Sabtu, 01 Desember 2018

Sang Pelukis Hati (9)

Ups....

Ternyata bab ini ketinggalan, supaya tidak terlalu lama mencari... let cekidot pals...


Bab. IX


Meskipun kini telah hadir kejelasan tentang hubungan Lian dengan Gadis itu , tak lantas membuat Lian kehilangan kendali atas tingkah lakunya. Pria itu tetap seperti biasa, dewasa dan menjaga setiap gerak-geriknya, tidak lantas mencari kesempatan untuk berdekat-dekatan dengan Ran, apalagi bersentuhan yang berlebihan, Lian benar-benar menjaga pilihan hatinya, komitmennya.

Saat semua orang tertidur, Lian duduk sendirian ditepian pantai. Memandang jauh kelutan lepas yang berdebur perlahan. Jemarinya mempermainkan gelang tali berbandul bulan bintang dipergelangan tangannya. Gelang yang seolah telah mengikat hatinya hanya untuk satu nama, namun begitu saja meninggalkannya tanpa kepastian. Lian tidak akan pernah bisa melupakan Liana, gadis itu telah menjadi bagian dari hidupnya, pernah mengisi hari-harinya hingga dua tahun lamanya. Bertengkar, berbaikan, kesedihan, kebahagiaan, silih berganti dalam hubungan mereka. Tidak mungkin dilupakan.

Tapi kini satu sosok hadir. Seperti matahari, menerangi ruangan gelap dalam hatinya dengan kesederhanaan dan keceriaan. Dan dengan keegoisannya, telah menarik matahari itu masuk kedunianya yang samar-samar. Separuh hatinya berkata untuk tetap mencari Liana, sampai kapanpun. Separuhnya lagi berbisik agar mulai sepenuhnya mencintai Ran, matahari hatinya. Dan ia akan terus mancari dengan tetap belajar menjadikan Ran satu-satunya. Jikalau Liana kembali, tangannya akan tetap terbuka, tapi bukan untuk bersama, seperti dulu kala.

Gontai. Pria itu berjalan perlahan, mendekati bungalow, dimana kekasihnya tidur didalam sleeping bag. Seperti kepompong, hanya terlihat wajahnya saja. Lian duduk di bawah bungalow, tepat disebelah Ran. Menatap wajah polos gadis itu saat tertidur. Terlihat tenang dan damai. Berbeda jauh dengan wajahnya saat terbangun, selalu tersenyum, nyengir, melucu, seolah mengajak semua orang untuk berbahagia bersamanya. Wajah ketakutannya, kecemasannya, bahkan marah, sangat sulit dipancing keluar, tapi mudah sekali menghilang. Semakin memandang wajah Ran, semakin Lian merasakan keyakinan dalam dirinya.

Tertidur sejak pukul 2 malam, Ran dikejutkan dengan percikan air dingin diwajahnya. Ia membuka mata dan melihat Lian berjongkok dihadapannya, dibawah bungalow.

“Subuh.” Pria itu berbisik. Wajahnya cerah, rambutnya basah, aroma wangi khas Lian menguar.

Ran menggeleng, duduk memeluk lututnya. Udara dingin masih terasa, langit masih gelap. Teman-temannya masih terlelap dalam kantong tidur masing-masing. Ran mengedarkan pandangan, Terlihat Arlen juga sudah bangun. Masih memakai jaket tebal, menyalakan api lagi.

“Mas Lian tidur jam berapa?” tanya Ran. Teringat masih melihat Lian berbincang dengan Ronal dan Arlen saat ia berpamitan tidur.

“Mmm, Jam berapa ya, lupa.” Lian memasang wajah bingung. “Tapi tidur kok. Gak usah khawatir gitu.” Lian tersenyum.

Gadis itu menatap Lian yang memang sama sekali tidak terlihat lelah. Masih segar, masih steady, tapi itu sekarang. Bagaimana jam pulang nanti. Ran mengedikkan bahu lalu bergegas keluar dari kantong tidurnya, meraih tas dan mengeluarkan sebuah bungkusan plastic, dan baju ganti.

“Mau mandi.” Bisiknya pada Lian lalu bergegas ke kamar mandi disudut bungalow.

Tepat jam sembilan, rombongan itu meninggalkan pantai anyer. Sopir APV baru saja bangun, tapi sopir Fortuner, entah berapa jam dia tidur semalam. Ran menatap Lian yang sudah siap dibelakang kemudi. Terlihat tetap segar bugar apalagi setelah menghabiskan satu mug kopi hitam yang dibuat Arlen sebelum sarapan. Gadis itu menguap, meski sudah tidur 3 jam rasanya kelopak matanya sangat berat.

“Tidur aja.” Perintah Lian.

Ran menggeleng. Dia tidak akan membiarkan sopir kurang tidurnya mengemudi sendirian. Seandainya saja ia bisa meminum segelas kopi pagi ini, matanya pasti lebih lebar terbuka. Lian yang mengambil jatah kopinya, gara-gara Meli mengingatkan bahwa kopi membuat asam lambungnya naik.

Kedua mobil beriringan pelan, meskipun sebenarnya berjalan pelan justru makin membuat ngantuk, Riko tetap berkeras mereka berjalan santai dengan alasan makan siang mereka sudah sampai di kostan.
Benarlah perkiraan Riko, jam dua belas mereka sampai di kostan. Para pria membongkar muatan, para Gadis mempersiapkan makan siang yang mereka beli diperjalanan tadi. Suasana masih menyenangkan seperti di pantai, tikar digelar dihalaman, dibawah pohon mangga rimbun yang buahnya mulai membesar. Kotak-kotak makan siang ditata melingkar, buah dan minuman ringan diletakkan ditengah. Arlen mulai memainkan gitar lagi.

Namun keceriaan itu tidak bertahan lama. Karena Diyah tiba-tiba berteriak dari dalam kamarnya. Memanggil-manggil nama Devi. Semua orang berhamburan masuk, peraturan yang melarang pria masuk ke rumah mereka mendadak dilupakan oleh semua orang.

Devi tergeletak di kamar mandi, wajahnya pucat, bibirnya membiru, rambut dan bajunya basah. Darah mengalir dari pergelangan tangannya. Sebilah mata cutter tergeletak dilantai. Rumah kost itu gempar. Lian, Arlen, Riko dan Ronal masuk ke kamar mandi, membebat pergelangan tangan Devi dengan kain, lalu mengangkat tubuh lemah itu ke mobil, disaksikan beberapa tetangga yang kebetulan lewat didepan rumah, pulang dari masjid. Ran, Meli, dan Rosa ikut mengantar ke rumah sakit, sisanya menunggu dirumah.

Devi dibawa ke ruang UGD, diberi pertolongan pertama. Ran yang pucat terpaksa harus ditarik duduk diruang tunggu oleh Lian, Gadis itu hampir pingsan.

“Ya ampuun, darahnya banyak banget.” tubuh Ran gemetaran menutup kedua mata rapat-rapat. Kedua tangannya dingin.

“Dia gak tahan lihat darah banyak.” Meli menatap Lian yang terlihat sedikit panik. Pria itu berlutut didepan Ran, menggosok lengan Ran lembut.

“Ran…” Rosa mendekat, mengulurkan ponsel. “Perusahaannya nolak bayarin biaya pengobatan, karena percobaan bunuh diri tidak masuk dalam pertanggungan.” Katanya.

“Halo. Iya bu, Maaf ini dengan siapa?” Suara Ran masih gemetar. “Bukan.., maksud saya begini, Bu. Saya minta bantuannya untuk sekedar memastikan Devi segera ditangani. Masalah biaya nanti bisa kami usahakan disini…” lanjutnya. Kepalanya berkedut, kurang tidur, kaget, sekaligus phobia.

“…Lalu?” Ran memejamkan mata, memijat pelipisnya dengan ujung jari. Berusaha berkonsentrasi pada lawan bicaranya yang cerewet luar biasa, berbicara banyak tanpa menyentuh inti permasalahan. Ran terkekeh getir. Semua orang menatapnya.

“Pada intinya, perusahaan lepas tangan bukan?” Nada suara Ran meningkat. “Saya tahu…” Ran mendongak, menatap Lian yang memang tepat didepan nya. Menggeleng. “Baik… baik… Terima kasih banyak, Saya hargai bantuan Ibu. Selamat siang.” Gadis itu menghempaskan tubuhnya kebelakang, mengulurkan ponsel pada Rosa.

“Ibu itu tadi udah ngomong sama dokter?” Ran menatap Rosa. Yang ditatap mengangguk. Ran membeo.

“Pada dasarnya, perusahaan cuci tangan pada masalah ini, bahkan jika sampai ke tangan pihak berwajib, mereka tidak akan bertanggung jawab, karena kasusnya percobaan bunuh diri.” Ran melipat tangannya kedepan dada. “Dan semua biaya ditanggung pasien sendiri.” Ran menatap Meli dan Rosa bergantian lalu terdiam.

“Aku coba telpon Carlos.” Rosa memecah sepi lalu sibuk dengan ponselnya. Ran mengangguk samar, terkenang dengan adegan pertemuan pertamanya dengan Carlos.

“Jangan kabari orang tuanya dulu, Ros.” Ran menyentuh lengan Rosa yang duduk disebelahnya. Rosa mengangguk.

“Kita patungan dulu?” Meli berbisik.

“Gampang Mel, yang penting kita tunggu keadaan Devi dulu bagaimana.” Ran menggosok lengan Meli, tersenyum. Ran menyadari Lian menatapnya lekat-lekat seolah tahu apa yang dipikirkannya. Kedua bibir Lian terkatup rapat, membentuk garis lurus, sepi dari senyuman. Bahkan saat Ran mencoba tersenyum padanya, pria itu malah mengerutkan alis dan menyipitkan matanya, seolah tahu apa yang sedang ada dalam pikirannya.

Kantuknya hilang pergi entah kemana, berganti dengan migraine. Meli tertidur disudut ruang tunggu dengan Ronal disampingnya. Lian sedang menelepon keluar ruangan, Rosa, Riko dan Arlen pulang kembali ke kostan, membereskan kekacuan dirumah. Seorang suster datang menghampiri Ran.

“Keluarga Bu Devi?” tanyanya.

“Iya sus, Saya.” Ran berdiri.

“Mari ke kedalam Mbak.” Suster itu mempersilakan Ran mengikutinya.

Devi tergolek lemah tak sadarkan diri disebuah ranjang dengan selimut garis-garis khas rumah sakit, bajunya juga sudah diganti dengan seragam pasien.

“Halo, Mbak.” Sapa seorang dokter perempuan setengah baya.

“Saya Ran, Dokter, Teman sekost Devi.” Ran memperkenalkan diri.

“Oh, baik Mbak Ran.” Dokter itu membuka sebuah map berwarna hijau muda. “Sudah tahu ya, kalau Mbak Devi melakukan percobaan bunuh diri. Tapi sayangnya gagal, dan syukurlah nyawanya masih bisa ditolong.” Tutur dokter dengan nama dada Suryatanti itu. “Kabar baiknya lagi, bayi dikandungan Mbak Devi juga selamat.” Imbuh dokter itu.

Seperti disengat aliran listrik, Ran mengerjap menatap wajah dokter yang ayu itu. “Devi hamil, Dok?” Ran mendesis.

“Iya, diperkirakan sudah masuk minggu ke 8. Kondisi janin sudah bagus, hanya saja kita perlu transfusi darah ya, Mbak Ran, karena pasien kehilangan banyak darah.”

“Iya bu, tolong dibantu teman saya dan bayinya.”

“Baik, kami akan usahakan yang sebaik mungkin.” Dokter Surya memutar map itu hingga menghadap Ran. Sebuah pernyataan kesanggupan dilengkapi dengan nominal yang harus dijadikan deposit sebagai tanda jadi melakukan perawatan. Delapan juta rupiah. Tanpa menunggu lama, Ran membubuhkan tanda tangannya dikolom yang disediakan.

“Baik, silakan dilanjutkan di kasir.” Dokter Surya mempersilakan Ran menuju sebuah loket.

Ran berjalan gontai. Delapan juta rupiah adalah isi tabungannya plus setengah gaji yang baru saja diterimnya akhir bulan kemarin. Uang itu sedianya akan digunakan untuk biaya masuk SMA adik bungsunya. Tapi apa yang bisa dia lakukan. Ia tahu benar siapa teman-temannya, bukan bermaksud meremehkan atau menganggap pekerjaan mereka tidak sebaik dirinya. Masing-masing temannya memiliki kebutuhan masing-masing, bahkan seringkali mereka meminjam uang Ran, jika tanggal semakin beruban.

“Delapan juta rupiah sebagai deposit?” seorang wanita bertanya dari balik jendela kaca.

“Bisa dengan kartu debit?” Jawab Ran.

“Bisa Bu.”

Ran mengulurkan kartu ATM nya yang kini berfungsi sebagai kartu debit juga, Kartu baru yang dibuatnya bersama Lian. Ternyata ini sudah jalanNya.

Saat Ran kembali ke ruang tunggu, ia melihat Lian yang duduk sambil memegang ponsel namun segera menyimpannya saat ia melihat Ran datang.

“Gimana?” bisik Lian. Ran menatap Lian lama.

Devi hamil bukan karena kesalahan satu orang saja, setidaknya ia mendapatkan anugerah itu dari seorang lelaki, dan ia yakin itu Carlos. Pria yang pergi begitu saja setelah tahu benihnya tertanam dalam Rahim seorang perempuan. Mengapa selalu saja seperti itu. Mengapa harus membiarkan hal seperti itu terjadi. Sebesar apapun rasa cinta membutakan mata, seharusnya ia tidak membuatmu buta hati. Dan Pria yang duduk dihadapannya ini, pada dasarnya setiap makhluk yang bernama lelaki, pasti memiliki sifat dasar yang sama. Namun pergaulan, pendidikan dan pengalaman yang akan menumbuhkan mereka menjadi orang-orang dengan pemikiran yang berbeda. Ran duduk disamping Lian, yang menatapnya antusias, menunggu jawaban.

“Devi hamil, 8 minggu.” Desis Ran. Lian terkesiap, kaget.

“Jadi dia bunuh diri karena hamil?” Lian terlihat pucat. Pria itu terdiam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar