Bab.
XIV
Hari
ketiga di Pakuwon, Ran menerima sebuah undangan Gala dinner dari penyelenggara.
Acaranya di Grand Ballroom Pakuwon, jam tujuh malam. Ran
meletakkan pulpennya, menepikan lembaran-lembaran kertas yang memenuhi mejanya.
Meraih ponsel disaku blazernya lalu menekan sebuah nomor kontak.
Setelah
berdering sebanyak lima kali, akhirnya telepon diangkat.
“Halo,
Ran?” Suara yang dirindukan gadis itu menyapa dari sebarang.
“Sedang
apa, Mas?” keraguan terdengar jelas dari nada bicara Ran. Setelah berhari-hari
tidak mendengar suara itu, rasanya seolah bertahun-tahun.
“Mmm,
gak ada, lagi di workshop ngobrol sama anak-anak. Kamu apa kabar?” Suara Lian
lembut seperti biasa. “Maaf ya, aku nggak pernah nelpon kamu, takut ganggu.”
“Nggak
papa, lagian aku memang banyak kegiatan, jadi sampai rumah langsung tidur,
nggak sempat ngapa-ngapain lagi.”
“Kamu
pasti makin kurus…” kata-kata Lian mengambang. Ragu dengan perasaan yang harus
dia bawa dalam perbincangan ini.
“Nggak
juga, soalnya disini aku makan banyak, cocok dengan makanan warung-warung
disini.” Ran berusaha ceria, seperti biasa. Bukankah berkata bohong itu memang
paling mudah. Kenyataannya Ran bahkan sering ketinggalan jam makan.
“Bagus
dong.”
“Iya…” Keduanya
terdiam.
“Mas
Lian…” Ran berencana menjalankan aksinya.
“Ya?”
“Kalau
aku berharap Mas Lian ada disini, itu kelewatan nggak ya?”
Lian
terdiam. Perasaannya seolah diaduk-aduk. Telinganya tidak salah dengar kan?
Pikirnya.
“Nggak
juga.” Lian mendesah. Bimbang.
“Kalau
aku… ingin mas Lian kesini… itu kebangetan nggak?” Terdiam
lagi.
“Ada
dua hal yang membuat aku mau Mas Lian kesini. Satu karena bakalan ada gala
dinner dan aku nggak punya teman, masa iya aku ngajakin tukang ojek langganan,
nggak banget kan? Dan yang kedua karena aku… juga ingin Mas Lian juga mengingat
aku saat mendengar kata Surabaya…” Nada bicara Ran meluncur turun. Sekuat
apapun Ran ingin berada dihati Lian, gadis itu yakin tak akan bisa. Liana
terlalu cantik, terlalu hebat, terlalu sempurna jika dibandingkan dirinya.
Lian
menelan ludah, kehilangan kata-kata. Tahu kemana arah pembicaraan gadis itu,
dan Lian memakluminya. Cemburu. Pria itu tersenyum, merasakan bahwa hati Ran
masih ada padanya.
“Jam
berapa gala dinnernya?” tanya Lian.
Ran
justru tergeragap mendengar pertanyaan Lian.
“Um…
besok jam tujuh malam.”
“Nanti
malam, mudah-mudahan aku sudah ada disana.” Kata Lian lembut namun tegas.
Ran
tidak mengira Lian akan setuju untuk pergi ke Surabaya secepatnya. Lian juga
tidak mengira bahwa keinginananya yang maju mundur untuk menyusul Ran ke
Surabaya bak gayung yang bersambut.
“Kabari
kalau Mas Lian berangkat dari Jakarta ya.” Gadis itu terdengar antusias.
“Ok.”
Lian
meletakkan ponselnya.
“Pak
Darsono, tolong antar saya ke bandara ya, penerbangan ke Surabaya berangkat jam
3 sore nanti.” Lian berseru.
Ran
termangu, membereskan kertas-kertas yang berserakan dihadapannya. Apakah Lian
berangkat ke Surabaya hanya untuk menemaninya, atau sebenarnya dia telah
mempersiapkan agenda yang lain?
Jam
setengah tiga sore, sebuah pesan dari Lian mengabarkan bahwa pesawat menuju
Surabaya lepas landas sepuluh menit lagi, dan akan mendarat sekitar pukul setengah
lima waktu Surabaya.
Detak
jatung Ran langsung tak karuan mendapat berita itu. Lian benar-benar akan
datang.
“Mas
Jhon, bisa bantu aku?” Ran menelepon Jhon pada akhirnya.
Setengah
lima sore tepat, sesuai dengan jam digital besar dibandara Juanda Surabaya, Ran
berdiri menunggu kedatangan Lian. Gadis itu berdiri tepat dibelakang Jhon, yang
bertubuh besar sehingga gadis itu benar-benar tak terlihat dari depan.
Ran
sudah melihat Lian berjalan, menuruni escalator, menyandang tas ransel berwarna
merah tua, memakai jaket jeans yang pernah dipinjam Ran, celana Jeans warna
senada, Tshirt putih bergambar koala, dan sepatu sneakers. Mengapa pria itu
selalu saja berhasil membuat jantungnya berdebar-debar. Ran beringsut menyembunyikan
diri dibalik tiang besar disebelah Jhon.
“Dia
baru keluar Ran.” Desis Jhon. Ran
memejamkan matanya. Membiarkan rencana mereka berjalan.
“Dia
lagi nyari kamu.” Kata Jhon lagi.
Ran
menggenggam erat ponselnya yang bergetar tanpa suara.
“Dia
lihat aku, dia jalan kesini.” Jhon berbicara cepat tanpa banyak menggerakkan
bibirnya.
“Ko?”
Suara Lian terdengar terkejut sekaligus senang.
“Li?
Apa kabar?” Sahut Jhon. Keduanya berpelukan.
Ran
mendengar suara punggung ditepuk. Gadis itu bertahan, tak beranjak.
“Koko
kemana aja selama ini?” Nada suara Lian berubah. Seolah menahan haru dan
bahagia.
“Kami
disini aja kok, cuman memang dulu kami ke singkawang, mama sakit, jadi kami
semua exsodus ke singkawang.” Jhon tertawa. “Ayo mampir kerumah.” Ajak Jhon.
“Pasti
ko, tapi aku lagi nunggu seseorang.” Lian menyebut Ran seseorang. Bukan teman,
bukan pacar.
Ran
melangkahkan kaki pergi dari tiang marmer yang terasa dingin di punggungnya
itu. Gadis itu berdiri, tepat dibelakang Jhon, di depan Lian.
“Ran?”
Refleks Lian menatap Ran yang teresenyum simpul. Jhon berbalik, menghadap Ran
juga.
“Kita
berangkat sekarang?” tanya Ran. Jhon mengangguk. Lian menatap keduanya
bergantian dengan heran.
Jhon
menyetir sendiri seperti sopir, dengan Ran dan Lian yang duduk di belakang.
Tidak banyak yang diceritakan, meski sebenarnya banyak pertanyaan yang
tersimpan didalam benak masing-masing.
“Ups,
Mas Jhon, bisa ke pakuwon sebentar? Ada file yang ketinggalan.” Ran memecah
suasana. Sengaja ingin meninggalkan mereka berdua agar bisa bercerita dengan
bebas tanpa harus merasa sungkan pada dirinya.
“Oke.”
Jhon membelokkan jalan menuju Supermall Pakuwon.
“Sebentar
ya, Mas.” Ran menyunggingkan senyum pada Lian yang sedari tadi berwajah tegang.
“Aku
ikut.” Pekik Lian ketika Ran hendak menutup pintu mobil, dan bergegas keluar.
Jhon hanya tersenyum lucu melihat keduanya dari dalam mobil.
“Jadi
kamu kenal Jhon, Ran?” tanya Lian, kaku berjalan disisi Ran. Gadis
itu mengangguk.
“Sejak
kapan?” Tanya Lian lagi.
“Sejak
datang kemari. Aku tinggal dirumahnya.” Ran menjawab ringan.
Lian
tersentak hingga berhenti berjalan. Ran menoleh, menaikkan alisnya.
“Jadi
kamu sudah ketemu dengan…” Lian seolah tercekat, tak mampu meneruskan
kata-kata.
“Liana
tidak ada dirumah itu.” Ran masih menjawab ringan, melanjutkan perjalanan.
“Jadi
kamu sudah tahu semua?”
“Bukannya
Mas Lian sudah ngasih tahu aku tentang semuanya?”
“Maksudku…”
Lian menelan ludah. “Anak itu?” Ran
mendongak menatap Lian yang terlihat bingung.
“Tidak
ada disana juga.” Ran mengulurkan tangan, mengusap cepat lengan Lian,
menawarkan senyuman, Lian membalas senyuman canggung.
Keduanya
sudah sampai di booth Ran yang sudah kosong. Ran berlutut disebuah meja kecil
dan menarik lacinya yang paling bawah.
“Ran.”
Lian berjongkok disisi Ran. “Aku datang kesini, bukan untuk Liana.” Rahangnya
mengeras. “Aku datang buat kamu, jadi apapun yang terjadi nanti aku akan tetap
pulang ke Jakarta sama kamu.” Lian menatap mata gadis itu lekat-lekat. Menahan
dengan sekuat tenaga keinginannya untuk memeluk gadis yang dicintainya itu.
Kali ini Lian tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya.
“Setidaknya
Mas Lian harus bertemu dengan keluarga Liana dulu, baru Mas Lian putuskan jalan
terbaik buat kita.” Ran menjawab lirih, dengan wajah tersenyum. Bukan karena gadis
itu yakin Lian akan lebih condong padanya, senyumnya hanyalah sebuah penguatan
jiwa, bahwa akan mencoba berusaha berdiri disamping orang yang hanya memiliki
separuh hati untuknya.
Lian
mengangguk lemah, masih menatap dua bola mata indah milik kekasihnya itu. Dalam
diam, keduanya kembali ketempat parkir, dimana Jhon menunggu.
(Bersambung Lagi)
Semangat Pagii....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar