Senin, 07 Januari 2019

Sang Pelukis Hati (14)

Bab. XIV

Hari ketiga di Pakuwon, Ran menerima sebuah undangan Gala dinner dari penyelenggara. Acaranya di Grand Ballroom Pakuwon, jam tujuh malam. Ran meletakkan pulpennya, menepikan lembaran-lembaran kertas yang memenuhi mejanya. Meraih ponsel disaku blazernya lalu menekan sebuah nomor kontak.
Setelah berdering sebanyak lima kali, akhirnya telepon diangkat.

“Halo, Ran?” Suara yang dirindukan gadis itu menyapa dari sebarang.

“Sedang apa, Mas?” keraguan terdengar jelas dari nada bicara Ran. Setelah berhari-hari tidak mendengar suara itu, rasanya seolah bertahun-tahun.

“Mmm, gak ada, lagi di workshop ngobrol sama anak-anak. Kamu apa kabar?” Suara Lian lembut seperti biasa. “Maaf ya, aku nggak pernah nelpon kamu, takut ganggu.”

“Nggak papa, lagian aku memang banyak kegiatan, jadi sampai rumah langsung tidur, nggak sempat ngapa-ngapain lagi.”

“Kamu pasti makin kurus…” kata-kata Lian mengambang. Ragu dengan perasaan yang harus dia bawa dalam perbincangan ini.

“Nggak juga, soalnya disini aku makan banyak, cocok dengan makanan warung-warung disini.” Ran berusaha ceria, seperti biasa. Bukankah berkata bohong itu memang paling mudah. Kenyataannya Ran bahkan sering ketinggalan jam makan.

“Bagus dong.”

“Iya…” Keduanya terdiam.

“Mas Lian…” Ran berencana menjalankan aksinya.

“Ya?”

“Kalau aku berharap Mas Lian ada disini, itu kelewatan nggak ya?”

Lian terdiam. Perasaannya seolah diaduk-aduk. Telinganya tidak salah dengar kan? Pikirnya.
“Nggak juga.” Lian mendesah. Bimbang.

“Kalau aku… ingin mas Lian kesini… itu kebangetan nggak?” Terdiam lagi.

“Ada dua hal yang membuat aku mau Mas Lian kesini. Satu karena bakalan ada gala dinner dan aku nggak punya teman, masa iya aku ngajakin tukang ojek langganan, nggak banget kan? Dan yang kedua karena aku… juga ingin Mas Lian juga mengingat aku saat mendengar kata Surabaya…” Nada bicara Ran meluncur turun. Sekuat apapun Ran ingin berada dihati Lian, gadis itu yakin tak akan bisa. Liana terlalu cantik, terlalu hebat, terlalu sempurna jika dibandingkan dirinya.

Lian menelan ludah, kehilangan kata-kata. Tahu kemana arah pembicaraan gadis itu, dan Lian memakluminya. Cemburu. Pria itu tersenyum, merasakan bahwa hati Ran masih ada padanya.
“Jam berapa gala dinnernya?” tanya Lian.

Ran justru tergeragap mendengar pertanyaan Lian.
“Um… besok jam tujuh malam.”  

“Nanti malam, mudah-mudahan aku sudah ada disana.” Kata Lian lembut namun tegas.

Ran tidak mengira Lian akan setuju untuk pergi ke Surabaya secepatnya. Lian juga tidak mengira bahwa keinginananya yang maju mundur untuk menyusul Ran ke Surabaya bak gayung yang bersambut.

“Kabari kalau Mas Lian berangkat dari Jakarta ya.” Gadis itu terdengar antusias.

“Ok.”

Lian meletakkan ponselnya.

“Pak Darsono, tolong antar saya ke bandara ya, penerbangan ke Surabaya berangkat jam 3 sore nanti.” Lian berseru.

Ran termangu, membereskan kertas-kertas yang berserakan dihadapannya. Apakah Lian berangkat ke Surabaya hanya untuk menemaninya, atau sebenarnya dia telah mempersiapkan agenda yang lain?
Jam setengah tiga sore, sebuah pesan dari Lian mengabarkan bahwa pesawat menuju Surabaya lepas landas sepuluh menit lagi, dan akan mendarat sekitar pukul setengah lima waktu Surabaya.
Detak jatung Ran langsung tak karuan mendapat berita itu. Lian benar-benar akan datang.

“Mas Jhon, bisa bantu aku?” Ran menelepon Jhon pada akhirnya.

Setengah lima sore tepat, sesuai dengan jam digital besar dibandara Juanda Surabaya, Ran berdiri menunggu kedatangan Lian. Gadis itu berdiri tepat dibelakang Jhon, yang bertubuh besar sehingga gadis itu benar-benar tak terlihat dari depan.

Ran sudah melihat Lian berjalan, menuruni escalator, menyandang tas ransel berwarna merah tua, memakai jaket jeans yang pernah dipinjam Ran, celana Jeans warna senada, Tshirt putih bergambar koala, dan sepatu sneakers. Mengapa pria itu selalu saja berhasil membuat jantungnya berdebar-debar. Ran beringsut menyembunyikan diri dibalik tiang besar disebelah Jhon.

“Dia baru keluar Ran.” Desis Jhon. Ran memejamkan matanya. Membiarkan rencana mereka berjalan.

“Dia lagi nyari kamu.” Kata Jhon lagi.

Ran menggenggam erat ponselnya yang bergetar tanpa suara.

“Dia lihat aku, dia jalan kesini.” Jhon berbicara cepat tanpa banyak menggerakkan bibirnya.

“Ko?” Suara Lian terdengar terkejut sekaligus senang.

“Li? Apa kabar?” Sahut Jhon. Keduanya berpelukan.

Ran mendengar suara punggung ditepuk. Gadis itu bertahan, tak beranjak.

“Koko kemana aja selama ini?” Nada suara Lian berubah. Seolah menahan haru dan bahagia.

“Kami disini aja kok, cuman memang dulu kami ke singkawang, mama sakit, jadi kami semua exsodus ke singkawang.” Jhon tertawa. “Ayo mampir kerumah.” Ajak Jhon.

“Pasti ko, tapi aku lagi nunggu seseorang.” Lian menyebut Ran seseorang. Bukan teman, bukan pacar.

Ran melangkahkan kaki pergi dari tiang marmer yang terasa dingin di punggungnya itu. Gadis itu berdiri, tepat dibelakang Jhon, di depan Lian.

“Ran?” Refleks Lian menatap Ran yang teresenyum simpul. Jhon berbalik, menghadap Ran juga.

“Kita berangkat sekarang?” tanya Ran. Jhon mengangguk. Lian menatap keduanya bergantian dengan heran.
Jhon menyetir sendiri seperti sopir, dengan Ran dan Lian yang duduk di belakang. Tidak banyak yang diceritakan, meski sebenarnya banyak pertanyaan yang tersimpan didalam benak masing-masing.

“Ups, Mas Jhon, bisa ke pakuwon sebentar? Ada file yang ketinggalan.” Ran memecah suasana. Sengaja ingin meninggalkan mereka berdua agar bisa bercerita dengan bebas tanpa harus merasa sungkan pada dirinya.

“Oke.” Jhon membelokkan jalan menuju Supermall Pakuwon.

“Sebentar ya, Mas.” Ran menyunggingkan senyum pada Lian yang sedari tadi berwajah tegang.

“Aku ikut.” Pekik Lian ketika Ran hendak menutup pintu mobil, dan bergegas keluar. Jhon hanya tersenyum lucu melihat keduanya dari dalam mobil.

“Jadi kamu kenal Jhon, Ran?” tanya Lian, kaku berjalan disisi Ran. Gadis itu mengangguk.

“Sejak kapan?” Tanya Lian lagi.

“Sejak datang kemari. Aku tinggal dirumahnya.” Ran menjawab ringan.

Lian tersentak hingga berhenti berjalan. Ran menoleh, menaikkan alisnya.

“Jadi kamu sudah ketemu dengan…” Lian seolah tercekat, tak mampu meneruskan kata-kata.

“Liana tidak ada dirumah itu.” Ran masih menjawab ringan, melanjutkan perjalanan.

“Jadi kamu sudah tahu semua?”

“Bukannya Mas Lian sudah ngasih tahu aku tentang semuanya?”

“Maksudku…” Lian menelan ludah. “Anak itu?” Ran mendongak menatap Lian yang terlihat bingung.

“Tidak ada disana juga.” Ran mengulurkan tangan, mengusap cepat lengan Lian, menawarkan senyuman, Lian membalas senyuman canggung.

Keduanya sudah sampai di booth Ran yang sudah kosong. Ran berlutut disebuah meja kecil dan menarik lacinya yang paling bawah.

“Ran.” Lian berjongkok disisi Ran. “Aku datang kesini, bukan untuk Liana.” Rahangnya mengeras. “Aku datang buat kamu, jadi apapun yang terjadi nanti aku akan tetap pulang ke Jakarta sama kamu.” Lian menatap mata gadis itu lekat-lekat. Menahan dengan sekuat tenaga keinginannya untuk memeluk gadis yang dicintainya itu. Kali ini Lian tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya.

“Setidaknya Mas Lian harus bertemu dengan keluarga Liana dulu, baru Mas Lian putuskan jalan terbaik buat kita.” Ran menjawab lirih, dengan wajah tersenyum. Bukan karena gadis itu yakin Lian akan lebih condong padanya, senyumnya hanyalah sebuah penguatan jiwa, bahwa akan mencoba berusaha berdiri disamping orang yang hanya memiliki separuh hati untuknya.

Lian mengangguk lemah, masih menatap dua bola mata indah milik kekasihnya itu. Dalam diam, keduanya kembali ketempat parkir, dimana Jhon menunggu.

(Bersambung Lagi)
Semangat Pagii.... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar