperti kepompong, hanya terlihat wajahnya saja. Lian duduk di
bawah bungalow, tepat disebelah Ran. Menatap wajah polos gadis itu saat
tertidur. Terlihat tenang dan damai. Berbeda jauh dengan wajahnya saat
terbangun, selalu tersenyum, nyengir, melucu, seolah mengajak semua orang untuk
berbahagia bersamanya. Wajah ketakutannya, kecemasannya, bahkan marah, sangat
sulit dipancing keluar, tapi mudah sekali menghilang. Semakin memandang wajah
Ran, semakin Lian merasakan keyakinan dalam dirinya.
Tertidur
sejak pukul 2 malam, Ran dikejutkan dengan percikan air dingin diwajahnya. Ia
membuka mata dan melihat Lian berjongkok dihadapannya, dibawah bungalow.
“Subuh.”
Pria itu berbisik. Wajahnya cerah, rambutnya basah, aroma wangi khas Lian
menguar.
Ran
menggeleng, duduk memeluk lututnya. Udara dingin masih terasa, langit masih
gelap. Teman-temannya masih terlelap dalam kantong tidur masing-masing. Ran
mengedarkan pandangan, Terlihat Arlen juga sudah bangun. Masih memakai jaket
tebal, menyalakan api lagi.
“Mas
Lian tidur jam berapa?” tanya Ran. Teringat masih melihat Lian berbincang
dengan Ronal dan Arlen saat ia berpamitan tidur.
“Mmm,
Jam berapa ya, lupa.” Lian memasang wajah bingung. “Tapi tidur kok. Gak usah
khawatir gitu.” Lian tersenyum.
Gadis
itu menatap Lian yang memang sama sekali tidak terlihat lelah. Masih segar,
masih steady, tapi itu sekarang. Bagaimana jam pulang nanti. Ran
mengedikkan bahu lalu bergegas keluar dari kantong tidurnya, meraih tas dan
mengeluarkan sebuah bungkusan plastic, dan baju ganti.
“Mau
mandi.” Bisiknya pada Lian lalu bergegas ke kamar mandi disudut bungalow.
Tepat
jam sembilan, rombongan itu meninggalkan pantai anyer. Sopir APV baru saja bangun,
tapi sopir Fortuner, entah berapa jam dia tidur semalam. Ran
menatap Lian yang sudah siap dibelakang kemudi. Terlihat tetap segar bugar apalagi
setelah menghabiskan satu mug kopi hitam yang dibuat Arlen sebelum sarapan.
Gadis itu menguap, meski sudah tidur 3 jam rasanya kelopak matanya sangat
berat.
“Tidur
aja.” Perintah Lian.
Ran
menggeleng. Dia tidak akan membiarkan sopir kurang tidurnya mengemudi sendirian.
Seandainya saja ia bisa meminum segelas kopi pagi ini, matanya pasti lebih
lebar terbuka. Lian yang mengambil jatah kopinya, gara-gara Meli mengingatkan
bahwa kopi membuat asam lambungnya naik.
Benarlah
perkiraan Riko, jam dua belas mereka sampai di kostan. Para pria membongkar
muatan, para Gadis mempersiapkan makan siang yang mereka beli diperjalanan
tadi. Suasana
masih menyenangkan seperti di pantai, tikar digelar dihalaman, dibawah pohon
mangga rimbun yang buahnya mulai membesar. Kotak-kotak makan siang ditata
melingkar, buah dan minuman ringan diletakkan ditengah. Arlen mulai memainkan
gitar lagi.
Namun
keceriaan itu tidak bertahan lama. Karena Diyah tiba-tiba berteriak dari dalam
kamarnya. Memanggil-manggil nama Devi. Semua orang berhamburan masuk, peraturan
yang melarang pria masuk ke rumah mereka mendadak dilupakan oleh semua orang.
Devi
tergeletak di kamar mandi, wajahnya pucat, bibirnya membiru, rambut dan bajunya
basah. Darah mengalir dari pergelangan tangannya. Sebilah mata cutter
tergeletak dilantai. Rumah
kost itu gempar. Lian,
Arlen, Riko dan Ronal masuk ke kamar mandi, membebat pergelangan tangan Devi
dengan kain, lalu mengangkat tubuh lemah itu ke mobil, disaksikan beberapa
tetangga yang kebetulan lewat didepan rumah, pulang dari masjid. Ran, Meli, dan
Rosa ikut mengantar ke rumah sakit, sisanya menunggu dirumah.
Devi
dibawa ke ruang UGD, diberi pertolongan pertama. Ran yang pucat terpaksa harus
ditarik duduk diruang tunggu oleh Lian, Gadis itu hampir pingsan.
“Ya
ampuun, darahnya banyak banget.” tubuh Ran gemetaran menutup kedua mata
rapat-rapat. Kedua tangannya dingin.
“Dia
gak tahan lihat darah banyak.” Meli menatap Lian yang terlihat sedikit panik.
Pria itu berlutut didepan Ran, menggosok lengan Ran lembut.
“Ran…”
Rosa mendekat, mengulurkan ponsel. “Perusahaannya nolak bayarin biaya
pengobatan, karena percobaan bunuh diri tidak masuk dalam pertanggungan.”
Katanya.
“Halo.
Iya bu, Maaf ini dengan siapa?” Suara Ran masih gemetar. “Bukan.., maksud saya
begini, Bu. Saya minta bantuannya untuk sekedar memastikan Devi segera ditangani.
Masalah biaya nanti bisa kami usahakan disini…” lanjutnya. Kepalanya berkedut,
kurang tidur, kaget, sekaligus phobia.
“…Lalu?”
Ran memejamkan mata, memijat pelipisnya dengan ujung jari. Berusaha
berkonsentrasi pada lawan bicaranya yang cerewet luar biasa, berbicara banyak
tanpa menyentuh inti permasalahan. Ran terkekeh getir. Semua orang menatapnya.
“Pada
intinya, perusahaan lepas tangan bukan?” Nada suara Ran meningkat. “Saya tahu…”
Ran mendongak, menatap Lian yang memang tepat didepan nya. Menggeleng. “Baik…
baik… Terima kasih banyak, Saya hargai bantuan Ibu. Selamat siang.” Gadis itu
menghempaskan tubuhnya kebelakang, mengulurkan ponsel pada Rosa.
“Ibu
itu tadi udah ngomong sama dokter?” Ran menatap Rosa. Yang ditatap mengangguk.
Ran membeo.
“Pada
dasarnya, perusahaan cuci tangan pada masalah ini, bahkan jika sampai ke tangan
pihak berwajib, mereka tidak akan bertanggung jawab, karena kasusnya percobaan bunuh
diri.” Ran melipat tangannya kedepan dada. “Dan semua biaya ditanggung pasien
sendiri.” Ran menatap Meli dan Rosa bergantian lalu terdiam.
“Aku
coba telpon Carlos.” Rosa memecah sepi lalu sibuk dengan ponselnya. Ran
mengangguk samar, terkenang dengan adegan pertemuan pertamanya dengan Carlos.
“Jangan
kabari orang tuanya dulu, Ros.” Ran menyentuh lengan Rosa yang duduk
disebelahnya. Rosa mengangguk.
“Kita
patungan dulu?” Meli berbisik.
“Gampang
Mel, yang penting kita tunggu keadaan Devi dulu bagaimana.” Ran menggosok
lengan Meli, tersenyum. Ran menyadari Lian menatapnya lekat-lekat seolah tahu
apa yang dipikirkannya. Kedua bibir Lian terkatup rapat, membentuk garis lurus,
sepi dari senyuman. Bahkan saat Ran mencoba tersenyum padanya, pria itu malah
mengerutkan alis dan menyipitkan matanya, seolah tahu apa yang sedang ada dalam
pikirannya.
Kantuknya
hilang pergi entah kemana, berganti dengan migraine. Meli tertidur disudut
ruang tunggu dengan Ronal disampingnya. Lian sedang menelepon keluar ruangan,
Rosa, Riko dan Arlen pulang kembali ke kostan, membereskan kekacuan dirumah. Seorang
suster datang menghampiri Ran.
“Keluarga
Bu Devi?” tanyanya.
“Iya
sus, Saya.” Ran berdiri.
“Mari
ke kedalam Mbak.” Suster itu mempersilakan Ran mengikutinya.
Devi
tergolek lemah tak sadarkan diri disebuah ranjang dengan selimut garis-garis
khas rumah sakit, bajunya juga sudah diganti dengan seragam pasien.
“Halo,
Mbak.” Sapa seorang dokter perempuan setengah baya.
“Saya
Ran, Dokter, Teman sekost Devi.” Ran memperkenalkan diri.
“Oh,
baik Mbak Ran.” Dokter itu membuka sebuah map berwarna hijau muda. “Sudah
tahu ya, kalau Mbak Devi melakukan percobaan bunuh diri. Tapi sayangnya gagal,
dan syukurlah nyawanya masih bisa ditolong.” Tutur dokter dengan nama dada
Suryatanti itu. “Kabar baiknya lagi, bayi dikandungan Mbak Devi juga selamat.”
Imbuh dokter itu.
Seperti
disengat aliran listrik, Ran mengerjap menatap wajah dokter yang ayu itu. “Devi
hamil, Dok?” Ran mendesis.
“Iya,
diperkirakan sudah masuk minggu ke 8. Kondisi janin sudah bagus, hanya saja
kita perlu transfusi darah ya, Mbak Ran, karena pasien kehilangan banyak darah.”
“Iya
bu, tolong dibantu teman saya dan bayinya.”
“Baik,
kami akan usahakan yang sebaik mungkin.” Dokter Surya memutar map itu hingga
menghadap Ran. Sebuah pernyataan kesanggupan dilengkapi dengan nominal yang
harus dijadikan deposit sebagai tanda jadi melakukan perawatan. Delapan juta
rupiah. Tanpa
menunggu lama, Ran membubuhkan tanda tangannya dikolom yang disediakan.
“Baik,
silakan dilanjutkan di kasir.” Dokter Surya mempersilakan Ran menuju sebuah
loket.
Ran
berjalan gontai. Delapan juta rupiah adalah isi tabungannya plus setengah gaji
yang baru saja diterimnya akhir bulan kemarin. Uang itu sedianya akan digunakan
untuk biaya masuk SMA adik bungsunya. Tapi apa yang bisa dia lakukan. Ia tahu
benar siapa teman-temannya, bukan bermaksud meremehkan atau menganggap
pekerjaan mereka tidak sebaik dirinya. Masing-masing temannya memiliki
kebutuhan masing-masing, bahkan seringkali mereka meminjam uang Ran, jika
tanggal semakin beruban.
“Delapan
juta rupiah sebagai deposit?” seorang wanita bertanya dari balik jendela kaca.
“Bisa
dengan kartu debit?” Jawab Ran.
“Bisa
Bu.”
Ran
mengulurkan kartu ATM nya yang kini berfungsi sebagai kartu debit juga, Kartu
baru yang dibuatnya bersama Lian. Ternyata ini sudah jalanNya.
Saat
Ran kembali ke ruang tunggu, ia melihat Lian yang duduk sambil memegang ponsel
namun segera menyimpannya saat ia melihat Ran datang.
“Gimana?”
bisik Lian. Ran menatap Lian lama.
Devi
hamil bukan karena kesalahan satu orang saja, setidaknya ia mendapatkan
anugerah itu dari seorang lelaki, dan ia yakin itu Carlos. Pria yang pergi
begitu saja setelah tahu benihnya tertanam dalam Rahim seorang perempuan. Mengapa
selalu saja seperti itu. Mengapa harus membiarkan hal seperti itu terjadi.
Sebesar apapun rasa cinta membutakan mata, seharusnya ia tidak membuatmu buta
hati. Dan Pria yang duduk dihadapannya ini, pada dasarnya setiap makhluk yang
bernama lelaki, pasti memiliki sifat dasar yang sama. Namun pergaulan,
pendidikan dan pengalaman yang akan menumbuhkan mereka menjadi orang-orang
dengan pemikiran yang berbeda. Ran
duduk disamping Lian, yang menatapnya antusias, menunggu jawaban.
“Devi
hamil, 8 minggu.” Desis Ran. Lian terkesiap, kaget.
“Jadi
dia bunuh diri karena hamil?” Lian terlihat pucat. Pria itu terdiam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar